
"Apalagi sih ini?"
Hanif benar-benar kaget siang itu. Pasalnya ia baru saja diberitahu soal Nadya yang melayangkan gugatan cerai padanya.
Hal itu bertepatan setelah ia memergoki Yayah tengah berjalan dengan salah seorang pengusaha, yang tiada lain adalah temannya sendiri. Hanif benar-benar kacau dan dunianya seakan jungkir balik.
Impian beristri banyak dan menjalani kehidupan bak raja-raja di masa lalu agaknya kini hanya menjadi isapan jempol semata. Ternyata kadang ekspektasi selalu tak sesuai dengan kenyataan. Belum selesai masalah yang satu, sudah muncul lagi masalah yang lainnya.
"Bu Nadya ingin bercerai dari bapak."
Orang kepercayaan Hanif tersebut menjelaskan masalah. Namun Hanif belum mengerti sama sekali.
"Maksudnya gimana?" tanya pria itu kemudian.
Karena rasa-rasanya wanita seperti Nadya tak mungkin akan melakukan hal tersebut. Selama ini ia terlihat lemah dan juga penakut.
"Pengacara pribadi bapak ada kasih tau saya. Suruh saya menyampaikan bahwa ibu Nadya sudah melayangkan gugatan cerai di pengadilan."
"Apa?"
Dunia Hanif seperti diterjang banjir bandang.
"Iya pak. Soalnya kata pengacara bapak, bapak nggak bisa dihubungi."
Tubuh Hanif kini gemetar. Memang benar soal handphonenya yang mati dan belum sempat di charge. Namun berita ini sangat-sangat mengejutkan dan membuat tulang Hanif serasa tak mampu lagi untuk saling menopang satu sama lain.
"Coba saya mau dengar sekali lagi." ujar Hanif masih tak percaya dan ingin memperjelas.
"Ibu Nadya melayangkan gugatan cerai untuk bapak."
Kali ini Hanif terdiam, karena sepertinya hal ini memang serius.
***
"Pak, pacar bapak udah melayangkan gugatan cerai tuh sama suaminya."
Lita memberitahukan hal tersebut kepada Richard, disaat Richard tengah makan siang bersama Daniel dan juga Ellio. Lita mendapatkan informasi tersebut tentu saja dari Putri.
Richard senang bukan kepalang, bahkan ia kini tampak tersenyum-senyum sendiri. Membuat menantu dan juga sahabatnya menjadi heran.
"Mertua lo kenapa?" bisik Daniel pada Ellio.
"Nggak tau, di makanannya ada ekstrak kecubung kali. Makanya langsung begitu tuh kelakuan." tukas Daniel.
Mereka berdua memperhatikan Richard, hingga akhirnya Richard pun sadar jika ia tengah dilihat oleh kedua orang itu.
"Kenapa lo berdua?" tanya Richard dengan tatapan yang penuh rasa penasaran.
"Elu yang kenapa?" tukas Daniel.
"Tau, senyum-senyum sendiri kayak kesurupan pelawak." Ellio menimpali.
__ADS_1
Kali ini Richard tertawa, namun tak bisa mengatakan apa penyebabnya.
"Tuh kan, aneh." ujar Ellio.
Daniel hanya menarik salah satu sudut bibirnya dan tersenyum. Kemudian mereka semua lanjut makan, sedang Richard akhirnya membalas Lita.
"Kalian mau makan apa hari ini?. Saya bayarin." ujarnya.
Tentu saja Lita dan para asisten rumah tangga Richard yang lain kegirangan. Mereka kebagian rejeki nomplok dalam peristiwa ini.
***
"Delil."
Lea muncul di dekat Darriel dengan tubuh tertutup seprai berwarna putih. Darriel yang tadinya tampak tenang berguling-guling di atas tempat tidur, kini seakan terkejut dan mendadak terdiam.
"Delil."
Lea mengangkat kedua tangannya yang juga tertutup seprai putih tersebut. Ia tampil seperti hantu Halloween dihadapan sang anak.
"Heheee." Darriel malah tertawa.
"Kamu nggak takut sama aku, Delil?" tanya Lea seraya makin mendekat.
"Heheee."
Lagi-lagi Darriel tertawa.
"Aku hantu penunggu rumah ini." ujar Lea.
Lea menakuti bayi itu lagi dan lagi, namun Darriel sepertinya tidak goyah sama sekali. Alhasil Lea pun jadi menyerah dengan sendirinya. Ia membuka seprai tersebut lalu duduk di sisi sang anak.
