Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Minggu Tenang


__ADS_3

"Bro, ntar malem yuk. Udah lama nggak."


Richard mendadak menjadi setan di pagi buta. Daniel dan Ellio yang baru beberapa saat tiba di kantor itu tau, jika yang dimaksud oleh Richard adalah minum minuman beralkohol di sebuah bar.


Memang akhir-akhir ini mereka sangat jarang melakukan hal tersebut. Lantaran sibuk oleh pekerjaan dan urusan masing-masing.


"Gue sekarang nggak bisa pergi kemana-mana terlalu lama." ujar Daniel.


"Lea tuh udah mulai sering kontraksi." lanjutnya lagi.


"Oh iya." ujar Richard dan Ellio di waktu yang nyaris bersamaan.


"Masa sebagai bapak, ntar anak gue lahir, gue nggak menyaksikan. Gara-gara mabok." Lagi-lagi Daniel berujar.


"Ya udalah, nggak jadi deh." tukas Richard.


"Kita barbequean aja gimana?" Ellio memberi ide.


"Boleh tuh, mau dimana?" tanya Richard.


"Ya di rumah elu lah. Halaman rumah lu yang gede. Kan bisa minum juga dikit, nggak sampe mabok. Sekalian bisa ngawasin Lea juga."


"Gimana, bro?" tanya Richard pada Daniel.


"Ya udah, terserah lo aja."


"Ntar malem?" tanya Richard.


"Ok." jawab Daniel dan Ellio serentak.


"Berarti kita belanja dulu, pulang dari sini." ujar Ellio.


"Ok." jawab Daniel dan Richard di waktu yang nyaris bersamaan.


***


"Barbeque mas?"


Lea bertanya, ketika Daniel menelpon dan memberitahu rencanannya dengan Richard serta Ellio malam ini.


"Iya, nanti kamu minta antar supir aja langsung ke rumah Richard."


"Oh ok deh." jawab Lea.


"Tapi bahan-bahannya emang udah ada mas?" tanya Lea lagi.


"Ntar biar aku sama Richard dan Ellio aja yang beli." tukas Daniel.


"Ok deh, kak Dian sama Marsha di ajak kan?"


"Iya di ajak, nanti mereka nyusul."


"Ok deh mas, ntar aku jalan kalau udah nggak mager." ujar Lea.


"Ok, aku kerja lagi ya."


"Iya mas."


"Bye Lele."


"Bye suami Lele."


Daniel tertawa lalu menyudahi telpon tersebut.


***


Sore harinya setelah pulang kerja, ia dan Richard, serta Ellio pergi ke sebuah pusat perbelanjaan.

__ADS_1


"Lebih enak yang ini, El."


Daniel menunjuk sebuah bumbu barbeque instan dengan merk tertentu.


"Enakan yang ini, itu kurang rasanya."


Ellio membantah seraya menunjukkan bumbu barbeque dengan lain merk.


"Enakan ini." Daniel tetap bersikeras.


"Nggak ah, yang ini aja." Ellio tidak mau kalah.


"Ini lebih mantap rasanya."


"Ini yang lebih baik."


"Woi, woi." Richard ikut-ikutan bersuara.


"Denger ya, Tom, Holland"


Richard melirik ke arah Daniel maupun Ellio secara bergantian.


"Ambil aja dua-duanya, ngapain ribut?. Orang harganya juga cuma dua puluh ribu. Debat kayak emak-emak rebutan minyak goreng." gerutunya kemudian.


Daniel dan Ellio saling melirik satu sama lain. Lalu mereka meletakkan saos barbeque tersebut ke dalam keranjang.


"Ribut lagi, gue nikahkan lo berdua." sambung Richard.


Tak lama ketiganya pun terlihat kesana-kemari sambil memilih bahan.


***


Di kediaman Richard, Dian dan Marsha tiba berbarengan. Mereka membawa makanan instan berupa keripik kentang, nacos dan juga minuman cola. Sebagai pelengkap pesta barbeque nanti malam.


"Yang lain belum pada datang, mbak?" tanya Dian pada salah satu asisten rumah tangga.


Maka Dian dan juga Marsha naik ke atas, menuju ke kamar yang di tempati oleh Lea.


"Kreeek."


Dian membuka pintu, kebetulan tak di kunci oleh Lea.


"Astaga, Lea."


