
"Hai, mas."
"Hei."
Lea berujar ketika telah masuk ke dalam mobil sang suami. Tak lupa ia mencium tangan Daniel dan Daniel balas mencium pipinya.
"Kalian baik-baik aja kan?" tanya Daniel seraya mengelus perut Lea. Perempuan itu pun tersenyum, demi mendapat perlakuan tersebut.
"Iya, kami baik-baik aja." ujar Lea ikut mengelus perutnya sendiri. Daniel Kemudian menyibak sedikit atasan istrinya itu dan mencium perutnya dengan lembut.
Seketika Lea terdiam, ada perasaan hangat yang menjalar di hatinya. Tanpa sadar ia mengangkat tangan dan membelai kepala suaminya itu. Meski belum ada janin yang berkembang di dalam rahimnya hingga hari ini, namu entah mengapa perlakuan Daniel terhadapnya membuat ia begitu terharu.
Belum hamil saja, ia sudah diperlakukan seperti itu. Bagaimana jika ia benar-benar hamil?.
"Ah."
Lea merasa ingin menangis, tempat terindah mana yang telah mengirimkan sosok seperti Daniel pada dirinya. Sosok yang awalnya begitu menyebalkan dan ingin ia pukul dengan palu Thor setiap bertemu itu pun, kini seolah menjelma menjadi pria impian yang begitu manis. Alangkah bahagianya ia melihat pemandangan ini, tanpa terasa ia pun mencium kening suaminya itu.
Daniel mengangkat kepala dan menatap Lea, ia tersenyum begitu manis. Masih di usapnya perut istrinya itu, sementara kini ia bersiap menghidupkan mesin mobil.
"Kita makan yuk." ajak Daniel kemudian.
"Ayok, aku juga laper." ujar Lea.
"Mau makan dimana?" lanjutnya lagi.
"Terserah bumil maunya dimana."
Daniel berujar sambil kembali mengelus perut Lea, membuat Lea kembali tersenyum penuh haru.
"Terserah mas aja lah." ujar Lea.
"Koq terserah aku?"
Daniel bertanya seraya menoleh sejenak dan tersenyum. Lalu matanya kembali memerhatikan jalanan. Mobil mereka melaju dengan kecepatan sedang.
"Kan aku cewek, mas. Dimana-mana cewek kalau ditanyain makan, pasti ngomongnya terserah kan?"
Daniel tertawa.
"Mau jadi cewek seutuhnya kamu?. Sampe kebiasaan ngomong terserah pun wajib buat kamu, gitu?"
"Iya dong."
Kali ini mereka berdua sama-sama tertawa.
"Pengen makan ayam bakar deh, mas." Lea akhirnya menentukan pilihan.
"Oh, ok. Aku punya langganan ayam bakar yang enak."
"Boleh tuh." ujar Lea.
"Ya udah, kita kesana ya."
Daniel sedikit menaikkan kecepatan mobilnya. Sesampainya ditempat ayam bakar tersebut, Daniel langsung disapa oleh sang pemilik.
"Kemana aja bos, baru dateng." ujar sang pemilik pada Daniel.
"Biasa pak, sibuk." jawab pria itu seraya tersenyum.
"Loh, pak Richard sama pak Ellio mana?"
__ADS_1
"Masih sibuk mereka, pak. Nanti kapan-kapan kita kesini bareng." ujar Daniel lagi.
"Ini, pacar pak Dan yang baru?" tanya si pemilik seraya memperhatikan Lea. Sementara Lea hanya tersenyum.
"Bojo, pak."
"Walah wes mbojo toh, koq ra ngundang?"
"Orang nggak di rayain, akad doang. Mungkin nanti, beberapa bulan ke depan baru resepsi."
"Jangan nggak ngundang loh."
Istri si pemilik ikutan berujar, ia tersenyum pada Lea. Tadi ia sibuk melayani pembeli yang ingin membayar, sehingga tak ikut berinteraksi.
"Iya bu, nanti diundang koq." ujar Daniel.
"Pak Dan, mau menu yang biasanya?" tanya si ibu.
"Iya, saya yang biasanya aja."
"Mbaknya, mbak siapa?" tanya si ibu pada Lea.
"Lea, bu." jawab Lea.
"Ayu yo, bu." ujar suaminya.
"Iya pak, cocokan yang ini sama pak Dan. Ketimbang yang dulu." Si ibu kembali berujar, membuat Daniel seketika tertawa.
"Mbaknya mau apa?" tanya si ibu lagi, Lea mulai memperhatikan menu dan memilih. Mereka kemudian mencari sebuah meja dan kursi, lalu duduk di sana.
Tak lama setelah itu, pesanan mereka pun datang. Ada ayam bakar plus nasi dan es teh manis, lalapan, serta kerupuk kulit.
"Ini hadiah buat yang baru menikah, gratis." lanjutnya lagi.
"Wah jadi enak nih, makasih ya pak." ujar Daniel sambil tersenyum. Lea pun ikut tersenyum dan berterima kasih pada si bapak.
