
"Dan."
Richard memanggil Daniel di hampir sepertiga malam yang sunyi. Kebetulan ia belum terlalu nyenyak tertidur. Maka ia pun keluar dan menghampiri Richard yang berada di muka pintu kamar.
"Kenapa, bro?" tanya nya kemudian.
"Ellio badannya panas banget." ujar Richard dengan mimik wajah yang begitu khawatir.
"Hah, koq bisa?" tanya Daniel heran. Mereka berdua pun kini menyambangi kamar Ellio.
"Kreeek."
Pintu kamar Ellio dibuka. Tampak sahabat mereka itu tengah menggigil, namun mengeluarkan banyak keringat. Daniel mendekat dan meraba kening Ellio.
"Astaga, El. Panas banget ini."
"Makanya gue panggil lo, apa kita bawa ke rumah sakit aja?" tanya Richard.
"Lusa nih anak nikah, tapi."
"Ya gimana kalau sakit kayak gini." ujar Richard lagi.
"Ya udah, kita bawa sekarang." Daniel mengambil keputusan secara cepat.
Maka mereka pun memanggil sekuriti dan supir untuk dimintai tolong mengangkat Ellio. Lea dan asisten rumah tangga terbangun, sebab mereka mendengar suara riuh. Mereka kaget mengetahui Ellio sakit, sebab semalam masih bercanda-canda di luar sambil makan.
"Le kamu dirumah dulu ya. Aku nanti pulang koq." ujar Daniel.
"Iya mas, hati-hati di jalan." ucap Lea.
Daniel mengangguk, lalu ia dan Richard pun pergi meninggalkan rumah dengan membawa Ellio. Richard menghimbau agar seisi rumah jangan lupa mengunci pintu pagar dan pintu-pintu lain. Ia juga menitip pada sekuriti kompleks untuk turut serta memperhatikan keamanan rumahnya.
Setibanya di rumah sakit, Ellio langsung di periksa dan ditangani. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Daniel dan Richard diperbolehkan menjenguk sahabat mereka itu.
Dokter mengatakan jika Ellio mengalami stress dan tekanan, serta terlalu banyak mengkonsumsi makanan pedas.
"Bro."
Daniel dan Richard masuk ke ruangan Ellio. Sahabat mereka itu kini sudah bisa tersenyum. Panas ditubuhnya sudah cukup mereda meski terlihat masih agak gamang.
"Ada aja kan masalahnya kalau mau nikah, makanya hati-hati. Makan tuh dijaga."
Daniel mulai mengocehi Ellio.
"Iya, maaf. Lagian gue tertekan mikirin pernikahan besok, udah dari beberapa hari lalu gue kepikiran. Gimana caranya ngadepin Marsha kalau dia sedih masalah keluarganya. Gimana kalau gue salah pengucapan dan lain-lain. Makanya gue lari ke makanan pedes, maksud gue biar lebih rileks gitu. Eh nggak taunya malah sakit begini."
"Udah, lo sekarang istirahat." ujar Richard.
__ADS_1
"Biar mendingan dan besok acaranya bisa lancar." lanjutnya kemudian.
Ellio mengangguk, lalu Ellio memejamkan mata. Sementara hari perlahan pagi, Daniel pamit pada Richard untuk kembali ke rumah. Sedang Richard menjaga Ellio.
***
"Gimana mas?" tanya Lea pada Daniel ketika suaminya itu telah pulang ke rumah.
"Kebanyakan makan pedes si Ellio nya, makanya dia sakit. Plus stress dan agak tertekan juga, namanya orang mau nikah."
"Hhhhh." Lea menghela nafas panjang.
"Pikiran aku udah kemana-mana mas, aku pikir om Ellio menderita penyakit serius. Kasihan Marsha kalau acaranya sampai nggak jadi."
Daniel tertawa kecil.
"Lagian Ellio ada-ada aja. Udah tau nggak terlalu kuat makan pedes, malah lari ke makan pedes. Stress mah di bicarakan aturan, bukan malah mencari pelarian."
"Om Ellio kan umur doang tua, kelakuan ABG labil." ucap Lea.
Lagi-lagi Daniel tertawa.
"Oh ya Le, jangan kasih tau Marsha ya. Ntar dia kepikiran. Sakit lagi ntar yang satu itu, mana lagi hamil."
