
Ellio akhirnya diperbolehkan pulang ke rumah. Marsha mempersiapkan segala sesuatu termasuk membereskan tempat tersebut. Karena pembantu Ellio sudah ditarik ke rumah orang tuanya.
Marsha meminta mereka berdua saja, agar bisa lebih intens dan membangun hubungan yang lebih dekat lagi.
Sementara di otak Ellio, jika tidak ada orang lain. Maka ia bebas bercinta dengan istrinya itu di ruangan mana saja, tanpa harus merasa canggung terhadap orang lain.
"Sha, kamu nggak usah terlalu sibuk. Nanti aja semuanya di bereskan." ujar Ellio yang kini sudah berada di atas tempat tidur. Dengan posisi setengah berbaring.
Sementara Marsha tampak berkutat membereskan baju-baju Ellio, meletakkan obat dan juga sedikit membersihkan lantai.
"Iya pak, dikit aja. Aku nggak suka berantakan soalnya. Pusing, rasa mau teriak ngeliatnya." jawab Marsha.
"Ya udah tapi jangan terlalu capek, karena aku belum bisa bantuin kamu." ujar Ellio lagi.
"Beres." jawab Marsha.
Ia pun lalu bergerak cepat dan menyelesaikan semuanya. Selang beberapa saat, ketika Ellio mencoba menunaikan tugas kantor melalui laptopnya. Marsha tiba dengan nampan berisi makanan.
"Sha?"
Ellio mengerutkan kening. Sebab Marsha begitu cepat mengerjakan sesuatu, termasuk makanan itu sendiri.
"Kenapa pak?" tanya Marsha sambil tersenyum.
"Kamu apa-apa cepet banget." tukas Ellio.
Marsha makin tersenyum.
"Kan aku multitasking." ujarnya kemudian.
"Nih makan dulu." lanjutnya lagi.
"Kamu masak apa?" Ellio memperhatikan.
"Ini tahu ayam saos tiram, sama sayur bening bayam dan nasi." ujarnya menjelaskan.
Ellio menatap istrinya itu. Seumur-umur mengenal wanita, ia belum pernah dapat yang bisa memasak. Maka hal ini membuatnya takjub.
"Biasa aja kali pak, sampe terpesona gitu." goda Marsha.
Ellio pun tertawa. Marsha menyiapkan makanan untuk pria itu.
"Kapan kamu belanjanya?"
"Tadi di dekat rumah sakit, pagi-pagi." jawab Marsha.
Ellio mulai makan.
__ADS_1
"Gimana?" tanya Marsha.
"Enak." jawab Ellio.
"Ya udah, di habisin ya." tukas perempuan itu lagi. Ellio mengangguk lalu melanjutkan makan.
***
"Pak kita dapat surat ancaman."
Salah satu karyawan Daniel yang bernama Tyo menemuinya di ruangan dan memberitahukan hal tersebut. Sebab surat ancaman itu ada di meja Tyo, selaku kepala divisi humas perusahaan.
"Ancaman apa?" tanya Daniel tak mengerti.
Tyo pun memperlihatkan sebuah surat kaleng, yang dialamatkan kepada perusahaan. Dalam surat tersebut berisi ultimatum kepada Daniel, agar ia segera menarik diri dari proyek besar yang diadakan di sebuah daerah.
Daniel diam, ia tau siapa pelakunya. Namun dengan tidak adanya alamat yang tertera di surat itu, bisa saja yang bersangkutan berkelit. Apabila Daniel tetap menuduhkan bisa-bisa dianggap fitnah atau pencemaran nama baik.
"Oke, kamu dan yang lain tidak perlu khawatir mengenai hal ini. Biar saya yang tangani." ujar Daniel.
"Baik, pak."
Tyo pun lalu pergi meninggalkan tempat itu. Sedang kini Daniel masih menatap surat yang ada dihadapannya tersebut.
***
Sesekali Lea mengawasi, takut Darriel diterbangkan oleh ketiga pemuda itu. Sebab jika menyuruh anak laki-laki menjaga bayi, pasti ada saja hal yang mereka buat. Namun mereka ternyata tak demikian. Malah Darriel tidur nyenyak di gendongan Iqbal.
"Bapak nggak jadi." seloroh Dani.
Ia mengingatkan jika dulu Iqbal sempat naksir pada Lea.
