
"Lele."
Rumah Richard heboh, karena kedatangan teman-teman kampus Lea. Ada Nina, Vita, Adisty, Ariana, Iqbal, Rama dan juga Dani.
Meski kondisi sedang genting dan berbahaya. Tetapi Richard mengatakan pada Lea untuk jangan terlalu khawatir. Ia juga meminta pada anaknya tersebut untuk tidak mengatakan apa-apa pada teman-temannya. Karena takut teman-temannya itu akan merasa cemas nantinya.
"Kalian apa kabar?" Lea heboh, ditengah teman-temannya yang juga tak kalah heboh.
Mereka saling berpelukan, cipika-cipiki dan saling menanyakan kabar masing-masing.
"Kita baik, Le. Kangen banget sama lo." Adisty mewakili yang lainnya.
Maka Lea pun mempersilahkan mereka untuk masuk. Mereka berkumpul di ruang yang menghadap langsung ke kolam renang. Tempat itu merupakan tempat yang enak untuk mengobrol. Lea juga memesan banyak makanan untuk mereka semua.
"Le, mana Darriel?" tanya Iqbal setelah beberapa saat berlalu.
"Tidur." jawab Lea.
"Sana kalau mau ngeliat. Minta temenin Adisty atau Ariana." lanjut perempuan itu.
"Ntar aja deh, takut dia bangun nanti." tukas Iqbal lagi.
Mereka kemudian berbincang dan bercanda sambil makan-makan. Setidaknya kerinduan Lea akan kampus sedikit terobati, dengan kedatangan teman-temannya tersebut.
Usai makan sebagian dari mereka ada yang berenang, sebagian lagi tetap berada bersama Lea dan membahas banyak hal
Ketika Darriel akhirnya menangis, Lea membawa bayinya itu turun ke bawah. Teman-teman Lea bergantian menggendongnya, meski tak begitu lama. Sebab Darriel kemudian dibawa lagi ke atas lantaran kembali tertidur dengan lelap, usai di beri ASI.
"Bayi mah gitu ya, Le. Bangun, abis itu tidur lagi." ujar Rama sambil mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.
"Sama, elu juga. Abis bangun, capek, tidur lagi." seloroh Dani.
Semua pikiran Lea dan teman-temanya tertuju pada hal kotor. Lalu mereka pun tertawa-tawa.
"Itu mah beda bangunnya, anjay."
Rama sewot sambil menghisap batang rokok dan menghembuskan asapnya ke udara.
"Itu bangun minta masuk ke dalam sarang." seloroh Ariana.
"Cie yang hafal banget sama yang suka bersarang." ledek Adisty.
Mereka kembali tertawa-tawa.
"Tapi nyusahin nggak sih Le, kalau malam?" Vita bertanya.
__ADS_1
"Siapa?. Darriel apa bapaknya?" Lea balik bertanya.
Lagi-lagi pikiran kotor teman-teman Lea tertuju pada satu titik.
"Hahaha." Mereka kembali terbahak.
"Ya, Darriel lah." jawab Vita kemudian.
Lea yang masih tertawa itu pun menjawab.
"Nggak sih, biasa aja. Saat ini ya, nggak tau nanti-nanti kalau dia udah gede. Saat ini dia nggak terlalu nyusahin banget. Malem juga dia kalau bangun, bapaknya atau kakeknya yang ngurus." jawab Lea.
"Emang bapak lo dan laki lo mau gitu Le, ikutan ngurus si Darriel?" Kali ini Adisty yang bertanya.
"Mau, malah kalau malem gue nggak disuruh bangun. Disuruh tidur aja sampe pagi." jawab Lea.
"Lah ASI nya gimana?" tanya Rama heran.
"Kan di pompa, Rama." Nina yang sejak tadi diam mulai bersuara.
"Oh terus, disimpan gitu?. Nggak basi?"
"Ya di kulkasin." ujar Lea.
"Kan ada pemanasnya, Bambang." Iqbal nyeletuk dari dalam kolam renang.
"Oh ada?"
"Ada." jawab Lea dan yang lainnya serentak.
"Jadi kayak ada alat gitu, ntar botol susunya di tarok disitu sampai suhu yang kita inginkan. Iya nggak, Le?" tanya Dani.
"Iya kira-kira begitu lah." ujar Lea.
"Oh." Rama manggut-manggut.
