Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Kedatangan Maryam


__ADS_3

"Lo kenapa sih, bisa sampe ada disini?" tanya Daniel pada Ellio dengan suara berbisik.


"Gue dibohongin sama mami." jawab Ellio dengan suara berbisik pula.


"Tadi mami bilang Hartono masuk lobang pipa saluran air. Jadi gue buru-buru kesini." lanjutnya kemudian.


Hartono adalah biawak peliharaan Richard yang sangat lengket dan penurut dengan ibu Richard. Akhirnya Hartono pun di akuisisi oleh wanita itu.


"Tapi mami bohong?" tanya Daniel lagi.


"Iya, orang Hartono dibawa jalan-jalan sama pembantu keluarga Richard yang paling bohay."


"Kartina?" bisik Daniel.


"Siapa lagi."


"Terus, begitu datang lo langsung di kepung gitu?"


"Iya, tadinya kan gue mau ngajak Marsha ke rumah gue. Mau gue kasih anak, biar nggak selingkuh dari gue. Eh kejebak disini dan dikepung sama kemoceng army."


"Elu, niat lu buruk. Makanya dihalangi sang pencipta dan diarahkan kesini untuk disandera." ujar Daniel.


"Iya sih, gue udah menyadari itu dan gue menyesal." tukas Ellio.


"Lo kenapa nggak nikahin aja sih si Marsha?"


"Gue udah bilang, tapi dianya yang belum mau. Masih mau berkarier katanya. Dia pengen ke Korea dulu, pengen daftar di SM entertainment."


"Serius lo, Marsha ngomong gitu?"


"Serius gue, makanya gue pengen kasih dia semprotan kenikmatan gue. Biar terikat dan nggak bisa lari dari gue lagi. Daripada dia keburu ke Korea terus jatuh cinta sama Choi Siwon."


"Otak lu somplak." ujar Daniel lagi.


"Gara-gara niat buruk lo ini, gue, Lea sama Richard jadi kena getahnya. Coba kalau lo nggak berniat mesum ke si Marsha, pasti lo nggak akan diarahkan ke sini sama sang pemilik alam."


"Iya ceramah mulu lo ah, dah kayak mama dan a'ak."


"Awas lo mesum lagi, gue cuci otak lo pakai deterjen." ancam Daniel.


"Iya, nggak lagi. Paling gue senggol-senggol dikit, buat basahin doang."


"Sama aja, Bambang." Daniel sewot.


Tak lama Richard pun turun. Ia melangkah dengan tenang dan pasti, seolah siap menghadapi segala permainan yang dibuat ibunya. Meski dalam hati ia sangat ingin kabur.

__ADS_1


Sebuah mobil terdengar tiba di depan. Dan itu adalah ayah Richard. Dibelakang mobilnya terdapat mobil lain yang membawa berbagai perlengkapan. Sepertinya itu adalah hadiah, yang akan diberikan sang ibu pada si calon besan.


Para asisten rumah tangga mengeluarkan semua barang tersebut dari dalam mobil. Ada tas, sepatu, makeup dan lain-lain.


"Ini Richard mau sekalian lamaran apa gimana?" tanya Daniel pada Ellio.


"Nggak tau, iya kali." ujar Ellio.


Mereka kini menatap Richard, terlihat jelas wajah Richard yang tertekan. Lea sendiri jadi bersimpati terhadap ayahnya itu. Ia dan Marsha turut menatap ke arah Richard.


"Daniel, Ellio, kalian temani Richie ke ruangan itu. Jangan keluar sebelum di minta." ujar sang ibu.


Richard melangkah pasrah, diikuti Daniel dan juga Ellio.


"Lea dan Marsha bantu mbak-mbak siapkan makanan ya. Kalian atur mejanya jadi secantik mungkin."


"Iya oma." jawab keduanya serentak.


"Rey, kamu sama papi dan mami. Kita yang sambut keluarga Maryam."


"Iya mi." jawab Reynald.


***


"2022 nama Maryam. Khawatir gue tampilannya gimana."


"Eh jangan salah, lo pergi ke timur tengah, cari yang namanya Maryam. Pasti cakep-cakep semua, mustahil kagak cakep." ujar Ellio kemudian.


