Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Undangan (Ektra Part)


__ADS_3

"Dan, besok datang ke resepsi nikahan gue yang ketiga ya."


Hanif salah satu rekan sekaligus teman yang cukup dikenal oleh Daniel tiba-tiba menelpon dan mengabari hal tersebut. Tentu saja Daniel kaget, dan mengira Hanif tengah bercanda.


"Nikah sama siapa lagi lo, anjay?" tanya Daniel.


"Biasa sugar baby baru."


"Istri tua lo kagak murka?"


"Dia mah manut aja. Gue bilang kalau nurut sama suami, mengizinkan suami nikah lagi itu adalah wanita yang berhati seluas samudera. Lagipula raja-raja jaman dulu istrinya nggak cuma satu kan?"


"Terus istri lo dengan polosnya mengiyakan?" tanya Daniel lagi.


"Iya dong, beruntungnya dapat istri dari keluarga patriarki ya begitu. Dia takut kita tinggalkan, bro. Karena mereka masih menganggap jadi janda itu adalah aib."


"Parah lo." ucap Daniel.


"Bisa-bisanya perempuan baik-baik nikah sama laki-laki yang kelakuannya mirip setan kayak lo."


Daniel berkata dengan nada bercanda. Namun ia kesal sungguhan dalam hati. Karena Hanif seperti menggunakan powernya sebagai laki-laki, untuk menekan pasangannya yang tidak memiliki kekuatan.


Senakal-nakalnya Daniel, Richard, dan Ellio. Mereka tidak pernah menggunakan power mereka untuk menekan pasangan. Apalagi demi kesenangan pribadi.


"Ya gimana, bro. Udah buncit lima bulan. Masa iya nggak gue nikahi. Ntar masuk pemberitaan lagi gue."


"Jadi lo nikahi tuh cewek karena takut masuk pemberitaan doang, bukan karena sadar otong lo udah membuat calon bini ketiga lo itu melendung?"


Daniel lagi-lagi membalut sindiran dengan canda. Dan parahnya Hanif tak menyadari hal tersebut. Ia malah tertawa-tawa karena mengira Daniel sedang bercanda sungguhan.


"Ya karena masih legit juga, masih menggigit bro. Makanya gue tertarik menikahi."


Daniel menahan emosi, di mata Hanif perempuan memang selalu ia pandang dari segi legit atau tidak.


"Keluarga lo kan ketat gitu, terus gimana caranya lo bicara ke mereka soal ini?" tanya Daniel


"Soal yang sugar baby gue buncit?" Hanif balik bertanya.


"Lah iya." jawab Daniel.


"Gue bilang aja udah nikah dibawah tangan sebelum hamil."


"Terus mereka percaya?"


"Percaya dong, kan gue dirumah anak baik. Malah didukung gue. Nyokap gue yang menasehati bini tua gue. Dia bilang ke bini gue, kalau suami minta nikah lagi kasih aja. Daripada dia membuat malu."


"Hahaha."


Daniel tertawa, namun tetap kesal dalam hati. Bagaimana jika posisi istri tua Hanif itu adalah anak perempuannya atau saudaranya. Pastilah Daniel akan menghajar Hanif habis-habisan.


"Tapi kalau gue jadi istri tua lo, gue balikin bro. Ngapain juga udah punya istri masih mikirin berbuat hal memalukan sama perempuan lain. Katanya orang baik, tapi koq nggak mampu menahan hasrat. Padahal menahan hasrat adalah dasar yang diajarkan kepada kita sedari kecil. Contoh kita nggak boleh gragas atau serakah. Nggak boleh menginginkan milik orang, nggak boleh hanya memikirkan kesenangan pribadi."


Hanif diam, seperti tersentil hatinya. Daniel sudah masa bodoh temannya itu akan tersinggung atau tidak. Sebagai sesama laki-laki ia malu, pada laki-laki yang memperburuk citra kaum mereka sendiri.


Menikah lagi untuk menghindari perbuatan memalukan. Mengapa harus berbuat hal memalukan kalau sebelumnya sudah menikah. Fungsinya istri dirumah apa.


Harusnya jujur saja jika ingin punya pengalaman dengan perempuan lain, tak usah munafik berlindung dibalik kata menghindari hal yang memalukan.


"Ya udah nih, lo datang ya." ujar Hanif lagi.


"Kapan, bro?" tanya Daniel.


"Besok, kan tadi udah gue bilang."

__ADS_1


"Lupa, terlalu asik denger cerita lo." dusta Daniel sambil tertawa.


"Lo nggak niat mau nambah, bro?" tanya Hanif.


"Nambah apa nih, anak?" Daniel balik bertanya.


"Nambah anak lah, dari lain bini tapi." ujar Hanif.


"Nggak ah, udah males gue berurusan sama banyak cewek. Ngeri penyakit juga, bro."


"Kan udah nikah, mustahil kena penyakit."


"Teori dari mana?. Kita nggak pernah tau tuh cewek sebelum sama kita, pacaran sama siapa aja. Pas udah nikah mana ada penyakit langsung ilang. Namanya virus mengendap dalam tubuh, bakal jadi bom waktu nantinya."


