Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Bertemu Lagi (Bonus Part)


__ADS_3

"Pak, ada seseorang yang mau ketemu bapak."


Seorang perawat masuk dan mengatakan hal tersebut kepada Richard.


"Oh ya, siapa?" tanya nya heran.


Richard mengira itu adalah partner bisnisnya. Sebab dari pagi ada beberapa partner bisnis yang sengaja datang menjenguk.


"Perempuan pak, namanya mbak Dian." ujar perawat tersebut.


Richard pun kaget mendengar semua itu.


"Di, Dian?" tanya nya kemudian.


"Iya pak, apa boleh?" Perawat itu balik bertanya.


"Soalnya mbak Dian bilang dia takut kalau langsung masuk aja kesini." lanjutnya lagi.


Richard tak mungkin menolak, sebab ia juga merasa diantara mereka tak ada masalah apa-apa. Ia sudah mengikhlaskan semuanya.


"Ya sudah, suruh saja masuk!" ujar pria itu.


"Baik pak." jawab si perawat.


Tak lama ia pun keluar dan masuklah Dian ke dalam. Jujur jantung Richard berdebar-debar rasanya.


Karena biar bagaimanapun ia pernah menyayangi perempuan itu dan pernah menjalin cinta sampai jauh dengannya. Tentu bukan hal mudah bagi Richard untuk melupakan segala hal yang pernah mereka lalui.


"Mas."


Dian bahkan sudah lupa ia biasa memanggil Richard apa. Tapi itu bukan masalah yang besar bagi Richard. Ia kini sedikit tertegun kala menatap perut Dian yang mulai membesar karena hamil.


"Kamu hamil?" tanya Richard kemudian.


Itulah kata-kata yang pertama kali keluar dari mulutnya.


"Iya mas." jawab Dian seraya mendekat.


"Suami atau pacarmu mana?" tanya Richard lagi. Pria itu menggeser kursi agar Dian bisa duduk.


"Dia nggak ikut, hubungan kami kurang baik akhir-akhir ini." jawab Dian.


"Why?" lagi-lagi Richard melontarkan pertanyaan.


Dian lalu menunduk, seperti ada hal berat yang sengaja ia sembunyikan.


"Ceritanya panjang." ucap perempuan itu.


Richard kemudian menghela nafas, ia tak ingin bertanya lebih lanjut mengenai hal tersebut. Sebab ia tak ingin membuat lawan bicaranya menjadi tidak nyaman.


"Kamu baik-baik aja kan?"


Ia lebih memfokuskan pada keadaan Dian saat ini.


"Iya mas, baik." jawab Dian.


"Mas sendiri gimana?"


Perempuan itu gantian mengajukan pertanyaan.

__ADS_1


"Baik, cuma ada trouble aja sedikit." jawab Richard.


"Jaga kesehatan, mas. Aku nggak mau mas sakit kayak gini."


Ucapan Dian tersebut membuat Richard seperti kembali ke masa lalu. ketempat dimana dulu mereka masih menjalin hubungan. Richard sedikit lupa jika mereka sudah lama bubar.


Tetapi kemudian ia pun tersadar. Ia mengalihkan topik pembicaraan ke arah lain. Obrolan pun mengalir, sampai kemudian terdengar suara pintu yang terbuka.


"Kreeek."


Richard dan Dian serentak menoleh. Ternyata itu adalah Nadya, yang datang tanpa memberitahukan terlebih dahulu.


Dian tau siapa Nadya. Sebab dulu saat masih berhubungan dengan Richard, mereka pernah bertemu.


Dian menilik lagi ke arah pintu, mencari keberadaan suami Nadya. Tetapi Nadya sepertinya datang sendiri dan memang sengaja untuk menemui Richard.


"Sa, saya ganggu ya pak?" tanya Nadya.


"Oh, nggak koq." jawab Richard.


Nadya juga tau pada Dian sebagai pacar Richard dulunya. Tapi belakangan ia juga tau jika mereka sudah tidak bersama lagi. Seketika suasana pun menjadi canggung.


"Aku permisi dulu, mas, mbak. Pacarku udah sampai dan nunggu di luar."


Dian berpura-pura dan Richard tau itu.


"Oke." ujar Richard kemudian.


Ia berusaha melepaskan mantan kekasihnya itu, meski khawatir membiarkannya sendirian. Sebab Dian sedang hamil dan walau tak sempat bercerita, Richard tau jika tengah terjadi hal serius antara Dian dan kekasihnya saat ini.


