
Lea dan Daniel mengantar Leo kembali ke apartemen. Tak lama setelah itu mereka pun bergerak menuju ke kediaman mereka.
Di sepanjang jalan, tentu saja mereka terlibat obrolan yang seru. Seakan keduanya tak pernah kehabisan topik. Mereka terus tertawa-tawa, sampai kemudian keduanya terdiam. Ketika melihat sosok Grace yang berada di pos sekuriti.
"Grace?"
Daniel bersitatap sejenak dengan Lea, lalu buru-buru memarkir mobil dan keluar dari sana. Ia dan Lea kemudian menghampiri sang ibu tiri.
"Grace, ada apa?" tanya Daniel pada wanita itu.
"Dan maaf, aku kesini. Soalnya aku nggak bisa menghubungi kamu. Handphone ku ada di rumah papa kamu, dan...."
Grace menjeda ucapannya dengan menarik nafas. Daniel dan Lea fokus mendengarkan.
"Aku di usir oleh papa kamu dari rumah. Aku nggak bawa apa-apa." Lanjutnya kemudian.
Daniel terkejut, begitupula dengan Lea.
"Kita bicara di atas." ujar Daniel.
Tak lama setelah itu, ketiganya sudah berada di dalam penthouse. Daniel duduk berseberangan dengan Grace di meja makan, sedang Lea ada di sisi suaminya.
Daniel membiarkan Lea ikut mendengarkan, agar tak terjadi kesalahpahaman. Biar bagaimanapun juga Grace adalah mantan Daniel, meski saat ini sudah berstatus sebagai ibu tiri.
"Perempuan itu, sudah hamil katanya." Grace berujar.
Daniel dan Lea terkejut mendengar semua itu. Perempuan yang dimaksud sudah barang tentu adalah pacar Edmund yang baru.
"Dia bilang, perempuan itu masih bisa hamil kapan saja. Kalau seandainya gagal mendapat anak laki-laki, dia bisa hamil lagi. Sedangkan aku sudah mau berusia 40, dia bilang aku sudah nggak ada gunanya lagi."
Hati Daniel benar-benar emosi mendengar semua itu, sedang Lea berkali-kali mengelus dada. Ia amat sangat membenci laki-laki, yang hanya memposisikan perempuan sebagai pabrik anak.
Beruntung Daniel lebih banyak di didik oleh orang tua Richard maupun Ellio. Ia lebih banyak tinggal dan menghabiskan waktu dengan mereka. Hingga Daniel pun tumbuh tak seperti ayahnya. Bisa dibayangkan jika Daniel dididik oleh ayahnya itu, betapa banyak perempuan yang akan ia sakiti.
Ia tampan, kaya, punya kuasa. Perempuan mana yang tak bisa di manipulasi olehnya. Tetapi Daniel adalah kebalikan dari Edmund, dan Lea sangat beruntung untuk itu.
"Yang aku pikirkan itu cuma Danisha. Saat ini dia butuh banyak biaya dan aku juga mikirin masa depannya dia."
__ADS_1
Grace mulai menangis. Lea menyodorkan tissue pada perempuan itu, setelah tadi Lea juga yang memberinya air minum.
"Makasih." ujar Grace seraya mengambil tissue dan menyeka air matanya.
"Kamu nggak perlu pusing soal itu. Soal biaya rumah sakit Danisha, masih ada aku. Soal masa depannya juga, masih ada aku. Aku kakaknya dan aku akan urus dia dengan baik."
"Aku nggak enak Dan, aku nggak mau menyusahkan kamu soal itu."
"Kamu bisa kerja, kalau memang kamu ngerasa nggak enak mengandalkan bantuan. Kan kamu juga terbiasa kerja. Aku masih punya banyak teman, relasi, banyak pekerjaan kalau kamu mau. Nggak perlu terlalu kamu pikirkan soal keuangan. Yang harus kamu lakukan itu adalah melaporkan dia juga ke polisi. Bahwa dia sudah mengusir kamu secara kasar, menyimpan perempuan lain di rumah dan menelantarkan anak. Dia bisa di jerat dengan semua itu, karena posisi kalian menikah secara sah. Kamu istri sah dan Danisha anak yang sah."
Grace terdiam.
"Itu juga yang aku pikirkan, aku kesini karena aku butuh sharing. Aku bingung harus mengadu ke siapa lagi, Dan."
