
"Siapa yang nyuruh kamu pergi ke klub itu?"
Daniel berkata dengan nada yang penuh kemarahan. Tatapan mata pria itu seakan menusuk hati dan menghujam jantung. Mencabik-cabik kekuatan dan keberanian yang dimiliki oleh Lea.
"Sa, saya."
"Kamu tau nggak, di klub malam itu selalu ada aja cowok yang berharap bisa nidurin cewek yang udah nggak sadarkan diri."
Lea terdiam mendengar ucapan Daniel, ia benar-benar tidak tahu-menahu akan hal tersebut.
"Siapa yang nyuruh kamu kesana dan ngapain?"
Lea makin diam, tak mungkin ia mengkambinghitamkan kedua temannya. Bisa jadi ia tak akan di izinkan lagi untuk bermain bersama mereka.
"Saya inisiatif sendiri, karena saya lagi pusing mikirin masalah saya."
"Masalah apa?. Sampe segitu pusingnya. Masalah proyek milyaran atau hutang perusahaan kamu yang triliunan?. Hah?"
Daniel makin mencerca sugar baby nya itu. Lea sendir tak menjawab, ia bingung harus memulai dari mana.
"Jawab...!" teriak Daniel.
"Saya ditinggalin sama Hans, karena dia tau saya cewek yang dibeli sama om."
Lea menjawab dengan tegas, meski nada bicaranya terdengar terisak seperti hendak menangis. Gantian kini Daniel yang terdiam, ia tak menyangka jika telah terjadi hal semacam itu.
"Saya bisa jelaskan sama Hans sekarang, kalau kamu mau." ujar Daniel kemudian.
"Nggak perlu."
"Lantas solusi yang kamu mau adalah pergi ke klub malam itu?. Iya?"
"Kenapa?. Saya juga punya hak atas hidup saya sendiri." Lea balas berteriak di muka Daniel.
Daniel bersiap mengangkat tangannya untuk menampar Lea. Namun kemudian ia pun sadar, jika itu tak harus dilakukan dan kini ia coba mengambil nafas dalam-dalam. Daniel terlihat gelisah, ia mengusap wajah dan kepalanya dengan tangan. Sementara nafasnya masih memburu bersama emosi, hampir saja tangannya melayang di wajah gadis itu.
"Kenapa nggak jadi nampar saya?"
Lea berujar dengan air mata yang mulai berlinang.
"Saya emang dibeli untuk bisa diperlakukan seenaknya kan?"
Daniel menatap Lea.
"Ayo tampar saya, saya emang lahir cuma dibuat disakitin doang sama dunia. Nggak orang tua saya, temen sekolah saya, orang-orang disekitar saya, semuanyaaa."
__ADS_1
"Pukul saya, om. Pukuuuul."
Lea meraih tangan Daniel dan memaksa pria itu untuk memukulnya. Seketika Daniel pun memeluk membawa gadis itu, Lea kini menangis tersedu-sedu.
"Apa salah saya, kenapa hidup saya kayak gini."
Lea makin terisak, sementara Daniel terus memeluknya. Ia mengerti jika gadis itu masih dibawah pengaruh alkohol, dan mungkin juga banyak beban bathin yang ia simpan selama ini. Sebab jika seseorang itu bahagia hidup di tengah-tengah keluarganya, mustahil ia akan pergi meninggalkan rumah dan melakukan hal yang diluar batas.
"Saya capek, hidup didalam kendali keadaan. Saya nggak bisa mengendalikan keadaan saya sendiri. Saya benci sama hidup saya, kenapa nggak sama dengan hidup orang lain."
Daniel membiarkan gadis itu terus menangis, hingga dirinya merasa puas. Bahkan hingga kaosnya kini basah oleh air mata Lea.
Beberapa saat berlalu, Lea kembali tertidur di kamarnya. Daniel membiarkan saja gadis itu beristirahat yang banyak, karena semalam pun ia berada di klub hingga larut. Praktis waktu istirahatnya sangat-sangat berkurang.
Daniel kemudian kembali setelah sekitar 5 jam terlewati, ia ingin mengajak Lea untuk makan. Dibukanya pintu kamar gadis itu dan ternyata Lea masih juga tertidur.
"Lea, bangun."
Daniel memanggil gadis itu, namun Lea tak bergeming sama sekali.
"Lea."
Daniel menyentuh tangan Lea, namun ternyata suhu tubuh gadis itu sedang meningkat. Badannya sangat panas.
Daniel kemudian beranjak, dan kembali setelah beberapa saat. Ia membawa mangkuk stainless berisi air dingin dan sapu tangan. Ia lalu mengompres kening Lea, agar panasnya bisa segera turun.
Lea terbangun dari tidur, ketika merasa ada benda di atas keningnya. Ia membuka mata dan menyadari jika Daniel tertidur disisinya. Tepatnya pada sebuah kursi dengan kepala yang terletak di pinggir tempat tidur.
