Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Metaverse


__ADS_3

"Nin, Lo yakin mau nolongin Sharon?"


Vita bertanya pada Nina. Sedang kini Lea menatap perempuan itu sambil memakan pisang goreng. Nina ingin menjawab dengan serius, namun keburu tertawa melihat Lea yang mangap besar sekali.


"Lele, gue tuh mau ngomong serius." ujar Nina sambil tertawa. Vita pun jadi ikut-ikutan terbahak.


"Kenapa emangnya?" tanya Lea dengan ekspresi wajah bingung.


"Elu mangap gede banget, jadi pengen ketawa ngakak gue." ujar Nina kemudian.


Lea baru menyadari jika dirinya telah menjadi pelawak bagi kedua temanya itu. Lea pun akhirnya ikut tertawa.


"Kenapa sih, lo mau ngomong apa tadi?" tanya Lea pada Nina.


"Udah nggak pas momennya. Orang gue mau ngomong bijak soal Sharon, malah lo bikin ketawa."


"Iya sorry." ujar Lea makin tertawa.


"Lo kenapa mau nolong Sharon?" tanya Lea kemudian. Vita kini turut menatap Nina, guna menanti jawaban.


"Ya, mau gimana lagi. Namanya juga dimintain tolong sama orang, masa kita tolak." ujarnya kemudian.


"Iya sih." jawab Vita.


"Siapa tau besok atau lusa, kita yang butuh bantuan orang lain." sambung perempuan itu."


"Bener." Lea ikut menimpali.


"Gue mah kalau mau dibilang sakit hati ya, sakit hati sama sikap dia ke gue selama ini. Cuma mau gimana, daripada nanti gue nyesel nggak nolong orang." lanjutnya kemudian.


"Tapi kita bakalan nyari kemana?" tanya Vita.


"Ya kemana kek, ke orang-orang yang kita perkirakan tau mungkin. Atau kita posting aja di sosmed, info orang hilang." ujar Nina.


"Kalau gue paling minta bantu mas Daniel sama ayah, atau om Ellio deh." tukas Lea.


"Mudah-mudahan kagak kenapa-kenapa tuh anak. Ngeri kalau sampai ada apa-apa. Kayak berita-berita anak-anak ex SB Agency aja nih, ada aja berita yang nggak ngenakin." ujar Vita.


"Iya, mudah-mudahan dia cuma menghilang ke suatu tempat, bukan karena diapa-apain orang." ujar Lea lagi.


***


"Kamu kenapa mau bantu dia, kan dia udah jahat sama kamu selama ini?"


Daniel berujar pada Lea dihadapan Richard dan juga Ellio. Mereka tengah duduk dan hendak makan bersama di sebuah restoran.


"Kasian mas, dia hilang. Kalau mau mikirin sakit hati dan dendam mah nggak akan ada habisnya." jawab Lea.


"Emang udah jelas hilang, udah lapor polisi gitu?" tanya Ellio pada Lea.


"Udah om, ada koq surat laporannya. Ditunjukin sama si Maya. Udah dua minggu ini dia nggak ada kabar sama sekali katanya."


Daniel menghela nafas, sementara Richard tampak baru selesai mereguk air putih dari dalam gelas.


"Ya udah nanti dibantu cari." ujar Richard.


"Beneran yah?"


"Iya." jawab Richard lagi.


Lea kini mengalihkan tatapan matanya kepada Daniel. Pria itu lagi-lagi menghela nafas.

__ADS_1


"Iya." jawabnya kemudian.


"Om Ellio bantu kan?"


Lea gantian menatap Ellio, dan mau tidak mau Ellio pun menyetujui. Sejatinya Daniel masih kesal pada sikap Sharon selama ini terhadap Lea. Namun demi melihat Lea yang sangat ingin membantu gadis itu, maka Daniel akan turut membantunya.


Ia tak ingin Lea jadi kecewa, lantaran permintaannya tak dituruti. Lagipula sejahat-jahatnya gadis seperti Sharon. Orang-orang akan tetap merasa miris dan kasihan, apabila ia menjadi korban dari orang-orang keji yang tak berperasaan.


Beberapa saat kemudian pesanan makanan mereka pun tiba, lalu keempatnya makan sambil terus berbincang.


***


"VR siapa nih yah?"


Lea bertanya pada Richard, ketika mereka semua sudah selesai makan dan berada di halaman parkir. Baru saja seorang driver ojek online mengantarkan sebuah Virtual Reality, yang dibeli secara online oleh ayahnya itu.


"Ini punya Leo." jawab Richard.


"Leo?"


"Iya."


"Leo itu masih SMA yah, udah dikasih barang beginian."