Hanif diam, sejatinya calon istri ketiganya ini pun ia temukan di sebuah klub malam. Ia tidak tau siapa saja mantan kekasihnya.


"Oke deh bro, besok jangan lupa datang ya." tukas Hanif lagi.


"Iya, parah lu." Daniel berujar lagi-lagi sambil tertawa. Hanif pun jadi ikut tertawa.


"Harusnya nama lo jangan Hanif, terlalu bagus untuk pemilik kelakuan kayak lo." tukas Daniel.


"Terus nama gue siapa dong?. Michael, Alexander gitu?. Biar terkesan bangsatnya."


"Sugiono." jawab Daniel.


Seketika tawa keduanya pun pecah. Hanif lalu berpamitan dan menyudahi telpon tersebut.


***


"Duh nggak bisa, mas. Besok tuh aku kuliah dari jam 10 pagi sampai jam 7 malem lah, baru balik. Kamu aja lah yang pergi, lagian aku nggak kenal ini. Siapa sih yang nikah?" tanya Lea.


"Teman aku."


"Iya." jawab Daniel.


"Pernikahan yang ketiga." lanjutnya kemudian.


"Pernikahan ketiga?" tanya Lea.


"Iya."


"Maksudnya dia udah tiga kali kawin cerai apa cerai mati gitu?" Lagi-lagi Lea bertanya.


"Kagak, istri pertama dan keduanya masih."


"Ih, amit-amit." ujar Lea.


Daniel tertawa.


"Koq bisa sih mas, kamu berteman sama orang kayak gitu." tanya Lea.


"Ya namanya juga rekan bisnis, Le. Masa kita atur sampai ke kehidupan pribadinya, kan nggak mungkin. Balik ke diri masing-masing aja." jawab Daniel.


"Terus besok dia aja yang nikah, atau istri tuanya ada di sana juga?"


"Kayaknya bakalan ada deh, kayak waktu dia nikah sama yang kedua dulu istri tuanya datang."


"Terus istri tuanya biasa aja gitu?" tanya Lea.


"Ya di biasa-biasakan. Keliatan sih kalau hancur, nggak bisa bohong." ujar Daniel.


"Ih amit-amit, kalaupun besok aku punya waktu senggang nggak bakal aku mau ikut datang. Ngeri emosi." ujar Lea.

__ADS_1


Lagi-lagi Daniel tertawa.


"Iya mas, ngeri aku lempar sendal wedges cowoknya. Si pelakornya aku jambak." tukas Lea lagi.


"Hokhoaaa."


Darriel yang ada di dekat mereka kini bersuara.


"Mama emosian, nak." ujar Daniel pada Darriel.


"Heheee."


Darriel tertawa.


"Kamu kalau sampai kayak gitu, mas. Aku gugat cerai. Jangan harap kamu bisa ketemu Darriel lagi seumur hidup kamu." ucap Lea.


"Ngapain juga aku kayak gitu, Le. Kalau temen aku itu emang apa ya, kalau aku nilai."


Daniel meminum air didalam gelas yang ada di dekatnya.


"Dia itu dari keluarga yang ketat banget. Terus nikah juga di jodohkan sama orang tuanya." ujar pria itu.


"Kesini-kesini baru kayak penasaran sama perempuan lain. Karena dulunya mungkin efek nggak pernah berpetualang." lanjutnya lagi.


"Tapi ada loh mas, orang yang nggak nakal, nggak pacaran, nggak berpetualang. Tapi pas nikah setia sampai tua." ujar Lea.


"Iya ada. Tapi Hanif modelnya agak lain. Setelah nikah justru baru keliatan bobrok." ujar Daniel.


"Awas aja kamu kayak gitu." ancam Lea lagi.


"Ngapain juga, Le. Udah males berurusan sama banyak cewek. Satu aja ribet."


Lea menekuk bibirnya, namun ia menahan senyum.


"Istri tuanya itu nggak cantik ya mas?. Makanya dia nyari lagi?"


"Apaan, cantikan istri tuanya kemana-mana. Istrinya yang kedua kayak ikan kerapu, njir."


"Mas, kamu mah." Lea berkata sambil tertawa.


"Nggak boleh menghina fisik orang."


"Kan yang dengar cuma kamu disini. Aku nggak ngomong ke orangnya loh."


"Iya tapi tetap aja, ntar keceplosan takutnya."


"Heheee."


"Tuh, Darriel aja ketawa."


Daniel ikut tertawa.


"Tapi aku serius, Le. Istri tuanya kayak bidadari. Eh nikah lagi sama yang dempul."


Lea makin tak kuasa untuk tidak terbahak.


"Tapi yang kedua ini menggoda, tadinya. Mungkin yang tua mainnya lurus, yang kedua bisa zig-zag. Makanya terhipnotis sama goyangannya."


"Ih kamu mah gosip banget, mas. Lancip tau nggak mulut kamu. Dekat Darriel juga, ngomongin orang."


"Lah aku ngomongin kenyataan. Tanya aja Richard sama Ellio kalau nggak percaya. Pasti mulut mereka lebih lancip dari aku."


Mereka terus tertawa-tawa dan Daniel melanjutkan gosipnya.

__ADS_1


__ADS_2