
"Dan, gue mau bicara sama lo."
Richard masuk ke ruangan Daniel pada keesokan harinya. Tepat di sore hari menjelang jam pulang kantor.
"Mau ngomong apaan lo, serius amat kayak mau nembak." Daniel berseloroh.
"Iya, gue mau menyatakan cinta sama lo." ujar Richard. Tak lama Ellio pun ikut masuk.
"Nimbrung aja Karnadi." seloroh Richard pada Ellio.
"Bukannya kerja." lanjut pria itu kemudian.
"Eh, kantor gue mah udah pulang dari tadi." ujarnya kemudian.
"Emang kantor lo berdua, kerja rodi." lanjut Ellio.
Richard hanya tertawa, diikuti tawa Daniel.
"Lo mau ngomong apaan sih?" tanya Daniel pada Richard.
Richard lalu menarik nafas dan mengumpulkan keberanian. Sementara Daniel dan Ellio kompak menatap sahabat mereka tersebut.
"Nyokap lo disini." ujar Richard kemudian.
Ellio seketika teringat, ia bahkan lupa memberitahu Daniel bahwa ia pernah bertemu dengan ibu dari sahabatnya itu.
"Iya, dia juga nyamperin gue tempo hari." timpal Ellio.
Daniel kini menatap Richard dan Ellio secara bergantian.
"Mau ngapain dia disini?" tanya Daniel dengan nada yang terdengar sinis.
"Ya, mungkin mau menemui elo." ujar Richard.
Daniel makin sinis dengan menarik salah satu sudut bibirnya.
"Ngapain juga nemuin gue, nggak penting."
Daniel berujar lalu membereskan laptop yang masih ada di atas meja.
"Dia nyesel, Dan." ujar Richard lagi.
"Telat." jawab Daniel.
"Temuilah bro, walau sebentar." Ellio menimpali.
Daniel diam, sejatinya ia sangat merindukan ibunya tersebut. Namun rasa kemarahan yang ia miliki lebih besar dari segalanya.
"Nggak." Daniel menegakkan bendera arogansinya tinggi-tinggi.
__ADS_1
"Gue nggak mau nemuin dia, nggak akan pernah." lanjutnya kemudian.
***
"Kamu nggak ngerti apa yang aku alami Lea, ini nggak mudah buat aku."
Daniel berkata dengan nada setengah berteriak pada Lea, ketika akhirnya ia pulang dan menyinggung permasalahan mengenai sang ibu.
Tadi di kantor, Richard memberitahu jika ibu Daniel menemui Lea dan Lea berharap agar Richard bisa membujuk Daniel. Supaya Daniel mau menemui ibunya tersebut.
"Mas, ibu mas itu udah menyesal dan berharap banget bisa ketemu sama mas. Meskipun dia nggak mengatakan hal itu secara langsung ke aku."
"Cukup, Le. Rumah tangga kita nggak ada masalah. Jangan sampai gara-gara dia, kita jadi berantem beneran." ujar Daniel.
"Dia udah menghancurkan sebagian hidup aku, dan aku nggak mau dia juga mengacaukan rumah tangga aku. Aku nggak mau kita membahas hal ini lagi, aku harap kamu ngerti."
Lea diam, ia juga sejatinya tak ingin ribut dengan Daniel.
"Ya udah mas, aku udah ngomong apa yang seharusnya aku omongin sama mas. Dia nggak lama ada disini, paling beberapa hari lagi." ujar Lea.
Daniel diam. Perempuan itu lalu masuk ke dalam kamar dan meninggalkan Daniel sendirian.
***
Sementara di lain pihak, dalam waktu yang relatif singkat polisi berhasil membekuk pelaku pendorong sugar baby dari balkon apartemen.
Daniel, Richard, dan Ellio sendiri mengenal pria itu meski tak begitu dekat. Ia kerapkali mendatangi pesta yang di gelar oleh para pengusaha di circle pertemanan Daniel, Richard, dan juga Ellio.
Penangkapan Jeff sendiri diwarnai caci maki oleh orang yang melihat. Pria itu diketahui bersembuyi di suatu tempat dan akhirnya berhasil di bekuk.
