
Hari terus berlalu, Daniel sudah berangsur membaik dan telah kembali masuk ke kantor. Sedang Lea kini bersiap, karena sebentar lagi ia akan ikut teman-temannya yang mengadakan perjalanan wisata.
"Hallo, Le."
Daniel menelpon dari kantor.
"Iya mas."
"Udah berangkat?"
"Belum, sebentar lagi."
"Vitamin sama susu jangan lupa di bawa."
"Iya mas, ini udah disiapin koq." ujar Lea.
"Ya udah nanti kabarin aku kalau udah mau berangkat."
"Ok mas."
"Bye."
"Bye."
Daniel menyudahi telpon, sementara Lea kini bersiap.
***
Hari itu pada sebuah bus yang terparkir di halaman kampus. Para mahasiswa yang mengadakan perjalanan mandiri alias tidak disponsori siapapun tersebut, tampak riuh.
Mereka berkumpul sambil berbincang antara satu dan yang lainnya. Ketika pintu bus tersebut dibuka, mereka masuk dan berebut tempat duduk.
"Dis, Ar. Lo berdua nggak naik ini?"
Dani bertanya pada Adisty dan juga Ariana yang saat ini tengah berdiri di tangga lobi.
"Kagak, gue sama Ariana naik mobil lakinya Lea. Kasian calon emak-emak kalau sendirian."
"Ok."
Dani lalu masuk ke dalam bus, menyusul Rama dan juga Iqbal yang telah masuk terlebih dahulu. Tak lama kemudian sebuah mobil yang membawa Lea pun tiba.
"Ini nih kayaknya." ujar Ariana.
Ia dan Adisty bersiap, mobil tersebut kemudian berhenti di hadapan mereka berdua.
"Gaes sorry telat, buruan masuk...!" ujar Lea. Ia menongolkan kepalanya dari kaca mobil yang terbuka.
Adisty dan Ariana pun sumringah, lalu masuk ke dalam mobil tersebut. Lea dan kedua temannya itu diantar oleh supir. Supir tersebut merupakan driver di kantor Daniel, yang sudah bekerja di sana selama bertahun-tahun.
Tadinya Lea pikir ia akan pergi menggunakan bus. Namun Daniel bilang, ia khawatir Lea akan merasa tak nyaman.
"Kalau nggak hamil, nggak apa-apa Le. Kamu kan lagi hamil, masih sering muntah juga. Nanti kalau kamu mau muntah, nggak mungkin dong nyuruh bus berhenti di jalan demi kamu. Kasian juga teman kamu yang lain, mesti repot ngurusin kamu."
Begitulah kata-kata yang di ucapkan Daniel kemarin. Mau tidak mau Lea harus mendengarkan dan menuruti. Toh Daniel sudah berbaik hati mengizinkannya pergi. Wanita lain di luar sana belum tentu bisa mendapatkan suami seperti Daniel.
"Ya udah mas, tapi siapa yang nyetir mobilnya?" tanya Lea.
"Ada nanti, orang aku. Kamu pake mobil aku yang Alphard, biar lega."
"Emang mas punya mobil itu?" tanya Lea heran, karena ia sama sekali belum pernah melihatnya selama menikah.
"Ada." jawab Daniel.
Maka pagi ini ia berangkat menggunakan mobil tersebut.
"Hhhh, ada untungnya juga ya berteman dengan istri horang kayah."
Ariana berseloroh ketika mereka semua telah masuk ke dalam mobil. Ia duduk di depan, disebelah supir. Sementara Lea dan Adisty ada di tengah.
"Berterima kasihlah sama Lele, karena dia kita bisa ngerasain naik mobil ini." timpal Adisty.
Lea hanya tertawa.
"Semoga sesuatu saat kalian bisa beli sendiri." ujar Lea.
__ADS_1
"Aamiin." Ariana dan Adisty berucap di waktu yang nyaris bersamaan.
"Mbak Lea kita jalan sekarang?" tanya si supir padanya.
"Iya pak, kita agak duluan aja. Soalnya bus itu pasti ngebut, pasti kebalap kita." jawab Lea.
"Ok."
Tak lama mobil mereka pun melaju meninggalkan pelataran kampus.
***
Di sepanjang perjalanan, Lea, Adisty dan Ariana terus bercakap-cakap. Sesekali mereka mengajak supir berinteraksi, agar tak blank dan mengantuk. Mereka lebih banyak tertawa karena membicarakan topik-topik yang lucu.
