Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Racun


__ADS_3

Lea beristirahat setelah kepulangan Nina, sedang Daniel tengah berkutat dengan pekerjaannya. Ia bertemu beberapa klien dan mereka membicarakan pekerjaan dengan sangat serius.


Setelah kembali ke hotel, Daniel kembali harus mengadakan rapat dengan rekan-rekannya. Serta mengadakan meeting zoom dengan petinggi yang ada di Jakarta.


Sungguh sebuah pekerjaan yang menguras pikiran, hingga ia pun baru bisa menghubungi Lea ketika hari mulai gelap.


"Lea, kamu apa kabar?"


Daniel menanyakan kabar istrinya itu di telpon.


"Baik, mas. Mas sendiri gimana di sana, urusannya lancar?"


"Ya, sejauh ini lancar dan baik-baik aja. Kamu tadi makan apa?" tanya Daniel lagi.


"Aku makan ikan salmon, nasi, sayuran. Minum susu juga sama ngemil. Mas sendiri?"


"Ini baru selesai makan, tadi aku pesan sate ayam sama nasi goreng."


"Mas baru makan jam segini?"


"Iya, aku sibuk banget seharian ini. Makanya baru sempat makan, baru sempat nelpon kamu sekarang."


"Tapi mas baik-baik aja kan?"


"Iya, aku baik-baik aja. Kabar bayi aku gimana?"


Lea tersenyum, Daniel masih suka berpura-pura jika istrinya tengah hamil. Tanpa Daniel sadari jika itu semua telah menjadi doa, yang kini telah terwujud.


"Dia, baik-baik aja." ujar Lea sambil mengelus perutnya dan tersenyum.


Lidahnya sudah sangat ingin mengatakan, namun masih ia tahan. Ini harus menjadi suprise bagi suaminya.


"Jangan tidur malem-malem ya, nanti bayi nya kenapa-kenapa."


"Iya mas, abis ini aku tidur koq. Nanti kalau mas pulang, aku mau kasih kejutan."


"Kejutan apa?" tanya Daniel penasaran.


"Ada deh."


"Jangan ngerjain tapi ya, Le. Dosa loh kamu ngerjain suami, kasih surprise yang nggak-nggak."

__ADS_1


"Hehehe, nggak lah mas. Pokoknya pasti mas suka nanti."


Daniel tertawa.


"Soalnya kamu itu masih bocil, aku tau otak jahil kamu." ujarnya lagi.


"Nggak, aku janji."


Obrolan berlanjut selama beberapa saat, tak lama kemudian Daniel pun pamit tidur. Lea sendiri akhirnya ikut tidur, karena sudah diserang kantuk.


***


Marsha berjalan mondar-mandir mengurus segala keperluan Daniel pada keesokan harinya. Mereka kembali menemui klien guna membicarakan kerjasama.


Daniel sendiri kini tengah berbicara dengan Yohan dan juga beberapa petinggi perusahaan yang akan menjadi partner bisnisnya.


"Pak Dan, ini laporannya."


Marsha membawakan laporan pada Daniel, klien Daniel memperhatikan Marsha.


"Kalian berdua cocok." ujar kliennya tersebut. Daniel terdiam, begitupula dengan Marsha dan juga Yohan.


Namun hati Marsha mendadak mengalami perasaan yang aneh. Entah mengapa ia senang mendengar hal tersebut, sedang Daniel hanya tersenyum tipis pada kliennya dan lanjut membicarakan pekerjaan.


"Clarissa?"


Marsha terkejut dengan kehadiran gadis itu di hadapannya. Memang Clarissa ikut dalam perjalanan ini, bersama satu karyawan lainnya yakni Stefan. Yohan yang meminta keduanya pada kepala divisi mereka, lantaran Yohan membutuhkan keduanya untuk beberapa urusan.


Yohan sendiri tidak mengetahui perihal apa yang pernah terjadi diantara Daniel dan juga Clarissa. Yang ia tahu Clarissa adalah karyawan, sama seperti karyawan lain.


"Lo suka kan sama pak Daniel?"


Clarissa langsung menjudge Marsha dan memberondong gadis itu dengan tatapan yang menginterogasi.


"Lo jangan sembarangan ngomong ya, pak Dan itu udah punya istri."


"Oh, aku terkejut." ujar Clarissa dengan nada yang benar-benar sangat menyebalkan.


"Tapi senyum lo berbeda saat lo ada di Deket pak Dan, hati lo berbunga-bunga kan?"


"Itu bukan urusan lo, gue nggak kenal elo dan tolong jangan ikut campur."