"Capek mama nakutin kamu, nggak mempan." ujarnya lalu mengambil roti yang ada di meja samping tempat tidur, kemudian memakannya.
"Hokhoaaa."
Darriel memperhatikan Lea seraya menggerakkan tangan dan juga kakinya dengan sangat antusias.
"Apa, mau?" tanya Lea.
"Heheee."
"Nggak boleh, kamu mana punya gigi buat makan beginian."
"Hokhoaaa."
Lea lalu memberikan sang anak botol susu yang berisi ASI. Akhirnya Darriel pun diam dan meminum ASI-nya sampai habis.
***
"Bu, didepan ada bapak."
__ADS_1
Putri mengabarkan kepada Nadya yang tengah memasak di dapur.
"Bapak maksudnya?"
Nadya bingung antara Hanif atau Richard. Sebab kini kedua laki-laki itu ada di dalam hidupnya, meski ia sudah tak mencintai salah satu diantara mereka.
"Pak Hanif, bu." ujar Putri.
"Mas Hanif?. Ngapain dia dan dimana posisinya?" tanya Nadya.
"Di luar pagar, bu. Dia marah-marah nggak ada yang bukain pintu. Sekuriti cuma mau menuruti perintah ibu dan pak Hanif maki-maki sekuriti." jawab Putri.
Nadya bergerak dan ia mengintip dari balik gorden kaca ruang tamu, dan dari sana ia bisa melihat bahkan mendengar kata-kata Hanif yang kasar dalam memakai sekuriti.
"Saya bisa pecat kalian sekarang juga. Dasar nggak tau diri semuanya. Udah diangkat dari tempat yang kotor, tapi nggak tau terima kasih." ujarnya.
"Maaf pak, kami bekerja dengan bu Nadya yang punya rumah ini. Maka sepatutnya kami menuruti perintah beliau."
Salah seorang sekuriti menjawab dengan nada yang begitu sopan.
"Iya pak, betul. Karena bu Nadya yang menggaji kami." timpal sekuriti yang lainnya lagi.
"Gaji yang diberikan Nadya kepada kalian itu adalah uang dari saya. Tanpa uang dari saya si Nadya itu jangankan mengaji kalian, bahkan makan pun dia belum tentu bisa. Perempuan kayak gitu bisanya cuma jadi istri dan minta duit. Mana bisa dia cari duit."
Perkataan tersebut terasa menusuk sampai ke hati Nadya. Ia kini bertambah yakin jika ia tidak salah ingin bercerai dari Hanif.
"Maaf pak, ada apa ya?"
Tiba-tiba pak RT setempat mendekat.
"Ini pak, saya mau menemui istri saya tapi di tolak." ujar Hanif.
"Sekuriti kurang ajar, padahal gaji mereka itu berasal dari uang saya." lanjutnya lagi.
"Mohon maaf pak."
Pak RT tersebut kembali bicara pada Hanif.
"Pak Hanif ada keperluan apa kemari?".
Pertanyaan pak RT itu membuat Hanif menjadi bingung.
"Loh, saya ini suami Nadya pak. Masa suami dilarang pulang ke rumah istrinya sendiri." Hanif sewot.
"Mohon maaf, pak. Tapi ibu Nadya sudah menginformasikan kepada saya dan pak RW, kalau bule Nadya dan pak Hanif ini sedang dalam proses perceraian. Bu Nadya bilang hubungan kalian tidak baik dan memang Bu Nadya ingin menghindari bertemu bapak. Bu Nadya meminta perlindungan kepada kami selalu rukun tetangga dan rukun warga disini, pak."
Hanif benar-benar kaget mendengar semua itu. Bisa-bisanya Nadya berpikir demikian untuk tidak bertemu dengan Hanif.
"Tapi pak pengajuan cerai ini secara sepihak. Saya benar-benar tidak tahu-menahu."
"Kami tidak bisa membiarkan bapak masuk sendirian. Kalau mau saya yang mendampingi. Sebab akhir-akhir ini banyak sekali kasus kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi akibat perceraian. Untuk menghindari hal yang tidak-tidak, kami minta bapak bekerjasama dengan kami."
__ADS_1
Hanif makin kesal mendengar semua itu. Sebab ia datang untuk bertanya sekaligus berdebat dan bertengkar dengan Nadya. Namun dengan adanya ketua RT seperti ini, hal tersebut akan mustahil dilakukan.
Maka Hanif pun akhirnya memutuskan untuk pulang saja ke rumah dan menyimpan kekesalannya dalam hati. Nanti bila ada kesempatan, ia akan kembali lagi.