
"Lea masih di kamar Hans?"
Richard sengaja melontarkan pertanyaan, ketika malam mulai menjelang. Frans dan istrinya Hana sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu.
Richard juga sempat pergi sejenak keluar untuk membeli beberapa makanan. Hanya Ellio yang tadi menemani Daniel.
"Iya." jawab Ellio.
Daniel memperhatikan handphone, pura-pura tak mendengar pembicaraan antara Richard dan juga Ellio.
"Dia nggak lo suruh pulang, Dan. Besok kan sekolah." Richard melempar pertanyaan pada Daniel.
Daniel menghela nafas dan menatap kedua sahabatnya itu.
"Dia harusnya punya kesadaran sendiri lah, ngapain harus gue yang ngingetin."
"Ya, nggak ada salahnya diingetin. Soalnya kan, anak seumur gitu suka lupa diri. Kalau lagi demen sama orang." Richard mengeluarkan pernyataan yang membuat Daniel tersentak.
Namun bukan Daniel namanya, jika tidak bisa menyembunyikan semua itu.
"Terserah dia lah, urusan dia. Ngapain gue yang repot." ujarnya kemudian.
"Iya juga sih." jawab Richard.
Pria itu lalu beralih ke sofa, duduk di dekat Ellio yang tengah memakan martabak.
"PUBG yuk." ajak Ellio.
"Ok." ujar Richard.
"Dan." Ellio mengajak Daniel.
"Lo duluan aja." ujar Daniel.
Kedua sahabat itu bermain game. Namun kata-kata mengenai Lea yang mereka lontarkan, telah berhasil mengusik hati Daniel. Pria itu kemudian mengambil handphone dan mengirim pesan singkat pada Lea.
"Pulang, kalau besok masih mau sekolah. Kamu kan sekarang sekolah bukan dari beasiswa lagi, jadi sekolah yang benar."
Lea yang melihat pesan tersebut pun lalu menjawab.
"Iya om, bentar lagi. Ini Hans udah hampir tidur, tunggu dia lelap dulu."
Daniel menghela nafas, betapa gerahnya ia kali ini. Ia merasa jengah pada pemuda-pemudi yang sok perhatian kepada lawan jenisnya. Karena menurut Daniel, mereka adalah orang-orang yang masih terjebak dalam kepalsuan cinta.
Ia telah mengalami hal yang sesungguhnya, dimana cinta tidaklah seindah drama Korea. seperti yang menjadi panutan oleh bocil-bocil seusia Lea.
"Ya udah, saya tunggu 20 menit." balas Daniel kemudian.
__ADS_1
Mau tidak mau Lea pun menurut, ia juga merasa tak enak membantah Daniel. Setelah begitu banyak uang yang Daniel keluarkan untuk dirinya, selama beberapa waktu belakangan.
Tepat dua puluh menit kemudian, Lea menyambangi kamar Daniel. Saat itu juga Richard dan Ellio telah selesai bermain game online.
"Bro, gue nggak bisa nginep ya malem ini. Besok mesti meeting pagi-pagi." ujar Richard.
"Gue juga nggak bisa nginep, bro. Besok juga kegiatan gue sama." timpal Ellio.
"Ya udah." ujar Daniel.
"Saya aja om yang jaga disini."
Tiba-tiba Lea nyeletuk, membuat Daniel, Ellio dan Richard seketika terdiam.
"Kamu pulang aja." ujar Daniel.
"Ya nggak bisa dong, kalau om ada apa-apa gimana." tanya Lea.
"Ada perawat disini." Daniel seakan enggan ditemani oleh gadis itu.
"Udah nggak apa-apa om." jawab Lea lagi.
Sejatinya ia tak enak meninggalkan Daniel sendirian, sedang Richard dan Ellio memang sengaja membidik momen tersebut. Dan untungnya semua sesuai harapan mereka.
"Kamu kan sekolah, Lea."
"Nggak apa-apa koq, om. Saya bisa pulang pagi-pagi buta." jawab Lea lagi.
"Kamu pulang aja." Lagi-lagi Daniel berujar.
"Menurut gue, biarin aja Lea disini. Gue khawatir ninggalin lo sendirian." Richard seolah berada di pihak yang mendukung Lea, padahal memang iya.
"Lo berdua anterin aja deh, dia pulang." Daniel masih berkeras hati.
"Om, saya mau disini. Saya nggak mau nanti terjadi apa-apa sama om."