"Itu kan di timur tengah. Kita di timur khatulistiwa." Richard makin sewot.


"Yang namanya Gabriela dan Monica aja kadang nggak meyakinkan kalau disini." lanjut pria itu.


Daniel menghela nafas dan menepuk bahu sahabat sekaligus mertuanya itu.


"Gue harus gimana, kalau tuh cewek suka sama gue?" Richard bertanya dengan nada serius pada Daniel dan juga Ellio.


"Gue harus ngomong apa ke Dian?. Gue udah janji mau nikahin dia, setelah dia selesai kuliah."


"Lo tinggal ngomong aja ke si Maryam, kalau lo itu sebenarnya udah punya cewek yang mau lo nikahi." jawab Daniel.


"Bener, cewek jaman sekarang kan kebanyakan nggak mau di duakan. Gue yakin Maryam juga bakal mundur kalau lo bilang begitu ke dia."


"Lo yakin?" tanya Richard pada kedua sahabatnya itu.


"Yakin." jawab Daniel dan Ellio di waktu yang nyaris bersamaan.

__ADS_1


Richard pun menarik nafas dan berpikir.


***


"Le, itu pak Richard gimana?"


Marsha bertanya pada Lea, ketika mereka tengah menyiapkan makanan di meja makan dan di beberapa meja lainya. Sebab menurut informasi Maryam datang dengan didampingi keluarga besar yang jumlahnya tak sedikit. Maka dari itu keluarga Richard menyiapkan banyak makanan, baik berat maupun ringan.


"Nggak tau gue kak. Kasian juga sih sama ayah, tapi oma galak banget. Gue nggak berani ngebelain ayah. Ayah aja takut sama ibunya, apalagi gue."


"Iya sih, nenek lo galak banget kalau sama anak."


"Iya liat aja pada kagak ada yang berani kan?" ujar Lea.


Suara mobil-mobil yang mencari tempat parkir mulai terdengar di halaman depan. Sepertinya keluarga perempuan yang akan di jodohkan dengan Richard itu telah datang.


Kebetulan pekerjaan Lea dan Marsha pun telah selesai. Kedua perempuan itu segera mendekat ke arah depan dan mengintip. Tampak banyak orang keluar dari dalam mobil dan tampilan mereka semua religius.


Marsha dan Lea langsung melihat tubuh mereka yang hanya mengenakan baju tidur, sedang Marsha memakai dress cukup ****. Lea menarik Marsha untuk ke atas.


"Jangan sampai acaranya kacau gara-gara tampilan neraka jahanam kita kak." seloroh Lea.


Ia dan Marsha cekikikan lalu naik ke lantai atas. Mereka mengintip saja semuanya dari sana.


Sedang kini Richard makin terpaku di tempat duduknya. Daniel dan Ellio berusaha menguatkan sahabat mereka itu.


"Setidaknya lo temui dulu, bro. Jadi atau nggak nya, lo punya hak untuk menerima ataupun menolak. Lo laki-laki." ujar Ellio.


"Pokoknya yang penting hari ini bisa lolos dulu dari mami." Daniel menimpali.


"Yoi, sisanya kita harus hati-hati kalau mami nelpon dan minta tolong lagi ke kita. Udah pasti itu jebakan Batman." seloroh Ellio.


Richard menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Pria itu mencoba menetralkan segala perasaan gugup yang melanda.


Sementara diluar, keluarga Richard memberikan sambutan terhangatnya untuk keluarga Maryam. Mereka saling bersalaman dan berbicara dengan penuh kebahagiaan.


"Maryam nya yang mana?" tanya Lea seraya melihat beberapa perempuan yang ada di samping para laki-laki.


"Iya, tua semua perasaan." ujar Marsha.


"Apa oma sengaja ngejodohin ayah sama cewek yang tua ya?. Supaya pas anak gue lahir, anak gue jadi langsung punya nenek."


Kali ini Marsha terpingkal-pingkal.


"Eh Lea, pemikiran macam apa itu?" tanya nya kemudian.

__ADS_1


"Loh bener kan kak?" Lea kembali bertanya.


Lagi dan lagi Marsha pun terbahak, hingga bagian bawah perutnya terasa geli, akibat tak bisa berhenti tertawa.


__ADS_2