Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Karma


__ADS_3

Richard tengah berjalan menuju ke arah kantor, ketika Daniel secara serta merta mendorong pria itu dan mencekik lehernya.


"Gue tau lo bapaknya Lea. Tapi gue nggak akan biarkan, kalau seandainya lo mencelakakan istri dan calon anak gue. Gue punya firasat buruk tentang lo."


Daniel menatap tajam ke mata Richard, begitupun sebaliknya. Tak lama kemudian ada beberapa karyawan mereka yang mulai melintas. Daniel melepaskan tangannya dari leher Richard. Tak lama kedua bos itu pun berjalan ke arah pintu lobi kantor masing-masing.


***


Siang hari, seusai istirahat.


Ellio berjalan di sisi Daniel, tak lama mereka berpapasan dengan Clarissa yang tengah melintas. Daniel cuek saja, lalu ia dan Ellio pun masuk ke ruangannya.


"Bro, lo masih biarin aja si cewek biang masalah itu di kantor lo?" tanya Ellio pada Daniel.


Daniel membuka laptop dan mulai berkutat dengan pekerjaannya. Namun ia masih menanggapi Ellio.


"Kalau dia gue pecat tanpa sebab, dia bisa aja mengarang cerita yang lebih drama. Dan seisi kantor bakalan mengira kalau gosip yang beredar itu bener."


"Emangnya gosip yang beredar apaan?" tanya Ellio.


"Katanya pas Clarissa mau kerja di kantor ini, gue menetapkan syarat bahwa dia harus tidur sama gue dulu. Dia punya foto lagi berdua sama gue dan dia mengatakan kalau itu foto baru."


"Tapi kan biasanya foto ada tanggal pengambilan. Orang nggak bisa seenaknya membuat berita hoax, kalau di selidiki kena itu dia."


"Ya orang nggak mungkin mau mencari tau sampai sedetail itu kali, tau sendiri tabiat masyarakat kita. Berita apa yang tersaji di depan mata, itulah yang mereka percayai. Mereka cenderung jarang mencari kebenaran, udah keburu heboh dan pengen menghujat. Ntar ujung-ujungnya cuci tangan, kalau berita yang mereka percayai itu terbukti nggak bener."


"Iya sih, tapi dengan membiarkan dia disini. Sama aja lo memelihara ular berbisa dalam rumah. Bisa-bisa lo sendiri yang digigit, terus mati."


Daniel menarik sudut bibirnya.


"Tenang aja, gue udah nyusun rencana buat menyingkirkan dia. Termasuk membuat Richard mengembalikan Lea ke gue."


"Rencana apaan?" tanya Ellio penasaran.


Daniel yang memperhatikan layar laptop, kini melihat ke arah Ellio.


"Lo tunggu aja dalam waktu dekat, gue nggak akan memecat dia. Tapi gue akan buat dia keluar dengan sendirinya dari sini."


"Masalah Richard?"


"Dia akan segera gue paksa untuk menyerah."


Ellio diam dan memperhatikan Daniel.


"Ok, good luck." ujarnya kemudian.

__ADS_1


***


"Shar, lu koq nggak heboh lagi soal Lea?"


Tasya bertanya pada Sharon di suatu sore, kala itu mereka baru saja keluar kelas dan duduk di kantin kampus.


"Gue lagi banyak urusan." ujar Sharon dengan nada malas dan sedikit gusar. Aura wajahnya begitu kelabu, tak seperti Sharon yang biasanya.


"Urusan apaan?" tanya Maya.


"Aset-aset bokap gue yang tersembunyi, udah mulai ketahuan dan sebagian udah disita."


"Di sita?" Maya dan Tasya tak percaya.


Sharon pun mengangguk lemah.


"Iya." jawabnya kemudian.


"Terus nasib lo gimana nanti?" tanya Maya seraya menatap sahabatnya itu.


"Nggak tau gue, emak gue nangis-nangis mulu tuh di rumah. Mobil gue ini aja, sisa yang terakhir nih. Ini juga kayaknya bakalan berakhir disita juga."


Maya dan Tasya saling bersitatap, mereka terdiam untuk waktu yang cukup lama.