"It's ok. Aku akan bantu sebisa aku." jawab Daniel.
Usai Grace bercerita panjang lebar, Daniel meminta izin pada Lea untuk mengantar wanita itu. Ia juga mengatakan pada Lea, bahwa ia akan meminjamkan salah satu apartemen miliknya kepada Grace. Sampai Grace mendapat pekerjaan dan bisa menyewa tempat sendiri.
Lea pun tak masalah, toh itu adalah harta milik suaminya. Yang terpenting baginya adalah, Daniel tau batasan. Menolong orang silahkan, tapi jangan sampai menodai pernikahan sendiri.
Daniel berjanji akan memenuhi permintaan Lea. Pria itu pun mengantar Grace ke salah satu apartemen miliknya. Sebuah apartemen yang tidak terlalu besar, namun cukup aman dan nyaman.
Ia mengatakan pada Grace bahwa ia akan segera menghubungi team pengacaranya. Agar team pengacara tersebut bisa membantu Grace menjerat Edmund.
Memang kesannya Daniel agak menjadi durhaka kali ini. Tapi mau bagaimana lagi, Edmund memang sudah keterlaluan. Ok jika ia sudah tak mau dengan Grace, pria itu bisa meninggalkannya. Tapi untuk Danisha, ia tak bisa berbuat seperti itu.
Danisha itu seorang anak yang tidak bersalah. Ia tidak bisa memilih dilahirkan sebagai perempuan ataupun laki-laki. Harusnya Edmund tidak membeda-bedakan anak berdasarkan gender. Anak tetaplah anak, sebagaimana pun kita menolak dan mengingkarinya.
***
"Kami akan urus kasus ini sesegera mungkin."
Salah satu dari team pengacara berbicara pada Daniel. Setelah ia menghubungi dan bertemu dengan mereka.
Daniel pun mengangguk, dan memberikan akses pada mereka untuk terhubung langsung dengan Grace. Karena mereka akan berurusan dengan Grace.
Grace sudah diberi uang pegangan oleh Daniel dan disuruh membeli handphone pula oleh pria itu. Karena dewasa ini handphone menjadi barang yang sangat dibutuhkan.
__ADS_1
Grace akan butuh untuk berhubungan dengan berbagai pihak. Terutama masalah kasus yang tengah ia hadapi.
***
"Le, aku ada kasih Grace uang. Buat pegangan dia selama beberapa waktu. Tapi aku juga udah hubungi teman aku, buat kasih kerjaan ke dia. Nggak apa-apa kan?"
Daniel bertanya pada Lea, ketika ia telah kembali lagi ke penthouse.
"Nggak apa-apa mas, itu kan uang mas. Hak mas mau dipakai bantu siapa aja, asal rumah tangga kita nggak kekurangan. Karena yang harus tetap di dahulukan itu kan rumah tangga."
"Iya, makasih ya."
"Iya mas, sama-sama."
"Oh ya, mas jadi bantu mau kasih pengacara buat dia?"
"Jadi koq, tadi udah aku hubungi dan kita udah ketemu."
Lea mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Semoga cepat selesai ya mas."
"Iya, semoga si tua bangka itu segera sadar." jawab Daniel lalu mengambil segelas air putih.
"Tapi kalau ke mas dulu, dia jahat nggak sih mas?"
"Siapa?. Daddy?" tanya Daniel."
"Iya." jawab Lea.
"Jahat sih nggak, tapi cuek. Ya waktu aku kecil, kita lumayan deket lah. Waktu aku belum ngerti kalau dia suka main cewek. Setelah itu, udah agak menjauh."
"Oh."
Lea memperhatikan Daniel secara seksama. Dan sejak hari itu, Daniel mulai menyibukkan diri dengan membantu Grace dalam berbagai hal.
Ia memang murni membantu, tak ada niat apapun dalam hatinya. Namun kebaikan Daniel yang tak bersyarat itu, membuat Lea akhirnya tumbang juga.
__ADS_1
Ia yang tadinya biasa saja dengan sikap sang suami terhadap Grace, kini menjadi agak sedikit terganggu. Meski Daniel memang tak ada niat untuk kembali pada Grace, namun ada sebuah ketakutan dalam diri Lea akan hal tersebut.