Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Terjerat Rasa Baru (Bonus Part)


__ADS_3

Shela jadi mengunjungi kediaman Susi. Ia tiba sekitar setengah jam setelah percakapan mereka di WhatsApp berakhir.


Sesampainya disana seperti biasa keduanya heboh dan cipika-cipiki, lalu lanjut berswafoto dan membuat insta story. Setelah itu mereka makan-makan, dengan makanan yang tentu saja di order secara online. Sebab Susi malas menyentuh dapur.


"Dert."


"Dert."


Tiba-tiba handphone Susi bergetar dan itu adalah telpon dari ibunya. Susi paham jika sang ibu saat ini pastilah ingin membicarakan perihal uang.


Maka dari itu ia pun menjauh, sebab ada Hanif yang juga tengah berada di meja makan. Ia bahkan pergi menjauh tanpa pamit dulu pada suaminya tersebut. Ia hanya sempat berkata,


"Ibu nelpon."


Maka Hanif pun mengerti. Kini sisa pria itu dan Shela saja yang ada di meja makan. Tak lama kemudian Hanif terlihat ingin mengambil lauk yang posisinya agak jauh. Dan dengan sigap Shela pun mengambilkannya.


Hanif sempat tertegun dengan sikap gadis itu. Selama menikah dan bucin dengan Susi, dirinya memang ada sesekali merasa sangat dilayani.


Tetapi entah mengapa rasanya dengan Shela ini agak berbeda. Seperti ada getar-getar aneh di dalam jiwanya. Getar yang tak begitu ia dapatkan ketika dilayani oleh Susi. Lagipula ia menyadari satu hal, yakni Shela itu lebih montok dari Susi.


"Mas Hanif mau apa lagi?" tanya Shela dengan suara yang terdengar seksi di telinga Hanif. Pria itu pun jadi makin terpaku dan menatap gadis itu dalam-dalam.


"Mas?" Shela membuyarkan lamunan Hanif.


"Mmm, nggak usah. Cu, cukup koq." jawab Hanif dengan nada yang terbata-bata dan seperti orang yang salah tingkah.


Shela tersenyum dan Hanif membalasnya. Tak lama setelah itu mereka melanjutkan makan. Sementara di luar Susi menerima pengaduan dari sang ibu.


"Bu Dedeh depan udah kredit mobil, Sus. Anaknya si Neneng yang jadi TKW itu yang bayarin."


Sang ibu berkata dengan sangat julid sekali. Ia membicarakan salah satu tetangga dekat rumah yang baru saja membeli mobil baru.


"Oh ya?" tanya Susi menanggapi ucapan sang ibu dengan terkejut.


"Iya, Sus. Sombongnya minta ampun tau nggak. Belagu banget, baru dapat mobil kayak gitu doang." ucap ibunya lagi.


Padahal sejatinya orang yang tengah ia bicarakan tersebut tak sombong ataupun belagu sama sekali. Hanya saja hati ibu Susi sudah terlalu dipenuhi rasa iri. Ia terbakar api kedengkiannya sendiri.


Matanya yang tertutup kebencian telah membuat ia melihat orang lain seolah bersikap sombong pada dirinya. Padahal ia merasa rendah akibat sifat-sifat buruk yang sengaja ia pelihara.


"Pokoknya mah ibu tenang aja. Nanti Susi pasti beliin buat ibu mobil yang lebih bagus dan lebih mahal." ujar Susi.

__ADS_1


"Kamu memang anak yang berbakti, Sus. Ibu tunggu ya kabarnya." ujar ibu Susi antusias.


"Iya bu, pasti." jawab Susi.


Di dalam Shela beranjak hendak menuju ke toilet, sebab sejak tadi ia telah menahan buang air kecil. Arah menuju ke tempat tersebut harus berputar melewati Hanif yang masih makan. Maka gadis yang mengenakan high heels tersebut pun bergegas.


Namun ketika melintas di dekat Hanif tiba-tiba saja ia salah mengambil langkah, hingga menyebabkan tubuhnya mendadak oleng.


"Aaaaaah."


Shela setengah berteriak dan nyaris terjatuh. Namun Hanif dengan sigap menangkap tubuh gadis itu. Hingga kini Shela berada dalam pelukannya.


