
"Arsen."
"Arsen."
Lea melihat kakak dari Richard yakni Reynald melintas di hadapannya dan tampak tengah mengejar Arsenio.
"Om Rey?" gumam Lea. Ia yang tengah makan burger itu pun berdiri lalu menyusul.
"Arsen, tunggu...!
Lea berpikir keras, apa yang sesungguhnya telah terjadi. Bagaimana bisa kakak dari ayahnya tersebut mengenal Arsenio.
"Arsen, please."
Arsenio terus melangkah, dan Reynald masih berusaha keras.
"Arsen, papa harus bicara sama kamu."
Arsenio menghentikan langkah, begitupula dengan Reynald dan juga Lea. Lea sendiri terkejut mendengar hal tersebut.
"Papa?" ujarnya tak percaya.
"Berapa kali saya bilang pak." Arsen berbalik dan menatap Reynald.
"Berapa kali saya bilang, saya bukan anak bapak."
"Mau sampai kapan kamu mengingkari semua ini. Di dalam diri kamu mengalir darah papa."
"Lantas?" Arsenio berkata dengan nada penuh cibiran.
"Kamu harus tinggal sama papa, kamu juga belum kenal kan sama keluarga papa. Kamu punya om, punya nenek, kakek, sepupu."
"Saya nggak mau kenal keluarga anda."
"Arsen."
"Ibu saya meninggal karena anda mengkhianati pernikahan kalian."
"Itu nggak bener, Arsen. Itu semua karangan orang tua dari ibu kamu, dan kamu saat itu masih sangat kecil. Kamu masih berusia 1 tahun, belum ngerti apa-apa."
"Orang yang bersalah nggak akan pernah mengakui perbuatannya. Kalau banyak yang mengaku, penjara penuh pak."
"Papa nggak pernah mengkhianati pernikahan antara papa dan mama kamu. Keluarga mama kamu dari awal nggak terima mama kamu menikah dengan papa. Karena kami berbeda suku, ras, dan keyakinan. Saat menikah mama kamu ikut keyakinan papa dan itu yang membuat keluarganya jadi murka. Berbagai cara mereka lakukan untuk mengambil kembali mama kamu, termasuk dengan fitnah itu."
"Saya lebih percaya dengan keluarga ibu saya, karena mereka yang membesarkan saya selama ini."
Arsenio berlalu meninggalkan Reynald. Sementara Reynald terdiam membisu di tempatnya berdiri. Lea sendiri masih syok dan masih mengintip dari balik salah satu sisi tembok gedung.
"Lele, lo ngapain sih?"
Tiba-tiba Vita muncul dan Lea langsung membungkam mulut temannya itu dengan tangan.
"Sssst, pelan-pelan ujarnya seraya menatap ke arah Reynald. Tak lama Reynald pun berlalu, dan Vita sempat melihat wajah pria itu.
__ADS_1
"Itu siapa?" tanya nya kemudian.
"Bapaknya Arsen." jawab Lea.
"Ba, bapaknya Arsen?"
"Iya."
"Arsenio maksud lo?" tanya Vita lagi.
"Iya, itu bapaknya dia dan dia itu kakaknya bokap gue."
"Hah?" Vita benar-benar terkejut.
"Jangankan elu, gue aja kaget." ujar Lea.
"Maksudnya lo sama Arsen sepupu gitu?"
"Gue aja baru tau, Vit."
"Astaga, ini beneran?. Gimana ceritanya sih?"
Lea menceritakan apa yang barusan ia dengar antara Reynald dan juga Arsen. Dan lagi-lagi Vita terkejut mendengarnya.
"Pantes selama ini si Arsen, kalau gue tanya masalah bokapnya, dia selalu nggak pernah mau ngomong banyak. Dia cuma pernah bilang, "Tau, udah mati kali bapak gue sama pelacurnya." Dia bilang gitu."
Lea memperhatikan Vita.
"Gue sih nangkepnya ya, bapaknya si Arsen itu selingkuh. That's why dia tuh benci banget sama cewek yang jadi selingkuhan. Makanya dia bertekad menyadarkan semua perempuan yang jadi selingkuhan, untuk nggak lagi mengganggu rumah tangga orang. Lewat komunitasnya dia itu. Termasuklah para sugar baby, karena kan sugar baby juga banyak juga tuh yang sama laki orang."
"Yang gue tau sih gitu."
Tak lama Arsenio pun terlihat melintas, Lea dan Vita mendadak diam dan berhenti membicarakan pemuda itu.
"Lo nggak mau bilang, Le?" tanya Vita.