Kedua perempuan itu berujar, tatkala melihat Lea tidur sambil ngorok.


"Kayak paus." seloroh Dian lagi.


Tak lama Lea pun terbangun, dan menyadari jika ada orang lain di dekat dirinya.


"Hai kak." ujarnya menyapa, lalu kembali memejamkan mata.


Ia hanya berpindah dari sisi kanan ke sisi kiri. Sisanya, ia tetaplah malas. Dian dan Marsha hanya tertawa menyaksikan tingkah istri Daniel tersebut.


***


Malam hari Lea mendengar suara berisik dari halaman. Ada yang tertawa-tawa dan ada pula yang berbincang. Lea bangun, ia melirik jam dan terkejut. Ternyata ia telah tidur selama itu.


Maka segera ia mencuci muka, lalu menuju ke halaman dalam keadaan sudah rapi. Tadinya ia kusut seperti orang yang tak menyisir rambut selama tiga hari.


"Mas." Lea muncul di dekat Daniel yang tengah menunggu daging matang.


"Udah bangun kamu?" tanya Daniel.


"Iya." jawab Lea seraya mengambil jus jeruk yang ada di meja dekat suaminya itu.


"Sini Le, asap." Marsha memanggil Lea.

__ADS_1


"Sana aja gih, asap." perintah Daniel.


Maka Lea pun pergi menjauh ke arah Marsha dan juga Ellio, yang tengah menyiapkan salad. Sedang Richard serta Dian tampak sedang meracik minuman, serta menata dessert di lain meja.


Malam itu pesta barbeque berlangsung penuh kesenangan. Apalagi untuk ibu hamil seperti Lea yang sangat suka makan. Baginya saat ini, kebahagiaan tertinggi itu adalah makan. Ketika perutnya terasa kenyang, maka semua masalah seolah menjadi kecil dan tak penting untuk di pusingkan.


"Lele, aaa'k." Daniel menyuapi Lea dengan daging yang baru saja matang.


"Mmm, mas. Haaah, enak. Tapi vanash, haaah."


Daniel tertawa.


"Juicy kan dagingnya?"


"Banget."


"Aku yang milih." ujar Daniel.


"Gue yang milih." Richard sewot dari tempat duduknya.


Daniel terkekeh.


"Nggak usah gombalin anak gue dengan kebokisan." lanjutnya kemudian.


Daniel dan Ellio beserta yang lainnya tertawa-tawa.


"Mereka berdua itu kerjaannya ribut aja, Le. Nggak ada yang bantuin ayah." ujar Richard lagi.


"Ribut kenapa yah?" tanya Lea masih tertawa.


"Ribut masalah saos lah, kecap lah. Timun yang satu maunya timun Jepang, satunya lagi mau timun arab. Nggak sekalian timun emas?" Richard makin sewot, Daniel dan Ellio kian terbahak. Sementara Dian serta Marsha hampir tersedak karena menahan tawa. Lea sendiri sudah terkekeh sejak tadi.


"Lama-lama atau nikahin nih ntar mereka berdua."


"Uh." Daniel merangkul Ellio dan Ellio mendaratkan kepalanya di dada Daniel dengan mesra.


"Ih jijik mas, om." Lea berteriak, kedua couple dadakan itu kembali tertawa-tawa.


"Lea, aku adalah madu mu." ujar Ellio.


"Lea lalu melempar teman ayahnya itu dengan sendal, ditambah pukulan Marsha. Malam itu mereka tertawa-tawa.


Kemudian acara di lanjutkan dengan bernyanyi bersama. Daniel, Richard dan Ellio memainkan gitar. Sementara Lea, Marsha dan Dian bernyanyi bersama ketiga pria itu.


Karena Daniel, Richard serta Ellio adalah sisa produk jaman dulu. Maka yang mereka bawakan adalah lagu-lagu jaman dulu. Salah satunya lagu dari dewa 19 yang berjudul risalah hati.


Hidupku tanpa cintamu.


Bagai malam tanpa bintang.


Cintaku tanpa sambutmu


Bagai panas tanpa hujan.


Jiwaku berbisik lirih.


Ku harus milikimu.


Sebelum kau ludahi aku.


Sebelum kau robek hatiku.


Aku bisa membuatmu


Jatuh cinta kepadaku meski


Kau tak cinta.

__ADS_1


__ADS_2