__ADS_1


Clarissa menyilangkan tangan di dada sambil menarik nafas, sudut bibirnya ia tarik untuk memberikan senyuman yang sinis.


"Lo nggak perlu menjadi munafik, untuk menyukai bos lo sendiri. Karena saingan lo, adalah ABG bau kencur yang masih kuliah semester pertama. Dia nggak ada apa-apanya di banding elo, lo bisa lebih baik dari istrinya pak Dan."


Marsha diam menatap Clarissa dan begitupun sebaliknya.


"Jangan ganggu gue lagi." ujar Marsha.


Ia berlalu meninggalkan Clarissa begitu saja. Namun sampai di kamar hotel, seluruh ucapan Clarissa seakan kembali terngiang. Ia kini bertanya pada dirinya sendiri, apa benar ia menyukai Daniel.


Malam harinya, saat tengah duduk di dekat kolam renang hotel. Marsha memperhatikan Daniel yang tengah berbicara dengan rekan-rekan bisnisnya. Daniel menyewa tempat itu, untuk mengadakan sebuah pesta diplomasi.


Hal lazim yang dilakukan para pengusaha seperti dirinya, untuk berada lebih dekat dengan klien ataupun calon investor. Biasanya mereka di buat senang terlebih dahulu, sebelum di prospek lebih lanjut menjadi partner.


Daniel tampak tertawa-tawa dan Marsha memperhatikan pria itu. Dia pria dewasa yang memiliki aura seperti tokoh utama dalam novel. Tinggi, tampan, sixpack, sexy dan juga berkarisma. Cara ia berjalan, berbicara, tertawa, semuanya menarik perhatian.


Tak dapat dipungkiri hatinya bergetar, dan dari kejauhan Clarissa yang tengah minum wine tampak memperhatikan Marsha. Ia senang pengaruhnya mulai menjalar di otak gadis itu.


Sebab ia telah terlanjur sakit hati pada Daniel dan juga Lea. Ia menanti kehancuran keduanya, di depan mata.


Malam perlahan larut, Marsha hendak pamit pada Daniel. Meminta izin untuk masuk ke hotel lebih dulu. Namun ketika ia berjalan ke arah Daniel, tiba-tiba kakinya tersandung sesuatu. Daniel yang melihat hal tersebut buru-buru menangkap tubuh Marsha. Hingga Marsha pun membeku di pelukan pria tampan itu.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Daniel pada sang sekertaris.


Marsha diam, ia masih larut dalam adegan film romantis.


"Marsha?"


"Mm, nggak apa-apa pak." Marsha berdiri dan kini ia salah tingkah.


"Kamu belum ngantuk kan, kita makan dulu ya. Nanti duduk di sana sama Yohan dan yang lainnya."


"Hmm, ok pak."


Marsha tak bisa menolak, meski saat ini ia tak terlalu ingin makan. Daniel sejatinya tak bermaksud apa-apa, ia memang biasa baik ke semua orang. Dan lagi ia mengajak Marsha, agar Marsha bisa mengobrol dengan Clarissa. Supaya Daniel sendiri tak harus berinteraksi dengan mantan orang terdekatnya tersebut.


Usai makan, mereka kembali ke hotel. Daniel menelpon Lea dan mereka berbincang cukup banyak. Ada banyak canda tawa di sana, sampai kemudian Daniel pamit tidur. Sedang Lea sedikit menghabiskan waktunya untuk menonton drama Korea.


Malam itu di kamar hotel, yang ada di pikiran Marsha hanyalah Daniel. Ucapan Clarissa benar-benar telah meracuni akal sehat gadis itu. Ia bahkan berharap Daniel mengetuk pintu dan mulai menggodanya. Seperti bos-bos besar yang ada di dalam novel online, yang sering terjebak cinta lokasi dengan sekretarisnya sendiri.


Namun hingga waktu berjalan pun, tak ada tanda-tanda Daniel akan memulai kebejatan. Daniel telah tertidur di kamarnya, dan Marsha buru-buru menepis segala pikiran kotornya terhadap pria itu.

__ADS_1


Ia cepat kembali menarik diri dan berusaha sadar, jika Daniel adalah milik orang lain. Daniel sudah beristri dan Marsha harusnya tak berfikir untuk merebut suami orang.


Sementara di dalam kamarnya, Clarissa tengah duduk sambil menikmati segelas wine. Ia tersenyum untuk sesuatu, yang hanya dia sendiri dan sang pencipta alam yang tau.


__ADS_2