Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Akhir Pekan (Bonus Part)


__ADS_3

"Le, aku mau mandi sama Darriel besok."


Daniel berpesan kepada sang istri sebelum tidur. Kebetulan besok weekend dan mereka tidak kemana-mana.


"Oke." jawab Lea.


Dan ketika pagi hari menjelang, perempuan muda itu menyiapkan bathub yang sudah diisi air hangat. Daniel yang baru pulang dari jogging memenuhi janjinya untuk mandi bersama Darriel.


"Udah di siapin, Le?" tanya Daniel.


"Udah mas, sana mandi!"


"Iya bentar, istirahat dulu ngurangin keringat." ujar Daniel.


"Oke."


Lea lalu pergi ke dapur dan lanjut memasak.


"Kamu lagi masak?" tanya Daniel yang kini duduk di ruang tengah.


"Iya mas, sekalian masak buat makan siang." ucap Lea.


"Mager aku kalau dua kali gerak." lanjutnya lagi.


"Masak apaan kamu hari ini?" Lagi-lagi Daniel bertanya.


"Sayur asem, ikan goreng, tempe bacem sama sambel." jawab Lea.


"Good, ntar aku mau makan." ucap Daniel.


"Oke, ini bentar lagi nasinya mateng koq." tukas Lea.


Daniel bergegas masuk ke kamar Darriel lalu mengambil anak itu.


"Kita mandi ya Darriel." ujarnya kemudian.


"Hokhoaaa."


Darriel bersuara lalu menguap, namun ia terlihat sumringah dan tertawa-tawa.


"Seneng banget mau mandi sama papa." ucap Lea dari kejauhan.


"Iya dong, kita mau mandi ini mama." Daniel menjawab seolah-olah dirinya adalah Darriel.


"Ya udah mandi sana, nanti kita makan." ujar Lea.


"Eh tapi Darriel udah sarapan duluan." lanjutnya lagi.


Daniel tertawa, kemudian ia membawa Darriel masuk ke dalam kamar mandi. Mereka berendam sejenak di bathub, sambil Daniel mengajak anak itu untuk bicara.


"Hokhoaaa." Darriel kembali berceloteh.

__ADS_1


"Mandi sama siapa ini?. Sama papa ya?" ucap Daniel sambil tersenyum.


"Hokhoaaa."


Darriel tersenyum dan nada suaranya seperti orang yang menanggapi dengan serius. Padahal jelas ia belum mengerti ucapan sang ayah.


Namun menjalin kedekatan dengan anak sejak dini, memang sudah menjadi rencana Daniel jauh sebelum bayi itu lahir.


Ia berharap nantinya ia akan memiliki bonding yang kuat dengan sang anak. Ia ingin mencontoh ayah Richard dan juga ayah Ellio. Yang bisa sebegitu dekat dengan anak-anak, termasuk dirinya sendiri.


Ia memang tak mendapatkan itu semua dari ayah kandungnya. Tapi ayah dari kedua sahabatnya itu selalu mendidik Daniel sama dengan anak kandung mereka sendiri.


"Hokhoaaa."


Lagi-lagi Darriel bersuara saat Daniel membubuhkan sampo ke kepala anak itu.


"Iya, Darriel bersihin kepala dulu ya. Biar nggak bau asem kepala anak papa. Soalnya tadi papa cium kepalanya agak asem."


"Heheee."


Darriel tertawa-tawa.


"Anak papa kepalanya bau asem." ujar Daniel lagi dan lagi-lagi Darriel tertawa.


"Heheee."


Daniel membilas kepala anak itu secara perlahan. Meski sampo yang digunakan tidak perih dimata, tapi tetap saja ia takut.


"Hokhoaaa."


Daniel membubuhkan sabun dan segera membersihkan anak itu. Tak lama Lea masuk ke kamar mandi dengan membawa handuk Darriel.


"Udah mas?" tanya nya kemudian.


"Udah nih."


Daniel menyerahkan Darriel pada Lea. Sebab ia pun harus membersihkan dan membilas diri. Lea membawa Darriel ke kamar dan mengeringkan tubuh anak itu. Memakaikan segala keperluan termasuk wewangian, lalu mengenakan jumpsuit warna biru. Darriel tampak seperti ulat.


"Hekheee."


Darriel hendak menangis.


"Laper lagi ya kamu?" tanya Lea.


Ia kemudian memberikan ASI secara langsung kepada Darriel, hingga bayi itu akhirnya tertidur lelap.


Ia keluar dari kamar Darriel, berbarengan dengan Daniel yang sudah berganti pakaian.


"Mau makan, mas?" tanya Lea.


"Oh tentu dong. Laper banget ini, nyaris gemetar." seloroh Daniel.

__ADS_1


Lea tertawa.


"Sama aku juga, yuk!" ajaknya.


Mereka berdua duduk di meja makan dan langsung mengambil nasi serta lauk-pauk. Kemudian mereka mulai makan.


"Darriel tidur?" tanya Daniel.


"Iya, abis minum susu." jawab Lea.


"Tadi pas mandi dia bersuara mulu, aku ajak ngomong."


"Dia tuh emang lucu, mas. Kita ngomong kayak berasa di tanggapi. Kadang ketawa kalau denger kita lagi ngeluh atau apa. Mau sedih jadi batal deh."


Daniel tertawa.


"Emangnya kamu sedih kenapa?" tanya Daniel.


"Ada hal yang kamu pengen, atau aku punya salah?" tanya nya kemudian.


"Bukan soal kita, tapi soal ayah mas. Aku sedih loh, masih kepikiran sampai sekarang." jawab Lea.


"Sama, aku juga kepikiran terus. Tapi kita coba untuk jangan sedih berlebihan. Lebih baik kita berharap aja, supaya Richard sehat dan dugaan kita nggak sepenuhnya benar."


"Iya sih, harusnya emang gitu. Tapi ya namanya juga manusia, bohong banget kalau aku nggak sedih." ujar Lea lagi.


"Iya, aku tau." ucap Daniel.


"Kita hadapi sama-sama." lanjutnya kemudian.


"Oh ya, by the way ini enak loh."


Daniel mengalihkan topik pembicaraan. Tapi memang masakan itu pas dan terasa enak di lidahnya.


"Apanya mas?" tanya Lea.


"Sayurnya kah, tempe atau ikannya?"


"Semuanya." jawab Daniel.


"Sambelnya menurut mas gimana?"


"Enak."


Lea tersenyum.


"Syukur deh kalau gitu." ujarnya kemudian.


Mereka melanjutkan makan. Setelah itu seperti biasa setelah mencuci piring, mereka menonton film di situs berbayar. Mulai dari film action, horor, keluarga sampai drama Korea.


Saat Darriel bangun, mereka sama-sama mengurus Darriel. Bermain bersama sampai kemudian Darriel kembali tertidur dan mereka ikut terlelap bersama bayi itu.

__ADS_1


Weekend memang selalu menjadi favorit mereka untuk bermalas-malasan di dalam rumah.


__ADS_2