
"Pokoknya om harus makan, enak nggak enak harus dimakan. Kalau om nggak makan, saya nggak akan pulang dan mogok sekolah."
Lea memberi ancaman pada Daniel, ketika pria dewasa itu lagi-lagi menolak makanan. Ia kini telah kembali ke ruang perawatan, pasca kritis yang dialaminya tempo hari.
"Om emangnya nggak mau sembuh, nggak mau balik ke kantor, nggak bosen dirumah sakit?. Saya aja bosen." Lea terus mengoceh panjang lebar. Membuat Daniel yang tengah membaca berita online itu, kini menatap ke arahnya.
"Kamu bisa diem nggak?" ujar Daniel dengan nada dingin. Ia sempat hangat saat Lea menangisinya di ruang ICU, namun kini ia balik lagi menjadi es yang menyebalkan.
"Nggak, sebelum om makan."
Daniel menghela nafas, ia lalu menghentikan aktivitas membacanya dan mulai makan.
"Nah, gitu dong." ujar Lea kemudian.
Daniel tak menjawab, ia menghabiskan seluruh makanannya walau merasa sangat terpaksa. Semata agar Lea berhenti mengoceh, karena ia benci kebisingan. Ketika seluruh makanan dan minuman itu habis, Lea segera membereskan.
"Satu jam lagi minum obat." ujar Lea lalu keluar dari ruangan Daniel.
Gadis itu bergerak untuk pulang ke rumah, karena sejak dua hari lalu ia belum pulang sama sekali. Ia juga bolos sekolah, karena khawatir pada keadaan Daniel.
Hari ini Ellio berjanji akan mengawasi Daniel. Sedang Richard pamit sejenak karena harus mengadakan perjalanan bisnis selama tiga hari ke depan, ia akan pergi keluar kota.
"Udah diminum belum obatnya?"
Lea video call dengan Ellio tepat satu jam setelah ia pulang ke kediaman Daniel.
"Tuh."
Ellio memperlihatkan Daniel yang tengah meminum obat.
"Pokoknya target kita, paling lambat seminggu. Om Dan harus udah keluar dari rumah sakit." ujarnya kemudian.
"Kamu bosen ya, karena hari ini Hans pulang?"
Ellio mencoba memancing kecemburuan Daniel dengan memanfaatkan keadaan Hans, yang sudah boleh pulang dan dirawat dirumah.
"Iya, kalau masih ada Hans sih nggak apa-apa. Nggak bosen-bosen amat di rumah sakit, ada temen bercanda." Lea berkata jujur dengan polosnya, membuat Daniel seketika ingin mematikan telpon Ellio.
"Kamu nanti kesini lagi nggak?" tanya Ellio.
"Besok ya, om. Pulang sekolah. Soalnya mau ngerjain PR dulu hari ini, kan saya bentar lagi ujian kenaikan kelas."
"Oh ya udah, belajar yang rajin ya." ujar Ellio.
"Iya, besok saya kesana dari start pulang sekolah. Ntar saya nginep, dan sekolah dari sana." ujar Lea.
"Ok." jawab Ellio.
"Jagain om-om bandel itu, ya om." ujar Lea.
"Pasti, ntar di jagain." jawab Ellio..
__ADS_1
Lea tertawa, sementara Daniel masih tetap saja dengan mode diam nya.
Panggilan tersebut pun disudahi, Ellio kini mendekat ke arah Daniel.
"Dan, Lea cocok deh kalau sama Hans. Apalagi kalau mereka pacaran, bisa meningkatkan hubungan antara kita sama bapaknya. Biar Frans mau berinvestasi lebih banyak lagi.
Daniel menatap Ellio.
"Gue nggak mau berbisnis dengan cara seperti itu, terkesan manipulatif." ujarnya kemudian.
"Ya terserah sih, kan cuma saran." ujar Ellio dengan memasang wajah polos.
Padahal sejatinya yang ia bidik adalah hati dan perasaan Daniel. Ellio bisa menangkap kecemburuan yang mulai tampak di wajah sahabatnya itu. Meski masih berusaha ia sembunyikan.
***
"Jadi lo udah jatuh cinta lagi?"
Dian bertanya pada Lea, ketika akhirnya mereka bertemu di sekolah pada keesokan harinya.
"Gue nggak tau kak, ini jatuh cinta atau bukan. Yang jelas gue ngerasa nyaman aja kalau di dekat Hans, walaupun Hans belum ngomong apa-apa ke gue."
"Menurut feeling lo?"
"Feeling gue, kayaknya Hans juga punya rasa yang sama. Soalnya sikap dia, nggak bisa bohong ke gue."
"Ya udah, embat aja. Sugar daddy lo juga, nggak niat pacaran ataupun tidur sama lo kan?"
"Dia mah sama dunianya sendiri kak, gue sih nggak masalah. Karena gue juga nggak ada perasaan apa-apa sama sugar daddy gue itu. Yang penting duitnya ngalir."
