Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Berpapasan (Bonus Part)


__ADS_3

Tak lama setelah selesai makan, Daniel mengajak sang istri untuk pulang. Ellio pun sama demikian.


"Aku baru kali ini loh, Le. Abis datang ke acara nikahan, pulangnya disuruh bawa makanan segitu banyak."


Daniel berkata seraya memperhatikan banyaknya bungkusan berisi makanan, yang ada di bagian belakang mobil. Tadi Ellio juga di berikan hal yang sama oleh orang tua Lea.


"Daripada mubazir mas." jawab Lea kemudian.


"Tadi Richard juga bawa nggak?" tanya Daniel.


"Mbak Lita yang bawa, ayah kan udah pulang duluan."


Daniel tertawa kecil.


"Ya udah simpan di kulkas aja nanti." tukasnya lalu menghidupkan mesin mobil.


Sementara Darriel tampak telah tertidur lelap di car seat, dengan jempol yang ia masukkan ke dalam mulut. Sesaat kemudian mobil mereka pun melaju.


"Mas nanti mampir ke mini market yang dekat rumah ya. Soalnya cairan pencuci botol susu Darriel habis."


Lea berujar ketika mereka telah hampir tiba di rumah.


"Oke." jawab Daniel.


Sesuai permintaan sang istri akhirnya mereka mampir ke minimarket yang di maksud. Lea keluar, sementara Daniel berjaga di mobil.


Lea mengambil beberapa cairan pencuci botol atau detergen khusus bayi dan memasukkannya ke dalam keranjang.


Ia juga ada mengambil beberapa hal lain. Sampai kemudian ia selesai dan berjalan hendak menuju ke kasir.


"Degh."


Lea berpapasan dengan seseorang yang membuat ia ingin bersumpah serapah. Ya siapa lagi kalau bukan Shela. Saat itu Shela juga sama menghentikan langkah dan menatap ke arah Lea.


Banyak hal yang ingin Lea cecarkan pada perempuan itu. Namun ia takut nanti jadi ketahuan, jika dirinya berpura-pura menjadi Daniel dan sering menjawab pesan Shela.


Sementara Shela sendiri merasa jika ia telah lebih unggul ketimbang Lea. Sebab ia telah menemui Daniel dan mendapatkan nomor telpon pria itu.


Shela menatap Lea penuh kesombongan dan keangkuhan. Sementara Lea tak tau apa yang tengah dibanggakan oleh perempuan tersebut. Atas dasar apa ia bersikap seperti itu terhadap diri Lea.


Mereka kemudian saling berpapasan, dan sempat berada dalam mode perang dingin selama beberapa detik. Sampai kemudian Shela berlalu dan Lea pergi menuju kasir. Ia membayar semuanya kemudian kembali ke mobil.


"Udah, Le?" tanya Daniel pada Lea.


"Udah mas, yuk jalan!" ujarnya kemudian.


Daniel lalu menghidupkan mesin mobil, dan mereka mulai bergerak meninggalkan tempat itu. Sementara dari dalam sana Shela tampak memperhatikan.


Ia tadi tidak tau kalau Daniel ada ditempat yang sama dengannya. Ia baru sadar setelah berpapasan dengan Lea di dalam. Sebab tak mungkin Lea sendirian di tempat yang jauh dari kediamannya.

__ADS_1


Sementara Daniel sendiri juga sama tak mengetahui kehadiran Shela, dan bahkan ia ingat saja pun tidak pada perempuan itu. Yang artinya ia juga tak memiliki perasaan apa-apa. Hanya Shela saja yang memiliki rasa sendirian.


***


"Mas, kamu nggak selingkuh kan dibelakang aku selama ini?"


Lea tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang membuat Daniel kaget. Saat ini mereka telah berada di rumah dan telah mandi serta berganti pakaian. Mereka ada di tempat tidur sambil merebahkan diri.


"Cari tau dan cek aja kalau memang aku ada begitu. Kalau aku bilang nggak, nanti kamu malah nggak percaya." ucap Daniel kemudian.


"Koq kamu jawabnya gitu?" tanya Lea heran.


"Aku nggak mau ribut dan berdebat soal sesuatu yang nggak ada. Masalah itu nggak perlu di cari-cari." ujar Daniel lagi.


"Kan aku cuma nanya, mas. Wajar dong istri sesekali ada takutnya."


"Ya itu berarti kamu ragu dan nggak yakin sama aku." ujar Daniel.


