Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Jawaban Atas Penasaran


__ADS_3

Lea masuk ke mobil bersama Daniel, dengan wajah yang terlihat sangat kusut dan tertekan.


"Kenapa Le?" tanya Daniel dengan nada yang seolah menggoda.


"Itu tadi siapa mas?" Lea bertanya dengan suara yang seperti hendak menangis.


"Anak aku." ujar Daniel seraya terus memperhatikan Lea. Ia tau Lea cemburu dan Daniel nyaris tertawa melihat hal tersebut.


"Mas kenapa nggak bilang kalau udah punya anak sebesar itu?. Kenapa harus di tutupi dari aku?"


Kali ini Daniel benar-benar tertawa, hingga membuat Lea merasa bingung.


"Koq mas malah ketawa sih?" tanya nya kemudian.


"Le, Nicholas itu anak aku. Tapi bukan anak kandung."


"Maksud mas, anak tiri gitu?. Mas punya istri lain selain aku?"


Daniel makin terbahak.


"Ih, jelasin nggak?" Lea marah kali ini.


"Iya, iya. Dengerin dulu makanya."


Daniel menarik nafas, masih ada sisa senyuman di wajah pria itu. Namun sesaat kemudian ia pun mulai menjelaskan.


"Dulu pas masih SMA. Aku, Richard, sama Ellio itu punya satu temen cewek yang cukup akrab sama kita. Namanya Ditha sekelas sama kita. Dia yang suka absenin kalau kita bolos, suka ngerjain tugas kita-kita juga. Pokoknya dia ngurus segala perintilan kita pas masih sekolah."


Daniel lagi-lagi menarik nafas panjang.


"Nah suatu ketika, Ditha ini jatuh cinta sama badboy nya sekolah. Yang ya cukup famous lah, tapi ceweknya dimana-mana. Udah kita ingetin, masih aja. Akhirnya hamil, untung udah kelas 3 saat itu dan udah ujian nasional juga."


"Terus?" tanya Lea lagi.


"Nah si cowok ini tiba-tiba ngilang, nggak mau tanggung jawab. Sekeluarga ngilang, rumahnya di jual dan nggak tau pindah kemana. Si Ditha udah mau bunuh diri, tapi orang tuanya memaafkan kelakuan dia. Akhirnya aku, Richard sama Ellio memutuskan untuk membantu biaya dalam membesarkan anak itu. Karena orang tua Ditha itu bukan orang yang berduit banget. Keluarganya menengah ke atas, tapi saudaranya Ditha itu banyak. Banyak yang mesti di biayai oleh orang tuanya."


"Tapi kan mas waktu itu kuliah di luar negri sama ayah dan om Ellio. Terus gimana masalah nafkah ke anak itu tadi?"


"Ya kita di luar negri cari kerja part time. Pokoknya tiap bulan, kita tuh patungan buat kasih si Ditha biaya. Bahkan sampai Ditha udah lulus kuliah dan kerja pun, kita masih bantu biayanya. Sampe si Nic itu SMA malah. Makanya dia dekat sama aku, Richard, dan Ellio. Tapi paling dekat sama aku, karena Richard sama Ellio galak kalau dia nakal. Kalau sama aku, aku nggak pernah marah."


Kali ini Lea tersenyum bahkan tertawa kecil.


"Kenapa kamu ketawa?" tanya Daniel heran.


"Kalian tuh baik deh mas." ujar Lea memuji.


Daniel hanya tertawa kecil.


"Terus ibunya Nic dimana sekarang?"


"Udah nikah dia, sama rekan kerjanya sendiri. Ayah tiri Nic sayang koq sama Nic. Yang biayain kuliahnya dia di luar negri kan ayah tirinya dia."


Lea manggut-manggut.

__ADS_1


"Udah ngerti?" goda Daniel pada istrinya itu.


Lea kini memeluk Daniel.


"Aku sayang deh mas, sama kamu."


Lagi-lagi Daniel tertawa.


"Aku sekarang yakin, kamu bisa jadi ayah yang baik buat Darrel."


Daniel sedikit mengerutkan keningnya, namun ia tersenyum.


"Jadi namanya Darrel?" tanya Daniel seraya mengelus perut Lea yang membuncit.


Lea tersenyum.


"Darrel apa Darriel?" tanya Daniel lagi.


"Hmm, menurut mas?"


