
"Koq baru sampe?"
Ellio bertanya pada Daniel dan Lea yang baru kembali ke kediaman Richard pada jam sembilan malam. Saat itu mereka sudah berganti pakaian.
"Dari penthouse tadi." jawab Daniel sambil melangkah.
Mereka hendak menuju tangga.
"Tunggu-tunggu!." Ellio menahan keduanya.
"Kayaknya ada yang seger nih." ujarnya kemudian.
"Apaan bangsat?" Daniel bertanya seraya tertawa.
"Ada yang nahan lama banget, pasti kayak iklan pipa tuh tadi kan. Dimana air menyembur sampai mentok."
"Heh." ujar Daniel.
Ellio tertawa-tawa, pipi Lea memerah. Daniel melempar sahabatnya itu dengan bantal sofa. Ellio kemudian berjoget-joget layaknya ubur-ubur yang tersengat belut listrik.
"Lo juga ntar kalau udah bisa, bakal lebih dari semburan pipa. Lagi puasa kan lo sekarang, karena Marsha hamil muda."
Daniel gantian meledek Ellio.
"Gua mah nggak puasa-puasa amat, Richard noh mandiri. By his self di kamar mandi."
Richard yang tengah duduk di ruang tengah sambil membaca berita online itu pun tak luput dari ledekan Ellio. Pria itu kemudian beranjak ke arah dapur seraya memukul kepala Ellio dengan iPad.
"Awww."
Ellio mengaduh.
"Eh tapi Richard mah walau Dian jauh, nggak puasa-puasa amat juga. Masih banyak dia stok cewek sabi." lanjut Ellio, diikuti tawa Daniel.
"Emang ayah masih begitu yah, sama cewek lain?"
Lea bertanya pada Richard. Daniel dan Ellio saling menatap satu sama lain.
"Nggak, kata siapa. Kamu tuh, Ellio di dengerin. Dia mah mulutnya emang lambe turah."
Richard kembali ke tempat semula, sementara Ellio masih tertawa-tawa.
"Heleh, Ria michat siapa ayo?" tanya Ellio kemudian.
Richard tertawa, namun tetap memperhatikan layar iPad.
"Awas ya yah, ntar penyakit loh." ujar Lea dengan nada serius. Richard lalu memperhatikan anaknya itu.
"Dan, mendingan lo bawa Lea ke atas. Sebelum kena fitnah Dajjal." ujar pria itu kemudian.
__ADS_1
"Marahin aja, Le. Masih tau dia diem-diem." ujar Ellio lagi.
"Tuh kan ayah mah."
"Dan."
Daniel tertawa lalu menarik Lea untuk ke atas. Sementara Ellio kini di lempar Richard dengan boneka lumba-lumba milik Darriel yang ketinggalan di sofa. Ellio lalu menghindar sambil berjoget-joget.
"Mending lo latihan nikah. Pas hari H kagok, awas lo." ujar Richard lagi.
Ellio nyengir lalu benar-benar keluar rumah dan menuju ke pos sekuriti untuk merokok.
***
"Bilangin lah mas, ayah tuh. Jangan main michat mulu, dikit-dikit nyari sugar baby. Mau sampe kapan?. Sugar baby mah nggak akan ada habisnya. Angkatan lama tua, lahir lagi generasi baru. Gitu aja terus sampe landak tumbuh sayap."
Daniel tertawa lalu membuka pintu kamar, tampak Darriel menoleh dan ternyata bayi itu tidak tidur.
"Hallo anak papa, udah bangun kamu ya?"
Darriel menggerak-gerakkan tangan dan kakinya.
"Lah kayak ulet." ujar Lea seraya meraba popok Darriel.
Ternyata baru diganti, entah oleh Richard atau asisten rumah tangga. Daniel pergi ke kamar mandi sejenak, lalu keluar dan menghampiri box bayi.
"Sini gendong, kangen papa sama kamu."
"Mas aku pengen bikin minuman anget deh, kamu mau nggak?"
"Mau dong, kopi." ujar Daniel.
Lea lalu menelpon ke bawah dan memesan pada asisten rumah tangga. Mereka berdua kini mengasuh Darriel.
