Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Memecah Keberanian (Bonus Part)


__ADS_3

Richard berjalan gelisah di ruang kerjanya, mata pria itu terus memandang keluar jendela. Pikirannya dipenuhi kekhawatiran bahwa Nadya akan salah paham dan cemburu apabila Putri mengadukan apa yang telah dilihatnya tadi.


Meskipun Richard tidak punya perasaan lagi untuk Dian, tetapi bisa saja ini menjadi masalah yang besar.


"Hhhhhh."


Richard makin terlihat resah dan berpikir mengenai apa yang harus ia lakukan. Tak lama berselang pria itu pun mencoba menghubungi Nadya melalui telepon.


"Nomor yang anda tuju tidak menjawab."


Suara dering yang tidak diangkat tersebut membuat kekhawatiran semakin menggelayut di dalam hati Richard. Ia mencoba beberapa kali, tetapi Nadya tampaknya memang tidak ingin menjawab panggilannya.


"Duh, jangan-jangan dia marah lagi." pikir pria itu.


Kepalanya kemudian berkecamuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung mendapat jawaban.


Seperti Bagaimana jika ia menemui Nadya tanpa memberitahu terlebih dahulu?. Sebab ia lebih khawatir Nadya akan salah paham, ketimbang khawatir akan dilihat oleh Hanif ataupun orang suruhannya.


"Hhhhhh."


Richard bertambah resah dari sebelumnya. Namun kemudian ia pun mengambil sebuah langkah. Pria itu meraih kunci mobil dan menitip pekerjaan pada sekretaris yang ada di depan. Kali ini ia nekad menyambangi kediaman Nadya.


Ketika sampai, dengan hati berdebar pria itu mengetuk pintu rumah sang kekasih. Kebetulan tadi pintu pagar terbuka, mungkin Putri atau sekuriti habis pergi keluar dan lupa menutupnya kembali.


"Tok, tok, tok."


Tidak ada jawaban. Ia mencoba menelfon Nadya sekali lagi, tetapi tetap tidak diangkat. Lalu semakin banyak rasa gelisah yang melanda pria itu. Richard mencoba mengetuk sekali lagi, kali ini sedikit lebih keras.


"Tok, tok, tok."


"Kreeeek."


Akhirnya pintu rumah itu pun terbuka perlahan, Nadya muncul dihadapannya dengan wajah terkejut. Ia tak menyangka Richard datang dengan begitu tiba-tiba. Ekspresi Nadya berubah antara kebingungan dan takut, tetapi juga sedikit senang.


"Mas, mas ngapain kesini?" tanya wanita itu.


"Nad, aku bisa jelasin soal tadi di kantor." jawab Richard.


"Je, jelasin maksudnya?"


Nadya tampak tak mengerti. Richard sendiri kini menjadi bingung, apakah tadi Putri bercerita pada wanita itu atau tidak.


"Ya, soal tadi di kantor."


Richard masih berhati-hati, sebab belum tau pasti keadaan sebenarnya.


"Emangnya di kantor mas kenapa?." tanya Nadya heran.


"Mmm, nggak sih. Aku kesini, karena kamu nggak ngangkat telpon aku." jawab Richard.


Pria itu mengalihkan topik obrolan. Karena sepertinya memang Putri tak mengadukan apa-apa.


"Tadi aku lagi dibawah dan handphone aku cas di kamar, mas. Handphone aku di silent." jawab Nadya.


"Bukan karena kamu marah sama aku?" tanya Richard.

__ADS_1


"Marah?. Marah soal apa?." Nadya balik bertanya dengan mimik wajah yang makin dipenuhi kebingungan.


"Hhhhhh."


Richard menarik nafas dalam-dalam.


"Ya sudah kalau begitu." ucapnya kemudian.


"Mas, mau masuk kedalam?"


Nadya memperhatikan Richard. Tetapi pria itu kemudian menggelengkan kepalanya.


"Saat ini bukan waktu yang tepat, Nad. Aku kesini juga karena terpaksa. Aku nggak mau nanti kamu dapat masalah. Karena saat ini kamu berada di tengah proses perceraian." jawab Richard.


"Om Richard."


Tiba-tiba Arkana muncul dari arah pintu pagar bersama Putri. Anak kecil itu tampaknya baru pulang dari les.


"Hey, Arka."


Richard langsung beramah-tamah. Sementara Arkana langsung mencium tangan Richard.


"Dari mana kamu?" tanya Richard pada anak itu.


