
Lea akhirnya membaca berita tersebut, usai ia menidurkan Darriel dan meletakkannya di dalam box bayi.
Foto perempuan itu terpampang nyata di laman depan headline news. Tentu saja ini sangat menyentakkan sekaligus menganggu. Bisa saja saat ini ia segera mengadukan hal tersebut pada suami dan juga ayahnya.
Tetapi ia kembali berpikir, apa tidak sebaiknya ia diam. Ia takut Daniel dan Richard menjadi murka dan mendatangi media tersebut. Lalu pada akhirnya berita tentang mereka balas di goreng kembali oleh media.
Lea takut hal tersebut akan berdampak pada suaminya. Mengingat ia memang dibawa oleh Daniel ketika usianya masih menginjak enam belas tahun.
"Le, lo udah baca beritanya?"
Adisty mengirim pesan singkat pada Lea.
"Udah, Dis. Ini lagi gue baca." jawab Lea.
"Parah banget nggak sih?. Laporin aja, Le."
"Tapi gue takut, Dis." ujar Lea lagi.
"Takut kenapa?" tanya Adisty heran.
"Takut kalau misalkan gue ngadu, terus laki gue mempermasalahkan dan dia malah diserang balik sama media. Bisa aja kan kesalahannya di cari-cari. Gue nggak mau laki gue kena masalah, kasihan Darriel masih kecil."
Adisty menarik nafas, lalu mengetik balasan.
"Iya sih, Le. Tapi kata gue sebaiknya lo bicara sama mas Daniel, entah kapan pun itu. Biar dia tau harus bergerak kayak gimana."
"Iya, itu juga lagi gue pikirin koq sekarang." jawab Lea.
***
"Lele, nanti makan malam di luar yuk!"
Daniel mendadak menelpon Lea ketika dirinya sendiri pun masih berada di kantor.
"Makan di luar mas?. Darriel gimana?" Masa ditinggal di pos security."
Daniel tertawa.
"Ya diajak Lele, masa suruh jaga penthouse."
"Tapi ntar kena asap atau gimana mas?"
"Ya kita makan di restoran yang nggak ada proses bakar membakar atau masak di meja, kayak restoran Jepang atau Korea." jawab Daniel.
"Oh oke deh, nanti mas jemput aku sama Darriel atau aku sama dia nyamperin dianter supir?" tanya Lea.
"Ntar aku pulang dulu, kita perginya bareng aja."
"Oh oke deh." jawab Lea.
__ADS_1
***
Di lain pihak, Marvin tengah terdiam sambil melihat ke arah kaca jendela rumah orang tuanya di lantai tiga.
Ia berpikir keras, bagaimana caranya memberitahu sang ayah dan ibu mengenai Clarissa yang saat ini tengah hamil. Bagaimana juga memberi pengertian jika ia tidak bisa menikah dengan Helen.
Tapi bagaimana jika ayahnya malah bertambah parah ketika mendengar hal tersebut. Bagaimana jika orang tuanya bersikeras meminta ia menikahi Helen.
Apa yang akan ia lakukan terhadap Clarissa dan calon bayi mereka. Bagaimana berkata jujur pada Clarissa jika dirinya telah di jodohkan.
"Hhhhh."
Marvin benar-benar berkecamuk pikirannya saat ini. Tak mudah untuk mengambil keputusan, ketika masing-masing sisi memiliki pemberat tersendiri. Sulit baginya untuk memilih antara orang tua dan darah dagingnya sendiri.
"Dert."
"Dert."
"Dert."
Sebuah panggilan masuk ke handphone pria itu. Ternyata dari salah satu koloni nya yang bernama Xean.
"Ya, bro." ujar Marvin.
"Bro, liat berita yang gue kirim di WhatsApp." ujar Xean kemudian.
"Oke."
"Oh waw, pergerakan yang sangat cepat. Bravo!" ujar Marvin sambil tertawa.
Sejenak ia melupakan masalahnya dengan Clarissa dan juga Helen. Ia bahagia menerima berita ini, sebab artinya penyerangan terhadap Daniel sudah dimulai. Mereka lalu lanjut berbincang dan membangun rencana-rencana jahat selanjutnya.
