Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Cemburu?


__ADS_3

"Kenapa baru datang sekarang?"


Ibu Lea bertanya pada mantan suaminya, ketika akhirnya mereka duduk berhadapan di satu meja. Saat itu Leo berada di meja yang lain dan kebetulan Lea baru saja tiba. Ia turun dari mobil bersama Darriel.


"Selama ini aku sibuk membangun bisnis, jatuh bangun. Semua aku lakukan untuk masa depan Leo, dan kalau bisa aku juga mau membantu kamu."


Ayah Leo menjawab dengan bahasa yang masih lancar. Sementara Lea melihat dari kaca dan terkejut.


"Paling nggak kamu kasih kabar, kasihan Leo. Aku tau dia kangen sama kamu selama ini."


Ayah Leo menghela nafas dan memperhatikan sang putra yang tengah berkutat dengan handphone. Beberapa saat setelah kedatangannya tadi, mereka sempat berpelukan dan sama-sama menangis.


Saat ini sang ibu memang meminta pada Leo, agar ia bisa berbicara berdua dulu dengan ayahnya.


Lea masuk, sang ibu menyadari kedatangan anaknya itu. Begitupula dengan ayah Leo. Akhirnya Lea pun mendekat, ia juga merindukan ayah Leo yang sudah ia anggap seperti ayah sendiri.


Ayah Leo terkejut melihat Lea sudah punya anak. Awalnya ia bertanya itu anak siapa dan ibu Lea mengatakan jika itu cucu mereka. Tangis haru pun kembali terjadi.


Leo melihat semuanya dan turut mendekat. Akhirnya mereka sekeluarga duduk di satu meja dan saling bicara satu sama lain. Sementara Darriel hanya melongo. Melihat ke arah satu, kemudian beralih ke arah lain.


***


"Brengsek!"


Marvin mondar-mandir di ruang kerjanya dan mengumpat. Pasalnya ia baru mengetahui pemberitaan terbaru tentang dirinya, yang ternyata telah diperbanyak diberbagai media.


"Perempuan brengsek!"


Ia tetap menyalahkan Clarissa. Ia tidak mengetahui jika hal tersebut adalah perbuatan Richard.


"Hallo."


Marvin menelpon seseorang.


"Gimana, udah lo tekan medianya untuk menghapus berita itu?. Ancam laporkan aja kalau masih tayang juga." ujarnya lagi.


Ia diam sejenak dan mendengarkan lawan bicaranya menjelaskan. Kemudian kembali berujar dengan emosi yang berapi-api.


"Nggak bisa di kontak gimana?. Media sebesar itu masa nggak bisa di kontak, itu mustahil. Kerja tuh yang bener, jangan bego. Kalau sampai pihak Daniel tau hal ini, mereka akan memanfaatkan keadaan."


Ia kembali diam, lawan bicaranya kembali mengeluarkan kata-kata. Tak lama kemudian Marvin menyudahi telpon tersebut dengan kesal.


"Brengsek."


Ia menendang kaki meja kerjanya. Lalu ia menghubungi nomor lain.


"Hallo." ujarnya masih dengan emosi yang sama seperti tadi.


"Gimana?. Kamu udah bisa melacak keberadaan perempuan yang saya cari?" Ia mulai mengeluarkan pertanyaan.


"Maaf, bos. Sampai saat ini kami belum menemukan tanda-tanda keberadaan dia."


Orang yang berbicara dengannya di telpon tersebut menjawab.


"Ya udah, cari lagi sana!" ujarnya gusar.


"Siap bos."


Ia kembali menutup sambungan.


"Semuanya lambat, semuanya tolol."

__ADS_1


Marvin benar-benar resah dan terlihat begitu kacau.


"Aarrgghh."


"Braaak!"


Ia melempar apapun yang ada di atas meja, hingga semua itu berserakan di lantai. Baru kali ini ia dibuat begitu kesal oleh orang lain, dan ia benar-benar marah.


***


"Darriel, kamu akan di hap."


Lea menunjukkan sebuah boneka tangan berbentuk buaya, yang ia beli dari online shop beberapa jam lalu. Ia membuat gerakan seolah-olah hendak memakan tangan dan kaki Darriel yang tengah bergerak-gerak.


"Heheee."


Darriel tertawa dengan kencang sambil seolah menghindarkan tangan dan kakinya dari tangkapan sang ibu.


"Hap."


"Hap."


"Heheee."


