
Nadya kaget ketika tiba di sekolah Arkana, sebab ia melihat sudah ada Richard disana. Entah dari mana pria itu mengetahui tempat tersebut. Dan dari mana informasi mengenai Nadya yang akan datang di hari ini.
"Pak Richard?" ujarnya tak percaya sekaligus takut. Ia takut adanya Richard di dekatnya akan menjadi sorotan dan membuat Hanif akhirnya tau.
"Saya akan bantu selesaikan masalah ini." ujar Richard.
Belum sempat Nadya menjawab, seorang guru tampak mendekat ke arah mereka.
"Selamat pagi bu Nadya, dan pak...?"
"Richard." jawab Richard.
"Baik, mari ikut saya!" ujar guru tersebut.
Nadya dan Richard pun lalu ikut menuju ke salah satu ruangan. Guru yang memanggil tersebut adalah guru dari bagian kesiswaan.
"Silahkan duduk!" ucap guru tersebut.
Richard dan Nadya pun duduk.
"Begini bu, pak. Saya sudah menerima laporan mengenai kejadian yang menimpa Arkana di sekolah ini. Dan sebagai guru yang menangani masalah kesiswaan, saya benar-benar minta maaf." ujar guru tersebut.
"Kami juga sudah memanggil orang tua dari anak-anak yang melakukan bullying terhadap Arkana." lanjutnya lagi.
"Tetapi pak, bu. Kembali lagi kita semua tak bisa menyalahkan anak-anak sepenuhnya. Sebab dalam hal ini, setelah saya lihat dan pelajari. Ada kesalahan juga yang dilakukan oleh pak Hanif." tambahnya.
"Iya bu, saya mengerti." ucap Nadya.
"Harusnya suami saya menjaga istri barunya untuk tidak membuat konten yang demikian. Mengingat anak-anak saat ini sudah akrab dengan gadget dan bisa saja mereka membuka sosial media tanpa dibawah pengawasan orang tua." lanjutnya lagi.
"Benar sekali, bu. Di jaman yang sudah serba teknologi seperti sekarang, kita para orang tua memang harus berkerja sama dan berusaha lebih keras. Anak-anak bisa kita awasi penggunaan sosial medianya, tetapi. sebagi orang tua kita juga harus menjaga tindakan." tukas guru tersebut.
"Saya bukan mau membela siswa yang melakukan bullying terhadap Arkana. Tetap itu semua pasti akan di proses dan diberikan tindakan sesuai peraturan sekolah ini." tambahnya.
Richard terus memperhatikan obrolan tersebut, hingga kemudian ia pun turut andil berbicara.
"Tindakan selanjutnya untuk memulihkan kondisi mental Arkana bagaimana, bu?" tanya pria itu.
"Kita bisa saja mungkin membawa dia ke psikolog anak. Tetapi selama bullying itu masih terus berlangsung, semua itu akan percuma. Bagaimana cara sekolah ini akan menghapus tindakan tersebut dan memastikan tidak terulang lagi." lanjutnya kemudian.
__ADS_1
"Baik, pak. Kami akan sangat-sangat mengusahakan hal itu tidak terulang lagi. Kami juga akan berkoordinasi dengan berbagai pihak termasuk dengan orang tua dari anak-anak tersebut." jawab sang guru.
"Baik, kami percayakan itu semua kepada guru yang ada di sekolah ini." ucap Richard lagi.
"Baik pak, maaf kalau boleh tau pak Hanif-nya kemana ya?. Kenapa tidak ikut datang dan membahas hal penting ini." tanya guru tersebut pada Nadya dan juga Richard.
Nadya sendiri sempat diam sejenak, sebab memang harusnya Hanif yang duduk sebelah dan turut membantu menyelesaikan masalah ini. Tapi pria itu saat ini masih sibuk dengan istri barunya.
"Dia masih ada urusan di luar kota, bu." jawab Nadya.
"Baik kalau begitu."
Mereka terus berbicara mengenai masalah ini. Sementara di sebuah tempat Lita dan Putri, pembantu Nadya kembali mengadakan pertemuan.
