Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Merayu Arkana (Bonus Part)


__ADS_3

"Arka ada papa kamu tuh di depan."


Teman Arkana menunjuk ke arah gerbang sekolah, tepat ketika jam istirahat tiba. Arkana menilik ke arah sana dan memang benar ada Hanif yang tengah berdiri.


"Ayo Arkana, ditemui papanya. Barangkali ada keperluan." ucap salah seorang guru yang melintas dan tanpa sebagai juga melihat kedatangan Hanif.


Maka meski enggan, namun akhirnya Arkana mendekat juga ke arah ayahnya tersebut. Seperti anak pada umumnya, ia mencium tangan pria itu.


Sebab hal tersebut telah diajarkan oleh Nadya kepadanya. Biar bagaimanapun Hanif adalah ayah kandung Arkana dan Arkana mesti menghormatinya.


"Kenapa pa?" tanya Arkana pada sang ayah.


Ia kaget sekaligus heran sebab ini jarang sekali terjadi.


"Papa kangen aja sama Arka. Arka apa kabar?" Hanif mengajak anaknya itu duduk disalah satu kursi taman depan sekolah.


"Baik." jawab Arkana.


"Ini papa bawain Arkana coklat. Nanti bagi ke teman Arka ya."


Hanif memberikan satu paper bag berisi banyak sekali coklat untuk anak itu. Hal yang tidak pernah ia lakukan selama ini. Ia ingin langsung bertanya mengenai siapa laki-laki yang saat ini tengah dekat dengan Nadya.


Tetapi Hanif enggan terburu-buru, meski ia sangat ingin mengetahui hal tersebut saat ini juga. Ia lebih memilih agar Arkana merasa nyaman dulu dengan dirinya.


Jika anak itu sudah merasa nyaman, ia akan dengan mudah mengorek keterangan. Setidaknya itulah yang dipikirkan Hanif saat ini.


Mereka bercerita sejenak, Hanif menanyakan bagaimana sekolah Arkana hari itu. Apa saja yang ia pelajari dan bagaimana semua itu berlangsung.


"Arka masuk gih!." perintah Hanif.


"Papa cuma mampir sebentar aja, karena papa harus kembali ke kantor. Jangan nakal ya di sekolah." lanjutnya kemudian.


Arkana semakin kaget melihat sikap ayahnya tersebut. Sebagai anak, hal inilah yang sejatinya ia harapkan sejak dulu. Diperhatikan meski sedikit dan sejenak.


"Ya udah Arka masuk ya, pa." ujarnya kemudian.


"Iya sayang." jawab Hanif.


Arkana mencium tangan Hanif, kemudian kembali masuk ke sekolah. Ia menghampiri teman-temannya dan membagikan coklat.


Saat pulang ke rumah ia sudah lupa pada ayahnya itu dan tak menceritakan apapun kepada Nadya. Nadya yang menemukan sisa dua batang coklat di tas sang anak, mengira anak itu membeli dengan uang jajan yang ia berikan. Sama sekali ia tidak curiga kepada sang suami.


***


Sore hari.


"Anjir, aaaakh."


Daniel mengeluh sakit pada area belakang tubuhnya, ketika ia, Richard, dan Ellio pergi ke gym.

__ADS_1


"Kenapa lo?" tanya Richard kemudian.


"Kecetit gue, aduh, sssshhh."


Daniel kian mengeluh sakit.


"Tua lo." ledek Richard.


"Kalau gue tua, lo apaan bangsat?. Lo aja udah bercucu. Masih mending gue baru punya anak."


"Ya elu yang ngebuntingin anak gue, sampe gue bercucu." seloroh Richard lagi.


"Sesama orang tua dilarang saling ngatain. Sama-sama nyaris bau param kocok tau nggak lo berdua." Ellio menimpali dan menengahi keduanya.


"Elu juga, Bambang Pujiono."


Daniel dan Richard berseru serentak.


"Hehehe."


Ellio nyengir.


Tak lama mereka bertiga terlihat latihan bersama. Selesai latihan Daniel dan Richard serta Ellio nongkrong di kafe yang tak jauh dari sana. Daniel dan Richard makan dan minum seadanya, sedang Ellio membabi buta.


Ia mengambil makanan dan minuman dalam porsi yang banyak, seperti orang yang setahun tidak makan.


