Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Roasting


__ADS_3

Lea senyum-senyum sendiri di sepanjang perjalanan pulang. Hal tersebut membuat Daniel merasa heran.


"Kamu kenapa sih?" tanya Daniel kemudian.


"Richie." ujar Lea sambil terkekeh.


Tampak ia sudah tidak bisa lagi menahan tawanya tersebut. Daniel pun jadi ikut terbahak.


"Kayak gimana gitu ya, kesannya." ujar Daniel.


"Kenapa sih, ayah dipanggil kayak gitu. Kocak tau mas. Tampilan Christ Hemsworth, panggilan imut kayak muka artis Korea."


"Hahaha." Daniel kembali tertawa.


"Kalau kayak artis Korea mah cocok-cocok aja ya di panggil dengan panggilan imut. Kayak Jungkook dipanggil Kookie, imut. Cute gitu mukanya. Atau Kim Bum deh dikasih panggilan imut, masih pantes. Lah ini Richard, perawakan kayak mandor proyek, panggilan Richie. Kayak minta di gebuk pake gorong-gorong tau nggak."


"Hahaha."


Lea terbahak-bahak mendengar perkataan suaminya itu, begitu pula dengan Daniel sendiri.


"Temen-temen sekolah kalian tau nggak, kalau ayah di panggil gitu?"


"Tadinya nggak tau, akhirnya tau. Gara-gara mami ada datang ke sekolah, pas kita selesai tawuran. Richard kan vokal tuh orangnya, provokator. Dimana ada yang sok hebat, disitu dia ngomporin buat menyerang."


"Terus berantem?" tanya Lea.


"Iya, tawuran sama anak SMA lain. Pas mami datang, mami marahin dia depan anak-anak."


"Pake nama Richie?" tanya Lea lagi.


"Iya, satu sekolah ngakak. Nggak lama anak-anak cewek pada manggil dia, Ichie."


"Hahaha."


Lea kembali terpingkal-pingkal. Sampai-sampai ia memegang perutnya sendiri karena takut bayinya kenapa-kenapa.


"Ichie mas?. Hahaha."


"Iya Ichie, ngeselin kan?. Kayak apa gitu, kayak minta di keroyok masal tau nggak."


"Hahaha." Keduanya kembali tertawa.


"Terus, ayah kesel nggak dipanggil gitu?"


"Beh, Richard benci banget tuh. Sampe nggak negur mami sebulan."


"Oh ya?"


"Iya, karena kan gara-gara mami seisi sekolah jadi tau nama panggilan dia."


"Tapi kan ayah tuh ganteng banget, mas. Mungkin di masa itu cocok-cocok aja kali, dipanggil begitu. Kayak Azka anaknya om Deddy, badan atletis panggilannya Acha."


"Sumpah, Richard tuh emang ganteng tapi nggak ada imut-imutnya sama sekali. Tingkah dia itu nggak cute, tampang pemimpin sekte sesat gimana sih?"


"Hahaha." Lagi dan Lagi Lea tertawa.


"Kalau kayak Azka kan, masih ada sisi cute nya. Walau badannya atletis, tinggi, ganteng. Masih ada manis-manisnya gitu. Jadi kalau dipanggil pake nama kecil tuh, masih pantes, innocent gitu. Richard tuh sama sekali nggak ada, ganteng dan pentolan, udah. Sangar aja bawaannya."


Lea berusaha menahan tawa, ia hanya mesem-mesem kali ini. Karena rahangnya sudah cukup sakit sejak tadi.


"Richard tuh kalau boneka, yang lain boneka beruang, dia boneka santet."

__ADS_1


"Hahaha."


"Hahaha."


Lea menyerah dan membuka kembali rahangnya dengan tawa.


"Mas kamu parah banget, temen sendiri loh."


"Parahan kamu, bapak sendiri di roasting."


"Hahaha."


"Hahaha."


Mereka tak henti-hentinya tertawa. Pada faktanya Richard masih memiliki sisi cute dalam perawakan dan tampangnya. Hanya saja Daniel sangat suka meroasting temannya yang satu itu.


Karena image suka berkelahi sudah melekat dalam diri Richard, sehingga segala panggilan imut terasa tak pantas baginya.


"Dert."


"Dert."


Sebuah panggilan masuk ke handphone Daniel.


"Telpon tuh mas."


"Iya, Ichie yang nelpon." ujar Daniel.


Lea mengatup mulutnya sambil menahan tawa, meski tak berhasil banyak. Entah mengapa nama tersebut menghadirkan kelucuan tersendiri di benaknya.