"Banyak-banyak belajar, Ram. Biar ntar pas punya anak, lo bisa ikutan ngurus." ujar Ariana.
"Bener, jangan cuma bikin doang bisanya." seloroh Adisty.
Mereka pun kembali tertawa-tawa.
***
Sebuah mobil tengah melaju dengan kecepatan sedang di suatu jalan. Mobil tersebut tengah di kendarai oleh salah satu bos perusahaan, yang tak lain dan tak bukan adalah Marvin. Saat ini dirinya tengah bersama dengan Clarissa.
__ADS_1
Sejak pertemuan tempo hari, Marvin mulai tergoda pada look Clarissa yang baginya cukup menganggu pikiran. Meski tak secantik gadis-gadis lain yang pernah ia temui sebelumnya.
Clarissa memiliki gairah yang luar biasa dan sangat menggoda bagi pria itu. Hingga sejauh ini terhitung sudah tiga kali mereka melakukan hubungan, yang seharusnya hanya dilakukan oleh pasangan suami-istri.
"Sayang, kalau aku hamil kamu tanggung jawab ya."
Clarissa mulai memasukkan pengaruhnya terhadap pria kaya itu. Sebab memang ketika berhubungan, Marvin tak memakai pengaman dan Clarissa sendiri tak menggunakan pil kontrasepsi.
Jika sebelum-sebelumnya ia sangat berhati-hati dengan para sugar daddy nya, agar tidak hamil. Namun ada pengecualian apabila lawan mainnya adalah pria yang kira-kira berpotensi untuk dinikahi.
Clarissa tidak akan takut mengambil resiko, sebab ia memang ingin menjadi nyonya dari pria yang kaya raya dan tampan.
"Iya, aku tanggung jawab. Kamu tenang aja." jawab Marvin sambil tersenyum ke arah nya, kemudian kembali fokus ke ke jalan.
"Jangan kabur loh." ujar Clarissa lagi.
"Nggak, percaya sama aku. Aku akan tanggung jawab dan nikahin kamu, kalau memang kamu hamil." lanjut pria itu.
"Kamu beneran nggak ada perempuan lain kan?" Clarissa kembali bertanya.
"Sejauh ini nggak ada, cuma kamu koq."
"Awas aja kalau ada, aku pecahin palanya." ujar Clarissa penuh dendam. Marvin sendiri terkekeh di buatnya.
Mereka kemudian menyusuri jalan demi jalan. Sampai akhirnya Marvin menyadari jika mobil mereka tengah diikuti oleh mobil lain.
"Kenapa, sayang?"
Clarissa heran, sebab ia memperhatikan Marvin yang terus mengamati kaca spion.
"Ada orang yang ngikutin kita." ujarnya kemudian.
Clarissa menoleh. Ada dua mobil yang saling beriringan di belakang sana. Dan tampaknya mobil tersebut memang mengikuti mobil Marvin.
Mobil tersebut melaju kencang, Marvin pun menaikkan kecepatan. Clarissa sendiri mengencangkan sabuk pengaman karena takut terjadi apa-apa.
"Itu siapa sih?" tanya nya pada Marvin.
Pria itu tak menjawab dan hanya fokus mengemudi. Mereka terus berkejar-kejaran, sampai kemudian ketika tiba di suatu jalanan yang sepi. Salah satu pengemudi dari mobil yang mengikuti tersebut, berhasil menyalip laju kendaraannya.
Tak lama kendaraan kedua menyusul untuk memblokade langkah Marvin dari arah belakang. Marvin mengambil senjata api dan keluar dari dalam mobilnya, sedang Clarissa menunggu di dalam dengan cemas. Ia takut itu adalah sugar daddy nya, sebab ia masih berhubungan dengan pria itu demi uang.
Marvin keluar bertetapan dengan keluarnya dua orang pengemudi yang mengikutinya barusan. Dua pengemudi itu langsung menodongkan senjata api ke arahnya. Satu dari arah depan, satu lagi dari arah belakang. Sedang Marvin hanya bisa balas menodong pada orang yang di depan.
Clarissa amat sangat terkejut, sebab dua orang yang menodongkan senjata api itu tak lain adalah Daniel dan juga Richard. Mereka kini menatap tajam ke arah Marvin, dan seolah tak memberikan ampunan sama sekali.
__ADS_1