
Hanif masih kepikiran pada mobil yang mengantar Nadya ke rumah. Ia juga teringat akan ucapan temannya, jika mobil tersebut hanyalah taksi online. Lebih tepatnya orang kaya raya yang nyambi jadi supir taksi online.
Hal tersebut masuk akal, mengingat di jaman sekarang memang banyak taksi-taksi online dengan mobil yang terbilang mahal.
Ada yang memang iseng atau sekedar mencari viral. Tetapi tetap saja ada yang janggal menurut Hanif.
Kalau mobil itu masih sekelas keluaran brand Jepang. Mau harganya menyentuh 1 milyar pun, masih dapat di terima. Sebab taksi dengan brand silver bird pun menggunakan mobil mewah sebagai sarana transportasinya.
Tapi ini Rolls Royce, dimana bahkan artis pun bisa dihitung jarinya yang punya mobil tersebut. Bagaimana bisa menjelma menjadi sebuah taksi online.
"Apakah orang kaya si pemilik sedemikian isengnya?"
"Mas, mas."
Shela membuyarkan lamunan Hanif. Beruntung ia ingat untuk pulang ke kediaman perempuan muda itu dan bukan pulang kepada Susi. Mengingat ia saat ini tengah berpura-pura ke luar kota.
"Iya." jawab Hanif pada Shela dengan nada yang gelagapan.
"Mas mikirin siapa?. Susi?" tanya Shela setengah ngambek.
"Nggak, aku lagi mikirin tugas kantor." ucap Hanif.
Maka Shela pun pura-pura percaya untuk menarik perhatian.
"Mas Hanif mau Shela bikinin kopi?"
Jurus template pelakornya kembali dipakai.
"Iya." jawab Hanif.
"Gulanya agak banyak ya." lanjutnya kemudian.
"Oke mas."
Shela antusias, kemudian beranjak pergi ke dapur dan membuatkan minuman untuk Hanif. Tak lama ia kembali dengan segelas kopi dan juga senyuman yang manis.
Senyuman yang juga template dan merupakan dari trik dalam menggoda suami orang. Senyuman yang selalu dikira tulus oleh para laki-laki hidung belang, namun sesungguhnya hanya bermaksud untuk mendapatkan uang.
"Nih mas, diminum kopinya." ujar Shela.
"Makasih ya sayang."
Hanif langsung gembira dan lupa pada permasalahannya dengan Nadya. Ia menikmati kopi tersebut sebelum miliknya berdiri dan bersarangnya di liang Shela.
***
"Kanan dikit, Le!"
Lea memindahkan tangannya agak ke kanan.
"Turun bawah dikit!"
Ia menurunkan tangannya agak kebawah.
"Nah iya disitu."
Richard agak meringis ketika sang anak memijat punggung yang bagian belakang.
"Kenapa nggak minta tolong mbak-mbak disini aja yah, kalau emang udah sakit dari semalam?" Lea bertanya pada ayahnya itu.
"Kamu nanyea, Le. Kamu nanyea kenapa ayah nggak minta tolong sama mbak-mbak disini?"
Richard menirukan suara Dilan KW yang belakangan sedang viral di jagat sosial media. Kemudian Lea memukul refleks punggung ayahnya itu, hingga Richard kesakitan.
"Aaaw." selorohnya sambil tertawa.
__ADS_1
"Nyebelin banget." ujar Lea.
Richard makin tertawa-tawa.
"Nggak enak, Le. Mereka tuh masih gadis semua, ada yang udah punya suami di kampung. Masa ayah nyuruh-nyuruh mereka pegang-pegang ayah." jawab pria itu.
"Kan minta tolong, lagian ngapain ayah jadi mikir kotor."
"Namanya berdua dikamar, laki-laki sama perempuan. Misalkan terbawa suasana gimana?. Kalau kamu kan anak ayah, beda sama mereka."
Tak lama Daniel sampai. Ia memang pulang belakangan karena tadi masih banyak pekerjaan.
"Kenapa lu, bro?" tanya Daniel pada mertuanya itu.
"Nggak tau, sakit banget punggung gue yang sebelah kanan." ujar Richard.
"Tua lo." seloroh Daniel kembali keluar. Ia ingin meminta tolong dibuatkan kopi oleh asisten rumah tangga.
"Babi lo emang, kayak lo nggak tua aja." balas Richard.
"Darriel mana, Le?" tanya Daniel pada Lea.
