Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Sebuah Senyuman.


__ADS_3

Lea menanyakan perihal ketertinggalannya dalam pelajaran. Ternyata cukup banyak dan itu membuatnya sedikit stress.


"Duh gimana dong, banyak banget tinggalnya." ujar Lea mengeluh.


"Lo nggak usah bingung, cari aja materinya di internet." ujar Rama.


"Internet saluran mana, Bambang. Gue aja nih ya, kagak boleh pegang handphone, laptop dan lain-lain sama bapak gue. Kalau ada dari kemarin-kemarin, gue juga pasti udah ikut kelas online dan nggak bakal bolos." ujarnya lagi.


"Udah, lo tenang aja." ujar Adisty lalu tersenyum. Mereka semua saling bertatap, membuat Lea sedikit bingung.


"Ada apaan sih?" tanya Lea.


"Lo buka deh, yang dibeliin sama laki lo." perintah Adisty.


Lea pun lalu mengambil paper bag besar itu dan membukanya. Ternyata ada banyak makanan, vitamin, susu hamil dan...


"Handphone?" bisik Lea pada semuanya.


Mereka mengangguk secara serentak sambil tersenyum. Lea pun akhirnya ikut tersenyum, bahkan tertawa kecil.


"Liat lagi dong dalamnya." ujar Iqbal


"Lea kembali membongkar, ternyata ada sebuah MacBook."


"Oh my God." ujarnya sumringah.


"Ini kamar kan gede, Le. Pinter-pinter lo aja menyembunyikan." ujar Ariana.


"Bener, jangan lupa silent handphone lo. Biar nggak kedengaran kalau ada notifikasi." ujar Rama.


Lea tersenyum, lalu memeluk teman-temannya itu.


"Ini handphone, udah ada card dan juga pulsa. Udah ada kontak-kontaknya juga." ujar Iqbal.


Lea mengangguk, nyaris saja ia menangis. Namun saat ini ia sangat bahagia. Setelah beberapa waktu terlewati, teman-temannya itu berpamitan. Kesedihan Lea kini jauh berkurang, pasalnya ia sudah memiliki akses untuk berhubungan dengan pihak luar.


***


Daniel baru saja pulang dari kantor, ketika ia menerima panggilan video call. Dari nomor yang ada di handphone barunya Lea.


"Lea." ujarnya begitu haru, ketika ia akhirnya bisa melihat wajah perempuan itu.


"Mas, aku kangen." ujar Lea.


"Sama aku juga, sayang. Aku kangen sama kamu, kangen banget."


Keduanya bersitatap dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.


"Mas baik-baik aja kan?"


Daniel tersenyum.


"Baik, tapi nggak baik banget. Karena kepikiran kamu terus."


"Aku juga kepikiran sama mas. Maafin aku ya, mas. Maafin kelakuan ayah juga."


"Ini bukan salah kamu, mungkin jalannya emang harus kayak gini."


Daniel menarik nafas, Lea membenarkan headset yang ada di telinganya. Ia telah mengunci slot kamarnya dari dalam, sehingga orang dari luar tak akan bisa membuka kunci ataupun masuk secara tiba-tiba.


"Mas mau liat bayi kita nggak?" tanya Lea.


"Mau." ujar Daniel nyaris menangis.

__ADS_1


Lea kemudian mengarahkan handphone pada bagian perutnya. Ia menaikkan baju yang ia pakai, sehingga memperlihatkan bagian tersebut. Daniel menyeka air matanya seraya tersenyum.


"Udah mulai keliatan." ujar nya kemudian.


"Iya mas, mana aku makannya banyak lagi. Jadi tambah buncit deh." ujar Lea, lalu kembali mengarahkan kamera ke wajahnya.


"Nggak apa-apa sayang, kamu pasti jadi makin cantik nanti."


Lea tersenyum.


"Makasih ya, udah jagain anak kita." ujar Daniel lagi.


"Iya mas, sama-sama. Makasih juga hadiahnya hari ini, banyak banget."


"Susunya udah diminum?" tanya Daniel.


"Udah dua kali."


Daniel tertawa kecil.


"Pantes waktu itu kamu makannya banyak banget, tapi muntah terus."


"Iya ternyata ada masalah sama perut aku." ujar Lea.


"Iya akibat." ujar Daniel.


"Akibat ulah kamu, mas." ujar Lea sewot sambil menahan tawa, sementara suaminya kini terkekeh.


"Salah siapa coba?. Di cium dikit, di rayu dikit, kamu buka kaki."


Wajah Lea bersemu merah.


"Abis enak sih." ujarnya kemudian.


"Kalau kamu terus di kurung gitu, gimana masalah periksa ke rumah sakit?"