Hati Lea seolah lumpuh layu, mendadak ia menjadi luluh dan leleh melihat semua itu. Diangkatnya tangan kiri dan dibelainya kepala pria yang berusia nyaris 40 tahunan tersebut.
Daniel pun bergerak dan terbangun, ia mendapati Lea yang kini tersenyum menatapnya. Pria itu hanya diam seperti biasa, ia meraih saputangan yang ada di kening Lea dan bermaksud membasahinya kembali. Namun Lea menahan tangannya.
Daniel menoleh dan menatap Lea, Lea kemudian menarik pria itu. Maka pria itu pun lalu mendekat, ia kini berada dalam posisi setengah berbaring. Lalu ia pun memeluk Lea.
Karena sejak kecil tak merasakan kasih sayang seorang ayah, pernah sekali dengan ayah Leo dan itupun hanya sebentar. Lea jadi begitu nyaman berada di dalam pelukan Daniel. Ia begitu haus pada perhatian dan pelukan. Ia bisa menemukan sosok kekasih, sekaligus ayah dalam diri pria itu. Meski sampai detik ini, Daniel belum juga menyatakan cintanya.
***
"Om tuh sayang nggak sih sama saya, sebentar baik, sebentar cuek. Nggak konsisten jadi orang."
Lea mengoceh pada Daniel di suatu sore, saat itu Daniel baru saja pulang dari kantor. Lea menyapa Daniel dengan ramah dan mengajak pria itu untuk makan, namun Daniel seolah acuh tak acuh dan terus menerima telpon entah dari siapa saja.
"Lea, saya lagi banyak kerjaan, tunggu sebentar."
"Bilang aja sok menyibukkan diri sendiri karena nggak mau berinteraksi dengan saya."
__ADS_1
"Lea."
"Saya tuh capek tau nggak, ngemis mulu supaya dianggap ada dirumah ini. Setiap saya ngomong kadang di denger, kadang nggak."
"Lea."
"Sebenarnya saya ini diangggap apa?"
"Kamu pikir, saya membiarkan kamu tinggal disini karena apa?"
Kali ini gantian Daniel yang berteriak, Lea terdiam menatap pria itu.
"Apa yang saya dapat dari kamu selama ini?. Nggak ada." lanjutnya kemudian.
"Kenapa saya masih dipertahankan?"
"Ya kamu pikir, kenapa cobaaa?"
Lea kembali diam.
"Karena saya peduli dan sayang sama kamu, saya cinta sama kamuuu."
Teriakan itu menggema didalam rumah, membuat Lea tertegun sekaligus gemetaran. Tatapan mata Daniel saat mengatakan hal tersebut, terlihat penuh kesungguhan. Namun juga penuh kemarahan, lantaran ia kesal dengan sikap Lea. Ia merasa urusan pekerjaannya terganggu, karena gadis itu tiba-tiba mengajak bertengkar.
"Kenapa nggak bilang langsung?" Volume suara Lea mengecil.
"Dan apakah sesulit itu bagi kamu untuk bisa merasakan dan mengartikannya?" Daniel balik bertanya.
Lea menatap sugar daddy nya itu dalam-dalam, namun kini Daniel mengalihkan pandangannya seraya menghela nafas. Sejatinya ia sedang banyak beban pikiran mengenai pekerjaan akhir-akhir ini. Namun Lea masih saja dengan sikap kekanak-kanakan yang di milikinya.
"Saya nggak bisa ngomong langsung ke kamu, Lea. Saya bukan anak kecil yang seusia kamu, yang masih nyaman ngomong soal cinta ke lawan jenis. Yang masih bisa kasih kamu puisi atau gombalan basi."
"Maafin saya, om. Saya hanya butuh kepastian, saya sudah kehilangan semuanya. Rangga, Hans, semuanya pergi. Saya sayang sama om, saya mau om baik sama saya."
"Apa selama ini saya jahat?"
Daniel sepertinya sudah sangat lelah, nada bicaranya kini seperti orang yang kehilangan gairah.
"Nggak sih, om baik. Tapi cuek banget."
Kali ini Daniel menghela nafas.
"Lantas, kamu maunya saya bagaimana?"
Lea menunduk, Daniel kini mendekati gadis itu. Lea mengangkat wajah dan menatap Daniel dalam-dalam. Tangan pria itu mendarat di pinggang Lea, ditariknya gadis itu ke dalam pelukan. Ia mendekatkan bibirnya ke bibir Lea.
__ADS_1
Dalam sekejap ciuman itu menjadi panas, Daniel kini seperti sudah lupa akan semuanya. Ia menyandarkan tubuh gadis itu ke dinding dan menekannya dengan sangat. Hingga Lea pun bisa merasakan, ada bagian tubuh Daniel yang mencuat dibawah sana.