Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Salah


__ADS_3

"Om nggak tidur?"


Lea bertanya pada Daniel, ketika pria itu masih saja berkutat dengan handphonenya.


"Saya belum bisa tidur."


Daniel menjawab dengan nada acuh tak acuh, sementara matanya masih melihat ke arah layar.


"Ntar sakitnya nggak sembuh-sembuh loh." ujar Lea.


"Hmm."


Daniel masih bersikap cuek, ia memang tipikal pria yang kurang bisa menuruti keinginan siapapun. Kecuali Grace, Richard atau Ellio. Hanya tiga orang itu saja yang bisa membuatnya menurut, untuk melakukan sesuatu.


Sementara Lea berharap Daniel segera tidur, agar ia bisa berjalan ke kamar Hans. Entah mengapa ia jadi ingin terus berada di dekat pemuda itu.


"Ya udah, selama om belum tidur. Saya juga nggak akan tidur. Biarin aja kita bergadang sampe pagi."


Lea beralih ke sofa dan bermain handphone, usai melayangkan ancamannya. Daniel pun tak bisa berbuat banyak, karena gadis itu besok harus pergi ke sekolah. Maka Daniel menghentikan aktivitasnya dan mencoba untuk tidur.


Lambat laun, Daniel pun terlelap. Lea mendekat sejenak ke arah pria itu, dan memastikan apakah ia benar-benar tertidur atau hanya berpura-pura saja. Ternyata Daniel benar-benar tertidur, Lea kini keluar. Menuju ke kamar Hans.


Sesampainya di sana, Hans terbangun dan mendapati Lea yang berada di sisinya. Hans begitu senang, begitupula dengan Lea.


"Lea, kamu nggak pulang?" tanya Hans pada gadis itu.


"Aku mau disini jagain kamu." ujar Lea kemudian.


"Tapi kan besok, kamu harus sekolah." ujar Hans lagi.


"Aku bisa bangun pagi-pagi, dan pulang ke rumah."


"Om Ellio nggak nyariin kamu?"


"Aku udah minta izin koq." ujar Lea.


Hans menghela nafas, jujur ia rasanya tak ingin Lea berada di sana. Bukan karena ia tak menyukai kehadiran gadis itu, namun takut Lea tak bisa tertidur nyenyak dengan suasana rumah sakit.


"Aku ngerasa bersalah banget, Lea. Baru pertama kali ngajak kamu jalan, udah begini."


Hans seolah menyesali semuanya.


"Ini kan bukan salah kamu, Hans. Siapa yang mau kena musibah, masih untung kita selamat." ujar Lea membesarkan hati Hans.


Pemuda itu pun menjadi damai hatinya seketika. Lea benar-benar memberinya sebuah penghargaan dan perhatian.


"Kamu udah makan?" tanya Hans lagi.

__ADS_1


"Mmm, belum." ujar Lea.


"Ya udah, nih kamu pesen." Hans menyodorkan handphonenya pada gadis itu.


"Pakai handphone aku aja, Hans." ujar Lea.


"Jangan, biar aku yang bayar." ujar Hans kemudian.


"Udah Hans nggak apa-apa, pake punya aku aja." Lea bersikeras, namun Hans tak mau mengalah begitu saja.


"Nih kamu order pake handphone aku, disitu langsung bisa pembayaran."


"Ok deh." Lea akhirnya menyerah.


"Aku mau juga ya. Apa yang kamu mau order, aku ngikut aja."


Lea menatap Hans.


"Emangnya boleh, kata dokter?"


"Boleh kalau nggak ketahuan."


Lea dan Hans saling bersitatap lalu tertawa, gadis itu lalu memesan makanan. Malam itu mereka makan bersama, sambil berbincang beberapa saat.


Setelah itu, Hans menyuruh Lea untuk tidur. Karena besok ia harus sekolah. Lea pun tidur di sofa yang ada di muka tempat tidur Hans.


***


"Lea."


Ia mencoba memanggil Lea, untuk meminta tolong dipanggilkan perawat atau dokter. Karena ia sudah tidak sanggup menggapai atau menekan, tombol pemanggil perawat yang ada disisi tempat tidurnya.


"Lea." ujarnya lagi.


Namun Lea tengah tertidur lelap di ruangan Hans. Hingga kesadaran pun akhirnya menjauh dari Daniel.


Pukul setengah lima pagi, Lea terbangun. Ia pamit pada Hans, meski Hans masih tertidur lelap. Lea melangkah keluar dari kamar pemuda itu, namun kemudian ia melihat Richard yang berlarian ke suatu arah. Ia ingat jika semalam Richard sudah pulang bersama Ellio. Lea pun lalu mengikuti langkah pria itu.


