Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Bertanya Lagi


__ADS_3

"Le."


"Iya kak."


Tiba-tiba Dian menelpon Lea.


"Ih pengen ketempat lo deh, ada mas Daniel nggak?"


"Emang kak Dian pulang?" tanya Lea kaget.


"Iya, Le. Udah sampe dari kemaren, tapi belum ada kasih tau ayah lo. Gue mau kasih surprise sama mau istirahat dulu. Kalau bokap lo tau gue pulang, biasanya langsung aktivitas hot. Nggak ada waktu santai lagi gue."


Dian tertawa, Lea ikut tertawa tanda solidaritas. Ia kini teringat pada perjodohan antara Richard dan juga Maryam. Dian belum tau mengenai kondisi Richard saat ini. Lea juga tak enak untuk menceritakannya pada perempuan itu. Sebab ia takut Dian akan menjadi sedih dan sakit hati.


"Ya udah kak, lo kesini aja. Gue kebetulan nggak kuliah hari ini dan mas Daniel juga udah pergi."


"Oh ya udah deh, gue kesana dalam beberapa menit ya."


"Ok, gue tunggu." jawab Lea.


Dian pun menutup telpon tersebut dan bersiap.


***


Sementara di kantor.


"Richard masuk?" tanya Daniel pada Ellio.


"Masuk kayaknya, gue belum ketemu pagi ini."


Ellio menyerahkan salah satu cup kopi yang ia beli kepada Daniel. Sementara satu cup lain tetap berada di tangannya.


"Gue pengen tau kondisi dia." ujar Daniel.


"Sama, gue juga." timpal Ellio lalu meminum kopinya. Tak lama Richard masuk ke ruangan itu dan duduk di salah satu kursi.


"Baru di omongin." celetuk Ellio.


Richard tampak menghidupkan sebatang rokok, dan menghisapnya. Baik Daniel maupun Ellio kini saling memberi kode. Perihal siapa yang akan duluan membuka suara serta mengajukan pertanyaan pada Richard.


"Bro, lo baik-baik aja kan?" tanya Ellio pada sahabatnya itu.


Ia akhirnya menjadi pemecah telur, dengan bertanya duluan pada Richard. Richard hanya mengangguk lalu kembali menghisap batang rokoknya.


"Mami nggak ganggu lo lagi?" Daniel menimpali pertanyaan Ellio.

__ADS_1


"Masih, kayak nggak tau mami aja." jawab Richard.


"Dia mendesak gue untuk menghubungi dan mendekati Maryam." lanjutnya lagi.


"Lo kenapa nggak kasih aja sih, mami nomornya Dian?" tanya Ellio.


"Udah gue kasih dan gue kasih liat foto Dian. Dia masih aja kesengsem sama si Maryam."


Lagi-lagi Richard menjawab. Pria itu juga kembali menghisap batang rokok, sedang Daniel terlihat mereguk kopi miliknya.


"Gue boleh nanya jujur nggak sama lo?"


Ellio kini menatap Richard dan Richard pun membalas tatapan itu, tanda memberi izin.


"Lo sebenarnya tertarik nggak sih sama Maryam?"


Pertanyaan tersebut sukses membuat Richard terdiam.


"Gue nggak tau." jawab Richard.


"Secara look mungkin iya, gue tertarik . Tapi secara personaliti kayaknya kurang."


"Why?" tanya Ellio.


"Ya mungkin sebagian besar laki-laki suka dengan perempuan yang sangat penurut kayak Maryam. Tapi gue pribadi ngerasa nggak ada tantangannya. Rumah tangga itu perlu sesuatu yang sedikit membakar. Kalau pasangan kita terlalu iya-iya aja, nggak asik juga bro. Dia nggak akan berani mengungkapkan pendapat kalau hanya diajarkan untuk menurut terhadap laki-laki. Suatu ketika semisal gue ada alpha, gue lupa dan berbuat salah. Masa iya dia terima-terima aja saking nurutnya. Terus gue tenggelam dalam kesalahan tanpa ada yang berani menegur ataupun marahin gue."


Ellio menghela nafas.


"Iya juga sih." ujarnya kemudian.