"Hallo, Ichie." ujar Daniel sambil menahan tawa. Sementara Lea sudah terkekeh.


"Bangsat." jawab Richard sewot.


"Hahaha."


"Iya, abisnya tadi kunci mobil kita nyatu. Gue ngambil random aja. Pas gue pencet, eh mobil lo yang kebuka."


"Emang anak Firaun." ujar Richard kemudian. Kali ini Daniel terbahak, saling pakai mobil adalah hal biasa dalam persahabatan mereka.


"Lo lagi dimana sih?" tanya Richard lagi.


"Masih di jalan."


"Lea mana?"


"Ada nih, masih ngetawain lo soal Richie."


"Bangsat." Richard berujar sambil tertawa.


"Kita abis ngerosting lo tadi."


"Lo emang suami menyesatkan, Dan. Eh Lea, durhaka kamu ya jadi anak."


Richard berujar pada Lea. Kebetulan handphone tersebut load speaker nya memang sengaja di aktifkan. Hingga Lea pun bisa mendengar suara ayahnya tersebut.


"Ayah Ichie koq marah." ujar Lea sambil tertawa.


"Heh, wah nggak bener nih." ujar Richard.


Daniel dan Lea pun tertawa-tawa, sementara Richard masih sewot meski ia juga ikut tertawa.

__ADS_1


***


Di hari yang sama, Ariana tengah berjalan-jalan di sebuah pusat penjualan barang-barang antik. Dia ingin mencari beberapa bahan untuk properti fotografi ala vintage, yang sedang ia kerjakan.


Ariana memang menyukai bidang fotografi, ia juga tergabung dalam komunitas fotografer muda dan cukup produktif dalam menghasilkan karya.


"Pak ini berapa?"


Ariana menunjuk ke sebuah lentera vintage yang penggunaannya sempat marak, ketika listrik belum masuk ke daerah-daerah tertentu di negri ini.


"Ini 120 ribu neng." ujar si penjual.


"Nggak 100 ribu aja pak?" Ariana mencoba menawar.


"110 ya." ujar si penjual lagi.


"100 pas aja ya pak, uangnya cuma segini."


"Ya udah, mau berapa banyak?"


"Mau satu aja pak." jawab Ariana.


"Ok."


Penjual barang antik dan jadul tersebut mulai membungkus apa yang dibeli oleh Ariana. Sementara Ariana masih melihat kesana-kemari.


"Buuuk." Tiba-tiba bahunya menabrak seseorang.


Ya, seorang pemuda tampan dengan kamera yang talinya digantungkan pada leher. Tampaknya pemuda itu juga sama dengannya, yakni memiliki hobi fotografi.


"Kayak pernah liat deh?"


Ariana berbicara pada pemuda itu tanpa rasa malu sedikitpun. Karena ia memang tipikal perempuan yang sedikit bocor dan ceplas-ceplos. Pemuda itu memperhatikan dirinya sambil mengerutkan kening.


"Lo mantannya Lea temen gue kan?" tanya Ariana.


Pemuda itu pun tersentak.


"Lo kenal Lea?" Ia balik melempar pertanyaan.


"Iya gue sekelas sama Lea, kenalin gue Ariana."


Ariana memperkenalkan diri tanpa mengulurkan tangan. Agar jika tidak ditanggapi, maka ia tak harus berada dalam situasi yang awkward. Tanpa di duga si pemuda tertawa. Meski awalnya ia sempat melirik ke arah tangan Ariana dan bertanya dalam hati, mengapa Ariana tak mengulurkannya.


"Hans." ujarnya kemudian.


"Gue tau koq nama lo, cuma gue lupa aja." seloroh Ariana.


"Lo tau gue mantannya Lea dari mana?" tanya Hans kemudian.


"Dari mana ya?. Kayak pernah lihat foto lo, apa ketemu langsung gitu. Tau ah lupa gue, yang jelas gue tau lo mantannya Lea." ujar Ariana lagi.


Hans pun kian tertawa.


"Neng ini lampunya." ujar si penjual seraya menyerahkan barang tersebut pada Ariana.


"Oh iya pak." Ariana pun membayar.


"Lo suka barang beginian juga?" Lagi-lagi Hans bertanya.


"Iya, buat properti foto." jawabnya kemudian.

__ADS_1


"Oh ya, suka fotografi?"


Ariana mengangguk seraya tersenyum. Tanpa sadar mereka kemudian berjalan ke suatu arah sambil memperbincangkan soal fotografi.


__ADS_2