Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Belajar


__ADS_3

"Lurus, jangan terlalu minggir. Pelan aja, jangan terlalu tegang."


Lea menuruti keinginan Daniel.


"Tekan pelan-pelan."


Gadis itu mulai menekan.


"Lebih dalam lagi."


"Gini?"


"Iya."


"Lagi?" tanya Lea.


"Jangan tegang kamunya."


"Ok."


"Naik." perintah Daniel, Lea pun menuruti.


"Agak turun dikit." lanjutnya kemudian.


"Ya terus."


"Terus."


"Gubrak...!


Daniel agak sedikit terkejut ketika Lea lupa menginjak rem saat melewati polisi tidur, wajah gadis itu kini tegang.


"Santai aja jangan panik, fokus tapi sesekali liat spion. Biasakan ngeliat ke kaca spion dulu kalau mau ke jalur tengah."


Daniel mengajari Lea menyetir mobil, sudah beberapa hari belakangan mereka rutin melakukan hal ini. Bukan apa-apa, Lea sebentar lagi akan lulus SMA dan masuk ke universitas. Bisa saja ia mendapat jadwal kuliah di siang hari.


Jika demikian tentu saja Daniel tak akan bisa mengantar ataupun menjemput gadis itu, seperti yang sering ia lakukan akhir-akhir ini. Daniel tak mengizinkan Lea naik kendaraan umum terlalu sering, karena ia juga memiliki mobil lain yang jarang digunakan.


"Hari ini cukup dulu." ujar Daniel kemudian.


Karena memang sudah tiga jam lebih mereka berlatih. Lea menghentikan mobil di bahu jalan, Daniel keluar untuk kemudian beralih ke sisi kemudi. Sementara Lea hanya bergeser tempat.


Dari tempat latihan tersebut, Daniel dan Lea kemudian mampir ke seorang pedagang es campur yang ada di pinggir suatu jalan. Entah ada angin apa, Daniel yang meminta untuk membeli es tersebut.


Padahal Lea sendiri sudah melarangnya. Karena tubuh Daniel adalah tubuh paling ribet sedunia, begitulah setidaknya Lea menjuluki sugar daddy nya itu. Daniel gampang sekali sakit jika makan dan minum disembarang tempat.


Tidak seperti Lea yang berkulit badak dan berkekuatan imun super. Makan apa saja dan dimana saja, Lea tidak mudah terserang penyakit. Bahkan jika Lea diajak ke kuliner negri Vrindavan, besar kemungkinan Lea akan survive. Meski jajanan tersebut di kobok pakai tangan dan terkena daki semesta.


Berbeda dengan Daniel yang dibesarkan pada lingkungan yang serba higienis, membuat ia minum es teh manis saja kadang bisa flu tiga sampai empat hari.

__ADS_1


"Uhuk."


Daniel mendadak batuk saat tengah mengkonsumsi es campur tersebut, lalu tiba-tiba hidungnya meler. Namun ia masih tampak baik-baik saja dan terus makan.


"Tuh kan, udah di bilangin tadi." gerutu Lea seraya memberikan tissue, mereka berada cukup jauh dari abang penjualnya. Hingga Lea bisa leluasa menegur Daniel, sementara pria itu hanya terkekeh dan lanjut minum.


"Sekali-kali lah, nggak apa-apa." ujar Daniel membela diri.


"Pokoknya kalau sakit awas aja." ancam Lea.


"Kenapa emangnya, kamu nggak mau ngurusin kalau aku sakit?" tanya Daniel.


"Males." jawab Lea sengit, Daniel pun makin tertawa.


"Om kalau sakit rewel, kadang mukanya asem banget. Sakit bukan salah aku, aku yang di sewotin."


Lagi-lagi Daniel tertawa dan kini nyaris tersedak.


"Hmm, pelan-pelan makanya." ujar Lea lagi.


"Iya, bawel banget sih kamu, kayak nyonya pulp tau nggak."


Kali ini Lea yang tertawa.


"Enak aja, nyonya pulp. Kamu tuh Larry lobster."


"Nggak apa-apa, Larry berotot." ujar Daniel penuh percaya diri.


"Aku nggak, kalau nge-gym kaki yang aku duluin. Baru bagian atas."


"Om nge gym hari apa aja sih?" topik mulai beralih.


"Tiap hari biasanya, sebelum pulang. Orang turun doang di kantor."


"Oh nge gym nya di gedung kantor gitu?"


"Iya, ada di bawah." jawab Daniel.


"Kirain dimana gitu, soalnya pengen ikut." ujar Lea.


"Boleh kalau kamu pengen ikut, ntar aku daftarin member disana."


