
Daniel tengah sibuk menempeli perut Lea dengan baju bayi lalu memfotonya dengan menggunakan kamera handphone.
"Cekrek."
"Ih lucu deh." ujarnya seraya memperlihatkan foto tersebut pada Lea.
"Iseng banget sih mas, awas aja kalau berojol nanti nggak mau ikut ngasuh. Aku tarok dia tidur di samping kamu." ujar Lea.
"Penyet ntar, Lele. Kamu kan tau aku tidurnya suka tiba-tiba berbalik ke arah lain. Kalau aku lupa udah punya anak gimana?"
"Ya anak kita jadi anak geprek."
Daniel tertawa. Ia malah membayangkan hal tersebut.
"Ih kamu mah, amit-amit ih. Jangan sampe kejadian begitu." ujar Daniel.
"Pokoknya janji, kamu ikut ngasuh juga."
"Iya tenang aja. Ntar kalau malem dia bangun, aku yang urus. Kamu tidur aja sampe pagi."
"Janji ya mas, hal kayak gini harus dibicarakan loh. Aku nggak mau kayak orang-orang di tiktok tuh. Banyak banget yang curhat masalah suaminya nggak mau ikut ngurus anak, dengan alasan udah nyari duit. Padahal anak itu tanggung jawab bersama. Mengasuh dan mendidiknya juga merupakan tugas bersama."
"Iya Lele, kamu tenang aja. Aku orangnya menepati janji koq. Kerjaan rumah aja, aku tolongin kan?. Nyuci baju kadang aku, kadang kamu. It's not a big deal gitu loh. Nggak usah terlalu di khawatirkan, anak pun kita akan urus bareng-bareng."
Lea tersenyum lalu nyengir venom. Mereka memang selalu tak bisa berada dalam suasana atau obrolan romantis yang terlalu lama. Karena pasti keduanya akan sama-sama tertawa.
Otak Daniel dan Lea sudah terkontaminasi acara lawak atau stand up comedi yang sering mereka tonton berdua. Ditambah lagi Daniel aslinya memang jahil dan jarang bisa terlalu serius.
"Ini Richard sama Dian lama amat." ujar Daniel kemudian.
"Katanya tadi udah dekat." lanjutnya lagi.
"Macet kali mas." jawab Lea seraya melipat kembali baju bayi, yang tadi diletakkan sang suami ke atas perutnya.
"Iya kali ya." jawab Daniel.
Tak lama Richard menelpon.
"Hallo bro." ujar Daniel pada sahabat sekaligus mertuanya itu.
"Bro, sorry. Gue sekarang dirumah sakit." ujar Richard.
Ia terdengar melangkah sangat terburu-buru diseberang sana.
"Lo kenapa, kecelakaan?" tanya Daniel panik, Lea pun mendadak menjadi cemas.
"Bukan gue, Reynald." ujar Richard dengan nada tak kalah cemas.
"Reynald?"
"Iya, dia berkelahi kata Arsen. Ditusuk pisau sama orang yang nggak mereka kenal."
"Astaga."
Jantung Daniel berdegup kencang.
"Kenapa mas?" tanya Lea.
"Lo dirumah sakit mana sekarang?" tanya Daniel.
__ADS_1
Richard lalu memberitahu dimana posisinya kini.
"Ya udah, ya udah. Gue kesana sekarang, sekalian ngabarin Ellio."
"Ok." jawab Richard.
Telpon tersebut pun disudahi.
"Om Rey kenapa mas?" tanya Lea lagi.
"Ada yang menyerang dan dia ditusuk orang."
Lea benar-benar terkejut dan cemas.
"Mas mau kesana?"
"Iya."
"Mau ikut mas."
"Gini aja, aku pastikan dulu kondisi Rey. Nanti kalau dia udah baik, kamu baru kesana. Nanti kamu sedih, cemas, nggak baik buat kondisi kesehatan kamu."
"Ya udah mas, kamu hati-hati di jalan ya."
"Iya, sayang."
Daniel mencium kening Lea, lalu bergegas mengambil kunci mobil. Tak lama setelah itu ia terlihat meninggalkan penthouse.
***
Sementara di rumah sakit.
Richard tiba dan langsung menghampiri Arsenio, serta memeluk keponakannya yang masih menangis itu dengan erat.
"Richard."
Dokter Gabriel, salah satu teman dekat Richard datang dari suatu arah. Ternyata ia yang menangani Reynald.
