
"Siapa yang suruh kalian lewat sini?"
Salah satu dari empat karyawan Daniel berkata pada tiga orang karyawan Ellio, yang mereka hadang di koridor penghubung gedung.
"Sehari-hari juga kita lewat sini koq." jawab salah satu dari karyawan Ellio tersebut.
"Pokoknya sekarang ini udah nggak boleh."
Salah satu karyawan Daniel kembali berujar.
"Loh, kenapa?. Bos kalian aja nggak ada kasih larangan koq ke kita." ujar karyawan Ellio lagi.
"Ini semua karena bos kalian sudah menghamili sekretaris di kantor kami."
Para karyawan Daniel mengungkapkan alasannya.
"Lah itukan urusan pak Ellio sama Marsha. Apa hubungannya sama kita?" karyawan Ellio protes.
"Pokoknya nggak bisa. Sebelum bos kalian bener-bener bertanggung jawab dan menikahi Marsha. Kami nggak akan kasih akses jalan buat kalian lewat sini."
"Dih enak aja. Bos yang enak-enak maju-mundur, masa kita semua yang kena imbas." karyawan Ellio tak terima.
"Ini adalah bentuk kepedulian kami terhadap perempuan yang udah di hamili tapi belum dinikahi. Kami mesti kawal sampai bos kalian bertanggung jawab. Baru akses akan kami buka. Kalian silahkan protes sama bos kalian."
Karyawan Daniel tetap menghalangi. Sementara karyawan Ellio tetap tak mau mengalah. Akhirnya pergulatan sengit pun terjadi.
Mereka terlibat adu gelut, hingga memaksa sekuriti dari kedua belah pihak turun tangan untuk memisahkan mereka. Suasana pun seketika ramai, sebab karyawan lain kini mengetahui adanya perkara itu.
Hal tersebut pun langsung sampai ke telinga Ellio dan juga Daniel. Sementara Richard agak belakangan tau, sebab karyawannya tak terlibat.
***
"Ada apa ini?"
Daniel bertanya pada karyawannya dan juga karyawan Ellio yang saat ini berkumpul di dekat lorong penghubung tersebut. Ellio dan Richard juga berada di sana dan menyaksikan.
"Itu pak, karyawan pak Daniel menghalangi kami untuk lewat."
Salah satu karyawan Ellio mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Bener kalian kayak gitu?" tanya Daniel pada karyawannya.
"Bener koq pak."
Salah satu karyawannya menjawab dengan jujur.
"Kenapa kalian kayak gitu?" tanya Daniel lagi.
"Ini kan udah jelas, lorong yang di sepakati dan dibangun untuk kepentingan bersama." lanjut pria itu kemudian.
"Kami akan kasih akses ke mereka lagi, saat pake Ellio sudah menikahi Marsha.
__ADS_1
Daniel, Ellio, dan Richard kaget mendengar semua itu. Apalagi Marsha yang juga ada di sana. Perempuan itu menatap Ellio, lalu menatap ke arah Daniel.
"Kami kayak gini sebagai bentuk kepedulian aja pak. Kami maunya pak Ellio segera menikahi Marsha. Sebab perempuan bukan untuk diperlakukan sebagai kesenangan semata. Harus bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa."
Daniel menghela nafas. Ingin tertawa, namun ia juga paham dengan apa yang dirasakan oleh para karyawannya tersebut.
"Gini ya Sandra, Kevin, Alfian dan Rudi. Ellio, akan menikahi Marsha sebentar lagi."
Ellio menarik nafas dari tempat dimana ia berdiri.
"Persiapannya sudah 70%." Daniel melanjutkan ucapannya.
"Tapi pak, kami tetap akan menunggu sampai hari itu benar-benar terjadi. Sebelum hari H, kami akan tetap menutup akses."
"Ya tapi kan..."
"Kalau pak Daniel nggak memenuhi aspirasi kami, kami akan mogok kerja pak." Salah satu dari mereka mengancam.
Daniel menahan tawa, sementara Richard Diah terbahak sejak tadi ditempatnya.
"Oke." jawab Daniel kemudian.
Para karyawannya senang, namun tidak dengan karyawan Ellio.
