Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Tuxedo


__ADS_3

"Aku tuh sebenernya nggak apa-apa koq mas, pernikahan kita biasa aja dan nggak di rayain. Tapi kalau mas memaksa ya, apa boleh buat."


Lea kembali berujar sambil tertawa. Daniel lalu tersenyum menatap istrinya itu. Tak lama kemudian ia mengulurkan tangan. Lea pun menyambut tangan tersebut.


Daniel melangkah diikuti Lea. Sepasang suami-istri itu berjalan di pinggiran pantai tanpa alas kaki. Sesekali mereka berlarian ke arah pantai yang hanya diterangi oleh bulan. Kebetulan sekali bulan tersebut sedang bersinar.


"Byuuur."


Ombak kecil menerpa kaki mereka. Ujung celana yang dipakai Daniel basah, meski ia telah menggulungnya.


Tapi itu tak menjadi masalah besar. Sebab kini keduanya sangat bahagia. Berada di tempat yang syahdu dan tak diganggu orang lain. Sungguh merupakan sebuah nikmat yang tak ternilai harganya.


"Le."


Daniel berkata ketika ia dan Lea tengah berdiri di bibir pantai. Dengan kepala Lea yang bersandar di bahunya. Sementara tangan mereka saling menggandeng satu sama lain.


"Iya mas." jawab Lea sambil menatap ke lepas pantai.


"Aku baru inget, soal ular laut."


"Ih kamu mah."


Lea mengangkat kepala dan memukul lengan Daniel.


"Serius, Le. Bisa ular laut itu sepuluh kali dari king kobra."


"Hah, beneran mas?" tanya Lea dengan wajah yang mulai panik.


"Beneran, aku nggak bohong." jawab Daniel.


"Udah gitu di bawah pasir sering ada uler ngumpet lagi."


"Hiiiiiiiii."


Lea langsung menarik Daniel dan mereka berlarian menuju ke tempat dimana alas kaki mereka berada. Lalu keduanya sama-sama masuk ke mobil.


"Itu tadi seriusan mas?. Bukan kamu nakutin aku doang kan?" tanya Lea memastikan. Nafas perempuan itu kini tersengal-sengal akibat tadi berlari.


"Serius, Le. Nih liat!"


Daniel menyuruh Lea melihat sebuah tayangan video di YouTube, tentang betapa bahayanya ular laut. Ia juga memperlihatkan ular jenis viper yang sering bersembunyi di bawah pasir.


"Ih mas, jadi geli sediri aku."


Lea makin dilanda ketakutan.


"Makanya, aku baru inget tadi." ujar Daniel lagi.


"Mendingan ribut sama orang deh, daripada berurusan sama uler." lanjut pria itu kemudian.

__ADS_1


"Ya udah mas, pulang aja yuk. Ini aku udah harus pumping juga buat Darriel, sakit soalnya."


"Kamu nggak bawa pompa?" tanya Daniel.


"Nggak, lupa. Tadi kan kita niatnya beli keperluan Darriel doang."


"Iya sih, ya udah kita pulang."


Daniel lalu menghidupkan mesin mobil. Tak lama kemudian ia pun tancap gas meninggal tempat itu.


***


"Lucu kan?"


Daniel bertanya pada Lea perihal baju tuxedo yang ia pakaikan kepada Darriel. Ini terjadi pada sehari setelah mereka berbelanja baju untuk Lea.


Tadi sepulang dari kantor Daniel langsung menuju ke kamar dan menunjukkan pada Lea, jika ia membawa baju untuk Darriel.


"Iya mas, lucu banget."


Lea mengambil handphone lalu memfoto Darriel yang tengah tertidur lelap tersebut.


"Cekrek."


"Cekrek."


"Cekrek."


"Kamu bakal datang ya, di acara pernikahan ulang papa sama mama nanti. Pake baju ini ya nak ya."


Lea berujar seraya membelai kepala Darriel. Sementara Daniel tersenyum menatap sang anak.


"Nanti pas udah gede, dia nggak bakal nangis kayak anak lain. Yang nanya kenapa nggak ada foto dia, di foto pernikahan orang tuanya." ujar pria itu.


Lea pun tertawa.


