Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Kedekatan (Extra Part)


__ADS_3

"Wah, makasih ya om."


Arkana sangat senang menerima donat pemberian Richard.


"Di depan sana donatnya habis loh, Arka. Untung om Richard bawain kamu." Nadya berujar pada sang anak.


"Oh ya?" tanya Arkana kemudian.


"Iya, mama aja nggak kebagian tadi." tukas Nadya.


"Makasih ya om." ucap Arkana sekali lagi pada Richard.


"Iya, sama-sama. Arka makan donatnya ya." pinta Richard.


"Oh pasti." ujar Arkana seraya tertawa.


Nadya dan Richard pun ikut tertawa. Ini kali pertama dalam hidup, Nadya melihat wajah Arka penuh berseri-seri. Hanya karena satu kotak donat, pemberian sesosok laki-laki yang ia harap menjadi ayahnya.


Selama ini bahkan Hanif tak pernah memberikan apapun pada anak itu. Ia merasa telah memberi uang yang banyak pada Nadya. Dan baginya yang bertugas untuk memenuhi kebutuhan Arkana adalah Nadya.


Padahal sebagai orang tua, kita butuh yang namanya memberikan perhatian sekecil apapun itu terhadap anak.


Sebab anak membutuhkan kejutan, pujian, harapan dan lain sebagainya, untuk mendukung perkembangan emosi dan membuatnya percaya diri. Mengurus anak tak selesai sampai pada jumlah uang yang diberikan semata.


***


"Ayo pak, bu, mbak, mas gratis, gratis!"


Lita dan Putri terus membagikan kotak berisi donat tersebut. kini hanya tinggal tersisa beberapa kotak saja.


"Ini silahkan!" ujar Lita.


"Ini silahkan!" Putri juga mengatakan hal serupa pada orang yang menerima donat tersebut.


"Put, ibu mana? Kenapa nggak balas pesan saya. Saya sudah mau pulang."


Putri menerima pesan dari Hanif. Ia agak terkejut sekaligus malas melihat berita tersebut. Ia berharap Hanif berlibur selamanya.


"Terakhir ya, habis-habis. Maaf ya!"


Lita meminta maaf, karena semua donat yang dibagikan telah habis.


"Akhirnya kelar juga." ucap Lita seraya menoleh pada Putri. Namun tiba-tiba ia melihat wajah Putri yang berubah.


"Kenapa lo say?" tanya nya kemudian.


"Si teripang laut mau balik." jawab Putri.


"Bulu babi?" tanya Lita lagi.


"Siapa lagi." Putri kembali menjawab.


"Yah, koq balik?. Kenapa nggak dimakan hiu aja sih itu laki sama bini barunya." tukas Lita.

__ADS_1


"Biar tamat riwayat dan nggak meresahkan semua orang." tambah gadis itu.


"Gue juga berharap dia tuh kenapa-kenapa di jalan. Atau negara yang dia datangi mengalami konflik secara mendadak, terus penerbangan disana di tutup. Kan ngerecokin aja ntar kalau pulang." ujar Putri lagi.


"Gue takut perjodohan ini terhambat." ujar Lita.


"Makanya." jawab Putri.


"Mana tuh laki-laki kemaruk lagi, mau sama semuanya." lanjut gadis itu kemudian.


"Orang kek udah dapat istri baru ya udah, tinggalin lah yang lama. Karena yang lama juga berhak untuk bahagia." tambahnya.


"Bikin lemah aja tau otongnya, biar kelar." tukas Lita.


"Kalau ada yang kayak begitu mah, gue juga mau bantu. Biar dia menceraikan bu Nadya." lanjut Putri lagi.


Mereka berdua diam.


"Duh kenapa sih dia mesti balik." ujarnya serentak.


"Keduanya tampak berpikir."


"Lo kenal nggak sih sama istri barunya si Hanif?" tanya Lita kemudian.


"Nggak." jawab Putri.


"Coba aja lo dekati dan panas-panasin dia. Supaya dia nggak ngasih si Hanif nginep di tempat bu Nadya." ujar Lita.


"Iya, biar bu Nadya juga nggak di apa-apain sama si ikan patin. Ntar yang ada hamil lagi, batal cerai ujungnya." Lita kembali berujar.


"Iya sih, bener-bener." Putri makin menyetujui hal tersebut.


"Putri, saya tanya ibu mana?"


Hanif kembali mengirim pesan.


"Lagi siapin Arkana makan, pak. Tadi kayaknya ibu lupa bawa handphone."


Putri berdusta.


"Oh ya sudah. Bilang nanti sama ibu masakin saya makanan yang saya sukai. Saya mau menginap disana, kalau udah pulang nanti." tukas Hanif.


"Tuh kan."


Putri menunjukkan pesan Hanif tersebut pada Lita, dan Lita pun membacanya.


"Ih nyebelin deh dia. Kasih kopi Jessica aja apa?" Lita memberi saran dengan nada geram.


Keduanya kini sama-sama diam dan masih sangat berharap Hanif tak kembali.


***


Kembali ke kamar rawat. Arkana membelah donatnya dan menyuapkan kue tersebut pada Richard.

__ADS_1


"Om cobain deh." ujarnya.


Richard pun menerima pemberian anak itu dan memakannya.


"Enak kan?" tanya Arkana kemudian.


"Iya, enak banget." ucap Richard.


"Pantas kamu suka." ujarnya lagi.


"Kemaren tuh mama yang beliin disana, eh Arka jadi ketagihan" ucap anak itu.


Richard tertawa.


"Emangnya kalau donat dari toko lain, Arka nggak suka?" tanya Richard.


"Kalau sama enaknya, Arka pasti suka." jawabnya.


Nadya masuk dan membawa dua cup minuman dingin. Tadi ada sempat ia keluar, untuk mengambil pesanan minuman di ojek online.


"Pak, minum dulu!" ujarnya menyerahkan satu cup kopi dingin ukuran medium pada pria itu.


"Terima kasih." ucap Richard seraya mulai meminumnya.


"Bapak sudah lapar belum?. Kalau sudah nanti saya orderin makanan." ucap wanita itu.


Sejatinya ia masih malu dan masih berusaha menjaga sikap dihadapan Richard. Sebab ia ingat jika dirinya masih berstatus istri orang.


Namun karena Richard sangat baik pada Arkana. Ia pikir tak ada salahnya jika ia balas bersikap baik pada pria itu.


"Kita makan di kantin sini aja, Nad. Nggak usah order." ujar Richard kemudian.


"Oh ya sudah kalau bapak maunya begitu." ujar Nadya.


Arkana senyum-senyum sendiri.


"Kenapa Arka senyum?" tanya Nadya heran.


"Mama sama om Richard tuh lucu. Terus mukanya koq bisa mirip ya?. Apa jodoh?" ujarnya kemudian.


"Hush, dari mana kamu dapat omongan kayak gitu?"


Nadya ingin marah, namun masih berusaha keras ia tahan. Mengingat anak itu masih sakit dan ia juga masih kecil. Nadya hanya tak enak pada Richard.


"Arka pernah liat orang ngomong gitu di sosmed. Katanya kalau mirip antara cowok dan cewek, berarti jodoh." selorohnya lagi.


Richard hanya tersenyum, sementara Nadya kini memerah wajahnya.


***


Yuk gaes, bantu ramaikan cerita ini. Area 21+ ya. Thank you.


__ADS_1


__ADS_2