Sharon melemparkan tatapan matanya ke suatu sudut.


"Nggak tau gue, otak gue lagi runyam banget sekarang. Belum bisa mikir soal ini dan itu."


Lalu ketiganya kembali terpaku dalam hening, agaknya Sharon mulai menuai karma atas apa yang pernah ia perbuat selama ini.


***


Berbeda dengan Sharon, ibu Lea justru kini tengah menikmati karma baik. Entah apakah ini pantas disebut demikian. Ataukah hanya alam yang ingin memanjakannya barang sesaat, sebelum ia di jatuhkan kembali ke dalam jurang.


Pasalnya wanita itu kini menerima kompensasi dari Richard. Ia diberi uang ganti rugi, karena telah mengandung dan membesarkan keturunan dari pria itu.


Tentu saja nominalnya cukup menggiurkan. Pasalnya kini ibu Lea bisa membeli mobil dan belanja banyak sekali. Apapun yang mustahil ia beli selama ini, kini semua ada di depan mata.


"Aku butuh modal lebih banyak, untuk meneruskan usaha aku yang kemarin. Biar usaha itu nggak sia-sia."


Ayah tiri Lea berkata pada istrinya, ketika istrinya itu menolak memberikan modal tambahan.


"Gini ya mas, aku nggak mau ngambil resiko. Nanti kalau bisnis kamu itu gagal lagi gimana?"


"Ya mana kita tau, kalau nggak di coba. Kamu itu udah pesimis duluan, sebelum melangkah."

__ADS_1


"Pokoknya aku nggak mau." Ibu Lea bersikeras.


"Kamu itu gimana sih, kita ini kan suami istri. Harusnya kamu bantuin suami saat lagi susah begini. Baru dapat uang segitu aja udah sombong."


"Uang segitu kamu bilang?. Bisa kamu kasih aku sebanyak ini, sekarang?"


"Kamu udah mulai ngelawan ya." Ayah tiri Lea bersiap memukul sang istri.


"Pukul aja, jangan salahin aku kalau aku gugat cerai."


"Oh, jadi kamu mau pisah sama aku. Mentang-mentang ada bapaknya Lea sekarang, yang bisa kasih kamu duit banyak."


"Kalau kamu bertingkah, aku siap menjanda kapan aja. Urus tuh tiga anak kamu, aku mau jadi janda santai. Udah terlalu capek aku hidup miskin dan tertekan terus sama kamu."


Ayah tiri Lea begitu geram, namun kemudian ia pergi meninggalkan tempat tersebut. Ibu Lea membuka barang-barang belanjaannya dengan hati senang. Tak lama kemudian Leo melintas.


"Leo, ini ada baju buat kamu."


Perempuan itu berujar pada Leo. Sementara remaja itu menatap ibunya dengan pandangan yang tak suka.


"Ibu belum puas juga, memanfaatkan anak sendiri demi uang?"


Leo berujar sinis, yang berujung pada naiknya emosi sang ibu ke ubun-ubun.


"Kamu ini apa-apaan sih?" ujar ibunya seraya mendekat.


"Ibu yang apa-apaan?. Ibu macam apa yang selalu memanfaatkan anaknya demi uang."


"Jangan kurang ajar kamu ya. Masih dikasih makan sama orang tua, udah berani mendikte."


"Bukannya ngasih makan anak itu kewajiban?. Kalau nggak mau ngasih makan, ya jangan punya anak. Apalagi sampai memanfaatkan anak demi uang."


"Plaaak."


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Leo.


"Tau apa kamu, hah?. Ibu membesarkan Lea itu dengan susah payah, wajar kalau ibu minta ganti rugi sama bapaknya dia."


Leo menatap ibunya itu dalam-dalam, tak lama kemudian ia pun berlalu.


"Anak jaman sekarang, pada kurang ajar banget sama orang tua." gerutu perempuan itu kemudian.


"Gue buang ke jalanan, tau rasa lo." lanjutnya lagi.


Wanita itu pun kembali pada barang belanjaannya dan mengagumi itu semua.

__ADS_1


__ADS_2