"Tadi dibawa mbak Lita ke halaman belakang." jawab Lea.
Tak lama terdengar suara Darriel tertawa cukup keras. Hingga terdengar ke lantai dua.
"Tuh suaranya." ujar Lea.
"Gede banget, anjir. Kayak Richard kalau lagi ngamuk waktu kecil." ujar Daniel.
Richard tertawa.
"Emang gitu yah?" tanya Lea sambil terus memberi pijatan.
"Nggak, Daniel doang yang mendramatisir." ujar Richard.
Lagi-lagi Richard tertawa.
"Babi." ujarnya kemudian.
"Itu si Marsha masih sakit?" tanya Richard pada Daniel.
"Sakit apa mas?" Lea ikut-ikutan bertanya.
"Kemaren itu katanya sakit perut. Dokter bilang suruh istirahat di rumah." jawab Daniel.
"Kalau lagi hamil tuh emang gitu. Kadang bagian bawah perut rasanya kram banget." ujar Lea.
"Makanya aku bilang, jangan masuk dulu kalau belum sembuh total. Ngeri anaknya kenapa-kenapa." balas Daniel.
Tak lama mbak asisten rumah tangga membawakan kopi Daniel. Sementara Darriel dibawa masuk oleh Lita.
"Nah ada papa." ujar Lita memperlihatkan Darriel pada Daniel. Seketika bayi itu langsung bereaksi dan tertawa dengan antusias.
Darriel membuat gerakan seolah minta disambut, ketika akhirnya Lita membawanya ke atas.
"Ha, ha, ha."
Darriel mengangkat tangan.
"Papa baru mau ngopi." ujar Daniel lalu menyeruput kopinya. Darriel makin tidak sabar dan minta disambut.
"Nggak mau ah papa, males." ujar Daniel dengan nada bercanda.
"Hekheee."
__ADS_1
Darriel langsung merengek dan Daniel kini tertawa.
"Sini, sini, sini!"
Daniel meletakkan gelas kopinya di meja terdekat. Kemudian mengambil Darriel dari tangan Lita.
"Tukang ngamuk." ujar Daniel.
Kemudian Darriel tertawa-tawa. Daniel menggendongnya sambil sesekali tetap menikmati kopi yang telah dibuat. Ketika Daniel minum, anak itu memperhatikan.
"Pengen ya?" ledek Daniel padanya.
"Hokhoaaa."
"Makanya cepet gede, biar kita ngopi bareng." ujar Daniel lagi.
"Heheee."
Daniel lalu mencium kening dan pipi anak itu beberapa kali. Dan Darriel tetap pada mode tertawa-tawa.
"Udah, Le. Makasih ya." ujar Richard kemudian.
Lea menyudahi acara pijat memijat tersebut, lalu pergi ke bawah karena hendak mencuci tangan. Sebelum itu ketika ia melintasi Darriel dan Daniel, ia ada mengulurkan tangannya. Seakan hendak mengambil Darriel dari sang ayah.
Namun reaksi Darriel malah melengos, yang membuat Lea keki lalu berlalu meniggalkan tempat tersebut.
"Dasar anak papa." ujarnya kemudian.
"Hokhoaaa."
"Heheee."
"Anak papa, wuuu." teriak Lea.
Dan lagi-lagi Darriel tertawa.
"Heheee."
Daniel tersenyum lalu mencium pipi Darriel dengan gemas.
"Mandi ya sama papa ya, kamu belum mandi kan?" ujar pria itu.
Seketika Darriel menguap dan matanya mengecil.
"Halah pura-pura kamu mah. Tadi nggak ngantuk." ujar Daniel sambil tertawa.
Lagi-lagi Darriel menguap, kali ini ia mengusap tangannya ke mata.
"Bisa banget, giliran diajak mandi."
Richard keluar dari kamar dan mendekat.
"Darriel sini sama papa." ujar Richard.
Darriel menoleh kemudian tertawa.
"Heheee."
"Heh, kecil-kecil udah bisa akting." seloroh Daniel.
Kemudian Richard mengambil bayi itu dan ditangan sang kakek ia tak jadi mengantuk.
"Emang penuh kepura-puraan kamu." seloroh Daniel sambil tertawa.
"Heheee." jawab Darriel.
__ADS_1
"Tadi mau diajak mandi nggak mau." ujar pria itu lagi.
Richard turut memperhatikan sang cucu sambil tersenyum.