"Iya banyak tuh mas, video yang sering aku liat. Anak balita pada nanya sama ibu ayahnya, kenapa dia nggak ada pas pernikahan mereka."


"Ada yang sampe nangis." ucap Daniel lagi.


Keduanya kini sama-sama tertawa.


"Hoah."


Darriel bersuara dan bergerak sedikit. Lea dan Daniel lalu kompak diam agar bayi itu tak jadi bangun.


***


"Lo udah siapin?"

__ADS_1


Richard bertanya perihal pernikahan ulang yang akan dilaksanakan Daniel, ketika mereka bertemu di meja makan.


Hari ini Ellio tengah berada di rumahnya dan melakukan segala persiapan. Sementara Lea sedang mengerjakan tugas kampus di atas.


"Udah." jawab Daniel lalu duduk dan membubuhkan sambal pada makanannya.


"Tanggalnya kapan?" tanya Richard lagi.


"Yang jelas sih habis kelar acara Ellio dulu. Kalau gue kan tinggal merayakan doang. Yang penting tuh dia, dia harus tanggung jawab sama anak orang."


"Iya mumpung perutnya Marsha belum keliatan buncit. Ntar kalau keliatan, takutnya dia malu." ujar Richard lagi. Daniel pun mengangguk.


***


Sementara di kediaman Vita. Gadis itu baru saja menerima sepupunya yang kabur dari rumah. Lantaran bertengkar dengan kedua orang tuanya.


Masalahnya hanya karena orang tuanya melarang anak itu bergaul dengan teman-teman yang tidak benar. Tetapi ia malah menentang orang tua dan memilih kabur ke tempat Vita.


"Emangnya kayak apa sih temen-temen kamu itu?"


Vita bertanya pada sepupunya yang masih kelas satu SMA tersebut.


"Ya temen biasa aja. Emang sih mereka ada klub motor, sering ngadain balapan gitu."


Vita menarik sudut bibir dengan pandangan mata yang mendadak kesal.


"Balap liar maksudnya?" tanya gadis itu kemudian.


"Iya kak, dan ibu tuh nggak setuju."


"Mereka suka minum alkohol nggak?"


Vita langsung menjudge ke arah sana. Karena ia cukup hafal dengan pergaulan anak-anak remaja piyik yang katanya memiliki geng motor seperti itu.


"Iya sih, suka kadang." jawab sepupunya lagi.


Vita makin menghela nafas kesal.


"Vina, dari situ aja udah nggak bener. Wajar aja kalau orang tua melarang. Kamu jangan-jangan pernah minum juga?." tanya nya kemudian.


"Dikit kak, namanya juga anak muda."


"Muda bukan alasan untuk berbuat hal yang nggak bener. Apalagi circle nya yang model begituan. Kebut-kebutan nggak jelas, kecuali beneran ikut event race dan latihan bener-bener buat jadi pembalap. Ini gaya-gayaan doang, abis itu minum alkohol, ada duit dikit ngelem kan pasti?"


Vita semakin mencecar Vina.


"Koq lo jadi ikutan marahin gue sih kak?. Gue aja muak banget di rumah di marahin mulu. Rasanya pengen jual diri aja ke om-om, jadi sugar baby gitu biar hidup enak. Tinggal ngangkang doang dapat duit."


Vita benar-benar naik pitam kali ini. Vina memang tak mengetahui jika dirinya pernah menjadi sugar baby. Tetapi ia sangat dan panas saat sepupunya itu berpikir ke arah sana.

__ADS_1


Bukan apa-apa. Menjadi sugar baby itu sangat enak, ketika bertemu sosok sugar daddy macam Daniel, Richard, ataupun Ellio. Tapi jika bertemu dengan sugar daddy model mantan sugar daddy nya dan sugar daddy Nina, maka siap-siaplah hidup akan menderita.


Sebab tak semua pria sebaik Daniel, Richard, maupun Ellio. Meski banyak pria yang baik di luar sana, namun percayalah jika pria jahat jumlahnya lebih banyak. Maka dari itu ia tak ingin Vina yang masih ABG tersebut, masuk jurang dan terjebak di dalamnya.


__ADS_2