"Bilang maksudnya?" Lea balik bertanya.
"Bilang ke Arsen, soal lo berdua saudara sepupu."
"Wah itu bukan ranah gue, Vit. Gue nggak mau ikut campur urusan saudara bokap gue. Biarin dia aja yang menyelesaikan sendiri."
"Iya sih." ujar Vita.
Dari tempat mereka berada, mereka masih bisa menyaksikan Arsenio yang mulai menjauh.
***
"Emang mas nggak tau soal anaknya om Reynald."
Lea bertanya pada Daniel, karena akhirnya ia menceritakan perihal Reynald dan Arsen setelah ia dan Daniel sama-sama pulang ke rumah.
"Mana aku tau, Le. Aku tuh cuma inget kalau Reynald itu pernah menikah dan punya anak. Nama anaknya itu Grey. Gabungan nama istri dia Greta, sama Reynald nama dia. Pernah liat beberapa kali, tapi saat itu Grey itu masih kecil banget. Nggak lama kan cerai tuh, nah aku udah nggak tau lagi masalah mereka. Karena kan aku, Ellio, sama Richard juga kuliah di luar negri."
__ADS_1
"Oh gitu. Aku juga kaget mas, liat om Reynald koq ngejar-ngejar si Arsen. Ada apa gitu, koq kenal pikir aku."
"Tapi tadi si Arsen nya mau diajak bicara sama Reynald?"
"Ya bicara sih bicara, tapi tetap nggak ada titik temu. Si Arsen nya itu nggak mengakui om Reynald."
Daniel menghela nafas.
"Coba nanti aku bicarakan sama Richard ya." ujar Daniel.
"Iya mas."
"Oh ya mau makan apa kamu?. Aku mau pesen online." ujar Daniel.
"Mmm apa ya?" tanya Lea.
Tak lama mereka pun terlihat menscroll laman pemesanan makanan, di sebuah akun ojek online.
***
"Kamu suka yang mana?"
Ellio yang sudah lumayan sehat, namun masih memiliki beberapa bekas cacar tersebut mengajak Marsha jalan-jalan di suatu sore. Mereka makan dan membeli beberapa keperluan Marsha, dan terakhir mereka berada di toko bunga.
Karena Marsha bercerita jika ia tengah mengerjakan sebuah usaha handmade yang berbahan dasar bunga. Maka Ellio pun mengajak perempuan itu ke toko bunga, yang memiliki reputasi baik dalam hal kualitas.
"Ini mahal-mahal banget pak." ujar Marsha seraya memperhatikan tag harga yang tertera.
"Ya nggak apa-apa, kan aku yang bayar. Kamu pilih aja sesuka hati kamu."
"Beneran?" tanya Marsha.
"Ya bener dong, masa bohong."
Marsha tersenyum lalu memilih bunga mana yang ia suka. Usai menentukan pilihan, Ellio pun membayar. Tak lama mereka terlihat berjalan ke arah mobil.
"Pak Ellio, tunggu pak...!"
"Pak Ellio."
Beberapa orang seperti wartawan datang menghampiri dengan membawa berbagai macam kamera, termasuk kamera handphone. Ellio dan Marsha pun merasa begitu kaget, karena mereka datang secara tiba-tiba.
"Ada apa ini?" tanya Ellio heran.
"Pak tolong kasih penjelasan, apakah bapak pernah menyewa jasa SB Agency untuk mencari sugar baby?"
Ellio terkejut mendengar pertanyaan tersebut. Apalagi Marsha yang tidak tahu menahu mengenai hal itu. Ia syok mendengar Ellio ternyata suka mencari sugar baby, sementara Ellio sendiri merasa begitu tak enak pada Marsha.
"Tolong ya, jangan ganggu saya. Saya nggak pernah ikut begitu-begituan." Ellio menyangkal.
"Tapi pak, nama bapak ada dalam daftar pengunjung pada sekitar setahun yang lalu."
Salah satu dari orang yang membawa kamera itu bertanya, dan lagi-lagi Ellio memperhatikan Marsha. Sebab wajah Marsha kini mendadak berubah, ia seperti marah pada Ellio.
__ADS_1
"Saya benar-benar tidak tahu menahu soal itu, tolong jangan ganggu saya." ujar Ellio.
Ia segera masuk ke dalam mobil, begitu pula dengan Marsha. Namun Marsha sudah tak seperti sebelumnya. Ia seolah percaya pada perkataan orang-orang itu tadi dan pandangannya terhadap Ellio kini mendadak jadi negatif.