"Jadi sekarang bos gue lagi ada sama majikan lo?" tanya Lita pada Putri.
"Iya, kemarin dia ada nyamperin gue di rumah sakit dan nanya. Arkana itu sekolah dimana."
"Terus lo jawab apa?" tanya Lita lagi.
"Ya, gue jawab aja sekolah dimana. Dan hari ini katanya dia mau kesana dan bantu menyelesaikan masalah Arkana."
"Hihi, bagus deh." ujar Lita gembira.
"Tenang aja, pak Richard mah nurut apa kata asisten rumah tangganya." jawab Lita sambil tertawa.
"Gue udah nggak sabar liat mereka makin dekat dan si kecoa laut itu tersingkir." ucap Putri lagi.
"Iya, semoga usaha kita ini lancar." ujar Lita.
"Iya semoga." jawab Putri.
***
Di lain pihak.
Ellio telah berhasil mengumpulkan kandidat dari aplikasi perjodohan. Ia dan Daniel berencana ingin segera mempercepat proses dan mendapatkan calon pendamping bagi Richard.
"Walaupun belum mau nikah buru-buru. Minimal Richard ada pasangan dulu deh. Biar bisa mengawasi dan mengingatkan dia, soal kesehatan." ujar Ellio.
__ADS_1
"Iya, gue setuju hal tersebut." tukas Daniel.
Ia dan Ellio belum tau jika saat ini Richard tengah melakukan pergerakan dalam mendekati Nadya.
Bukan apa-apa, ia selama ini selalu terbuka terhadap kedua sahabatnya itu. Namun untuk Nadya, ia agak ragu. Ia takut ditentang terutama oleh Daniel. Sebab Daniel sendiri memiliki hubungan yang baik dengan Hanif, meski itu hanya sebatas partner bisnis.
Richard tak mau Daniel terlibat atau menjadi sasaran kemarahan Hanif, jika hal ini sampai ketahuan. Ia tak ingin semua ini berpengaruh pada perusahaan dari menantunya tersebut.
"Ini gue udah mengumpulkan cukup banyak kandidat dan akan mulai kita seleksi mulai besok." ujar Ellio.
"Pokoknya lo atur aja lah, bro." tukas Daniel.
"Tapi lo juga ikut proses seleksinya, biar lo bisa menilai juga." ucap Ellio lagi.
"Iya, gue pastikan gue akan ikut koq." jawab Daniel.
"Oke, untuk tahap awal gue akan mengeliminasi berdasarkan look di foto dulu. Karena ini kandidatnya udah kebanyakan."
"Emang ada berapa total?" tanya Daniel.
"150 orang." jawab Ellio.
"Anjay." Daniel tertawa.
"Banyak juga yang demen sama si Junaedi." ujarnya.
"Iyalah, good looking dan tajir melintir. Markonah mana yang nggak mau ambil kesempatan." seloroh Ellio.
Kedua sahabat itu pun lalu tertawa-tawa.
***
Lea hari ini melanjutkan diet dan olahraganya. Tadi pagi-pagi sekali ia bangun dan langsung lari di treadmill. Alat itu memang sudah ada di penthouse sejak sebelum Daniel menikahinya.
Hanya saja Lea agak malas menggunakan dan lebih memilih rebahan atau nonton drakor sambil makan mie instan. Tetapi kali ini ia memiliki saingan yakni Shela.
Meski saingannya tersebut cukup burik menurut pandangan matanya. Tetap sebagai istri ia harus tampil mempesona di hadapan sang suami. Supaya pelakor makin dipersempit jalannya untuk mencapai tujuan.
Lea menyelesaikan olahraganya pagi itu dan diakhiri dengan segelas protein shake. Kemudian ia beristirahat sejenak lalu membersihkan rumah dan mandi.
__ADS_1
Tak lama Darriel bangun, kemudian ia pun mengurus anak itu dan memandikannya. Jika biasanya ia mengeluh dengan berat badan Darriel yang menurutnya sudah berat. Kini ia rela menggendong Darriel agak lama, sambil berjalan kesana-kemari.
Karena mengangkat beban sambil bergerak sama saja dengan olahraga dan itu baik untuk tubuhnya.