"Om."


Lea menghentikan langkah Richard, pria itupun menoleh.


"Lea, kamu dari mana aja. Kenapa kamu nggak ada di samping Daniel, waktu dia kritis."


"K, kritis?" Lea tercengang tak percaya.


Richard kini melanjutkan langkah, menuju ke instalasi gawat darurat dengan wajah panik. Sementara Lea mendadak diserang perasaan yang sangat takut dan bersalah. Ia lalu berlarian menyusul Richard.

__ADS_1


Ia ingin bertanya dimana Daniel kini berada dan bagaimana keadaannya. Namun Richard terlalu sibuk berbicara di telpon dengan Ellio. Hingga Lea pun mencari-cari di instalasi tersebut.


Tubuh Lea mendadak lemas, ketika mendapati seseorang yang baru saja dinyatakan meninggal dunia. Tangis Lea pun pecah seketika, menatap pria yang jasadnya sudah ditutup tersebut. Jasad itu akan segera dipindahkan.


"Om Daaan." Lea histeris.


"Maafin saya om, saya nggak jaga om dengan baik. Maafin saya, jangan tinggalin saya om. Nanti saya sama siapa?"


"Lea."


Tiba-tiba Daniel memanggil dari balik sebuah gorden penutup. Seketika Lea pun menghambur dan langsung memeluk pria itu secara serta merta.


Daniel kaget, namun Lea menangis sesenggukan sambil terus memeluk dirinya. Mau tidak mau akhirnya Daniel pun membalas pelukan tersebut.


"Om, saya kira om mati. Maafin saya, om. Maafin saya nggak jagain om semalaman."


Lea kian tersedu-sedu. Daniel membiarkan gadis itu menangis, agar semua emosinya meluap.


"Saya janji nggak akan ninggalin om lagi, walaupun om nyebelin dan cuek sama saya."


"Dan."


Richard dan Ellio tiba. Namun mereka menyaksikan pemandangan tersebut. Lea belum reda tangisnya, sementara Daniel masih membalas pelukan gadis itu.


Daniel menatap Richard dan Ellio dengan tanpa ekspresi, namun kedua sahabat itu lalu agak menarik diri dan membiarkan momen tersebut berlangsung. Lea kini melepaskan pelukannya, lalu menatap Daniel.


"Om beneran masih hidup kan, om?. Bukan hantu?"


Lea menatap dan menyentuh pipi Daniel. Entah mengapa tiba-tiba ada perasaan hangat yang menjalar di hati pria itu. Meski ekspresi wajahnya tak berubah banyak.


"Aaakh."


Daniel mengerang sedikit, ketika secara serta-merta Lea mencubit lengannya. Melihat Daniel yang masih bisa merasakan sakit tersebut. Lea pun akhirnya tertawa, disela tangisnya yang masih tersisa.


Ia yakin betul, jika yang ia lihat kali ini benar adalah Daniel. Bukan roh atau semacamnya. Lea pun kembali memeluk pria itu.


***


"Lea, jangan tinggalin om Dan lagi. Kalau om sama om Richard lagi nggak ada."


Ellio menasehati Lea, ketika gadis itu telah usai memastikan keadaan Daniel. Daniel kini sudah dipindahkan kembali ke ruangannya dan tengah berbicara dengan Richard.


"Iya om, maaf. Soalnya saya liat semalem, om Dan udah normal aja. Makanya saya percaya diri buat ninggalin dia di kamar sendirian. Lagian saya nggak mau ganggu istirahatnya dia."


Ellio menghela nafas.


"Kali ini nggak apa-apa, tapi selanjutnya awasi terus sampai sembuh. Om juga sebenarnya nggak enak nyuruh-nyuruh begini. Tapi selama om Dan belum sembuh, dan misalkan om Ellio sama om Richard sibuk. Om bisa minta tolong ke siapa lagi kecuali kamu. Om Dan itu keluarganya jauh semua, ibunya nggak tau dimana, ayahnya juga udah punya istri lagi. Nggak ada yang bisa jagain dia, kecuali kita. Dan kita juga akan gantian, kalau suatu saat om atau om Richard, atau kamu butuh bantuan. Kita akan saling bantu. Sekarang om Dan yang butuh bantuan kita, jadi kita bantu. Ok?"

__ADS_1


Lea mengangguk kemudian menunduk. Jujur ia benar-benar merasa bersalah dan egois kali ini.


__ADS_2