
"Pagi sayang."
Daniel mencium pipi Lea, ketika pagi mulai menyapa. Mereka masih berada di resort dan rencana baru akan pulang hari ini.
"Pagi jawab Lea sambil merapatkan tubuhnya ke tubuh Daniel."
Daniel kemudian memegang perut Lea.
"Waw, udah hamil. Cepet banget, baru juga nikah kemarin." goda pria itu.
"Ih kamu mah, bilang aja mau bilang perut aku masih berlemak. Iya kan?"
Daniel tertawa.
"Sindirannya halus banget." ucap Lea lagi.
Daniel lalu mencium kening istrinya itu.
"Nggak koq, kamu aja yang berpikiran buruk sama aku."
Lea makin mempererat pelukannya.
"Mas laper nggak?" tanya nya kemudian.
"Iya, laper aku. Pesan makan yuk!" ajak Daniel.
"Ayok, tapi mandi dulu." ujar Lea.
"Nggak usah, sikat gigi aja." ujar Daniel.
"Dasar kamu mah."
Daniel tertawa lalu beranjak dan menyikat gigi didalam kamar mandi resort. Lea pun akhirnya melakukan hal yang sama. Tak lama mereka pun memesan makanan via telpon.
***
Sama halnya dengan Lea dan Daniel. Ellio saat ini juga baru membuka mata bersama Marsha.
"Pagi sayang."
Ellio mencium kening Marsha dan mencium bayi mereka yang masih berada di dalam perut.
"Good morning anak papa." ujarnya kemudian.
Marsha tersenyum dan membelai kepala Ellio.
Kamu nggak ngerasain sakit apa-apa kan?" tanya Ellio pada istrinya itu.
"Nggak ada koq." jawab Marsha.
"Aku masih takut soal yang kita lakukan kemarin." ujar Ellio lagi.
"Kalau masih khawatir, nanti kita ke dokter aja." ucap Marsha.
__ADS_1
"Tapi sejauh ini aku ngerasanya baik-baik aja." lanjut perempuan itu.
"Ya udah, aku bikinin sarapan ya." ujar Ellio.
Marsha agak sedikit terdiam. Ia mengingat beberapa perkataan Daniel dan juga Richard yang kerapkali menggosipkan hasil masakan Ellio.
Mereka sering membicarakan hal tersebut di kantor, dan Marsha selalu mendengar.
"Mmm, biar aku aja." ujar Marsha tak yakin pada Ellio.
"Nggak apa-apa, Sha. Aku bukan tipe suami yang patriarki koq. Menurut aku urusan dalam rumah tangga itu nggak ada pembagian khusus. Kecuali pemberi nafkah, itu udah tanggung jawab aku. Tapi sisanya kita bisa bekerjasama."
"Tapi..."
Marsha tak enak jika harus mengatakan masakan Ellio tidak enak. Seperti apa yang pernah ia dengar dari Daniel dan juga Richard.
"Tapi apa?. Kamu nggak usah ngerasa nggak enak. Udah kamu diem aja, tiduran, nanti aku bikinin sarapan."
"Aku bukan ngerasa nggak enak, pak. Tapi...."
"Udah disini aja, tunggu. Oke?"
Ellio mencium kening Marsha kemudian beranjak. Sementara kini Marsha menunggu dengan harap-harap cemas.
Selang beberapa sat berlalu, Ellio tiba dengan sebuah nampan berisi segelas susu hangat. Roti bakar coklat, roti bakar keju mozzarella serta setangkup roti bakar isi daging.
"Koq banyak banget pak?" tanya Marsha pada Ellio.
"Biar kamu banyak pilihan, kalau nggak habis nanti aku yang ngabisin."
"Ayo di makan!" Pinta Ellio.
Marsha pun mengambil roti dengan isi coklat. Sebab sedari tadi itu memanggil-manggil dirinya dengan lebih keras.
Ia mulai gigitan pertama dan ternyata memang enak. Ia sudah mengira jika Ellio akan seperti Giant dalam serial Doraemon, yang asal saja mencampur sesuatu ke dalam makanan. Tapi ternyata Ellio masih cukup waras dan apa yang ia sediakan bisa diterima oleh lidah Marsha.
***
"Le, lasagna nya enak banget sumpah."