Media pemberitaan pun ikut menyoroti dan menyiarkan hal tersebut. Hingga berita itu makin membuat SB Agency terdesak dan para tersangkanya semakin tertekan.
Pasalnya korban dan pelaku masih erat kaitannya, dengan agency yang berkedok sebagai sekolah model tersebut.
Publik semakin heboh dibuatnya. Berbagai petisi bermunculan untuk memberatkan hukuman yang akan diterima oleh mami Bianca beserta karyawannya nanti.
Netizen juga ramai-ramai mendesak pemerintah, agar segera menyelidiki kasus ini sampai ke para pejabat. Karena netizen yakin bisnis sebesar itu pasti melibatkan orang-orang yang bekerja di pemerintahan.
"Heboh banget, anjir."
Maya teman Sharon yang menonton tayangan tersebut di sosial media bersama Tasya, kini mengomentari.
"Iya, padahal menurut gue salah cewek-ceweknya juga. Kenapa mau cari jalan pintas dengan cara kayak gitu." timpal Tasya.
"Iya, padahal hidup itu pilihan." ujar Maya.
"Bener, lagian dari awal ngapain coba mereka nyari sugar daddy. Giliran teraniaya, sakit hati, jadi korban kekerasan, baru deh merasa sok paling tersakiti. Padahal mah kalau nggak ada kasus kayak gitu, gue rasa mereka lanjut." ujar Tasya lagi.
"Mmm bukan lagi, gue rasa makin kebuka lebar tuh kaki. Biar dihamili sama para sugar daddy nya, supaya bisa minta warisan." tukas Maya.
__ADS_1
"Cewek-cewek kayak gitu mah, cewek-cewek pemalas. Maunya cari duit instan. Giliran kayak gini jadi nyusahin semua orang." lanjutnya kemudian.
Maya benar-benar mengeluarkan pendapatnya kali ini. Ia geram pada media yang terus-menerus menyiarkan pemberitaan mengenai korban SB Agency.
"Gue setuju." ujar Tasya.
"Iya dong, coba aja mereka ketemu sugar daddy yang bikin nyaman. Pasti adem ayem, hidup dalam kemalasan. Berhubung dapat yang salah aja, jadi berkoar ke publik." Maya kembali berujar.
"Emang dasar lon..." ujar Tasya
"Tong." timpal Maya
Lalu keduanya pun tertawa-tawa.
"Mending kita nonton drakor aja, muak gue liat berita tentang beginian. Mereka sendiri yang goblok, mereka sendiri yang cari masalah dalam hidup. Eh, hebohnya sejagat raya." ujar Maya lagi.
Sesaat kemudian mereka beralih situs dan mencari drama Korea yang tengah happening.
***
Waktu berlalu.
Sharon tengah berjalan membeli sesuatu di dekat kediamannya. Saat itu jalanan sepi, karena hujan deras baru saja berhenti.
Gadis itu mengambil handphone dari dalam saku dan mencoba untuk menelpon salah satu temannya.
Secara mengejutkan tiba-tiba ada mobil yang berhenti tepat di sisi gadis itu. Sharon cuek saja, ia pikir itu adalah orang yang sedang hendak parkir karena suatu sebab.
Gadis itu terus berjalan, namun kemudian tiba-tiba ada seseorang yang membekap mulutnya dengan sapu tangan. Sharon mencoba memberontak selama sekitar lima menit. Tak lama kemudian kesadaran gadis itu pun mulai menghilang.
***
"Sharon kemana dah?"
Maya bertanya pada Tasya, setelah beberapa jam mereka menghabiskan waktu dengan menonton drama Korea dirumah Tasya.
"Iya tumben kalem hari ini. Biasa ngechat kita udah kayak pacar posesif anjir." ujar Tasya.
"Apa dia ketiduran ya?" tanya Maya.
"Iya kali."
"Tapi nggak mungkin dia nggak kesini, orang udah janji." ujar Maya.
"Coba aja kita tunggu bentar lagi. Barangkali lagi di jalan." timpal Tasya.
"Iya mungkin ya " ujar Maya lagi.
Kedua sahabat itu pun sama-sama terdiam memperhatikan layar laptop. Tak lama Maya mencari drama Korea baru dan mereka kembali menonton sambil menunggu kedatangan Sharon.
__ADS_1