"Le, udah sampe?"
Daniel menelpon ketika Lea dan teman-temannya sudah nyaris tiba di tujuan.
"Belum mas, sedikit lagi. Masih kira-kira lima belas menit lagi lah." jawab Lea.
"Oh, mual nggak kamu sepanjang perjalanan?"
"Nggak sih, biasa aja."
"Dia gerak banyak nggak hari ini?" Daniel mempertanyakan bayinya.
"Adalah beberapa kali."
Daniel tersenyum.
"Hati-hati ya kalian di sana. Kamu makannya diperhatikan, jangan asal."
"Iya papa Baymax."
"Hahahaha."
Daniel tertawa.
"Udah dong, jangan diingat terus, aku nya malu."
"Oh ya?"
"Iya."
Lea mengirimkan foto Daniel selama ia mengalami alergi, melalui pesan singkat di WhatsApp.
"Noh liat di WA."
Daniel pun membuka akun WhatsApp miliknya.
"Wah jahat kamu."
Lea terbahak.
"Hapus nggak, Le. Ini aku kayak abis digebukin sekampung tau nggak, bengkak semua gitu."
"Hahahaha." Lea terus terkekeh.
"Hapus nggak?" Daniel juga tak kuasa menahan tawanya.
"Nggak mau, biarin aja. Ntar kalau mas ulang tahun, aku mau posting foto ini."
"Ih jahat banget kamu ya."
"Hahahaha."
"Selama ini foto mas kan ganteng mulu tuh, nggak ada yang ternistakan. Sekali-sekali boleh dong, hahaha."
"Durhaka kamu, Le." Daniel berujar sambil masih tertawa.
"Mas udah makan siang?"
"Belum."
"Makan gih, udah siang loh."
__ADS_1
"Kamu juga belum kan?"
"Udah tadi, sempat mampir di jalan. Tapi sinyal di sana nggak bagus, makanya aku nggak telpon mas."
"Oh ya udah bagus deh, kalau kamu udah makan."
"Mas makan dong."
"Iya bentar lagi, aku lagi mikir juga mau makan apa."
"Jangan makan seafood." ujar Lea.
Lagi-lagi Daniel tertawa.
"Nggak lagi deh yang satu itu, kapok beneran."
"Hahahaha."
Kali ini Lea yang kembali terbahak.
"Mas udah balas om Ellio?" tanya Lea.
"Belum, ntar dia aku suruh mukbang paku sekilo."
"Hahahaha."
Saking besarnya Lea tertawa, ia sampai membangunkan Adisty yang tengah tertidur lelap.
"Eh sorry Dis, lo terganggu ya sama suara gue?" tanya Lea.
Adisty tertawa sambil mengucek matanya yang masih berat.
"Kenapa Le, Adisty tidur?" tanya Daniel.
"Iya mas, kebangun gara-gara suara aku." ujar Lea.
"Maaf ya Dis, Lea emang ada toa di tenggorokannya." ujar Daniel.
Lea tertawa, lalu mengaktifkan load speaker handphone.
"Ngomong apa mas tadi?. Adisty mau dengar nih." ujar Lea.
Maka Daniel pun mengulang ucapannya. Adisty makin tertawa.
"Iya mas, udah cocok nih Lea punya anak. Vibes nya emak-emak abis, suaranya bacot."
"Hahahaha."
Mereka semua tertawa, termasuk supir.
"Ariana nggak ikut?" tanya Daniel.
"Ada tidur." ujar Lea dan Adisty di waktu yang nyaris bersamaan.
"Nggak bangun dia."
"Ariana mah, mau gunung meletus di dekat telinganya juga kagak bakalan bangun." seloroh Adisty.
"Oh ya?" tanya Daniel.
"Kupingnya ada bantalannya kali." lanjut Adisty kemudian.
Mereka pun terus berbincang, hingga akhirnya Daniel menyudahi semua itu.
"Ya udah Le, aku mau makan siang dulu. Abis ini mau ada rapat penting juga."
"Oh ya udah, selamat makan papa Dan."
"Dah mama Lele."
"Dadah."
"Muach."
"Muach."
__ADS_1
Daniel pun menutup telpon tersebut, sementara kini mobil yang membawa Lea serta kedua temannya terus melaju.