
Richard dan ayah Leo terus melayani pembeli, dan saling melirik satu sama lain sesekali. Seolah keduanya adalah orang yang kini tengah bersaing untuk mendapatkan sesuatu.
Mereka juga berebut untuk membantu ibu Lea dalam banyak hal. Seperti saat ini saja, ibu Lea membawa banyak roti baru. Kedua pria itu bergegas mendekat dan berusaha membantu.
Padahal ada karyawan lain yang juga sama repotnya dengan ibu Lea, tapi tak mereka bantu sama sekali.
"Bapak gue sama bapak lo kenapa dah?"
Lea yang baru tiba berbarengan dengan Leo itu pun, bertanya pada sang adik. Sebab matanya menyoroti tingkah kocak Richard dan juga ayah Leo.
"Mana gue tau." ujar Leo kemudian.
Keduanya terus memperhatikan tingkah kedua pria dewasa itu, sampai sang ibu datang mendekat.
"Kalian baru sampai?" tanya ibu mereka pada keduanya.
"Iya, bu." jawab Lea dan Leo serentak.
Ibu Lea langsung menyambut Darriel yang ada dalam gendongan Lea. Kebetulan beberapa saat yang lalu ia sudah mencuci tangan. Mereka kini menuju ke sebuah meja dan duduk disana.
"Ayah sama papanya Leo, jadi karyawan dadakan bu?" ledek Lea pada ibunya. Sang ibu hanya tertawa.
"Nggak tau ibu, ayah Leo tadi pagi mendadak tau-tau udah ada di depan toko. Maksa ibu pengen bantu. Eh, nggak lama ayah kamu juga ikut-ikutan datang membantu tanpa aba-aba." jawab wanita itu kemudian.
Lea tertawa kecil, Leo yang jarang bicara dan tertawa itu saja bisa tersenyum. Sementara Richard dan ayah Leo masih menikmati persaingan sengit mereka.
***
"Hahahaha."
Daniel tertawa geli ketika Lea menceritakan perihal Richard di rumah. Saat ini keduanya bersama Darriel sudah kembali ke penthouse.
"Seriusan, Le?" tanya Daniel pada istrinya tersebut.
"Serius mas, nih kalau nggak percaya."
Lea tadi sempat ada merekam beberapa tingkah Richard selama berhadapan dengan ayah Leo. Dan kini ia memperlihatkan rekaman tersebut pada Daniel. Lagi-lagi Daniel pun terbahak.
"Wah, udah masuk mode persaingan sengit nih." ujar Daniel.
"Kamu sendiri gimana, Le." tanya nya pada sang istri.
"Gimana apanya, mas?" Lea balik bertanya.
"Kamu mendukung kubu yang mana?. Richard atau bapaknya Leo?"
Mendengar hal tersebut, Lea pun tertawa dibuatnya.
"Aku mah siapa aja lah, mas. Diantara kedua orang itu, dua-duanya sama-sama orang baik. Salah satunya ayah kandung aku sendiri. Aku cuma nggak mau ibu dapat lagi kayak model bapaknya si kembar kemaren. Itu mah amit-amit jabang bayi, mending ibu nggak usah nikah kalau dapat yang model begitu lagi." ucap Lea.
"Heheee."
Tiba-tiba Darriel tertawa. Lea dan Daniel terkejut, sebab sedari tadi Darriel tidur di dekat mereka.
"Lah, kamu udah bangun?" tanya Daniel pada Darriel.
__ADS_1
"Heheee." bayi itu kembali tertawa.
"Nguping kali ya mas, dia dari tadi." ujar Lea.
"Tau, iya nak ya?. Nguping kamu ya?" tanya Daniel dan lagi-lagi Darriel tertawa.
"Tumben jam segini udah bangun, pipis nggak kamu?"
Lea membuka celana dan popok bayi itu kemudian memeriksanya.
"Tak ada apapun disana, namun kemudian.
"Brooot."
Sebuah angin hitam langsung menghentak hidung Lea secara serta merta.
"Hmmh, Darriel. Bauuuu."
Lea menggerutu kesal sementara Darriel dan Daniel kini tertawa-tawa.
***
"Apa-apaan ini, Marvin?"
Ayah Marvin membentak sang putera di telepon. Pasalnya orang tua itu kini telah mengetahui perihal Marvin yang masuk media pemberitaan.
