
Vita dan Lea mendekat ke arah outlet jajanan Korea tersebut. Tentu saja Vania langsung menyambutnya dengan baik dan memberikan selebaran.
Tetapi ia tidak begitu banyak berbasa-basi dengan Lea dan juga Vita. Sebab dulu mereka hanya pernah bertemu sepintas. Namun Vania tau siapa mereka.
"Lo mau apa, Le?" tanya Vita.
"Biar gue aja yang kesana. Kasihan Darriel nanti kena asap." tukas Vita.
Saat ini mereka berada pada jarak yang cukup jauh.
"Gue mau kimbab goreng. Odeng saos gochujang level satu. Sama tteokpokki yang ada ayamnya nih satu." ujar Lea.
"Level pedesnya?" tanya Vita.
"Level satu aja. Males gue yang pedes banget, takut asam lambung."
"Oke deh, minumnya?" tanya Vita lagi.
"Gue mau es teh kecil large." jawab Lea.
"Oke."
Vita beranjak.
"Eh, Vit. Nih, pake card gue aja." Lea menyodorkan kartu debit miliknya.
"Nggak usah, gue aja yang bayar." tukas Vita.
"Widih, pengusaha kaya." ucap Lea kemudian.
"Aamiin."
Vita berkata sambil tertawa dan kini ia mendekat ke arah outlet. Sementara Lea menunggu di bawah pohon rindang, dimana disana terdapat kursi untuk duduk. Selang beberapa saat kemudian Vita kembali dengan membawa pesanan mereka.
"Kita makan disini aja ya Le." ujarnya kemudian.
"Iya, rindang juga disini. Matahari lagi nggak ada." tukas Lea.
Maka mereka pun makan di tempat itu.
"Itu yang empat orang jaga di depan, semuanya ex SB Agency Le." ujar Vita.
"Oh ya?"
Lea memperhatikan outlet tersebut. Matanya jelas tertuju pada empat orang yang melayani. Tapi ia lupa-lupa ingat pada mereka.
"Apa semua ex sugar baby itu udah pada bosan sama hidup mereka yang dulu?. Terus mereka pada memilih untuk hidup di jalan yang bener." tanya Lea.
"Ya kalau kayak gitu syukur sih. Semakin banyak cewek yang sadar kalau hidupnya berharga dan dia bisa mandiri, itu bagus banget." tukas Vita.
"Cuma gue takutnya, ini tuh kedok doang." lanjutnya lagi.
"Kedok maksud lo?" tanya Lea.
"Ya siapa tau si Vania mendirikan another SB Agency. Kedoknya jualan ayam Korea, tapi ternyata di belakang itu jualan ayam-ayaman." ujar Vita.
"Bisa jadi sih, Vit. We never know ya kan." tukas Lea.
__ADS_1
"Makanya. Karena nggak semua orang pengen berubah, Le. Dan kita dengan segala kekurangan yang kita miliki, kita nggak bisa mengubah semua orang. Pasti ada yang nggak sepaham dengan kita dan memilih jalan mereka sendiri."
"Ya kalau emang begitu, semoga dapat pencerahan." ujar Lea.
Vita mengangguk, Darriel yang tidur mendadak membuka mata lalu melirik mereka.
"Anak lo nggak bisa banget tidur nyenyak ya, Le." ucap Vita seraya melirik Darriel.
"Dari tadi tuh dia begitu." lanjutnya kemudian.
"Kalau ada orang emang gitu dia. Tapi kalau sendirian nyenyak." ujar Lea.
"Mau nak, Odeng?" Lea menawari, Darriel tersenyum lalu matanya kembali redup.
"Mau tidur lagi tuh." tukas Vita.
Kemudian Darriel tersenyum lagi.
"Jiah, senyum lagi." ujar Vita.
Lalu Darriel benar-benar terlelap.
***
Flashback.
Sebelum berangkat ke klinik.
"Hokhoaaa."
"Owaaaaaa."
"Apa Delil?" tanya Lea sambil terus melakukan aktivitas.
"Hokhoaaa."
"Owaaaaaa."
Darriel membuat gerakan seolah hendak di sambut.
"Ntar dulu, mama lagi beresin ini."
"Hokhoaaa."
"Iya, sabar."
"Owaaaaaa."
Lea akhirnya menghentikan pekerjaan lalu mendekat dan mengangkat anak itu.
"Astaga koq kamu berat banget sih?" tanya Lea.
"Ini mama yang lemah apa kamu yang tambah gede?" lanjutnya lagi.
"Heheee." Darriel tertawa.
Lea menggendong bayi itu dan membawanya berkeliling rumah, kadang mereka duduk lalu kembali berdiri dan berjalan. Hingga Lea menyadari dirinya berkeringat dan merasa agak lelah.
__ADS_1
"Gendong kamu gini doang, mama sampe keringetan gini Delil. Kamu tambah berat kayaknya ini ya."
"Heheee."
Lalu terdengar alarm dari handphone Lea. Pengingat bahwa di hari tersebut Lea harus membawa Darriel ke dokter anak.
"Ini jadwal kamu ke dokter anak nih. Ganti baju yuk, kita pergi." ajak Lea.
Darriel hanya tertawa-tawa.
Lea kemudian membuka lemari dan mengambil baju anak itu. Darriel dipakaikan jumpsuit warna biru. Lea tertawa-tawa menyaksikan Darriel yang menurutnya mirip ulat tersebut.
"Delil, kamu kayak ulat pucuk-pucuk."
"Heheee." Lagi-lagi Darriel tertawa.
Usai mengganti baju, anak itu diletakkan Lea kembali ke dalam box. Sebab ia belum mandi dan hendak melakukan hal tersebut.
"Mama mandi dulu ya."
Darriel diam.
"Tunggu disini!" ujar Lea.
Ia beranjak menuju ke kamar mandi. Tiba-tiba Vita menelpon. Lea berbalik arah dan mengambil handphone, lalu menjawab panggilan tersebut.
"Iya, Vit."
"Le, gue main dong ke rumah lo. Lagi libur gue dari toko."
Vita membicarakan soal toko online yang ia bangun bersama Nina.
"Ya udah kesini aja, tapi gue mau bawa Darriel dulu ke klinik. Buat pemeriksaan rutin sama nimbang. Mau ikut?"
"Kapan lo perginya?"
"Ya paling setengah jam lagi, mau mandi dulu soalnya."
"Ya udah gue ikut deh." ujar Vita.
"Mau ketempat gue dulu, apa langsung ketemuan disana?" tanya Lea.
"Rumah sakit mana sih?" tanya Vita.
"Ke klinik doang."
"Dimana alamat kliniknya?" tanya Vita lagi. Lea lalu menyebutkan alamat klinik tersebut.
"Kalau nggak kesini aja, Vit. Biar bareng aja naik mobil dari sini. Atau kalau lo mau nunggu dirumah gue, tunggu aja. Mas Daniel nggak ada ini koq."
"Gue ikut aja deh, Le. Biar sekalian kita jalan gitu."
"Ya udah lo kesini dulu deh." ujar Lea.
"Oke, gue OTW ya." ujar Vita.
"Sip, kalau nanti gue belum jawab tunggu aja dulu di pos sekuriti. Gue mau mandi soalnya."
__ADS_1
"Oke."
Maka Vita pun akhirnya bergerak, sedang Lea pergi mandi. Darriel sendiri tentu saja meredup matanya dan tertidur. Karena saat digendong Lea tadi, ia sudah mendapatkan ASI.