"Sama-sama, selamat menikmati." ujar si bapak lagi.
Lea dan Daniel masih tersenyum, kemudian si bapak pergi dan mereka bersiap untuk makan.
"Kita cobain sate maranggi nya dulu." ujar Daniel. Mereka sama-sama mengambil satu tusuk dan memakannya."
"Wah parah sih." ujar Daniel sambil mengunyah.
"Iya, enak banget mas." timpal Lea.
"Mereka tuh masaknya totalitas banget, cobain ayam bakarnya." ujar Daniel.
Lea pun mengangguk, ia meletakkan kembali satenya dan mulai mencoba ayam bakar tersebut dengan nasi.
"Wah, mas. Kayaknya mas harus sering ngajak aku kesini, kalau nggak aku pergi sendiri."
Daniel terkekeh.
"Enak kan?" tanya nya kemudian.
"Iya mas, enak banget. Ayamnya, sambelnya, enak semua. Pedesnya pol yang punya aku."
Daniel tersenyum untuk yang kesekian kalinya.
"Udalah makanannya enak, pemandangannya enak, pemandangan depan mata juga enak." ujar Lea seraya menatap Daniel, seketika suaminya itu tersadar jika tengah digoda. Mendadak wajah Daniel berubah merah dan ia pun kembali tersenyum.
__ADS_1
"Le, kamu ngomong kayak gitu lagi. Aku pindah ke meja sebelah." ujar Daniel.
Lea tersenyum.
"Mas kalau godain aku nomor satu. Tapi pas di goda balik, muka mas kayak udang rebus."
Daniel menutup mulutnya dan menahan tawa, karena ia sedang makan.
"Serius nih, aku pindah ya."
"Jangan dong, pemandangan udah adem depan mata aku. Kayak ubin rumah ibadah."
Daniel mengambil nasi dan ayam bakar di piringnya, lalu menyuapkannya banyak-banyak ke mulut Lea. Agar istrinya itu berhenti menjadi buaya betina.
"Mas Dan mau ayam bakar aku?" tanya Lea kemudian, ia masih sibuk mengunyah apa yang telah disuapkan oleh Daniel.
"Nggak, itu pasti pedes banget. Orang namanya aja ayam bakar lahar Merapi." ujar Daniel.
"Dari dulu aku nggak pernah berani pesan yang itu." lanjutnya kemudian.
"Ayo mas dikit aja."
"Nggak Lea, nanti aku sakit kayak abis pulang dari Bandung kemarin."
Tiba-tiba Daniel terdiam, karena ia keceplosan. Lea pun mendadak menghentikan makan, mendengar semua itu. Pantas dua hari setelah kepulangan mereka, Daniel menolak tidur di kamar Lea.
"Tuh kan, mas mah nggak bilang. Harusnya mas bilang ke aku, atau pas di Bandung semua yang aku beli nggak usah ikut di makan. Kayak gini kan aku jadi ngerasa bersalah."
Daniel menatap Lea.
"Aku nggak apa-apa, udah makan lagi." ujarnya kemudian.
"Aku nya nggak enak hati, mas."
"Le, aku nggak mati. Masih hidup, ini buktinya depan mata kamu. Aku cuma mau jadi suami yang kadang bisa mengikuti keinginan istrinya, karena kadang kamu juga selalu nurut sama apa yang aku bilang. Kalau kamu bisa lakukan, kenapa aku nggak bisa timbal balik ke kamu. Mau aku sakit juga nggak apa-apa, asal kamu seneng."
Air mata merebak di pelupuk mata Lea, namun perempuan itu tersenyum. Ia kembali merasa beruntung memiliki suami seperti Daniel. Yang rela mengorbankan diri demi menyenangkan hati istrinya.
Justru ialah yang merasa belum menjadi istri yang baik. Ia mengetahui jika Daniel sensitif terhadap beberapa makanan, namun kadang ia masih memaksa.
"Kenapa kamu nangis?" tanya Daniel ketika tanpa sengaja mengangkat pandangan dan melihat kedua sudut mata Lea yang berair.
"Pedes." ujar Lea sambil tertawa.
Daniel tersenyum lalu mengambil tissue dengan tangan kirinya, kebetulan tangan itu tak ia ikut pergunakan untuk makan. Ia mengusap air mata di sudut mata istrinya itu.
"Nggak usah bohong, kamu terharu kan punya suami kayak aku." Daniel berujar dengan percaya diri tingkat dewa.
"Dih, siapa yang nangis karena kamu. Ge-er." ujar Lea berkilah.
"Alah ngatain aku ge-er tapi hidung kamu kembang kempis gitu."
"Maaas."
"Hahaha." Daniel tertawa.
"Mau balas dendam nih ceritanya?" tanya Lea sambil juga ikut tertawa.
"Iya dong, kamu pikir kamu doang yang bisa jadi buaya. Aku juga bisa."
Keduanya lalu sama-sama terbahak dan melanjutkan makan, sesekali mereka minum dan memperbincangkan banyak hal.
__ADS_1