Lea si gadis yang penuh alasan. Padahal ia hanya ingin terus berada di rumah sakit ini, agar bisa mengawasi Hans. Jadilah mereka semua berada dalam lingkaran yang penuh maksud.
Daniel bermaksud menjauhkan Lea dari Hans, dengan menyuruh gadis itu untuk pulang. Richard dan Ellio bermaksud agar Lea tinggal dan menjaga Daniel saat mereka tak disana. Sedangkan Lea tidak mau pulang, karena bermaksud mengawasi Hans.
"Udah, bro. Lo nurut dulu deh kali ini." Richard menekan Daniel.
"Lo mau gue sama Ellio kepikiran sama lo, pas kita pulang nanti. Nggak bisa tidur dan lain-lain." lanjutnya kemudian.
"Bener bro, walaupun ada perawat. Perawat nggak setiap saat bisa ngawasin lo. Kondisi Lo itu masih cukup serius." Ellio menimpali.
"Iya om, biar saya disini ya." pinta Lea.
__ADS_1
Akhirnya, dari sekian banyak manusia yang memiliki maksud. Daniel lah yang kemudian mengalah, karena semuanya sama-sama keras hati.
"Ok." ujar Daniel kemudian. Richard, Ellio dan Lea tersenyum penuh maksud.
Usai berpamitan, Richard dan Ellio pun menuju ke halaman parkir dan masuk ke mobil.
"Untung rencana kita nggak meleset." ujar Ellio pada Richard yang kini menghidupkan mesin.
"Yap, kayak yang gue bilang. Si Lea kalau mau pulang, udah pasti mampir dulu ke kamar Daniel. Nggak mungkin dia nggak pamit ke Daniel sama kita. Makanya enak banget membidik dia di momen itu. Pura-pura kita nggak bisa nemenin Daniel, akhirnya dia menawarkan diri. It's the perfect time." ujar Richard.
"Pokoknya, besok kita jalankan rencana yang lain lagi. Target kita, si Daniel harus udah lupa sama Grace. Paling nggak dalam waktu tiga bulan kedepan. Kalau bisa di bawah itu lebih bagus." lanjut Ellio.
"Iya, minimal Daniel bisa berdiri dulu deh. Jangan lemes terus kalau deket cewek, kasian nanti cewek yang suka sama dia. Kalau si Daniel bener-bener disfungsi akibat
si Grace." tukas Richard.
Mobil yang dikemudikannya kini merayap jauh.
"Kuat banget pengaruh tuh cewek terhadap hidupnya Daniel." ujar Ellio.
"Iya makanya. Syukur masa-masanya gue bucin sama cewek tuh, udah lewat jauh." tukas Richard.
"Oh iya, jaman kita SMA ya." tanya Ellio.
"Yang lo sampe depresi berat, gara-gara diselingkuhin Abigail." lanjutnya lagi.
"Iye, bangsat tuh cewek emang. Kalau gue pikir-pikir sekarang, ngapain ya dulu gue segitu memohonnya sama dia."
Ellio tertawa mendengar hal tersebut.
"Gue sama Daniel marah banget tuh waktu itu, selingkuhannya si Abigail kan di hajar sama Daniel abis-abisan. Sampe ke polisi segala kasusnya."
"Emang waktu itu sampe ke polisi?" tanya Richard tak percaya. Ia bahkan baru mendengar hal tersebut.
"Lah, menurut lo?"
"Koq gue nggak tau."
"Lo nya aja masih depresi berat, sama diri Lo aja kayak inget nggak inget. Gimana lo tau kalau temen-temen lo sampe segitunya belain elo."
"Anjir, bangsat. Ngapain coba gue sampe depresi gara-gara tuh cewek."
Richard setengah tertawa, mengenang kebodohannya yang pernah bucin akut pada mantan kekasihnya di SMA. Ia juga tak tahu jika teman-temannya ikut menanggung dampak hal tersebut.
"Maka dari itu, sekarang kita harus bantuin Daniel. Dia lagi ada di fase yang mirip dengan keadaan lo waktu itu. Ya walaupun dia mengalami agak terlambat sih." ujar Ellio.
"Jangan sampe Daniel ngalamin yang kayak gue. Sumpah, rugi banget depresi karena orang yang udah nggak peduli sama kita." ujar Richard lagi.
__ADS_1
Mobil mereka pun terus melaju, sementara kini Daniel berhadapan dengan Lea.