Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Eliminasi (Bonus Part)


__ADS_3

"Ini nggak usah, tempat tinggalnya kejauhan."


Ellio mengeliminasi satu kandidat yang akan dijadikan jodoh Richard.


"Ini terlalu ribet." ujar Ellio.


"Kenapa yang ini?" Daniel mempertanyakan foto kedua yang di eliminasi oleh temannya tersebut.


"Liat aja bulu mata palsunya tebal banget gitu. Ntar yang ada kalau mau pergi, Richard mesti nunggu dulu nih cewek pasang bulu mata." tukas Ellio.


Daniel tertawa.


"Sekarep lo lah, El. Gue ngikut aja." ujar pria itu.


Ellio melanjutkan pekerjaannya.


"Ini, buset syaratnya banyak banget. Kalau mau menikahi saya, syaratnya uang lima ratus juta. Dih, situ oke?" ujar Ellio.


"Emang ada yang nulis gitu?" tanya Daniel penasaran.


"Nih, lo baca aja catatan dibawahnya."


Daniel membaca catatan yang di buat wanita itu, kemudian ia tertawa.


"Sebenarnya Richard bakalan kasih lebih dari itu sih, kalau dia suka. Tapi kalau udah dijadikan syarat begini, jadi kesannya gimana gitu." ujar Daniel.


"Iya, makanya." Ellio menimpali.


"Dah lah, skip juga yang ini." lanjutnya lagi.


Ia pun mengeliminasi kandidat tersebut dan terus memilah-milah yang lainya.


***


"Lele, ke mall yuk!"


Adisty mengajak Lea yang baru saja selesai sarapan.


"Boleh, tapi gue ajak anak gue ya." ujar Lea.


"Ya udah ajak aja."


"Jam berapa mau jalan?" tanya Lea pada sahabatnya tersebut.


"Jam 11 an aja gimana?" Adisty balik bertanya.


"Pengen beli skincare gue." lanjutnya lagi.


"Ya udah, kalau gitu gue siap-siap dulu deh." ujar Lea.


"Ntar kabarin aja, Le. Biar kita ke sananya bareng." tukas Adisty.


"Oke jawab Lea.

__ADS_1


Maka tak lama setelah itu Lea mulai membereskan bekas sarapannya dan berdandan. Darriel bangun, Lea kemudian mengganti popok anak itu dan memberinya sebotol ASI.


Darriel kemudian meminum ASI tersebut, sambil memegangi botol susu dengan menggunakan kaki.


"Bisa gitu, kaki sampai ke muka." ujar Lea sambil tertawa.


Darriel terus saja mengenyot botol susu tersebut.


"Delil kita ke mall yuk!" ajak Lea.


Bayi itu terus minum dan hanya memberi lirikan mata pada sang ibu.


"Ah tapi kamu mah gini aja udah ganteng. Baju Delil bagus soalnya."


Darriel tersenyum lalu kembali mengenyot botol susu. Lea kemudian berganti pakaian dan bersiap. Ia memberitahu Adisty terlebih dahulu jika sebentar lagi dirinya akan segera meluncur.


Adisty pun akhirnya bersiap lalu memesan taksi online. Tak lama ia terlihat menuju ke mall yang di maksud, begitupula dengan Lea.


Sesampainya disana Darriel kebetulan sudah bangun. Sebab di mobil tadi ia ada tertidur beberapa saat. Saat penutup stroller-nya dibuka, bayi itu tampak senang melihat kesana-kemari. Sesekali terdengar ia berceloteh bahkan tertawa.


"Heheee."


"Delil."


Adisty menghampiri dan langsung menilik ke dalam stroller. Darriel sempat seperti bingung untuk beberapa saat, namun kemudian ia tertawa.


"Heheee."


"Lama banget loadingnya." ujar Adisty sambil mencomot pipi bayi itu dengan gemas.


Keduanya pun lalu tertawa-tawa diikuti tawa Darriel.


"Heheee."


"Mau langsung cari skincare apa mau kemana dulu nih?" tanya Lea pada temannya itu.


"Langsung aja, Le. Abis itu baru kita keliling-keliling." jawab Adisty.


"Oh ya udah deh."


Mereka pun lalu menuju ke counter yang menjual banyak kosmetik dari berbagai merk. Disana mereka memilah-milah dan membeli.