"Nggak mas, nggak bakal aku kasih tau koq. Hari ini tuh teman-teman aku juga bakalan prepare juga di tempatnya dia. Menyiapkan segala sesuatu, dari mulai luluran dan lain-lain."
"Katering, beres mas. Segala perintilan juga udah beres semua koq."
"Good." ucap Daniel.
"Nggak ada lagi kan yang mesti di urusin?" tanya nya kemudian.
"Nggak ada, semua udah siap. Tinggal di awas-awasi aja. Dan mudah-mudahan dari pihak-pihak terkaitnya nggak ada halangan." ucap Lea.
"Bagus deh, abis kita ngurusin ini. Kita urus pernikahan kedua kita." ujar Daniel seraya tersenyum. Lea pun ikut tersenyum.
"Iya mas." ucap perempuan itu.
"Aku udah siapin beberapa contoh dekorasi sih buat kita nanti. Nggak sabar liat Darriel ikut acara nikahan papa sama mamanya." lanjutnya lagi.
Daniel tersenyum, lalu mendekat. Kemudian ia merapatkan tubuh Lea ke tubuhnya. Hingga bagian sensitif mereka saling bersentuhan.
"Nanti abis nikah, kita bikin lagi adeknya Darriel." Daniel berucap lalu mencium bibir Lea sebanyak dua kali.
"Terserah mas aja, yang penting enak." seloroh Lea.
Daniel pun tertawa lalu mereka saling berpelukan.
__ADS_1
"Oh iya mas, ingetin buat ngawasin wedding cake mereka. Soalnya aku takut lupa, takutnya teman-teman aku lupa juga."
"Emang itu bukan dari katering pesannya?" tanya Daniel.
"Ya bukan dong, dari toko kue. Kue nya bagus deh mas."
Lea mengeluarkan handphone dan memperlihatkan foto contoh kue yang ia pilihkan untuk Marsha dan Ellio.
"Iya, bagus." ucap Daniel seraya memperhatikan.
"Ntar kita kuenya yang ada kepala kita gimana, Le?"
"Ada kepala Darriel juga, kepala om Ellio, kepala ayah. Sekalian di print terus di tancep-tancepin." seloroh Lea kemudian.
Mereka kembali tertawa-tawa sambil membayangkan hal tersebut.
"Foto kepala kita di tempelnya ke per kecil mas. Biar bisa goyang ke kanan-kiri." ucap Lea lagi dan lagi-lagi mereka terkekeh.
Tak lama seorang asisten rumah tangga turun dari lantai dua.
"Mbak Lea, itu Darriel udah saya ganti popoknya. Tadi saya dengar dia nangis terus saya ketuk pintu. Karena nggak ada jawaban, jadi saya masuk, soalnya nggak di kunci juga."
"Oh, makasih ya mbak." ucap Lea pada asisten rumah tangga tersebut.
"Sama-sama."
"Sekarang nangis nggak Darriel nya?" tanya Daniel.
"Nggak pak, lagi ketawa-ketawa sendiri."
Daniel dan Lea mengerutkan kening, tak lama mereka pun bergegas ke atas.
"Takutnya demit, Le." ucap Daniel di sela-sela meniti anak tangga.
"Sejak kapan kamu percaya perdemitan?" Lea balik bertanya seraya melangkah.
"Ya kali aja, peliharaan Richard."
Lea terbahak. Setibanya dikamar mereka membuka pintu pelan-pelan. Ternyata Darriel memang tengah tertawa-tawa. Namun itu lantaran ia melihat mainan putar yang digantung di atasnya tengah bergerak.
Mungkin ia mulai menyukai benda tersebut dan masih merasa aneh terhadapnya. Lea dan Daniel saling menatap satu sama lain sambil tersenyum.
"Lucu banget mas." ujar Lea kemudian.
"Iya lucu kayak bapaknya." tukas Daniel dengan kepedean tingkat dewa.
Lea mendaratkan cubitan di lengan suaminya itu. Daniel mengaduh sambil tertawa. Mereka mendekat ke arah Darriel tanpa bersuara. Bayi itu masih fokus dan ingin rasanya Lea menjahili. Tetapi takut senyum dan tawa bayi itu berakhir tangisan.
__ADS_1