Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Kembali Bersama


__ADS_3

Lea dan Daniel keluar dari dalam ruang pemeriksaan. Adisty serta Iqbal yang mangantar sudah pulang sejak kedatangan Daniel tadi. Hal itu dikarenakan Adisty diminta ibunya untuk segera pulang, karena tengah ada masalah keluarga. Sedang Iqbal mengantar Adisty, karena gadis itu mesti buru-buru.


"Mas, sekali lagi maaf ya." ujar Lea ketika pintu ruangan telah tertutup.


"Iya, yang penting sekarang kamu baik-baik aja." ujar Daniel.


"Iya mas." Lea berkata seraya tersenyum.


"Kamu tunggu disini." ujar Daniel lagi.


"Mas mau kemana?" tanya Lea.


"Aku cari kursi roda dulu, biar kamu nggak usah jalan sampe ke parkiran."


"Mas aku udah nggak apa-apa, jangan berlebihan. Semua orang juga hamil dan mengalami berbagai kondisi, tapi mereka..."


"Diem, ok...!"


Daniel memerintahkan istrinya yang meracau untuk diam, sesaat kemudian ia pun berlalu. Daniel mencari kursi roda, petugas yang ada ikut membantu. Namun ketika kursi roda tersebut didapat, ada seseorang yang memintanya. Sebab orang tersebut memiliki ibu tua yang sulit berjalan. Akhirnya Daniel pun menyerahkan, dan kursi roda lain ternyata telah terpakai semua.


Daniel kembali pada Lea dengan tangan kosong, namun secara serta merta ia menggendong istrinya tersebut.


"Mas." Lea terkejut dengan perlakuan sang suami.


"Ssstt." Lagi-lagi Daniel menyuruh Lea untuk tak bersuara.


"Mas, malu diliatin orang." bisik Lea pada suaminya.


"Ngapain malu, kenal juga nggak sama mereka."


Lea diam memperhatikan sang suami, namun akhirnya ia tersenyum. Daniel membawa Lea hingga ke halaman parkir, dan menurunkan istri nya itu, ketika lock pintu mobil telah terbuka. Ketika tiba di penthouse, Lea sudah tertidur lelap. Daniel membawa sang istri hingga ke dalam kamarnya.


***


Waktu berlalu.


"Hah."


Lea terkejut dan terbangun. Ia mendapati jika tubuhnya telah berada di kamar, yang biasa ia tempati di kediaman Daniel.


"Hei, kamu udah bangun." ujar Daniel yang kini berdiri di pintu. Agaknya ia mendengar suara Lea.


"Mas, kenapa aku disini?. Kenapa mas nggak nganterin aku ke kampus. Kalau bodyguard ayah sama ayah nyariin aku gimana?"


Daniel menghela nafas, lalu mendekat ke arah Lea.


"Dalam beberapa hari ke depan, Richard nggak akan nyariin kamu. Dia ada perjalanan bisnis mendadak ke luar kota."


Lea menatap suaminya itu.

__ADS_1


"Mas serius?" tanya nya kemudian. Daniel mengangguk, lalu tersenyum. Richard tak akan pulang dari rumah sakit dalam beberapa hari ini.


"Tapi gimana kalau bodyguardnya ngadu ke ayah?"


"Mereka nggak akan berani, karena takut di pecat oleh Richard. Paling kamu di cariin, kamu nggak usah kuliah dulu aja dalam beberapa hari ini. Lagipula kamu butuh istirahat."


"Tapi mas, kalau teman aku jadi sasaran gimana?" tanya Lea cemas.


"Aku akan melindungi mereka, kamu tenang aja. Aku juga bisa bayar bodyguard untuk jaga teman-teman kamu."


"Kenapa mas nggak dari kemaren-kemaren aja kayak gini?"


Tiba-tiba Daniel ingin memukul kepala Lea dengan batu meteor.


"Kamu nya ketakutan terus, aku mau maksain juga nggak enak. Takut kamu pikir aku egois, dan nggak mikirin bahaya untuk orang-orang di sekitar kamu. Kan udah aku bilang waktu kita ketemu pertama kali di rumah aku. Kamu sama aku aja, nggak usah balik ke Richard lagi. Kamu bersikeras." Daniel berujar dengan nada sewot.


Lea tersenyum lalu memeluk suaminya itu.


"Papa Dan kalau marah, serem ya." godanya kemudian.


"Mama Lele takut." lanjutnya lagi.


Daniel menghela nafas dan tersenyum sangat tipis, bahkan nyaris tak kelihatan.


