Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Pulang (Bonus Part)


__ADS_3

Hanif pulang ke rumah setelah beberapa hari berpura-pura ke luar kota dan menginap di kediaman Shela.


Susi bersikap biasa saja pada suaminya itu dan menyambut seakan-akan ia percaya jika hanif memang pergi sesuai ucapannya.


Tetapi Susi menaruh rasa curiga yang besar dan mulai memeriksa semuanya. Ia menarik koper Hanif lalu membawanya ke dalam.


Ia membongkar koper tersebut dan memilah antara pakaian yang tidak terpakai dan sudah terpakai.


Hanif memang sengaja tak mencuci pakaiannya di tempat Shela karena takut Susi curiga. Tetapi Susi tak bisa ia bohongi begitu saja, karena Susi juga sejatinya adalah pembohong.


Susi mencium pakaian hanif dan mencoba menemukan aroma parfum lain dibaju tersebut dan ia pun mendapatkannya.


Tetapi ia tak mengetahui jika itu adalah parfum milik Shela. Sebab selama ini Shela selalu memakai parfum murah dan Susi hafal baunya.


Sedang yang menempel di baju hanif ini adalah bau parfum yang cukup mahal dan berkelas.


Tentu ia tak bisa mencurigai temannya itu. Sebab Shela pun tak ada bercerita padanya, apakah ia saat ini telah memiliki parfum-parfum Luxury atau tidak.


“Mas, kamu…”


Susi baru saja hendak berkata pada suaminya itu, namun hanif terlihat sibuk dengan handphone. Sebuah hal yang tak lazim dilakukan pria itu.


Sebab biasanya Hanif selalu mengabaikan handphone saat di dekat Susi. Saking tergila-gilanya ia pada istri ketiganya tersebut.


“Kamu mau ngomong sesuatu?” tanya hanif seraya terus menatap ke arah handphone.


“Mmm, nggak koq mas.” ujar Susi kemudian.


Hanif seakan tidak peka dan terus saja menatap handphone. Yang ia lihat tentu saja foto-foto di Instagram Shela. Ia tengah kasmaran dengan selingkuhannya tersebut.


Meski saat ini ia tengah dihadapkan pada masalah rumah tangga yang belum selesai dan masih rumit. Ia masih enggan menceraikan Yayah dan juga masih menyelidiki siapa yang telah membuat Nadya menjadi berubah.


***


Lea mulai hari ini akan sibuk dengan perkuliahan, karena kampusnya sudah menggalakkan kuliah tatap muka dan tak lagi terlalu membebaskan para mahasiswa untuk kuliah dari rumah.


Kampus Lea baru saja berganti rektor dan itu berarti peraturan yang baru pula. Hari ini saja Lea berangkat kuliah dan Darriel di titipkan di rumah Richard.


Lea bukan tidak mau mencari pengasuh untuk anaknya itu. Tetapi saat ini ia lebih percaya pada asisten rumah tangga Richard.


Sebab mereka telah terbiasa dan sangat menyayangi Darriel. Hal yang belum tentu terjamin apabila ia mencari pengasuh baru.


Lea tak bisa meninggalkan anaknya pada sembarang orang, karena tak semua orang bisa sabar menghadapi anak kecil.


“Le, kamu udah berangkat?”

__ADS_1


Daniel bertanya pada istrinya itu di WhatsApp.


“Iya mas, udah. Darriel aku titip di rumah ayah.” jawab Lea.


“Oh ya udah. Have a nice day, Lele.”


“Makasih mas.”


“Sama-sama.”


Daniel lalu tak lagi membalas. Sementara Lea tak masalah, karena ia tau suaminya itu pastilah tengah sibuk saat ini.


Ia kemudian dihampiri oleh teman-teman sekelasnya dan mereka saling berinteraksi. Sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam kelas untuk mengikuti mata kuliah.


***


“Mas, maaf ya. Aku cuma mau ngabarin kalau Arkana sakit, dia pengen ketemu mas katanya.”


Nadya mengirim pesan singkat tersebut saat Richard tengah rapat. Tentu saja Richard tak membalas bahkan tak membaca pesan tersebut.


Sebab handphone pria itu saat ini ada di dalam ruang kerjanya. Sementara di lain pihak Hanif kembali menemui Maryanto.