"Beneran ya, om."


"Iya."


Tiba-tiba masuk sebuah notifikasi ke handphone Lea, gadis itu melihatnya sejenak lalu terdiam. Raut wajahnya yang semula ceria tiba-tiba menjadi padam.


"Kenapa?" tanya Daniel seraya memperhatikan gadis itu.

__ADS_1


Lea menghela nafas.


"Ibu aku, om." jawabnya dengan suara yang lesu dan juga malas.


"Kenapa ibu kamu?" tanya Daniel.


"Nggak apa-apa." jawab Lea masih dengan suaranya yang lesu.


"Minta uang lagi?" lanjutnya Daniel kemudian, Lea mengangguk.


Beberapa hari lalu, saat membaca pesan dari Ryana, Lea sejatinya sudah memberikan uang yang lumayan untuk sang ibu. Meski sampai hari ini mereka belum saling bicara satu sama lain.


"Ya udah kasih aja lagi." ujar Daniel.


"Iya om." jawab Lea.


Daniel tidak mengetahui, bahwasannya ibu Lea kali ini benar-benar keterlaluan. Ia meminta uang sebesar 50juta rupiah kepada Lea, dengan alasan untuk modal usaha.


Lea menjadi begitu geram, ia merasa sang ibu benar-benar memeras dirinya. Wanita itu tidak pernah mau tahu bagaimana anaknya mendapatkan uang, dengan cara yang membahayakan atau tidak. Yang ada di otak ibunya hanyalah uang, uang dan uang, ia tidak peduli apa yang saat ini tengah dikerjakan Lea. Benar-benar tipikal seorang ibu yang kurang mencerminkan sikap seorang ibu.


"Kenapa, Lea. Mintanya banyak?"


Daniel tiba-tiba bersuara, seakan mengetahui betul apa yang dipikirkan Lea saat ini.


"Mmm, nggak om." Lea menutupi.


"Kalau cukup di rekening kamu, kasih aja. Nanti aku transfer lagi. Tapi kalau emang kurang, bilang aja ibu kamu mau berapa. Nanti aku tambahin."


Lea benar-benar merasa malu, ia tak ingin nanti Daniel mengira jika ia telah kongkalikong dengan ibunya, demi mengeruk uang Daniel. Dan lagi uang yang ia miliki saat ini ia kumpulkan untuk kuliah dan untuk membuka sebuah usaha.


Ia sadar jika Daniel adalah orang kaya-raya yang bisa mendapatkan perempuan mana saja. Saat ini mungkin pria itu sayang pada Lea, tapi besok atau lusa. Siapa yang tahu perubahan hati orang, bisa saja Lea dicampakkan. Dan jika ia tidak memiliki tabungan, maka habislah ia.


"Udah nggak usah dipikirin, kamu kirim aja sesuai yang diminta ibu kamu. Atau nanti aja itu kita bicarakan lagi dirumah. Sekarang kita cari tempat makan dulu, mau nggak?"


Lea mengangguk, meski suasana hatinya kini menjadi agak terganggu. Daniel kemudian mengajak Lea mengitari kota sejenak, berjalan kesana-kemari tak tentu arah. Semata untuk mengusir suasana negatif yang terlanjur tercipta. Di beberapa titik, mereka berhenti dan menikmati kuliner.


Tampak suasana sudah kembali mencair, pada jam-jam berikutnya. Hingga tanpa terasa malam hari pun tiba, Daniel mengajak Lea duduk di sebuah tempat yang dipenuhi lampu-lampu hias. Tepatnya itu adalah taman, namun berada diatas sebuah gedung. Usut punya usut ternyata gedung itu adalah milik Ellio. Sebagian disewakan untuk kantor, sebagian lagi untuk pertemuan dan pernikahan.


Sedang diatas rooftop nya jarang ada yang kesana. Karena belum banyak yang mengetahui dan memang tidak di expose oleh Ellio. Alasannya adalah untuk dipakai oleh orang terdekat saja dan tidak untuk di komersilkan.


"Om pernah mimpi punya keluarga nggak?"


Lea bertanya pada Daniel, ketika mereka duduk di sebuah kursi yang sangat dekat dengan pinggir gedung.


"I don't know, sepertinya belum pernah." jawab Daniel jujur.


"Tapi apa om mau?" tanya Lea lagi.


Daniel diam, dilemparkannya pandangan jauh kedepan. Ia bahkan berasal dari sebuah keluarga yang gagal.

__ADS_1


"Maybe." jawabnya kemudian.


Selanjutnya mereka pun larut dalam obrolan yang serius.


__ADS_2