"Dari les matematika om." jawab Arkana.


"Wah, kamu mau jadi Professor matematika?" canda Richard. Nadya dan Putri tersenyum memperhatikan Arkana.


"Mmm, nggak sih. Mama yang nyuruh." jawab Arkana polos.


Mendengar jawaban tersebut Richard pun jadi tertawa.


"Ya udah, nanti belajar gambar sama om." ujar Richard.


"Emangnya om bisa gambar?" tanya Arkana tak percaya.


"Bisa dong." jawab Richard.


"Arka mau om."


"Ya udah, kapan-kapan ya." ujar Richard.


"Sekarang Arka masuk dulu."


Nadya memerintahkan pada anaknya itu.


"Om Richard emangnya nggak ikut masuk?" Lagi-lagi Arkana bertanya.


"Mmm, nggak sayang. Om Richard mau pulang." ucap Nadya


"Loh kenapa?. Kan om Richard baru disini."


Wajah Arkana tampak kecewa, sebab pertemuan dengan Richard adalah hal yang paling ia tunggu-tunggu di setiap hari.


"Lain kali ya, soalnya om lagi banyak kerjaan."

__ADS_1


Kali ini Richard yang berbicara, tetapi kemudian wajah Arkana berubah menjadi tertunduk diam. Hal tersebut tentu saja mengusik hati dan pikiran pria itu. Ia tak tega membiarkan Arkana berada dalam keadaan yang demikian.


"Mmm, masuk dulu aja mas." ujar Nadya meski dengan nada sedikit ragu.


"Put, sudah tutup pintu pagar?" tanya nya pada Putri kemudian.


"Udah, bu." jawab Putri.


Kemudian Richard pun sepakat untuk masuk ke dalam. Tanpa mereka ketahui dari kejauhan, ada sesosok yang sudah menangkap gambar melalui handphone yang ia bawa.


***


"Richard mana?"


Daniel yang masih berada di kantor bertanya pada sekretaris Richard. Pria itu ada perlu sedikit dengan sang mertua.


"Tadi keluar pak, nggak tau kemana. Beliau cuma nitip sedikit pekerjaan ke saya." jawab si sekretaris.


Daniel lalu meraih handphone dan mencoba menghubungi mertuanya itu. Tetapi Richard tidak mengangkat, sebab saat ini ia sedang bercengkrama bersama Arkana.


"Lo dimana?" tanya Daniel melalui pesan singkat di WhatsApp.


"Gue lagi nemuin klien." dusta Richard.


"Oh oke, nanti gue hubungi lagi." balas Daniel.


Tak lama Daniel pun berpamitan dengan sekretaris Richard dan kembali ke kantornya. Sementara itu di rumah Nadya, Arkana tiba-tiba mengajak Richard membeli alat gambar.


"Om, Arka mau beli alat gambar deh. Biar nanti kalau mau belajar, bisa langsung ada peralatannya.


"Om Richard, sibuk nak. Nanti kamu sama mama aja."


Nadya menyela pembicaraan tersebut.


"Yah, Arka pengennya sama om Richard juga." jawab Arka.


"Nggak boleh kayak gitu." Nadya mengingatkan. Sebab bahaya apabila mereka terlihat di tempat umum.


Namun lagi-lagi wajah Arkana berubah murung, dan Richard tiba-tiba saja memenuhi permintaan tersebut.


"Ya udah, ayo." ujarnya kemudian.


Seketika wajah Arkana terlihat kembali senang, sementara Nadya kini diliputi kekhawatiran.


"Tapi mas." ujar wanita itu.


"Nggak apa-apa, Nad. Kita cari aja tempat yang sepi." ujar Richard.


"Kan banyak toko buku yang sepi di hari kerja begini." Lanjutnya kemudian.


"Tapi gimana kalau...."


Nadya menghentikan ucapan, sebab saat ini ada Arkana di dekat mereka.


"Percaya sama aku, semua akan baik-baik aja." ujar Richard.

__ADS_1


Mau tidak mau akhirnya Nadya pun menyetujui hal tersebut. Sebab Richard cukup bersikeras meyakinkan dirinya. Tak lama berselang mereka bertiga terlihat meninggalkan rumah, dengan menggunakan mobil pria itu tentunya.


Mereka menuju ke sebuah toko buku besar yang ada di kota tersebut dan mencari beberapa alat gambar yang dibutuhkan oleh Arkana.


__ADS_2