Daniel makan sambil menyodorkan lasagna ditangannya pada Lea. Tadi ia memesan itu dan pizza. Sedang Lea memesan nasi Mozarella yang dibakar dengan saus bawang putih.
"Hmm, iya. Enak banget mas. Mas cobain nasi aku dong." ujar Lea.
Maka Daniel mencoba nasi yang ada di mangkuk keramik istrinya itu.
"Enak kan?" tanya Lea.
"Iya enak, tapi aku lebih suka yang ada daun jeruknya." ujar Daniel.
"Iya, itu juga enak sih. Tapi aku lagi kepengen yang ini." ucap Lea.
Mereka lanjut makan sambil melihat-lihat hasil foto acara pernikahan mereka kemarin. Yang mulai dikirim fotografer ke email Daniel.
__ADS_1
"Mas, lucu-lucu banget deh fotonya Darriel." ucap Lea pada suaminya itu. Daniel menilik ke dalam layar laptop, tampak Darriel kali ini lebih banyak tersenyum di kamera. Meski ada beberapa yang tampak begitu julid.
"Ini kenapa matanya?" tanya Daniel sambil tertawa.
"Lambe turah banget ya mas, lirikannya."
Sepasang suami istri itu kemudian tertawa-tawa.
***
Di lain tempat.
Richard masih memikirkan harinya yang penuh kegalauan. Meski kini ia disibukkan dengan mengurus Darriel. Namun ketika Darriel tidur ia kembali memikirkan semuanya.
Kini pria itu bingung perihal apa yang harus ia perbuat. Mendatangi Dian dan memastikan semuanya, atau hanya berdiam diri menunggu alam yang memutuskan.
Sebab untuk keluar negri pun, saat ini ia tengah sibuk-sibuknya mengurus pekerjaan. Tetapi jika tidak diperjelas, perasaannya akan semakin menggantung.
"Hhhhh." Tiba-tiba wajah ibu Lea, Cindy dan Maryam melintas dibenak pria itu.
Harusnya memilih wanita bukan menjadi hal sulit baginya. Mengingat ia tampan dan juga mapan.
"Tapi...."
"Ah sudahlah."
Richard pergi ke dapur dan membuat segelas kopi. Ia lupa memiliki asisten rumah tangga. Selesai membuat kopi ia berdiri di muka meja makan sambil meminum kopi tersebut. Agak kepanasan di awal, sebab ia lupa jika membuat kopi menggunakan air mendidih.
Ia pergi keluar, ini benar-benar weekend yang sangat membosankan sepanjang ia hidup. Daniel dan Ellio sudah punya kesibukan masing-masing. Yakni berotak mesum pada pasangan mereka.
Biasanya di hari libur begini, mereka berdua selalu meramaikan rumah Richard. Sekedar numpang sarapan atau berenang di kolam belakang.
Richard menghabiskan sisa rokok dan kopi. Kemudian ia pergi ke atas untuk mengecek Darriel.
"Kreeek."
Pintu kamar Darriel terbuka. Richard dengan penuh percaya diri melangkah ke arah box. Namun kemudian ia berteriak histeris, sehingga menyebabkan beberapa sistem rumah tangga langsung bergegas menghampirinya.
"Kenapa pak?" tanya mereka panik.
"Ini kenapa cucu saya berubah jadi biawak?. Siapa yang mengutuk?" tanya nya kemudian. Wajah Richard terlihat begitu cemas.
"Lah, kan Darriel di ayunan bawah pak." jawab salah satu dari mereka."
Richard menarik nafas dan menunjuk ke dalam box. Sebab ia masih tak mengerti dengan apa yang telah terjadi.
"Tadi bapak yang gendong Hartono terus dibawa ke atas. Kami pikir lagi mau bapak jadikan konten atau apa." ujar salah seorang dari mereka lagi.
Richard kembali terdiam, ia menarik nafas panjang sekali sambil menutup matanya dengan tangan.
"Ya sudah tolong Hartono dibawa kembali ke bawah dan bersihkan box ini. Ganti semuanya."ujar Richard.
"Baik pak."
__ADS_1
Richard kembali ke bawah untuk mengecek Darriel. Sementara para asisten rumah tangga yang ada di atas tertawa tanpa suara.