***
"Dia maksa gue jadi sugar baby nya dia."
Nina mendengarkan Sharon yang berbicara sambil membuang pandangan ke suatu sudut. Beberapa saat yang lalu, ia berhasil membujuk saudaranya itu untuk bersuara.
Sebab pihak kepolisian juga membutuhkan keterangan Sharon untuk menjerat Herman, dan menjatuhkan hukuman yang pantas untuk pria itu.
"Gue menolak, dia nggak masalah hari itu. Dia terus baik-baikin gue di hari-hari berikutnya. Tapi tetap aja gue menolak, sampai akhirnya dia memperkosa gue."
Air mata Sharon mengalir deras.
Hati Nina pilu mendengar semua itu. Meski dirinya adalah mantan seorang sugar baby, namun ia melakukan hal tersebut berdasarkan kerelaan. Tidak ada pemaksaan didalamnya.
Nina tak bisa membayangkan jika ia ada di posisi Sharon. Tak pernah menginginkan hal tersebut namun dipaksa melakukan.
__ADS_1
"Dia berapa kali melakukan itu?" tanya Nina lagi.
"Berkali-kali."
Sharon menunduk sambil menangis keras. Nina tak lagi melanjutkan pertanyaan, ia hanya memeluk saudara itu dengan erat.
Tetapi ia telah merekam semuanya. Ia takut kalau nanti Sharon tiba-tiba berubah pikiran. Merasa takut untuk melapor karena adanya tekanan dari pihak Herman misalnya.
Nina telah mengantongi bukti pengakuan dari saudaranya itu. Nina sangat ingin Herman di penjara, karena telah menghancurkan hidup orang lain.
***
Malam beranjak naik, Vita masih juga melayani pengunjung kafe semi bar tempat dimana ia bekerja. Ada banyak om-om yang berkunjung di tempat tersebut.
Sebab tempat tersebut terkenal dengan pelayannya yang cantik-cantik. Salah satunya adalah Vita sendiri.
"Silahkan!"
Vita menyerahkan pesanan di meja 23. Tampak salah satu om-om meliriknya dengan penuh pelecehan. Tapi sayangnya om-om tersebut tak menyentuh.
Jika menyentuh dirinya, Vita bisa langsung menjadikan kasus tersebut sebagai laporan ke pihak yang berwajib. Sebab di kafe tersebut jika ada yang mencolek, maka managernya sendiri yang akan bertindak dan menuntut orang tersebut.
Namun kali ini Vita mengalami pelecehan dari tatapan mata serta cara pandang. Sebuah hal yang sulit untuk di tuntut.
"Apa sih itu om-om, kesel banget gue dengan cara dia ngeliat gue."
Gerutunya setelah kembali dari mengantar minuman dan hendak mengantar minuman yang lainnya.
"Sabar aja, disini banyak bapak-bapak nggak tau diri emang."
Salah satu karyawan sesama pelayan mengeluarkan celetukan.
"Iya." ujar yang lainnya lagi.
"Gue mah karena lagi butuh duit aja, makanya kerja disini. Kalau ada kerjaan lain mah, gue pasti resign." lanjutnya lagi.
Vita diam, lalu mengantarkan minuman ke meja berikutnya dan berikutnya lagi. Hingga waktu berlalu dan tibalah saatnya untuk pulang. Kafe telah tutup, yang bertugas di dapur bukan giliran Vita malam ini.
Maka ia pun bergegas membuka apron dan menuju ke loker karyawan. Ia lalu mengambil tas dari dalam salah satu kotak loker tersebut. Tak lama ia pun berpamitan pada beberapa orang yang masih disana.
"Gue balik ya." ujarnya kemudian.
"Iya, hati-hati di jalan Vit." ucap salah satu dari mereka.
"Iya, thank you ya."
"Sip."
Vita melangkah keluar kafe, kini ia memesan ojek online. Saat itu toko-toko di sisi kanan dan kiri tokoh semuanya telah tutup dan sudah mematikan lampu.
__ADS_1
"Sendirian banget nih, saya anterin aja yuk."
Vita refleks menoleh karena kaget, dan ternyata suara tersebut berasal dari om-om yang tadi memandangnya dengan tatapan pelecehan.