"Punya pasangan kalau terlalu nurut ya bahaya juga. Kita akan ngerasa jadi pemegang power dalam hubungan. Semakin lama kita akan merasa diri kita selalu benar." lanjut pria itu.


"Gue berharap lo bisa tegas, itu aja." Daniel kembali bersuara.


"Jangan PHP in anak orang. Dian perempuan yang baik, Maryam juga gitu. Lo harus tegaskan ke mami perihal siapa yang lo pilih." lanjutnya kemudian.


"Bener, bro. Lebih cepat, lebih baik." timpal Ellio.


***


Dian menyambangi kediaman Lea. Mereka akhirnya bisa temu kangen dan saling berbincang banyak hal seru.


Lea menanyakan kabar Dian dan bagaimana kuliahnya disana. Tak jauh berbeda Dian pun mempertanyakan hal tersebut pada Lea.


Dian juga turut bergembira melihat kandungan Lea yang sudah kian membesar. Bahkan tak sampai satu bulan ke depan diperkirakan bayinya akan lahir ke dunia.

__ADS_1


"Gue nggak sabar Le, liat mukanya." ujar Dian antusias.


"Iya kak, nih foto USG nya nih."


Lea memperlihatkan foto hasil USG bayinya yang memperlihatkan area wajah.


"Ampun Le, mancung banget. Gembul lagi pipinya." ujar Dian dengan gemas.


"Gemes kan?" tanya Lea.


"Iya gemes banget ini." tukas Dian seraya tersenyum.


"Oh ya Le, bokap lo nggak ada selingkuh-selingkuh kan selama gue nggak ada?"


"Degh."


Batin Lea tersentak, mengapa Dian harus memberinya pertanyaan semacam itu.


"Mmm, setahu gue nggak ada kak. Setahu gue ya." ujar Lea.


Ia jujur mengenai semua itu. Sebab sepengetahuannya selama Dian berada di luar negri, ia tak pernah memergoki Richard selingkuh. Namun yang ia ketahui adalah perihal perjodohan yang dilakukan neneknya.


Lea merasa bersalah menyimpan semua itu dari Dian. Namun ia juga tak mungkin melukai hati dan perasaan perempuan itu.


Ini semua adalah ulah neneknya, yang selalu bertindak berdasarkan apa yang ia inginkan. Sedangkan sang kakek adalah keturunan bule yang tak ingin ambil pusing.


Ia menurut saja apa yang jadi keinginan istrinya. Meski itu sangat bertentangan dengan budaya barat, yang bisanya selalu membebaskan anak-anak dalam hal memilih pasangan.


"Gue mau ketemu ayah lo, enaknya dimana ya?. Mau ngajak dinner dadakan gitu." ujar Dian lagi.


"Langsung ke rumahnya aja kak, biar lebih seru dan surprise. Oh iya kak, lo kenapa sih nggak minta dinikahin aja sama ayah?"


Lea melontarkan pertanyaan yang membuat Dian tertawa.


"Kan gue masih kuliah Le, masih repot. mana kuliah gue di luar lagi, bukan disini. Kalau ntar baru nikah udah tekdung gimana?. Masa gue bawa-bawa perut gede kemana-mana?"


"Ya nggak apa-apa, gue aja kayak paus bunting kemana-mana bawa perut buncit." ujar Lea.


"Lo enak deket kuliahnya. Mas Daniel juga ada setiap hari jagain lo. Lah gue nanti sendirian hamil di tanah orang. Bokap lo nggak mungkin juga bisa jagain gue setiap saat, disini dia mesti kerja."


"Ya kalau nggak, kakak nikah tapi tunda dulu punya anaknya. Ntar keburu ayah di rebut cewek lain loh. Mumpung dia sekarang lagi waras, nggak ada pacaran sana-sini dan nidurin cewek-cewek kayak dulu." ujar Lea lagi.


Dian terdiam dan tampak berfikir. Ucapan Lea barusan ada benarnya juga. Selama ini Dian selalu sabar mendampingi Richard. Walaupun pria itu kadang masih suka kedapatan berpesta dengan perempuan-perempuan cantik selain dirinya.


Dan Richard bisa saja berubah pikiran, jika ia tidak bertindak cepat kali ini. Bisa saja pria itu jatuh cinta pada lain hati.

__ADS_1


__ADS_2