***
Waktu berlalu, tibalah saatnya kantor pulang. Daniel yang sudah menyelesaikan pekerjaan itu pulang ke rumah. Untuk menjemput ikan lele dan juga anak lontong isi.
"Mau kemana kamu?"
Daniel bertanya pada Darriel yang berada di dalam baby car seat carrier, di bagian tengah. Darriel tampak tersenyum meski matanya setengah mengantuk. Bayi itu memang selalu menyempatkan diri untuk tersenyum pada ayahnya.
Sangat berbeda ketika berhadapan dengan Lea. Ia bisa datar, julid, bahkan tidak peduli sama sekali. Membuat Lea kadang ingin menggulung bayinya itu dengan selimut.
Daniel menghidupkan mesin mobil, lalu menekan pedal gas. Tiba-tiba Darriel tertawa dengan suara yang cukup kencang.
Membuat Lea dan Daniel sempat kaget dan saling bersitatap satu sama lain. Mereka kemudian tertawa. Daniel mengawasi Darriel dari kaca atas, sedang Lea menoleh ke belakang.
"Girang amat mobilnya jalan." ujar Lea pada bayinya itu.
"Kayaknya dia senang mobil." Daniel langsung melakukan cocokologi.
__ADS_1
"Kata siapa, kamu mah semua aja dihubungkan." ucap Lea.
Daniel pun tertawa.
"Darriel suka mobil ya nak ya?" tanya Daniel sambil terus mengemudi.
Lagi-lagi Darriel bersuara.
"Tuh seneng dia."
Daniel kembali berujar dengan sotoynya, membuat Lea kini tertawa-tawa. Setibanya di halaman parkir restoran, Daniel mengeluarkan sebuah stroller dan menyetelnya. Kemudian Darriel dikeluarkan dari car seat dan dipindahkan ke stroller tersebut.
Tak lama mereka pun masuk ke dalam restoran dan duduk pada meja yang telah di reservasi terlebih dahulu. Menu di restoran itu kebanyakan western. Namun Lea yang menyusui tersebut tak masalah untuk makan apa saja. Sebab ia berada dalam kondisi yang selalu lapar.
Mereka duduk, berbincang lalu memesan makanan. Ketika makanan telah tiba, dan baru saja hendak makan, Darriel menangis. Lea mengambil bayi itu dan memberikan ASI padanya.
Daniel yang semula sudah mulai menikmati makanan dan duduk di hadapan Lea tersebut, kini mendekatkan kursi. Ia lalu menyuapi Lea yang tengah memberi makan pada anaknya.
"Mas makan aja mas." ujar Lea.
Ia merasa tak enak hati pada suaminya itu.
"Udah nggak apa-apa, gampang koq. Yang penting kamu dulu."
Daniel menyuapi Lea, sementara Darriel menyedot ASI sambil julid pada sang ibu.
"Darriel nggak boleh gitu ya sama mama."
Daniel menasehati sang anak. Akhirnya Darriel pun tertawa, padahal mungkin ia belum mengerti apa-apa.
Perlakuan Daniel tersebut mendapat perhatian sekitar. Tidak sedikit orang yang diam-diam berharap diperlakukan seperti itu oleh suaminya. Yang bahkan sangat cuek dan memikirkan diri sendiri, ketika istri harus makan sambil menyuapi anak.
Beberapa saat berlalu Darriel kembali tidur. Lea meletakkannya di stroller kemudian mereka berdua lanjut makan sambil berbincang.
***
"Kapan kamu akan kasih tau orang tua kamu kalau aku hamil?"
Clarissa yang saat ini tengah berada dalam pelukan Marvin mulai mempertanyakan hal tersebut. Marvin sempat terdiam, namun akhirnya ia menjawab.
"Sabar ya sayang, aku cuma lagi menunggu timing yang tepat. Soalnya papa juga baru sembuh sakit." ujar pemuda itu kemudian.
"Jangan lama-lama loh, ntar keburu buncit." ujar Clarissa.
"Iya, aku janji." jawab Marvin.
***
Yuk ikuti serunya kisah Ferdi yang dipaksa menikahi janda beranak tiga.
__ADS_1