"Siapa yang ragu dan nggak yakin?. Orang aku cuma memastikan aja."


"Sekarang aku tanya, hati kamu bilang apa soal aku?" tukas Daniel lagi.


"Yakin nggak kamu kalau aku selingkuh?"


Lea diam, jujur ia percaya sepenuhnya pada pria itu. Namun sebagai manusia biasa dan masih muda, ia tak menampik jika ia pun takut akan hal tersebut.


"Masih mau menanyakan hal bodoh lagi?" Daniel kembali melontarkan pertanyaan. Lea lalu menggelengkan kepalanya.


Daniel lalu menarik bantal guling dan memeluknya. Tak lama kemudian ia pun pergi tidur.


***


"Elo ketemu si sugar baby sok kecakepan itu?"


Susi yang dihampiri oleh Shela dirumahnya kini melontarkan pertanyaan. Beberapa detik lalu Shela baru saja bercerita tentang pertemuannya dengan Lea dan juga Daniel di sebuah minimarket.


"Iya, dan gayanya itu loh sok banget anjir. Dia ngeliat gue dengan gaya angkuh, kayak dia aja manusia yang paling cakep dan kaya di dunia ini." ucap Shela penuh kebencian.


"Padahal lakinya balesin chat lo di DM, iya kan?" tukas Susi.


"Ember, udah dapat nomor telponnya lagi gue. Tinggal gue rayu dikit, selesai itu." jawab Shela dengan penuh percaya diri.


Sampai hari ini ia belum tau jika Lea lah yang suka memainkan direct message akun Instagram Daniel, dan membalas pesan-pesan yang ia kirim.


"Biasalah, rata-rata istri sah sama gobloknya koq." ucap Susi.


"Mereka kira suami mereka setia, padahal mah yaelah."


Keduanya lalu sama-sama tertawa.

__ADS_1


"Hempaskan say, usir dia dari penthouse itu. Lo lebih pantas jadi nyonya ketimbang dia." ujar Susi lagi.


"Liat aja, pasti gue hempaskan dalam waktu dekat." Shela berujar dengan jumawa.


Ia yakin betul jika ia bisa segera mendapatkan Daniel dan menikahi pria itu. Kemudian secara serta merta ia akan mendepak Lea dari kehidupan Daniel. Lalu status nyonya besar pun akan tersemat ke dalam dirinya.


***


"Pak, hmmh, ssshhh."


"Aaaaah."


Marsha berteriak cukup kencang, ketika area sensitif miliknya berdenyut, demi menerima ****** ***** dari sang suami. Kini perut buncit wanita itu terasa kencang, namun ia menikmatinya.


Ellio pun terhempas penuh kepuasan di sisi sang istri. Ia tersenyum menatap Marsha dengan tubuh yang masih bergetar.


"Aku sayang kamu." ucapnya lalu mencium kening Marsha.


Kemudian Marsha pun tersenyum.


"Aku juga sayang sama bapak." ujarnya.


"Besok kita ke dokter ya." tukas Ellio.


"Oh iya, aku aja lupa." ucap Marsha sambil tertawa.


"Makanya aku ingetin." tukas Ellio lagi.


"Besok kita ke rumah mama kamu juga kan?" tanya Marsha.


"Iya." jawab Ellio.


Marsha diam sejenak, memikirkan ia besok memakai baju apa.


"Kenapa diam?. Takut sama mama?" tanya Ellio.


"Nggak, ngapain takut." Marsha balik bertanya.


"Kirain." jawab Ellio.


"Lagian kamu tenang aja, mamaku orangnya open minded dan berpendidikan koq. Kamu mampir kesana, mau tidur siang berjam-jam juga nggak bakal dia julid. Dia bukan tipikal emak-emak sok tau yang bilang ini nggak boleh, itu nggak boleh. Tanpa tau sumber larangan mereka itu dari mana asalnya, bener apa nggak." lanjutnya kemudian.


Marsha pun tertawa.


"Iya, aku nggak mikirin itu koq. Cuma mikir besok pake baju apa." jawabnya kemudian.


"Ya pake baju hamil lah, masa pake baju press body. Perut udah buncit begini."


Ellio mengelus perut Marsha.

__ADS_1


"Akibat perbuatan bapak nih." ujarnya kemudian.


Ellio lalu tertawa dan mereka pun kini saling berpelukan.


__ADS_2