
"Wah parah."
Ellio berkata pada Richard, ketika sahabatnya itu bercerita perihal ibunya yang mendadak menelpon. Juga tentang Richard yang berkata jika ia akan menikahi Ellio.
"Ntar nih pikiran mami itu bakal kemana-mana. Gue lagi yang di semprot." ujar Ellio.
Richard tertawa, begitu pula dengan Daniel yang juga ada di dekat mereka.
"Sekali-sekali bantu temen."
Seloroh Richard sambil menggigit ayam goreng ala Korea, yang mereka beli beberapa saat lalu.
"Itu mah elu nyuruh gue di geprek sama emak lo." Ellio makin sewot.
Dengan tanpa dosa Richard serta Daniel terus tertawa-tawa. Sementara Ellio menggigit paha ayam dengan kesal.
***
Di suatu tempat.
"Bro, masih sehat?. Gue harus buat perhitungan sama lo. Lo dan lembaga bangsat lo itu udah bikin bini gue minta cerai dari gue. Sekarang dia pergi dari rumah dan nggak mau kembali."
Sebuah pesan singkat di terima oleh Arsenio di handphonenya. Ini bukan pertama kali terjadi. Setiap kali ia dan teamnya berhasil menyelamatkan seorang perempuan dari kekerasan dalam rumah tangga, atau yang di perlakukan kasar oleh pacar serta sugar daddy nya. Pastilah ia mendapat chat bernada ancaman seperti itu. Dan hari ini ia mendapatkannya lagi.
"Arsen, papa mau bicara sama kamu."
Reynald akhirnya berujar pada Arsenio, setelah sepanjang beberapa kilometer mereka hanya diam saja. Saat ini keduanya tengah berada di dalam mobil yang menuju ke kampus. Arsen sendiri masih diam seperti tadi. Ia memang tidak terlalu welcome pada ayahnya itu sejak awal.
"Kamu ngapain sih bikin lembaga yang ngurusin hidup orang?. Papa liat notifikasi pesan di handphone kamu itu ancaman semua loh isinya. Papa baca dari tampilan layar depan, dan itu parah-parah banget."
"Lagian ngapain pake dibaca segala?. Udah tau itu handphone punya siapa."
"Papa ini ngasih tau kamu. Bahwa ancaman yang datang ke kamu itu nggak main-main. Kamu berurusan dengan orang-orang berbahaya. Sugar daddy dari cewek-cewek yang katanya kamu tolong itu. Mereka semua punya power. Bisa aja mereka mencelakakan kamu "
"Arsen cuma niat nolong. Lembaga itu bukan cuma Arsen yang mendirikan. Tapi teman-teman Arsen yang lain juga banyak. Laki-laki, perempuan, dari segala usia, latar belakang pendidikan, berbagai pekerjaan, tergabung disitu. Kami cuma saling membantu satu sama lain. Karena nggak ada satupun lembaga pemerintah, yang memperhatikan kekerasan terhadap perempuan sebagaimana yang lembaga kami lakukan."
"Iya, tapi ketua pelaksananya kamu kan?. Kamu yang di buru orang."
"Ya apa salahnya kalau Arsen peduli?"
"Arsen, masalahnya kamu itu sakit."
Arsen terdiam. Kalau kamu nggak sakit, normal seperti kebanyakan orang. Papa nggak masalah. Misalkan ada orang yang ngajak kamu berantem, papa nggak akan terlalu kepikiran. Kamu pasti bisa melawan. Tapi dengan keadaan kamu kayak gini."
"Arsen bisa mati maksudnya?" Arsen melontarkan pertanyaan yang membuat Reynald seketika terdiam.
"Sekarang apa salah kalau papa mengkhawatirkan kamu?"
__ADS_1
Reynald menatap puteranya itu dalam-dalam.
"Jangan selalu merasa kalau hidup ini cuma tentang kamu. Nggak bener."
Mobil berhenti tepat di depan kampus, Arsen membuka pintu lalu keluar membantingnya.
"Braaak."
Reynald terkejut, namun ia memejamkan mata sejenak sambil menarik nafas. Ia terdiam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya ia meninggalkan tempat itu.