Ia terus berusaha menghindar, seolah mengerti jika boneka buaya itu akan melahap tangan dan kakinya.


"Heheee."


Tawanya semakin kencang, bahkan lebih kencang dari yang tadi atau sebelum-sebelumnya. Hal tersebut tentu saja mengundang perhatian Daniel dan Richard yang baru saja pulang dari kantor.


"Kenceng amat ketawanya."


Mereka sama-sama berujar lalu mengintip dari balik pintu kamar, yang kebetulan memang sengaja dibuka oleh Lea.


"Kelakuan anak lo noh." Lanjutnya seraya tertawa menatap Richard.


Richard balas tertawa.


"Mau gimana, bocil lo jadiin emak-emak. Ya gitu bentukannya. Ngajak main tapi serem." ujarnya kemudian.


Tak lama keduanya pun masuk, lalu sama-sama berguling di atas tempat tidur. Dimana Darriel juga berada di sana. Awalnya Darriel sempat melongo karena kaget, namun setelah ia itu ia jadi tertawa dan antusias.


"Kamu kangen nggak sama papa?"


Daniel mencium seraya menggelitik bagian perut bayi itu. Namun dengan gerakan yang perlahan.


"Hehe." Darriel tertawa.


"Kangen nggak sama papa?"


"Sini Le, pinjem bonekanya." ujar Richard.


Lea menyerahkan boneka tersebut, kemudian Richard memasukkan tangannya ke bagian bawah boneka dan mulai memainkannya dihadapan Darriel.


Darriel tertawa-tawa, boneka tersebut kemudian dia buat seolah-olah tengah bernyanyi. Tentu saja Daniel dan Richard yang menjadi pengisi suaranya.


Dan lama kelamaan mata Darriel pun menjadi sayu, lalu ia tertidur dihadapan mereka semua.


"Ngopi yuk!" ajak Richard setelah beberapa saat berlalu.


"Ya udah panggil mbak, pesan kopi." ujar Daniel.

__ADS_1


"Bukan ngopi disini, diluar maksudnya." tukas pria itu lagi.


"Mau ngopi dimana?. Kopi disini banyak." ucap Daniel.


"Ke ibunya Lea aja, pengen ketemu gue."


"Ibu lagi dirumah, yah. Ada ayahnya Leo baru datang."


"Ayah Leo?"


Richard dan Daniel berucap di waktu yang nyaris bersamaan.


"Iya, tadi siang aku barusan dari toko ibu dan ketemu sama ayahnya Leo."


"Terus sekarang, lagi ada di rumah ibu kamu?" tanya Richard.


"Iya, katanya mau ngeliat adek-adek Leo yang lain. Leo juga ikut koq."


"Yah." Richard bergumam.


Daniel dan Lea saling bersitatap, kemudian memperhatikan pria itu.


"Tadinya ayah pengen ketemu ibu kamu. Pengen ngobrol banyak aja gitu."


"Cieee, cemburu." Daniel meledek sang ayah mertua.


"Dih, siapa yang cemburu?'


Richard membela diri dengan nada yang cukup sewot. Membuat Daniel dan Lea kini jadi tertawa-tawa.


"Tadi mereka pelukan tau yah, sambil tangis-tangisan gitu." Lea mengompori.


"Ya, apa urusannya sama ayah?"


"Nggak ada urusan tapi nada bicaranya gitu." ujar Lea lagi.


Dan lagi-lagi ia serta Daniel tertawa.


"Cieee, cieee, cemburu cieee."


Ia dan Daniel terus meledek Richard. Pria itu tertawa, meski masih berusaha memasang wajah sewot.


"Apaan sih?" ujarnya kemudian.


"Cieee, cieee."


"Udah ah, ayah mau ngopi dibawah."


Richard beranjak.


"Cieee."


Richard kemudian melempar bantal hingga mengenai kepala Daniel dan juga Lea. Mereka malah terus tertawa-tawa, sementara Richard kini pergi ke bawah untuk membuat kopi.


"Harusnya tadi jangan bilang, Le. Kita ajak langsung aja dia ke rumah ibu kamu. Pura-pura kamu mau mampir bentar. Bisa keliatan tuh muka Richard, cemburunya kayak apa."


"Iya ya. Nggak bakal bisa ngeles lagi tuh ayah kalau begitu."


"Makanya."


"Ya gimana udah terlanjur bilang." seloroh Lea sambil tertawa.

__ADS_1


"Gitu aja udah keliatan banget." lanjutnya lagi.


__ADS_2