"Kata ayah, dia mau bawa dokter kandungan kesini. Tapi aku bilang, aku maunya periksa langsung di klinik atau rumah sakit. Biar alatnya lengkap, kan nggak mungkin dokter datang bawa semua alat. Emang ayah mau bayar dokternya berapa."


"Terus, Richard bilang apa?"


"Boleh, tapi harus dia yang nemenin. Dan dia..."


Lea ingin menceritakan pada Daniel, bahwa sang ayah menginginkan dirinya untuk aborsi. Namun ia takut Daniel jadi makin kepikiran. Lea tak ingin suaminya itu mengambil jalan kekerasan, karena sudah pasti ia akan sangat marah sekali.


"Dia kenapa?" tanya Daniel seakan menunggu kelanjutan dari ucapan Lea.


"Dia..." Lea berfikir cepat.


"Dia masih keras banget orangnya."


Lea akhirnya menemukan kata-kata yang tepat, guna melanjutkan ucapannya. Daniel menghela nafas kali ini.


"Richard emang gitu orangnya. Dia baik, care, sayang sama saudara dan sahabatnya. Tapi kalau udah punya suatu keinginan, dia harus dapatkan itu bagaimanapun caranya."


"Tapi, apa ayah bisa melunak?" tanya Lea pada suaminya.


"Dia akan melunak dengan sendirinya, kalau semua tindakannya salah dan sudah terbukti didepan matanya dia."


"Berarti ayah orangnya, mesti dibuat kapok gitu?"


"Yes, Richard harus begitu. Baru bisa berhenti."


"Tapi menurut mas, mungkin nggak sih dia merestui hubungan kita?"

__ADS_1


Daniel lagi-lagi menghela nafas.


"Aku akan berjuang untuk itu, kamu tenang aja. Nggak usah mikir macem-macem, nggak usah mikir yang nggak-nggak. Pokoknya kamu belajar, istirahat, cek kesehatan, makan, minum vitamin. Udah itu aja, sisanya biar aku yang urus, ok."


Lea mengangguk, obrolan mereka pun berlanjut. Bahkan hingga beberapa jam ke depan, hingga akhirnya mereka sama-sama tertidur lelap.


***


"Lea."


"Lea."


"Tok, tok, tok."


Terdengar suara memanggil, diikuti ketukan pintu. Karena pintu dikunci oleh Lea dari dalam.


"Lea."


Sontak Lea terkejut, tadi ia masih sayup-sayup. Namun kini mendengar suara ayahnya dengan jelas. Seketika Lea tersadar jika dirinya masih menggenggam handphone.


"Lea."


"Tok, tok, tok."


Lea buru-buru menyimpan handphone miliknya di laci bawah tempat tidur. Kebetulan banyak terdapat buku di sana, sehingga handphone tersebut tak keliatan sama sekali. Ia telah mematikan perangkat itu terlebih dahulu, sebelum akhirnya mendekati pintu dan membukanya.


"Hoahm."


"Kenapa, yah?" tanya Lea dengan wajah yang sengaja dibuat seolah masih sangat mengantuk.


"Kamu baru bangun?" tanya Richard.


"Hmm." ujar Lea seraya mengusap dan menggaruk-garuk kepalanya.


"Kenapa pintunya kamu kunci?" tanya Richard penuh kecurigaan.


"Kebiasaan, yah. Kan aku selalu kunci kamar kalau tidur." ujarnya lalu duduk di sofa dan kembali menguap.


Kali ini Richard tertawa, biar bagaimanapun Lea memanglah masih remaja. Tingkahnya kadang mirip dengan tingkah anak kecil.


"Kata kamu mau ke dokter kandungan?"


"Emang mesti jam segini banget?" tanya Lea.


"Ya mana ayah tau, makanya ayah kesini."


"Hmm." Lea tampak berfikir.


"Agak siangan aja deh, yah. Mau mandi dulu, makan dulu, laper soalnya."


"Ya udah, nanti kasih tau ayah kalau kamu udah siap."


"Gimana mau kasih tau, orang ayah aja kunci pintunya."


Richard diam menatap Lea, tiba-tiba ia merasa agak sedikit iba pada puterinya itu.


"Ya udah, ayah nggak akan kunci pintunya lagi."


"Ok." ujar Lea lalu tersenyum.


Richard akhirnya ikut tersenyum meski tipis. Kebahagiaan yang ada di hati Lea kini, adalah karena ia sudah bisa berhubungan kembali dengan Daniel dan Richard tak mengetahui hal tersebut.


"Ayah tunggu di meja makan, makan di bawah aja." ujar Richard kemudian, Lea mengangguk dan kembali tersenyum. Sepertinya batu di hati Richard sudah mulai melunak.

__ADS_1


Sesaat kemudian Richard keluar dari tempat itu, Lea buru-buru mengunci pintu. Ia pergi ke kamar mandi dengan membawa handphone. Ia bermaksud menghubungi suaminya kembali.


__ADS_2