Dian menghilang dibalik pintu, Richard masih bengong dan Nadya menyadari hal tersebut. Ia tau mungkin di dalam hati Richard masih belum bisa melupakan Dian.


"Maaf ya pak, saya datang di waktu yang tidak tepat. Saya nggak tau kalau dia tadi...."


Richard memotong kata-kata wanita itu. Nadya pun seketika tertunduk dengan wajah yang bersemu merah.


"Nggak koq, pak." dustanya kemudian.


"Cemburu juga nggak apa-apa koq." ujar Richard.


"Koq bapak maksa?" tanya Nadya dengan wajah lugu.


Richard pun lalu tertawa.


"Aku sama Dian itu, udah nggak ada hubungan apa-apa lagi." Richard menjelaskan.


"Aku juga nggak tau kalau dia mau datang. Katanya dia sempat ke rumah dan nanya ke asisten rumah tangga, soal aku dimana." lanjutnya lagi.


Nadya menghela nafas agak dalam.


"Saya percaya aja koq pak. Asal niat bapak ke saya baik dan nggak ada pikiran untuk punya istri lebih dari satu nantinya." ujar wanita itu.


Lagi-lagi Richard tertawa, kali ini makin keras.


"Nad, Nad. Satu aja belum punya, lagi mau mikir punya dua." selorohnya kemudian.


"Ya kali aja, namanya juga pikiran laki-laki." ucap Nadya.


"Saya bukan apa-apa pak. Udah capek di duakan, di tigakan, di selingkuhi. Bagus nggak kena penyakit menular." imbuhnya lagi.

__ADS_1


Richard kali ini tersenyum dan ia memegang tangan Nadya. Nadya ingin memberontak namun tangan Richard lebih kuat. Akhirnya wanita itu pun luluh.


"Begitu kamu cerai dan habis masa idah, aku langsung nikahin kamu Nad."


Nadya panas dingin mendengar janji tersebut.


"Doakan saja semuanya lancar pak." ucapnya.


"Pasti." jawab Richard.


Pria itu lalu tersenyum, dan Nadya pun membalas hal tersebut.


"By the way koq hari ini panggil aku bapak lagi. Bukannya udah panggil aku mas?" goda Richard.


Sontak pertanyaan tersebut langsung membuat pipi Nadya kembali bersemu merah.


"Emang iya?" tanya nya kemudian.


"Perasaan nggak." ujarnya lagi.


Richard menahan senyum, lalu Nadya tersadar jika ia tengah berada dalam kunjungan.


"Oh ya pak, eh mas, eh...."


"Ayo, mau panggil aku apa?" tanya Richard sambil tertawa.


"Apa aja deh, ini aku bawain cake sama roti." ujar Nadya seraya membuka bungkusan yang ia bawa.


Ia mengeluarkan cake slice yang rasanya beraneka ragam.


"Mau yang mana?" tanya nya kemudian.


Richard lalu menunjuk pada red Velvet.


"Ini." ujarnya.


Nadya lalu membuka cake slice tersebut dan mulai menyuapi Richard.


***


Waktu berlalu, Nadya akhirnya pamit. Sebab ia juga harus mengurus Arkana dirumah. Meski ada Putri, namun ia tak ingin menjadikan hubungannya dengan Richard sebagai penghalang.


Ia tak ingin quality time bersama sang anak menjadi terganggu, hanya karena ia tengah jatuh cinta. Dan Richard mengerti akan hal tersebut.


Nadya keluar dari kamar Richard dan berjalan ke arah luar rumah sakit. Sementara itu dihari yang sama Hanif ada jadwal menemani Susi ke dokter kandungan.


"Mas, aku pengen belanja tas LV baru deh. Kayaknya ini bawan bayi."


Susi mengkambinghitamkan bayinya demi sebuah barang yang ia inginkan.


"Kamu kan baru beli minggu kemarin. Nadya aja kalau beli tas itu bisa setahun-dua tahun sekali loh."


Hanif membandingkan antara kedua istrinya. Hal itu membuat Susi kini cemberut.


"Tapi dia nggak setia kan akhirnya?. Dari apa yang kamu ceritakan ke aku, aku yakin betul 100% kalau Nadya itu selingkuh."


Susi mencoba menonjolkan diri dengan cara menenggelamkan orang lain.


"Ya udah, nanti kita beli." ujar Hanif.

__ADS_1


Ia menyudahi perdebatan tersebut. karena tujuan Susi memojokkan Nadya, agar dirinya menjadi istri yang paling menang di mata sang suami. Ia tak tau jika pikiran Hanif terlah bercabang kepada Shela.


***


__ADS_2