"Terserah kamu, kan kamu yang hamil. Pokoknya nama anak ini harus diawali huruf D, dan diakhiri huruf L. D nya Daniel, L nya Lea."


"Ih kamu romantis banget."


Lea memeluk Daniel dengan gemas, sementara Daniel hanya tertawa dan membalas pelukan itu.


"Jadi kita mau kemana nih?" tanya Daniel pada Lea.


"Ke Korea." jawab Daniel.


"Pengen." Lea merengek pada Daniel dan lagi-lagi Daniel tertawa.


"Aku tuh ya mas, kalau ke Korea. Rasanya pengen nongkrong depan Big Hit Entertainment tau nggak. Biar anak kita ketularan cakep dan suara bagus kayak Jungkook BTS."


Daniel terbahak kali ini.


"Le, nyanyi itu biasanya bakat turunan. Sama kayak muka, itu juga genetik. Nggak ada istilahnya kamu berdiri depan big hit, terus anak kita jadi ganteng dan pinter nyanyi."


"Kan mas ganteng, aku cantik. Kita berdua bisa nyanyi. Bisa aja kan anak kita jadi kayak Jungkook."


Daniel tertawa untuk yang kesekian kalinya. Dalam situasi seperti ini, Daniel ingat betapa Lea masih begitu muda. Pikirannya kadang konyol, namun memberi kelucuan tersendiri bagi Daniel.


"Emang kamu mau anak kita jadi boyband?. Joget-joget di panggung gitu?" tanya Daniel.


"Biarin aja, dance itu kan siapa aja boleh. Mau cowok kek, cewek kek. Jangan toxic maskulinitas kamu mas."


"Iya-iya." ujar Daniel masih terus tertawa.


"Aww." Lea tiba-tiba memegangi perutnya.


"Kenapa Le?" tanya Daniel panik.


"Mas, kayaknya barusan aku di tendang deh." ujar Lea seraya masih merasakan perutnya.

__ADS_1


"Oh ya?" Entah mengapa Daniel begitu senang mendengar hal tersebut.


"Serius, Le?" tanya nya lagi.


"Pegang deh." Lea meletakkan tangan Daniel ke perutnya.


Cukup lama mereka menunggu, sampai kemudian Daniel pun bisa merasakan hal yang sama.


"Eh iya ya." ujarnya seraya tertawa.


"Oh my God." ujarnya lagi.


"Hai D, tau ya lagi di omongin sama mama dan papa?"


Lea bertanya pada anaknya, tak lama tendangan itu kembali terasa.


Daniel dan Lea pun jadi kian excited.


***


"Kamu cukup tinggal di tempat om dan nurut sama om. Om janji bakal bikin semua kebutuhan kamu terpenuhi."


Sharon melihat pesan singkat tersebut di handphonenya. Sudah kali ketiga ia memblokir nomor Herman. Namun pria itu sangat gigih dengan mengganti nomor baru.


"Siapa, Shar?" tanya Maya pada Sharon.


"Biasa, siapa lagi kalau bukan si ganjen tua kegatelan."


"Om Herman?" tanya Tasya.


"Ember." jawab Sharon.


"Gila ya, gigih juga tuh orang." ujar Maya.


"Tiga kali loh, empat sama ini dia ganti nomor. Pake nomor baru kan dia?" lanjut Maya lagi.


"Iya, ini pake nomor baru lagi. Udah gatel banget kali tuh punya nya dia, sampe ngejar-ngejar gue begini." ujar Sharon lagi.


"Emang dia mau kasih berapa kalau mau?" tanya Tasya.


"Tau, sebel banget gue. Liat aja kalau masih meresahkan, gue lapor ke polisi."


Sharon kembali memblokir nomor Herman dan meletakkan handphonenya ke atas meja.


"Lo ganti nomor aja sih." ujar Maya memberi saran.


"Sayang May, ini nomor udah lama gue gunakan. Yang ada tuh si tua itu yang harus ganti otaknya, biar nggak ngeres mulu sama gue."


"Otaknya suruh jual aja tuh di online marketplace." ujar Tasya.


"Ada label second nya biar cepet laku." lanjutnya kemudian.


Sharon pun akhirnya tertawa. Diikuti tawa Maya dan juga Tasya. Meski masalah hidupnya belum lagi usai, yang penting gembira dulu untuk beberapa saat.

__ADS_1


__ADS_2