Tak lama mereka keluar dari tempat tersebut, dan tanpa sengaja dilihat oleh Shela serta Dinda temannya. Mereka kebetulan juga tengah berada di tempat tersebut.


Shela menatap tak senang ke arah Lea. Ia merasa iri karena perempuan itu bisa membeli apa yang ia sangat inginkan.


"Eh, Shel. Itu bukannya si Lea-Lea yang lo tunjukin ke gue fotonya." tanya Dinda pada Shela.


Shela hanya diam dan terus memperhatikan Lea yang mendorong stroller Darriel, sambil berbincang dengan Adisty.


"Lo liat aja nanti. Begitu gue berhasil jadi sugar baby suami lo. Lo bakalan gue singkirkan secara cepat." ujar Shela dalam hati.


"Gue bakal jadi nyonya dan bisa beli apapun yang gue mau." lanjutnya kemudian.

__ADS_1


Shela terus memperhatikan Lea. Sementara Lea yang tak menyadari kehadiran permpuan itu, kini masuk ke sebuah outlet yang menjual sepatu.


"Lihat-lihat sepatu yuk, Dis." ajaknya pada Adisty.


"Ayo." ujar Adisty kemudian.


***


Richard tiba di kantornya agak siang. Karena seperti hari sebelumnya ia pergi dulu melihat keadaan Arkana. Ia tiba di kantor dengan semangat yang baru, sebab ia dari bertemu dengan Nadya.


Hai, bro." ucapnya pada Daniel yang saat ini baru saja dari memeriksa pekerjaan karyawannya.


Baik Richard maupun Ellio sangat suka parkir di halaman kantor Daniel, lalu masuk ke kantor mereka dari tempat yang sama. Padahal kantor mereka mereka memiliki lobi dan pintu masuk masing-masing.


"Hai, bro." jawab Daniel dengan nada agak heran. Sebab wajah Richard tampak berseri-seri.


"Lo baru datang?" tanya Daniel.


"Yoi, tadi ada urusan gue." ujar Richard seraya menjauh. Daniel sejatinya hendak menahan mertuanya itu dan bertanya mengenai banyak hal. Namun itu semua tak jadi ia lakukan mengingat pekerjaannya pun masih banyak.


Alhasil ia membiarkan saja dulu Richard berjalan menuju ke kantornya. Karena siapa tau ia juga memiliki banyak pekerjaan yang sudah menunggu untuk di selesaikan.


***


"Bu, kenapa ibu nggak pisah aja sama bapak."


Putri mulai memberanikan diri untuk bertanya pada Nadya. Ketika mereka baru saja selesai makan siang di kantin rumah sakit. Tadi ada Hanif menelpon dan menanyakan kabar Arkana, namun malah berakhir memarah-marahi Nadya seperti biasanya.


"Kasihan Arkana, dia masih butuh sosok ayah." jawab Nadya.


"Arka pernah bilang sama saya, bu. Kalau dia nggak suka sama pak Hanif. Dia berharap bapaknya itu orang lain."


Nadya kaget mendengar hal tersebut.


"Kapan dia pernah bilang begitu?" tanya Nadya pada Putri.


"Udah sering, bu. Terakhir pas kejadian kemarin itu." jawab Putri.


Nadya kembali diam.


"Ibu sebenarnya bertahan karena Arka, atau ibu takut jadi janda?"


Nadya menoleh dan menatap tajam ke mata Putri.


"Maafkan saya, bu. Bukan bermaksud lancang, tapi saya melihat rumah tangga ibu dan pak hanif itu sudah toxic. Kalau ibu terus bertahan, kasihan kondisi mental Arka, bu. Ibu harus benar-benar paham dengan kondisi Arka saat ini." ujar Putri.


Nadya kembali menarik tahapan matanya dan menunduk.


"Ibu harus memilih salah satu diantaranya. Takut jadi janda, atau takut mental Arkana jadi terganggu." ujar Putri lagi.


Nadya menarik nafas, ucapan ibunya mengenai janda serta wajah Arkana kini seolah mendominasi pikirannya. Diantara kedua hal tersebut, masing-masing seolah minta dipilih dan diutamakan oleh dirinya.


"Pikirkan baik-baik, bu. Demi kebaikan Arka. Dan lagi kita semua berhak bahagia."

__ADS_1


Nadya seperti tertampar mendengar senua itu. Memang benar semua orang sangat berhak bahagia. Hanya saja perlu keberanian yang besar untuk meraih semua itu.


__ADS_2