
"Degh."
Batin Nic bergemuruh. Ia kemudian membuka lagi gumpalan kertas-kertas itu satu demi satu.
"Yang menyekap saya namanya Herman, tolong beritahu teman-teman saya. Mereka saat ini berkuliah di...... dan beralamat di......."
Sharon menjelaskan dimana Nic bisa menemukan teman-temannya. Sharon pikir hanya dua orang itulah yang bisa membantu saat ini. Sebab ia tidak tau jika kedua temannya itu telah meminta bantuan banyak pihak, terutama Lea dan juga orang-orang disekitarnya.
Sharon pikir ia tak punya teman, jadi mustahil ada orang lain yang akan peduli maupun mencari keberadaannya.
Nic kemudian masuk ke dalam rumah, dan naik ke lantai atas. Dari lantai tersebut ia coba mengamati apapun yang terdapat di rumah sebelah. Ia tak ingin sembarangan mengadukan semua ini ke pihak yang berwajib, sebab takut ini hanyalah perbuatan orang iseng.
Dari lantai atas tersebut, Nic hanya melihat lantai dua rumah itu yang seperti rumah pada umumnya. Semua tampak normal dan tak ada satupun tanda-tanda yang mencurigakan.
Nic terus mengamati, sampai kemudian ia melihat seorang laki-laki tampak melihat ke arahnya. Tatapan laki-laki itu sangat dingin, hingga membuat Nic terpaksa menyudahi pengintaian.
Nic kemudian melanjutkan perintah dari ayah tirinya, yakni memperkirakan berapa orang jumlah pekerja. Yang kira-kira bisa membersihkan rumah tersebut.
Usai membuat laporan pada sang ayah tiri, ia pun kembali ke mobil dan berencana untuk pulang. Pemuda itu keluar pagar, untuk masuk ke dalam mobil yang sengaja ia parkir disana.
Ketika Nic masuk ke dalam mobil, tampak pria yang tadi ia lihat dari atas sudah berdiri di muka rumah sebelah. Dengan posisi menatap ke arah Nic.
"Degh."
Batin Nic kian mencurigai sesuatu dari rumah tersebut. Maka ia pun buru-buru menghidupkan mesin mobil lalu tancap gas.
Di sepanjang perjalanan ia terus mengingat isi kertas yang saat ini ia bawa. Ia juga terus teringat pada tatapan pria tersebut.
"Dert."
"Dert."
"Dert."
Tiba-tiba handphonenya kembali berbunyi, sang ayah tiri kembali menelpon.
"Hallo, pa."
"Nic dimana?"
"Dijalan."
"Udah balik?"
__ADS_1
"Iya udah."
"Oh ok deh, ikut papa sama mama yuk."
"Mau kemana, pa?" tanya Nic.
"Kita makan bareng." ujar ayah tirinya itu lagi.
"Mmm..."
Nic melihat kertas yang ia bawa. Sejatinya ia ingin sekali memenuhi ajakan ayah tirinya tersebut. Namun kini ada hal lain yang harus segera ia selesaikan.
Ok kalau kalau orang ini berbohong dan hanya iseng mengatakan jika dirinya disekap. Tapi bagaimana jika itu benar. Nic merasa dirinya tak boleh mengabaikan hal seperti ini. Sebab bisa jadi ini menyangkut keselamatan dan nyawa orang lain.
Nic memutar arah, menuju ke arah universitas tempat dimana tadi yang disebutkan oleh Sharon. Disana ia mencari dimana letak kampus jurusan yang juga di sebutkan Sharon dalam catatannya. Ia kini berusaha menemukan kedua teman Sharon.
***
Malam itu, Daniel benar-benar tak bisa membendung hasrat. Sudah beberapa hari ia tak mengunjungi bayinya yang ada di perut Lea. Maka ketika pulang ke rumah, ia seperti orang yang begitu kehausan.
Ia melihat Lea dengan perutnya yang membesar, serta kedua bagian dada yang tampak penuh. Naluri kejantanannya yang telah bangkit sejak di kantor tadi, kini seakan menjadi-jadi.
"Mas udah pulang?" ujar Lea setengah kaget.
Sebab tadi ia tengah mendengarkan lagu dengan memasang headset di telinganya. Ia juga terlihat membersihkan meja makan dan membelakangi Daniel.
"Mas mau minum?"