"Bingsit." seloroh Iqbal sambil tertawa.
Ia ingin mengatakan "Bangsat", tapi takut Darriel merekam dalam ingatannya dan di bawa sampai dewasa. Mereka sangat berhati-hati jika bicara di hadapan anak kecil. Tak hanya sekali ini saja, sebab mereka pun memiliki keponakan yang masih kecil dan terbiasa bersama mereka.
"Udah pada makan dulu gih!" ujar Lea lalu meraih Darriel.
"Udah pada mateng emangnya?" tanya Rama.
"Udah dong, sana!"
Mereka beranjak ke meja makan dan Lea pun kini membawa Darriel ke kamar. Sesaat kemudian ia bergabung dengan teman-temannya untuk makan. Sebab semua perkara telah beres. Undangan dan persiapan pernikahan keduanya semua telah rampung, berkat bantuan teman-temannya.
***
"Itu orang mesti langsung di kasih pelajaran kayaknya."
__ADS_1
Richard yang memang tengah kepikiran soal Dian, kini menjadi lebih emosi. Tatkala Daniel mengadukan perihal surat ancaman yang dia terima.
"Tapi kalau kita judge langsung, bisa-bisa kita dituduh pencemaran nama baik." tukas Daniel.
Richard diam sejenak.
"Ya kita balas surat kaleng juga, beres kan." ujarnya mengeluarkan ide.
Daniel menatap mertuanya itu.
"Kalau dia mau menghadapi kita dengan cara anak kecil, kita lebih bisa melakukan hal tersebut bro." lanjutnya lagi.
Daniel pun tertawa, sebab ide Richard terdengar boleh juga. Memang ini merupakan sesuatu yang sangat kekanak-kanakan. Tapi yang mengancam mereka juga seperti anak kecil, maka cara menghadapinya adalah dengan cara anak kecil pula.
"Iya kan?" tanya Richard seraya menatap Daniel. Daniel pun tersenyum dan seakan menyetujui ide Richard.
***
"Hueeek."
"Hueeek."
Clarissa kembali muntah-muntah. Kali ini ia sudah mendapatkan testpack. Ia sengaja membelinya meski dengan kondisi tubuh yang seperti orang melayang. Bahkan terasa seperti tidak berpijak di bumi.
Sudah dua hari ini Marvin tidak datang dan ia memang sengaja masih merahasiakan apa yang ia alami. Sebab jika memang ia positif hamil, maka ini akan menjadikan kejutan terbesar untuk Marvin.
Ia pergi ke kamar mandi dan menampung urine. Kemudian ia memasukkan ujung testpack kesana. Cukup lama ia menunggu sampai kemudian, muncul dua buah garis merah di alat tersebut.
Tentu saja Clarissa sangat kegirangan bahkan hampir meloncat setinggi mungkin. Namun dengan cepat ia menyadari jika saat ini dirinya tengah mengandung. Maka ia pun tak jadi melakukan selebrasi tersebut, padahal hatinya begitu girang.
"Yes, akhirnya gue akan jadi nyonya besar." ujarnya kemudian.
"Akhirnya gue hamil, yeay."
Clarissa benar-benar tak bisa dibendung kegembiraannya.
"Gue nggak perlu capek-capek mikir, kalau bisnis gue ada yang mandek. Tinggal nunggu aja tranfser bulanan. Tinggal minta tambahin modal kalau semua lagi kacau. Yes, yes, yes."
Ia terus tersenyum dan tertawa-tawa. Sementara di kediaman orang tua Marvin. Ayah dan ibunya serta ayah dan ibu Helen mengadakan pertemuan. Pertemuan tersebut tanpa diketahui Marvin dan juga Helen.
"Bagaimana kalau kita dekatkan dulu mereka. Istilahnya kita tidak usah memaksa perjodohan, tapi buat mereka saling jatuh cinta dengan sendirinya." ujar ibu Marvin memberi saran.
"Kalau kami terserah mbak saja. Marvin juga anak yang baik, kami suka dengan dia."
Begitulah jawaban yang diberikan oleh orang tua Helen. Kemudian mereka lanjut berbincang mengenai banyak hal.
Sedang di apartemen, Clarissa kini sibuk mempersiapkan kejutan untuk Marvin. Ia akan segera memberitahu perihal kehamilannya.
__ADS_1