"Ya udah sih, lo ambil aja duitnya. Kalau mau pacaran, ya pacaran lagi aja. Toh juga lo sama sugar daddy lo, nggak terikat ini."
"Iya sih, tapi masalahnya Rangga juga kayak ngasih tanda pengen balikan sama gue."
"Hah, Rangga?"
"Iya, kak. Beberapa hari ini tuh, kita coba saling bicara jujur satu sama lain."
Lea lanjut bercerita panjang lebar soal Rangga.
"Duh, mendingan jangan deh." Dian mengeluarkan sebuah saran pada Lea.
"Dari semua hal yang lo ceritain, gue tau Rangga itu anak baik. Tapi orang tuanya tetap berbahaya. Ya walaupun derajat dan status Lo disekolah ini udah terangkat ke permukaan, akibat bantuan sugar daddy lo itu. Tetap aja, lo bukan anak orang kaya. Emaknya Rangga kalau tau, bisa makin mengintimidasi elo. Orang kayak gitu bisa aja mencelakai lo dan keluarga lo, dengan berbagai cara."
Lea menghela nafas, ucapan Dian ada benarnya.
"Lagian kan lo udah pernah punya hubungan sama Rangga. Kalau lo balikan, sama aja kayak lo ke Dufan dan naik wahana yang sama dua kali. Lo bakalan bosen, Le. Kalau mau pacaran, kalau gue jadi elo. Mending gue pilih Hans, walau kita nggak tau orang tuanya nanti bakalan menanggapi kayak apa. Minimal kita mencoba sesuatu yang sama sekali baru."
"Iya sih, gue juga mikirnya gitu kak. Tapi perasaan gue terhadap Rangga tuh masih ada."
"Ya nggak harus lo hilangkan juga, tapi lo mulai hidup yang baru. Penghalang lo sama Rangga itu banyak, belum emak-bapaknya, belum Sharon."
__ADS_1
Lea agaknya kini berpikir ke arah sana, tak lama kemudian, bel tanda masuk pun berbunyi.
***
Siang itu sepulang sekolah, Lea sempat mampir ke kediaman Hans. Sebelum akhirnya menyambangi rumah sakit, dan memantau kondisi Daniel.
Saat tiba dirumah remaja itu, Lea di sambut dengan sangat baik oleh orang yang ada di sana. Kebetulan Frans dan Hana bekerja, namun mereka sudah diberitahu Hans. Jika Lea akan datang siang itu. Kedua orang tua Hans tersebut, membelikan banyak makanan serta pernak-pernik untuk Lea.
"Ini serius buat aku semua?" tanya Lea pada Hans.
"Iya." jawab Hans seraya tersenyum.
"Ada dari mama aku, ada juga dari papa. Kamu boleh bawa pulang."
"Koq orang tua kamu baik banget?" tanya Lea heran.
Lagi-lagi Hans tersenyum.
"Mereka tuh emang gitu, kalau aku punya temen perempuan. Mereka pengen anak perempuan dari dulu."
"Oh, kamu anak tunggal?" tanya Lea.
"Nggak, aku punya kakak kembar."
"Oh ya?. Sama kayak adek aku dong."
"Kamu punya adek kembar?" tanya Hans.
"Iya tapi beda bapak."
"Oh."
"Kalau kamu, kandung?" Lea balik bertanya.
"Iya kandung, beda 9 tahun."
"Hah, jauh banget?" ujar Lea.
"Iya, sekarang mereka udah jadi dokter. Tapi di luar negri."
"Oh nggak disini?"
"Nggak, mereka tadinya pamit kuliah jurusan apa. Pas sampe sana, kuliah kedokteran diam-diam. Papa aku kecewa banget, karena pengen kedua kakak ku itu bisa meneruskan bisnis keluarga. Tapi ya, mereka juga nggak bisa disalahkan. Kakak-kakak ku punya pilihan hidup mereka masing-masing."
Lea terdiam, kehidupan orang kaya ternyata rumit. Anak sudah memilih profesi bergengsi saja, masih diperdebatkan. Apa kabar Lea, yang selesai SMA belum jelas mau kemana arahnya. Jangankan berdebat memilih jurusan kuliah, untuk kuliah sendiri pun mungkin ibunya tak akan sanggup membiayai."
***
Usai mengunjungi Hans, Lea menyambangi rumah sakit dan akan memenuhi janjinya. Untuk menjaga Daniel seharian penuh. Karena Ellio juga sibuk pada urusan pekerjaan.
Lea tiba di rumah sakit, pada saat Daniel baru tertidur beberapa saat. Ia melangkah dan hendak memastikan kondisi sugar daddy nya tersebut. Namun kemudian ia menginjak sesuatu dan,
__ADS_1
"Buuuk."
Lea terjerumus tepat pada tubuh Daniel yang tengah berbaring. Parahnya lagi bibir gadis itu kini menyentuh bibir Daniel. Mendadak pria yang berusia 35 tahun itu pun terbangun, dan mendapati Lea ada di hadapan matanya. Bahkan nyaris tak berjarak.