***
Di lain tempat, Lea menjalani kuliah online dengan begitu fokus. Daniel yang saat ini tengah berada di rumah merasa bosan sendirian di kamar atas. Seluruh pekerjaan kantor sudah ia kerjakan, dan sisanya adalah urusan Marsha serta karyawan lain.
"Lele."
Daniel memanggil Lea, ketika telah turun ke lantai bawah. Namun Lea tak menjawab, ia masih sibuk bertanya ini dan itu pada dosennya yang mengadakan kuliah online.
"Lele."
Daniel membuka pintu kamar tempat dimana Lea berada, dan dihujani Lea dengan tatapan yang tajam.
"Orang lagi belajar juga." gerutu Lea.
Daniel kemudian menutup kembali pintu itu, namun ia tiba-tiba tersenyum jahil. Daniel kembali membuka sedikit pintu kamar Lea secara perlahan. Tak lama ia ke atas, lalu kembali dengan sebuah mainan berbentuk tikus.
"Kreeek."
"Kreeek."
Daniel memutar tuas di bagian bawah dari mainan tersebut, kemudian membiarkannya berjalan menuju Lea.
"Aaaaaa."
Terdengar teriakan Lea tak lama kemudian. Ia pun mendadak mengaktifkan mode mute pada suara di laptopnya. Agar dosen dan mahasiswa lain yang mengikuti perkuliahan online tak mendengar keributan yang terjadi.
"Hahaha." Daniel menertawainya sambil menongolkan kepala di pintu.
"Eh mas, sampe ini ajak berojol mendadak gara-gara kamu. Awas kamu ya, aku suruh ngasuh anak kita siang-malam."
Lea menggerutu kesal, ia kini telah menyadari jika apa yang tadi merayap dan menyentuh bagian belakang tubuhnya adalah sebuah mainan. Ia tadi duduk di lantai sebab posisi tersebut di rasa sangat nyaman. Sampai akhirnya setan Daniel muncul dan menjahili.
"Sana keluar ah, orang masih lama juga belajarnya."
Lea mengeluarkan kepala Daniel, lalu menutup pintu. Kemudian ia kembali mengikuti mata kuliah. Untuk beberapa saat Lea tenang, namun tak lama setelah itu tiba-tiba Daniel berteriak dari depan pintu.
"Lele, mau ayam goreng madu Korea nggak?"
__ADS_1
"Iya mas, boleh."
Daniel memesan dari handphone, melalui laman aplikasi ojek online. Sementara Lea kembali mengikuti perkuliahan.
Beberapa menit berlalu.
"Le, kalau kita order es coklat atau susu mau nggak?"
"Mas Daniel berisik banget ih." gerutu Lea dengan suara pelan. Tapi kemudian ia pun menjawab.
"Mau maaas."
Daniel kembali memesan, dan Lea terus berkutat dengan urusannya.
"Le, tambah martabak enak kali ya?"
"Apa corndog?"
"Kalau Pizza gimana?
Dengan penuh kekesalan Lea kembali menekan tombol mute di laptopnya, lalu keluar dari kamar dan menghampiri Daniel.
"Mas berisik banget sih. Aku lagi butuh konsentrasi tau nggak?"
"Hehehe." Daniel tersenyum jahil.
Lea kemudian mendorong pria itu ke lift.
"Loh aku mau disuruh kemana?" tanya Daniel heran.
"Mas pesan makanan kan tadi?"
"Iya." jawab Daniel.
"Itu makanan udah jalan kan?"
"Ada yang udah jalan."
"Ya udah mas nunggu aja di bawah, di pos security. Ngapain kek disana, ngerokok kek, ngobrol gitu. Yang penting jangan berisik disini."
"Ih kamu mau mau ngusir aku dari rumah aku ya?" ujar Daniel sengit.
"Iya, pergi sana!" ujar Lea sewot. Daniel menahan tawa.
"Kamu jahat Lele. Kamu adalah istri dari sinetron azab ikan terbang. Kamu menguasai seluruh harta aku dan mengusir aku dari rumah yang ku bangun dengan susah payah."
"Sana!"
__ADS_1
Lea menutup pintu lift, sementara Daniel kini tertawa-tawa sambil menuju ke bawah. Ia senang karena berhasil menjahili Lea.