Daniel tak menjawab, ia meletakkan tas laptopnya ke sofa sambil terus menatap Lea. Di lepaskannya dasi yang melekat di leher, lalu membuka blazer dan juga kemeja yang ia kenakan.
Lea diam dengan jantung yang berdegup kencang, serta bagian sensitif di sekujur tubuhnya yang berdenyut. Ia tak menghindar sama sekali, karena tiba-tiba ia pun memiliki hasrat untuk melakukan hal yang sama.
Apalagi ketika melihat dada bidang sang suami dan tubuhnya yang dipenuhi otot. Serasa makin terbakar gairah perempuan hamil tersebut.
Daniel mendekat sambil terus menatap mata Lea. Di dorongnya perempuan itu ke dinding, lalu ia cium bibir serta ia remas gundukan besar di kedua sisi dada sang istri.
"Maaas, hmmh."
Lea menggeliat dan menggelinjang. Dalam sekejap tangan Daniel sudah menguasai tubuh perempuan itu. Ia kini berjongkok, mencium perut Lea serta mengelus-elus hingga ke area yang paling sensitif. Lea memegang kepala sang suami dan membelai rambutnya tanpa sadar.
"Mas, hmmh."
Daniel terus melakukan aktivitas itu sambil melihat ke atas, ke arah mata Lea. Membuat Lea tanpa sadar membuka lebar kedua kakinya sendiri.
__ADS_1
Daniel berdiri, kemudian menurunkan resleting celana yang ia masih kenakan. Tampak sesuatu mencuat dari sana dan terlihat sangat tegang. Ia mengurut-urut benda tersebut sambil berbisik di telinga Lea.
"Kamu udah sembilan bulan sayang. Aku mau membantu menginduksi bayi kita, supaya cepat lahir."
Ia lalu mencium bibir Lea dan membalikkan tubuh istrinya itu, hingga ia menghadap tembok. Kemudian Lea sedikit membungkuk dan dalam beberapa detik ia menerima hujaman cinta yang begitu dalam.
Seperti biasa erangan, racauan dan juga kata-kata mesra mewarnai ruangan tersebut. Daniel melakukannya dengan cukup berhati-hati, mengingat tak lama lagi bayi mereka akan lahir.
Lea sendiri masih bisa menikmatinya, dan merasa lebih tenang serta diterima oleh sang suami. Meskipun tubuhnya sudah sangat bengkak dan kehilangan bentuk. Kadang ia merasa seperti badak jika tengah berkaca.
Namun hasrat dan gairah Daniel terhadap dirinya yang tak pernah padam, membuat ia merasa percaya diri. Jika suaminya itu memanglah sangat mencintai dirinya dan tak selingkuh dibelakang, meskipun ia tengah hamil.
Sebab banyak kasus di luaran sana suami-suami yang mencari tempat hinggap ketika istri mereka tengah hamil. Bercinta dengan wanita bayaran, kemudian adakalanya bercinta di rumah. Lalu tanpa sadar menularkan penyakit pada istri dan juga si calon bayi.
"Lea, aku mau...."
"Aaaaaaah."
Keduanya berteriak, ketika sama-sama mencapai *******. Gelombang kenikmatan mereka rasakan seperti naik turun. Daniel kemudian memeluk Lea, dalam keadaan nafas mereka yang tersengal.
"Sakit nggak perut kamu?" tanya nya kemudian.
"Nggak mas." jawab Lea.
"Kram atau apa?"
"Nggak juga."
"Wah kalau gitu harus sering-sering nih, biar cepet kontraksi." Daniel bercanda, sementara Lea hanya tertawa.
Sejatinya ia memang ingin menggempur sang istri secara intens. Namun ia juga memikirkan kondisi wanita itu. Itulah sebabnya dalam beberapa hari terakhir, ia lebih banyak menahan diri. Namun hari ini semua memang harus terjadi.
***
Flashback.
Nic berhasil menemukan seorang perempuan yang di duga adalah teman Sharon. Hal tersebut berdasarkan informasi yang diberikan oleh seroang mahasiswa, yang kebetulan mengenal Sharon dan juga teman-temanya.
"Maaf mbak, apa mbak yang namanya Maya?" tanya Nic pada perempuan itu.
"Iya, lo siapa ya?" Maya balik bertanya.
"Apa mbak temennya Sharon?"'
__ADS_1
Nic kembali mengeluarkan pertanyaan yang membuat Maya mendadak tersentak.
"Degh."