Supir Nadya yang ia coba sogok waktu itu. Guna menyelidiki siapa sesungguhnya pria yang tengah dekat dengan istrinya saat ini.


“Pak Hanif?”


“Kenapa kamu kaget begitu?” tanya Hanif curiga.


“Mmm, nggak pak. Kaget aja karena katanya kan bapak di luar kota.” ujar Maryanto.


“Dari mana kamu tau saya di luar kota?. Saya kan pergi nggak kasih tau kamu.” Hanif makin curiga.


“Dari status WhatsApp bapak, kan saya ada kontak bapak.” ujar Maryanto lagi.


Hanif mendadak berhenti curiga. Status tersebut ia buat untuk mengelabui Susi. Tanpa ia tau jika Susi tak percaya begitu saja padanya.


“Ya sudah, saya cuma ingin tau. Siapa yang sedang dekat dengan bu Nadya.” tanya Hanif.


“Mmm, saya…”


Maryanto tak mungkin memberitahukan hal yang sesungguhnya. Tetapi Hanif telah memberi supir itu uang secara paksa tempo hari, agar ia buka mulut.


“Saya belum tau dan masih menyelidiki pak.”


Maryanto berkilah. Semua itu ia lakukan semata agar Hanif tak curiga, jika ia telah mengadukan masalah ini kepada Nadya.

__ADS_1


“Ya sudah kalau begitu. Saya tunggu informasi dari kamus secepatnya. Makin cepat kamu kasih saya informasi, makin cepat kamu saya kasih uang tambahan.” ujar Hanif.


“Iya pak.” jawab Maryanto.


“Oh ya kamu ngapain di sini?”


Hanif baru sadar jika posisi ia dan Maryanto ada di depan sebuah apotek. Hanif ada keperluan di dekat sini dan tak sengaja melihat Maryanto.


“Saya di suruh ibu beli obat pak.” jawab Maryanto jujur.


“Obat untuk apa?. Nadya sakit?” tanya nya kemudian.


“Bukan bu Nadya tapi Arkana.” Lagi-lagi Maryanto menjawab.


“Sakit apa?. Koq bisa?” tanya Hanif heran.


“Bukannya dia udah sembuh dan keluar dari rumah sakit?. Udah sekolah juga di beberapa waktu belakangan ini.” lanjutnya kemudian.


“Nggak tau pak, namanya juga anak-anak. Bisa jadi ketularan virus temannya kan di sekolah.” ujar Maryanto lagi.


“Hhhh.”


Hanif menghela nafas panjang. Mungkin inilah saatnya untuk bisa masuk ke kediaman istri pertamanya itu. Dengan mengalaskan ingin bertemu sang anak.


***


“Gila, killer banget tuh dosen. Kesel gue, sumpah.”


Iqbal menggerutu ketika ia dan teman-temannya yang lain termasuk Lea, sudah keluar dari kelas.


“Iya, mana bawa-bawa status gue sebagai emak-emak lagi.” ucap Lea.


“Namanya juga gue udah punya anak, wajarlah gue ngantuk di kelas.” lanjutnya kemudian.


“Mana kelas dia boring banget lagi.” Adisty menimpali.


“Pengen minum es boba gue saking seretnya tenggorokan ikut kelas dia. Masa gue nggak boleh minum di kelas, udah kayak jaman SMA tau nggak.” seloroh Ariana.


Tak lama dosen killer yang dimaksud itu pun keluar. Ia berjalan dengan langkah tegak dan angkuh. Namun tiba-tiba ia salah berpijak, sehingga high heels yang ia kenakan menjadi oleng dan ia nyaris terjatuh.


Beruntung tubuh langsingnya yang tinggi semampai langsung di tangkap oleh tangan Arsenio sepupu Lea, yang kebetulan melintas.


Arsen memeluk tubuh dosen killer nan cantik tersebut. Lalu keduanya sama-sama diam dan saling menatap satu sama lain.


“Kayaknya ada yang bakal iparan sama dosen nih?” seloroh Rama pada Lea. Sementara Lea yang kaget kini mencibirkan bibirnya.

__ADS_1


“Kagak mau gue iparan sama dia.” ujarnya kemudian.


Sementara yang lain menahan senyum.


__ADS_2