
Daniel merealisasikan keinginannya malam itu. Seusai mengantar anak angkatnya pulang, ia kembali pada Lea. Ia benar-benar tengah dilanda gairah, pasalnya sudah beberapa hari mereka tidak melakukan hal tersebut.
Kebetulan Lea tengah memakai sebuah gaun tidur yang tipis. Langsung saja Daniel melakukan aksinya dengan banyak mendominasi pergerakan.
Lea mendesah-desah dibawah kendali Daniel. Sedang Daniel sendiri memompa miliknya dengan penuh keperkasaan. Tak lupa ia membisikkan kata-kata yang nakal di telinga istrinya itu. Dengan tangan yang terus mengelus perut Lea, dan area-area sensitif lainnya.
Kenikmatan tersebut berlangsung cukup lama, hingga keduanya sama-sama mencapai *******. Daniel dan Lea berteriak cukup kencang saat mengalami pelepasan. Kini keduanya saling berpelukan dan sama-sama mengatur nafas.
"Mas."
"Hmm?"
"Sejauh ini kamu bahagia nggak sih sama aku?"
Lea melontarkan pertanyaan yang membuat Daniel sedikit terhenyak. Pasalnya Lea masih terlalu muda untuk menanyakan hal serius seperti itu. Biasanya hanya perempuan-perempuan berumur cukup matang lah, yang akan kepikiran sampai ke sana.
"Kamu pasti dari nonton film perselingkuhan ya?"
Daniel menjudge istrinya itu sambil tersenyum.
"Iya, koq mas tau?"
Kali ini Daniel tertawa.
"Ya tau lah, darimana lagi kamu punya pikiran kayak gitu kalau bukan dari film."
Lea yang tersenyum kali ini.
"Aku takut aja mas nggak bahagia, terus akhirnya selingkuh kayak di film itu. Aku kan nggak begitu cantik, nggak tinggi juga. Pendidikan aja belum lulus, pengetahuan kurang. Nggak kayak cewek-cewek di luar sana."
"Emang cewek-cewek di luar sana gimana?" tanya Daniel.
"Ya mereka cantik luar biasa, pendidikannya juga luar biasa, punya karir cemerlang atau terkenal sebagai selebgram dan lain-lain."
Daniel menghela nafas kali ini, namun ia masih terus tersenyum.
"Apa yang kamu lihat di sosial media, mengenai seseorang. Itu belum tentu kayak gitu aslinya. Bisa jadi mungkin dia cantik, punya karir bagus, dan lain-lain. Tapi kita nggak pernah tau masalah apa yang dia hadapi. Mungkin jempol kakinya busuk."
Kali ini Lea terbahak.
"Loh iya kan?"
"Iya juga ya. Kayak mas kan perfect banget tuh, dari segi penampilan, karir, muka, body. Tapi orang nggak tau kalau mas suka kentut sembarangan."
"Hahaha." Kali ini Daniel yang tertawa.
"Eh, aku kentut nggak bau ya." ujarnya membela diri.
"Apaan, bau tau kadang mas."
"Ya kadang, nggak semuanya kan?"
"Tetap aja bau." Lagi-lagi Daniel tertawa.
"Oh ya mas, aku..."
__ADS_1
Lea menarik nafas dan menatap Daniel. Sementara pria itu seperti menunggu kelanjutan dari apa yang Lea hendak katakan.
"Aku ngeliat foto anak kecil di laci kamar atas. Pas aku ngambil kunci mobil yang mas suruh."
Daniel sedikit terdiam.
"Itu foto mas ya?" tanya nya kemudian.
Daniel mengangguk.
"Yang pangku mas itu, ibunya mas?"
Lagi-lagi Daniel mengangguk.
"Oh." ujar Lea lalu sedikit tersenyum. Ia tau Daniel agak sedikit enggan membicarakan hal tersebut.
Hening menyeruak sejenak.
"Kalau misalkan dia ada disini dan mau menemui mas, apa mas mau?"
Lea kembali melontarkan pertanyaan, meski agak sedikit takut-takut. Kali ini Daniel membuang pandangannya jauh ke depan. Seperti ada sebait kemarahan dalam diri pria itu.
"Aku nggak suka membicarakan dia." ujarnya kemudian.
"Ya, ya maaf mas. Aku cuma nanya, karena penasaran." ujar Lea.