"Gimana Rey, bro?" tanya nya pada dokter Gabriel.
"Saat ini sedang ditangani, tapi dia dari tadi nggak mau saya bawa ke IGD." ujar dokter Gabriel seraya memperhatikan Arsen.
Richard pun baru menyadari jika terdapat banyak memar dan luka di tubuh keponakannya tersebut. Bukan apa-apa, ia seorang penderita thalasemia yang memiliki gangguan pembekuan darah. Jika tidak segera ditangani, lukanya akan terus mengeluarkan darah walau luka itu sangat kecil..
"Arsen, kamu harus ditangani dulu, nggak bisa kayak gini." ujar Richard.
"Tapi papa?"
"Ini kak Dian, dia akan jagain papa kamu. Ayo, om temenin."
"Sayang jaga disini dulu ya." pinta Richard pada Dian. Perempuan itu pun mengangguk.
Arsen dibawa oleh Richard bersama dengan dokter Gabriel, untuk mendapatkan perawatan.
***
"Bro, dimana?"
Daniel menelpon Ellio.
__ADS_1
"Di kantor gue, lo berdua Richard kagak masuk ya hari ini?"
"Nggak." jawab Daniel.
"Si Rey di rumah sakit, ditusuk orang nggak dikenal."
"Hah?. Rey nya Richard?" tanya Ellio.
"Iya."
Ellio benar-benar terkejut sekaligus cemas.
"Kapan kejadiannya?" tanya pria itu.
"Barusan, Richard baru aja nelpon gue. Ini gue lagi di jalan mau kesana." jawab Daniel.
"Dia di rumah sakit mana sekarang?"
Lagi-lagi Ellio bertanya. Daniel kemudian memberitahu dimana Reynald dirawat.
"Ok, gue otw." ujar Ellio.
"Ok."
Tak lama ia pun bergegas.
***
Arsenio mendapat perawatan, dokter menyarankan padanya untuk beristirahat terlebih dahulu. Namun ia ngotot untuk berada di dekat Reynald.
"Arsen, dengerin kata dokter dulu." Richard membujuk anak itu.
"Om, ini salah Arsen om. Orang itu menyerang Arsen, bukan menyerang papa. Papa datang belain Arsen, dan akhirnya kejadian itu menimpa dia."
Richard menatap anak itu seraya mengerutkan keningnya.
"Kamu diserang sama orang?" tanya nya tak percaya. Sebab Arsen terlihat seperti anak baik-baik yang tak memiliki musuh.
"Iya om." jawab pemuda itu kemudian.
"Kamu punya musuh?" tanya Richard lagi.
Arsen diam. Namun kemudian ia menceritakan perihal keterlibatannya dalam sebuah lembaga, yang menangani soal kekerasan terhadap anak dan perempuan.
"Sejak kapan kalian mendirikan lembaga tersebut?"
"Udah lama, om." jawab Arsen.
Richard mengehela nafas, mungkin itulah penyebab keponakannya tersebut di serang. Karena setiap kita kontra terhadap sesuatu, akan selalu ada pihak yang siap menyerang kita.
Ditambah lagi ini merupakan masalah serius. Arsen dan lembaganya menangani anak-anak serta perempuan korban kekerasan. Yang mana hal tersebut sudah digalakkan oleh pemerintah, namun belum begitu di apresiasi oleh masyarakat luas.
Masih banyak masyarakat kita yang berpikiran sempit, dan tak terima jika ada lembaga-lembaga yang menjadi pemerhati keselamatan anak dan juga wanita.
Sebab banyak pihak yang masih membudayakan kekerasan, dan menganggap itu semua sebagai bagian dari validasi terhadap sebuah kekuatan dan kekuasaan.
Bahkan ada yang membungkus hal tersebut dengan agama. Mengatakan jika perempuan itu harusnya menurut saja, tidak boleh bertindak ataupun mengadu jika terjadi tindak kekerasan. Apalagi tindak kekerasan itu dilakukan oleh pasangan kita, suami misalnya. Maka menceritakannya masih dianggap sebagai aib yang tabu.
Dengan adanya lembaga pemerhati yang memberikan perlindungan. Otomatis orang-orang yang masih memuja kekerasan ini akan merasa dirinya terusik, serta terganggu dalam hal yang ia yakini benar. Maka dari itu Arsen menjadi incaran mereka.
__ADS_1