"Kamu mau minum atau makan sesuatu?" tanya Daniel.


"Mau pelukan aja." jawabnya


Daniel mempererat pelukan, dan mencium kening Lea. Sesekali ia mengelus perut istrinya yang berisi janin tersebut.


***


Richard tersadar dari pingsannya yang cukup panjang. Ia mulai menyadari jika ia telah berada di suatu tempat, dengan nuansa serba putih. Samar-samar ia melihat Ellio, Liem dan juga dua orang teman lainnya.


"Gue dimana?" tanya Richard pada Ellio.


"Lo di rumah sakit, lo keluar dari lintasan dan nabrak pembatas." jawab Ellio.


Richard diam dan mencoba mengingat semuanya, lalu ia pun menghela nafas dan memejamkan mata beberapa saat. Ia ingat kejadian itu meski hanya sedikit.


"Apa ada yang fatal?" tanya nya lagi.


"Nggak, lo baik-baik aja. Daniel yang mati-matian berusaha ngeluarin lo dari dalam mobil. Telat sedikit aja, lo mungkin udah nggak ada. Sebab mobil itu akhirnya terbakar."


Richard diam. Kini ia melemparkan pandangan, ke suatu sudut yang menawarkan kebisuan.


***


Para bodyguard Richard kini bingung, mereka mencari Lea kesana-kemari. Bertanya pada para mahasiswa yang lalu-lalang. Beruntung tadi pagi, tak ada seorang teman pun yang menjemput Lea ke rumah. Dan lagi hari ini mereka tak bertemu muka dengan para bodyguard tersebut.

__ADS_1


Jadi mereka bisa saja berkilah, dengan mengatakan bahwa hari ini mereka tidak masuk. Para bodyguard tak bisa menuduh mereka melarikan Lea, meski sejatinya memang iya. Mereka melarikan Lea ke rumah sakit, namun disaat para bodyguard tengah lengah dan tak melihat ke arah lobi. Padahal mereka naik taxi dari sana.


"Gimana, udah ketemu?" tanya salah seorang bodyguard, kepada bodyguard yang lainnya.


"Belum." jawab bodyguard tersebut.


"Cari lagi dan harus ketemu, kalau kalian tidak mau kena masalah."


Para bodyguard itu kembali bergerak, mereka terus berusaha menemukan Lea.


***


Sementara di penthouse, Lea kembali tertidur dengan lelapnya. Daniel juga sempat tertidur beberapa saat di sisi istrinya tersebut. Sampai kemudian ia terbangun dan keluar dari kamar, untuk melakukan kegiatan lain yang sempat tertunda.


Lea terbangun setelah beberapa jam kemudian, lantaran mendengar suara cukup berisik di dapur. Dengan mata masih mengantuk, ia keluar dari kamar lalu menoleh ke arah kitchen set.


"Mas, lagi ngapain?" tanya nya pada sang suami, yang tampak sedang berkutat dengan beberapa peralatan di sana.


"Ngecor jalan, Le." jawab Daniel kemudian.


Sejenak Lea terdiam, keduanya kini saling bersitatap satu sama lain. Tak lama tawa mereka pun pecah, Lea mendekat lalu memeluk Daniel. Daniel yang tengah memegang teflon tersebut mencium kening Lea.


Lea lalu melepaskan pelukannya, dan Daniel memindahkan masakan yang ia buat ke dalam piring.


"Wah, beef teriyaki. Jadi laper." ujar Lea kemudian.


Daniel tersenyum.


"Duduk gih, kita makan dulu." ujar pria itu.


Tanpa basa-basi lagi, Lea segera duduk. Karena perutnya yang semula tak terlalu lapar, kini mendadak keroncongan. Aroma masakan yang dibuat sang suami, membuat ia menyerah begitu saja.


Daniel mengambil dua mangkuk nasi serta sumpit, ia memberikan salah satu pada Lea. Usai mengucap syukur pada sang pemberi hidup, mereka pun mulai makan.


"Mas, sumpah enak banget." Lea terlihat begitu bahagia pada suapan pertamanya.


Daniel tertawa.


"Kamu kayak selebgram lagi review makanan tau nggak." ujarnya kemudian.


Kali ini Lea yang tertawa.


"Emang beneran enak koq, aku nggak bohong."


Daniel tersenyum, lalu membelai kepala istrinya itu dengan lembut.


"Makan yang banyak...!" ujarnya lagi.


Lea terus melahap makanan tersebut, seperti orang yang belum makan dari pagi.

__ADS_1


__ADS_2