"Koq bisa sampai kamu diberitakan seperti ini?" tanya nya lagi. Nadanya masih sama seperti tadi.
Marvin sendiri hanya bisa mendengarkan dan tak bisa menjawab. Apa yang ia khawatirkan kini benar-benar telah terjadi.
Ayah Marvin terus berapi-api, sementara Marvin-nya sendiri terbakar oleh api tersebut. Pasalnya ia belum juga berhasil menemukan Clarissa dan pihaknya belum berhasil membereskan semua masalah ini.
"Maafin, Marvin pa."
Hanya itu kata-kata yang akhirnya keluar dari mulut Marvin. Sementara sang ayah sudah terlanjut emosi jiwa.
"Pokoknya papa tidak mau menahu. Bereskan masalah ini sekarang juga. Jangan sampai makin menyebar dan makin merusak reputasi keluarga kita."
"Iya, pa." jawab Marvin dengan nada lemah.
Sang ayah dengan penuh kemarahan, kemudian menutup sambungan telpon tersebut.
"Huuuh."
Marvin menarik nafas panjang, diantara udara yang seakan kian menipis.
"Aarrgghh."
Ia membanting apapun yang ada di dekatnya. Hingga hal tersebut mengeluarkan bunyi yang membuat gaduh.
"Praaang."
"Braaaak."
"Brengsek." teriaknya kemudian.
__ADS_1
Pria itu lalu duduk di kursi meja kerja sambil membenamkan kelana dan wajah, diantara kedua tangan. Kepalanya kini terasa benar-benar sakit.
Rasanya ingin memutar waktu, ke tempat dimana ia bertemu dengan Clarissa dan membatalkan itu semua. Sebab wanita itu kini adalah petaka bagi keluarganya.
***
"Kamu mau makan apa sayang?"
Ellio bertanya pada jabang bayi yang masih berada di perut istrinya. Saat ini ia dan Marsha dengan menonton televisi.
"Pengen telur dadar, papa." jawab Marsha.
"Dia manggil aku papa atau bapak sih?" tanya Ellio lagi.
Marsha diam.
"Mmm, terserah dia aja deh nanti." seloroh wanita itu sambil tertawa. Ellio pun jadi ikut-ikutan tertawa.
"Kamu mau telur dadar aja?. Papa yang bikin?" Ellio kembali melontarkan pertanyaan.
"Boleh, tapi emang bisa?" tanya Marsha ragu.
"Bisa dong, kalau cuma telur dadar doang mah."
"Tapi pengennya yang krispi. Kayak yang di makan YouTuber-YouTuber itu loh." ucap Marsha lagi.
"Oh yang itu, tau koq aku cara buatnya." ujar Ellio.
"Tapi yang enak." ucao Marsha.
"Iya, dijamin enak. Kamu tenang aja, serahkan sama papa."
"Mmm, ya udah deh mau." tukas Marsha.
"Tunggu disini ya, sayang."
Ellio mengusap dan mencium perut sang istri. Marsha tersenyum, Ellio kemudian beranjak ke dapur. Ia menonton cara membuat telur krispi sejenak di YouTube, kemudian mempraktekkannya.
Beberapa saat kemudian ia kembali pada Marsha, dengan membawa apa yang perempuan itu minta. Marsha sangat bahagia, ternyata rupa telur tersebut sama persis dengan apa yang pernah di review oleh beberapa YouTuber.
Namun Marsha belum tau rasanya bagaimana. Terlebih ini adalah masakan Ellio yang di disinyalir akan membuat jiwa waras meronta-ronta.
"Ayo dimakan!" perintah Ellio.
Marsha pun mulai menyendok dan memakan telur tersebut, meski agak horor. Namun ternyata rasanya tak seburuk yang ia kira, malah ini cenderung enak.
"Pak, ini enak banget loh." ujarnya dengan wajah yang penuh kebahagiaan.
"Ya udah makan, mau pake nasi?" tanya Ellio.
"Mau."
Marsha menyerahkan piringnya kembali pada Ellio. Kemudian pria itu menambahkan nasi disana. Tak lama Marsha sudah terlihat makan dengan lahap.
Tanpa Marsha sadari jika di dapur, ada 4 telur dadar krispi gagal yang dibuat Ellio. Ada yang terlalu garing seperti kerupuk karena kebanyakan air. Ada yang gosong sebagian, ada yang keasinan dan ada pula yang gosong di kedua sisi.
__ADS_1