Lalu hening seketika menyeruak. Cukup lama keduanya saling pandang dalam diam. Sampai kemudian Shela kembali berdiri dan mereka jadi makin salah tingkah. Keduanya tampak senyum-senyum.


Shela lalu buru-buru pergi ke toilet, tak lama kemudian Susi kembali. Tanpa menaruh kecurigaan apapun, ia segera duduk di meja makan dan menikmati kembali makanannya.


Sementara di hati sang suami kini muncul perasaan aneh terhadap Shela. Meski saat ini dirinya tengah memikirkan dua gugatan cerai. Satu dari Nadya dan satu lagi dari Yayah.


Sebab untuk urusan perempuan dan kenikmatan bawah perut, Hanif selalu menyediakan ruang yang siap sedia. Ia akan selalu bisa menyukai perempuan lain. Tak menyangkut waktu dan kondisi tengah seperti apa. Mungkin hanya sakit keras yang bisa menghentikan orang semacam Hanif.


***


Nadya berucap pada Richard di telpon. Sebab tadi Arkana ada mengirim chat dan menanyakan perihal dimana pria itu. Ia ingin di jemput lagi oleh Richard dan mungkin mereka bisa menghabiskan waktu bersama.


Tetapi Richard mengatakan jika saat ini dirinya sedang sakit dan Arkana mengadukan semua itu pada Nadya. Hingga Nadya pun menghubungi cinta tanpa statusnya tersebut, lantaran ia merasa begitu khawatir.


"Aku habis ini langsung tidur koq." jawab Richard.


"Oke, semoga cepet sembuh ya." ujar Nadya lagi.


"Iya, makasih banyak." jawab Richard.


"Sama-sama. Obatnya jangan lupa diminum."


"Iya."


Richard tersenyum, begitupula dengan Nadya. Tak lama kemudian telpon tersebut disudahi dan Richard kembali memejamkan matanya. Sementara Nadya lanjut pergi ke dapur untuk membuat kue.


***


"Sepuluh gelombang kiri, sepuluh gelombang kanan."

__ADS_1


"Ehek, Heeee."


Danisha adik Daniel, yang tiada lain adalah anak dari Grace sang mantan kekasih tiba-tiba menangis.


Lea yang tengah memasang gorden yang ia beli dari kak Jill secara online itu pun, menoleh ke arah tempat tidur. Daniel yang semula berada di luar kini turut menilik ke dalam kamar.


"Delil."


Lea mendekat dan mencoba melepaskan genggaman tangan sang anak di rambut aunty kecilnya itu. Daniel menarik nafas agak panjang dan terlihat antara miris namun hendak tertawa.


"Mas gendong Icha mas." ucap Lea setelah berhasil melepaskan tangan Darriel, yang dengan sengaja menjambak rambut Danisha.


Daniel lalu mengambil sang adik dan mencoba menenangkan tangisnya. Sementara Darriel tampak tertawa dengan antusias


"Heheee."


Ia menggerak-gerakkan kaki dan tangannya dengan semangat yang menyala.


"Heheee."


Ia kembali tertawa.


"Nggak boleh gitu ya, Delil. Itu adiknya papa loh, aunty nya Delil." ujar Lea.


"Bzrbzrbzr."


Darriel malah berceloteh dengan perkataan yang terdengar aneh ditelinga. Kemudian ia pun kembali tertawa.


"Heheee."


"Anak kamu nih mas, mas." ujar Lea pada Daniel yang saat ini masih menggendong Danisha.


Daniel tertawa, sebab sejatinya ia juga merupakan sosok yang jahil sejak kecil. Saat ini ia melihat kelakuan sang anak sama persis seperti dirinya.


"Uwawawa."


Darriel berceloteh, sementara Danisha sudah tenang. Anak perempuan itu memang sengaja dititipkan, sebab Grace tengah menjalankan tugas kantor keluar kota. Sedang pengasuh Danisha baru saja berhenti. karena ingin menikah.


Berhubung mencari pengasuh bayi perlu sedikit waktu, sedang Grace sudah didesak pekerjaan. Maka ia menitipkan anaknya terlebih dahulu pada Lea dan juga Daniel.


Pasangan itu tak masalah dan lagipula lamanya Grace pergi hanya sekitar 3 hari dua malam. Lea sendiri tak masalah dan bisa ikut mengurus saudara iparnya itu, meski ia juga tengah mengurus Darriel saat ini.

__ADS_1


__ADS_2