Daniel kini menoleh pada istrinya tersebut. Kemudian tangannya menyentuh perut Lea yang membesar.
"Aku mau ngomongin soal dia aja." ujar Daniel.
"Papa mau ngomong tuh soal kamu."
Ia berkata pada bayinya yang ada di dalam. Sejenak topik obrolan pun beralih. Daniel benar-benar tidak tertarik untuk membicarakan perihal ibunya dan Lea tak bisa memaksa.
"Kamu lagi apa, nak?"
Daniel menempelkan telinganya di perut Lea. Tak lama kemudian sebuah tendangan ia terima. Daniel dan Lea sama-sama tertawa.
"Koq papa di tendang?. Sayang dong sama papa, papa aja sayang sama kamu."
Daniel memberi usapan disana, dan lagi-lagi ia merasakan sebuah tendangan. Untuk kesekian kalinya mereka kembali tertawa.
"Sakit nggak sih kamu, kalau dia nendang gitu?" tanya Daniel.
"Nggak sakit, cuma kayak ngilu dikit."
"Oh ya?"
"Iya."
"Tapi bikinnya enak kan?" goda Daniel.
"Ih kamu tuh."
Lea mencubit Daniel dengan kuat, hingga suaminya itu sedikit mengaduh kesakitan. Namun detik berikutnya mereka pun berciuman.
__ADS_1
"Aku udah nggak sabar ada dia dalam gendongan kamu. Terus kita bertiga disini sambil berpelukan." ujar Daniel.
Lea tersenyum menatap suaminya itu.
"Mas juga harus siap sama tangisnya dia, pipis dan pupnya dia juga."
Daniel tertawa.
"Siap dong. Berani bikin anak orang melendung, harus berani juga mengurus hasilnya nanti."
"Jangan nggak loh mas. Aku nggak mau ada lempar-lemparan tanggung jawab soal kepengurusan. Nanti mas kayak suami-suami di luar sana lagi. Yang bilang "Aku kan nyari duit, ya kamu lah yang ngurus anak bla, bla, bla. Jijik banget aku ngeliat cowok kayak gitu, bisanya bikin doang."
"Iya Lele, aku nggak gitu koq. Akan aku buktikan nanti, kamu tenang aja."
Lea kembali tersenyum dan menempelkan kepala di dada suaminya itu.
***
"Kalau daddy mau balikan sama ibunya Lea, ngomong aja. Nggak usah sering ngilang dengan berbagai alasan kayak gini."
Dian marah pada Richard di telpon. Lantaran beberapa waktu belakangan ini, Richard terlalu sibuk mengurus kepentingan ibunya Lea.
"Di, kamu kenapa sih?. Aku nelpon kamu baik-baik loh. Malah cari masalah."
"Ya daddy kemana aja, nelpon aku kalau lagi ada perlunya doang. Sibuk mulu ngurusin mantan, pacar sendiri di lupain."
"Aku nggak ngelupain kamu dan yang aku urusin bukan hanya ibunya Lea. Tapi banyak juga urusan lain."
"Nggak dengan mengabaikan aku juga selama berhari-hari."
"Ok, aku minta maaf soal itu. Tapi aku bener-bener nggak ada niat buat balikan sama ibunya Lea. Aku cuma murni bantu dia aja, karena aku punya salah yang besar terhadap dia. Aku sama dia itu punya anak, tolong ngertiin aku."
"Kapan aku nggak pernah ngerti, dad. Kapan?"
Dian berkata dengan nada yang cukup tinggi. Ia benar-benar sudah kesal dengan sikap Richard belakangan ini.
"Aku selalu ngerti, tapi daddy yang nggak ngerti posisi aku. Aku juga butuh sama daddy, aku butuh perhatian, kasih sayang dan lain-lain."
Kali ini Richard menghela nafas.
"Ok, aku minta maaf. Aku akan perbaiki semuanya." ujar pria itu kemudian.
Dian diam.
"Mau kan maafin aku?"
Dian masih diam, namun sesat setelahnya ia pun menjawab.
"Ok, aku maafin. Tapi jangan diulangi lagi."
"Iya, aku janji akan lebih perhatian lagi ke kamu." ujar Richard.
"Gimana kuliah kamu?" tanya Richard lagi.
Lalu Dian pun menjawab, dan mereka terlibat perbincangan yang cukup panjang.
__ADS_1