***
"Pak ini gimana sih, kalau kita nggak bisa pake jalur itu kan repot jadinya. Dan kalau kita ada urusan sama beberapa divisi disana, gimana?"
"Iya kalian sabar dulu aja. Dari pada jadi ribut kayak tadi. Nanti saya bicarakan sama Daniel lebih lanjut, oke?"
Para karyawan tersebut diam, namun masih dongkol hati.
"Ya udah deh." ujar mereka kemudian.
***
"Sumpah, karyawan lo ada-ada aja deh."
Ellio melayangkan protesnya pada Daniel. Ketika seluruh karyawan telah pulang dan hanya tersisa ia beserta Richard dan juga security yang berjaga di bawah.
"Gue nggak ikut-ikutan ya." seloroh Richard seraya menyalakan sebatang rokok.
"Ya abis gimana." Daniel membuka suara.
"Kalau nggak gue turutin, ntar gue di demo. Dibilang nggak melindungi sekretaris gue. Ntar gue dibilang keberpihakan sama lo." lanjutnya kemudian.
"Iya kan gue temen lo. Wajar dong kalau kalau lo berpihak sama gue."
"Elo ngebuntingin sekretaris gue. Dan karyawan gue sedang mengawal elo, untuk nikahin dia. Kalau gue membela elo, abis gue di keroyok mereka." ujar Daniel lagi.
"Ah nggak asik lo jadi temen." Ellio merajuk layaknya bocil FF.
__ADS_1
"Lo mau ngambek-ngambek aja. Gue lagi dalam upaya penyelamatan diri, daripada di gebukin satu kantor."
Daniel berujar sambil tertawa, sementara wajah Ellio kini menjadi begitu sewot.
***
"Apa mas, di kantor mas terjadi hal kayak gitu?"
Lea bertanya pada Daniel, ketika mereka semua sudah berada di rumah. Daniel barusan menceritakan hal tersebut pada Lea. Saat ini mereka tengah berada di kamar.
"Iya, aku aja sampe kaget." jawab Daniel seraya tertawa. Lea pun jadi ikut-ikutan tertawa.
"Astaga mas, ada-ada aja karyawan kamu." ujar perempuan itu lagi.
Daniel pun jadi makin tertawa.
"Ya isinya anak muda semua, mau gimana. Kadang tingkahnya emang pada aneh-aneh, tapi kerjanya bener semua. Makanya suka aku diemin, mereka mau bertingkah kayak gimana pun. Yang penting kerjaan beres aja."
Lea diam, namun kemudian ia kembali tertawa.
"Nggak kebayang aku mas, pasti tadi kayak sinetron banget ya adegannya."
"Hmm, bukan lagi. Ellio sampe diem, mukanya merah banget kayak pantat monyet."
"Hahaha." Lea terus terkekeh-kekeh.
"Lagian karyawan kamu kepikiran gitu buat memblokade jalan."
"Dan karyawan Ellio baper parah. Padahal ada hanya jalan lain." jawab Daniel kemudian.
"Nggak kebayang aku mas, kalau karyawan kamu sama karyawan om Ellio battle."
Daniel kini membayangkan, kemudian ia tertawa-tawa.
"Ribut kan mereka, antara pendukung Marsha dan juga om Ellio. Ada yang bawa batu, kayu, batu bata."
"Hahahaha."
Daniel makin terbahak, tak lama kemudian Darriel terkejut dan terbangun.
"Eh, denger suara papa kamu ya?" Daniel merasa bersalah pada bayinya itu. Darriel memang tak menangis sama sekali, namun ia sejatinya kaget mendengar suara sang ayah.
Daniel kemudian menghampiri box dan menggendong anak itu.
"Bobok lagi gih, sambil papa gendong ya." ujar pria itu kemudian.
Darriel menatap sang ayah, seperti hobinya selama ini. Namun lama kelamaan mata bayi itu kembali meredup, dan ia pun kembali tertidur.
"Tumben nggak nangis." ujar Lea seraya memperhatikan Darriel.
"Jangan mulai nyanyi lagi, Le. Awas kamu ya."
__ADS_1
Darriel mewanti-wanti sang istri, sebab sepertinya ia hendak bernyanyi soal anak ikan Lele..