"Lo tadi ngapain nge-gym kalau nimbun perkara lagi di badan lo." seloroh Richard.


"Lagian lo rencana pengen hidup sehat, tapi lo sendiri nggak konsisten."


Untuk kesekian kali Ellio nyengir. Tetapi ia lanjut makan meski Richard menasehatinya.


"Mertua lo kayak emak-emak, bro." ujarnya pada Daniel. Sementara Daniel hanya tertawa.


Usai makan, mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Tiba di kediamannya Daniel mendapati Lea yang duduk sambil memotong kuku, tetapi Darriel tampak menangis di dalam ayunan elektrik.


"Loh, koq kamu diemin Le dia nangis?" tanya Daniel heran. Ia segera menghampiri dan menggendong anaknya tersebut.


"Mas cek aja di CCTV, udah berapa lama aku coba bikin dia diem. Tapi dia tantrum terus. Udah aku cek suhu tubuh, cek seluruh badan takut ada yang gigit. Udah kasih ASI, atur suhu ruangan, gendong sana-sini. Masih aja ngamuk kayak gitu, nggak tau maunya apa." gerutu Lea.


Daniel ingin marah, tapi ia mengerti mungkin Lea memang sudah berusaha sejak tadi.


"Darriel kenapa?" tanya Daniel kemudian.


Darriel mendadak berhenti tangisnya dan menatap Daniel.


"Hokhoaaa." ujarnya seolah berbicara.


"Uwawawa."

__ADS_1


"Kenapa?. Nggak biasa-biasanya kamu ngamuk kayak gini." lagi-lagi Daniel berujar.


Darriel seakan hendak mengatakan sesuatu yang orang tuanya tak mengerti.


"Anak kecil itu, kadang menangis karena ada firasat tertentu."


Ibu Daniel berkata demikian, ketika ia menelpon dan menanyakan keadaan sang cucu. Daniel menjawab Darriel tengah rewel untuk alasan yang tidak jelas. Dokter anak yang ia chat pun mengatakan hal tersebut adalah hal biasa.


"Firasat gimana ma?" tanya Daniel tak mengerti.


"Ya, kayak semacam dia takut kalau orang tuanya kenapa-kenapa." ujar ibu Daniel.


Daniel diam.


"Tapi ini kan kepercayaan orang dulu. Kamu boleh percaya atau nggak. Yang jelas kamu sama Lea hati-hati dimanapun itu. Kita manusia harus selalu berhati-hati dan berdoa kan?" ujar sang ibu.


"Iya sih." jawab Daniel.


"Ya sudah, sekarang anakmu sudah tidur kan?" tanya ibunya lagi.


"Udah, lagi dikelonin sama ibunya." ujar Daniel.


"Ya sudah, bagus kalau gitu." ucap ibu Daniel lagi.


Tak lama mereka pun berbincang hal lain dan setelah itu telpon pun di sudahi.


***


"Om, kapan jemput Arkana lagi di sekolah?"


Arkana bertanya pada Richard melalui WhatsApp.


"Nanti ya sayang, om lagi sibuk banget."


Richard beralasan. Padahal ia hanya sedang tak ingin terlihat dekat dengan Nadya. Takut itu akan mengundang perhatian publik dan kecurigaan Hanif.


Bukan perkara ia takut menghadapi pria itu. Tapi lebih kepada menjaga nama baik Nadya. Sebab wanita itu kini berada diambang perceraian.


Apa jadinya jika banyak yang tau ia dekat dengan laki-laki lain, bahkan sebelum bercerai. Ia bisa jadi bahan gunjingan banyak orang.


Sebab didalam perceraian banyak sekali orang yang justru memojokkan dan menyalahkan pihak perempuan. Tanpa tau apa yang dilakukan oleh pihak laki-laki, sehingga si wanita meminta cerai.


"Pokoknya om janji akan jemput Arkana lagi, kalau om udah nggak sibuk." ujar Richard.


"Iya om, Arkana tunggu ya. Kangen main game online juga sama om. Kangen makan bareng dan cerita-cerita, soalnya seru."


"Iya sayang, om janji. Arka jadi anak yang baik dan jangan nakal ya."


"Iya om, Arka janji." jawab Arkana kemudian.

__ADS_1


***


__ADS_2