"Ya emang kenapa, banyak koq anak SMA yang make."


Richard membela diri. Sedang Ellio dan Daniel saling memberikan lirikan dan kini kembali menatap Lea juga Richard.


"Tapi kan nanti jadinya dia main ini mulu, nggak belajar."


"Nggak, ayah awasin koq dia." tukas Richard lagi.


"Terus punya aku mana?" tanya Lea.


Lea mengalihkan tatapan kepada Daniel. Secara serta merta Daniel mengalihkan pandangan mata ke arah lain. Membuat Richard dan Ellio kompak menahan tawa.


"Mas."


Daniel pura-pura tak mendengar.


"Mas, ih."


Lea mencubit lengan Daniel, hingga suaminya itu kesakitan.


"Aw, Lele. Sakit tau." ujarnya sewot.


Richard dan Ellio makin tak kuasa menahan tawa.


"Mau VR juga." ujar Lea pada Daniel.


"Buat apa sih Le, kayak begituan di beli."


"Ya buat ke Metaverse lah." jawab Lea.


"Emang kamu di Metaverse mau ngapain coba?"


"Mau jadi juragan tanah, mau jual perusahaan mas Daniel."


Richard dan Ellio terpingkal-pingkal, sementara Daniel terlihat makin sewot.


"Nggak ada, itu buat anak cowok." seloroh Daniel.

__ADS_1


"Patriarki kamu mas, mana ada VR itu punya alat kelamin. Orang itu bebas koq dibeli sama siapa aja. Mau cowok, cewek, amfibi, belok, zig-zag, nggak ada urusannya." ujar Lea kemudian.


"Udah beliin, pelit lo." seloroh Ellio.


"Lo lagi, nggak usah jadi kompor." tukas Daniel.


"Ya udah kalau mas nggak mau beliin, aku beli aja sendiri. Kan aku punya banyak uang dari ayah, dari tabungan yang sering mas kasih juga."


Daniel menghela nafas.


"Ya udah, kita beli ya."


"Nggak usah, udah nggak mood. Dibilang bukan buat cewek, toxic feminitas tau nggak?"


"Koq malah jadi marah?" Daniel heran.


"Abisnya omongan mas, kayak anak perempuan tuh nggak boleh semuanya. Emangnya dunia ini diciptakan cuma buat laki-laki?. Terus anak cewek cuma jadi babu doang gitu, jadi bini, ngurus dapur, sumur sama kasur doang?. Nggak boleh yang lain."


Suara Lea agak meninggi. Daniel kini khawatir otang sekitar mendengar ocehan perempuan itu. Sementara Richard dan Ellio kompak menatap dirinya.


"Iya aku salah ngomong, maaf ya."


"Bodo."


Lea menyilangkan tangan di dada sambil membuang pandangan ke arah lain.


"Elu sih?" ujar Ellio pada Daniel tanpa suara. Sedang Richard memang tak ingin ikut campur sejak tadi.


"Le, aku nggak ada maksud ke arah situ. Nggak ada niat aku membatasi gerak seorang perempuan."


"Itu tadi namanya apa kalau bukan membatasi?"


"Aku cuma salah ngomong, aku minta maaf ya?"


Lea masih saja ngambek.


"Maaf, ya." Daniel mengulang ucapannya sekali lagi.


"Kita beli VR nya sekarang?"


Seketika Lea pun langsung sumringah.


"Mau, mau, mau." ujarnya bersemangat. Kali ini Richard tertawa demi melihat semua itu.


"Ya udah sekarang ya mas."


"Iya."


Lea dan Daniel bersiap, namun tiba-tiba Ellio pindah berdiri di hadapan muka Daniel.


"Kenapa lo?" tanya Daniel seraya mengerutkan keningnya.


"Hehehe." Ellio menjawab dengan nyengir bajing, namun terdapat maksud yang besar di balik semua itu.


"Kagak." ujar Daniel seakan mengetahui isi kepala Ellio.


"Gue mau dibeliin juga." ujarnya dengan mata yang sengaja di besar-besarkan.


"Elu kan kaya-raya, Bambang. Udah gitu harta itu barang cuma 5 jutaan. Malu sama saldo ATM dan isi dompet lo sekarang."


"Tapi gue mau dibeliin." Ellio bersikeras. Richard sudah benar-benar tak kuasa menahan tawanya.

__ADS_1


"Ya udah, barengan sama Lea." ujar Daniel kemudian.


Ellio sumringah, sama hal nya seperti Lea. Sementara otak Daniel mulai keriting. Lantaran memiliki istri dan teman yang terkadang masih terlihat seperti bocil.


__ADS_2