
"Tadi Danila cerita apa aja?"
Daniel menginterogasi istrinya, ketika mereka sudah berada di jalan pulang.
"Nggak cerita apa-apa." dusta Lea.
"Bohong kamu, dari awal sampe mau pulang aja kalian masih ketawa-ketawa sambil ngeliat ke aku."
"Hehe."
Lea nyengir lebar, membuat Daniel serasa ingin memukul kepala perempuan itu dengan batu.
"Pasti kalian ngomongin kegantengan aku kan?"
"Dih, mas pede banget. Orang Danila ngomongin segala kejelekan mas Daniel koq."
"Kejelekan apaan?" tanya Daniel setengah tertawa, ia agak sewot mendengar semua itu.
"Katanya mas itu jahil orangnya, banyak yang ingin memusnahkan mas di sekolah."
Daniel menahan tawa dan terus berkonsentrasi dalam mengemudi.
"Enak aja, aku nggak gitu ya." ujarnya membela diri.
"Danila itu suka mengarang bebas." lanjutnya kemudian.
Lea ingin percaya, namun wajah dan nada bicara sang suami tidak meyakinkan.
"Aku sih lebih percaya Danila." ujar Lea.
Kali ini Daniel benar-benar tertawa, Lea mengingat banyak hal yang dibicarakan oleh sepupu suaminya itu.
"Tapi mas Dan banyak yang naksir nggak sih kak?" tanya Lea pada Danila saat itu.
"Kalau cewek sekolah lain, iya banyak." jawab Danila.
"Karena kan dia bentukannya udah ganteng dari masih zigot."
Lea terbahak.
"Kalau di sekolah sendiri?" tanya nya kemudian.
"Kayaknya mereka udah males duluan deh, udah capek sama kelakuan Daniel." ujar Danila sambil tertawa.
Lagi dan lagi Lea ikut tertawa.
"Dan lagi dia tuh cuek banget, kalau ada yang bilang suka sama dia."
"Pernah gitu?"
"Pernah, tapi sama Daniel malah di jauhin. Sejak itu kalau ada cewek yang suka sama dia, rata-rata pada nggak berani bilang sama Daniel, takut dijauhin. Makanya mereka lebih memilih jadi temen, biar bisa selalu sama dia."
"Oh gitu, aku pikir dia playboy." ujar Lea.
"Jaman dulu nggak, nggak tau deh kalau sekarang." ujar Danila.
"Sebelum sama Grace, dia ada cewek nggak?" tanya Lea lagi.
"Kayaknya yang serius banget nggak ada sih, ya adalah sekedar pacar-pacaran gitu doang. Makanya aku heran, pas sama Grace dia bucin banget. Kayaknya baru kepentok cinta."
Lea menghela nafas dan terus mendengarkan Danila.
"Aku sih nggak tau persis gimana hubungan mereka, yang aku liat Daniel emang kayak nggak bisa kalau nggak sama Grace. Cinta banget sama tuh cewek, eh Grace tau-tau sama om Edmund."
"Kakak pernah ketemu Grace?"
"Sering dulu, orangnya nice sih. Tapi menurut aku, dia sama Daniel sama-sama keras orangnya. Mungkin karena dia lebih tua dari Daniel kali ya."
"Maybe." ujar Lea seraya menyedot minumannya.
__ADS_1
"Aku juga udah bingung banget ngadepin Dan, waktu dia ditinggal Grace. Aku pikir dia bener-bener nggak akan jatuh cinta lagi, dan itu sempat membuat kami semua khawatir. Eh nggak taunya sekarang malah nikah, dan mau punya anak lagi."
Raut wajah Danila terlihat bahagia.
"Pokoknya kami semua happy buat kalian." ujarnya seraya tersenyum.
Lea pun bernafas lega untuk itu, setidaknya kini ia tahu jika keluarga Daniel tak seperti keluarga Rangga. Lagi dan lagi ia merasa beruntung.
***
"Kamu baik-baik disini."
Lea akhirnya mengunjungi Leo, pada hari berikutnya. Ia kini sedang menasehati adik laki-lakinya itu.
"Uang yang mas Dan kasih, pergunakan dengan baik. Jangan dipake buat yang nggak-nggak, ngerti?"
Leo mengangguk, mereka berdua duduk di pinggiran tempat tidur. Sambil menghadap ke arah kaca jendela.
"Belajar yang bener, sekolah jangan bolos. Biar lo bisa masuk SMA yang bagus. Pokoknya lo harus sukses, gue akan bantu sebisanya." ujar Lea lagi.
Mereka lanjut berbincang di tempat itu, sampai kemudian Daniel datang dan membawa makanan. Mereka bertiga pun lalu makan bersama-sama, sambil bercerita dan tertawa.
***
"Adisty?"
Lea melihat temannya Adisty yang tengah keluar dari sebuah pusat perbelanjaan. Di sisi kanan dan kirinya terdapat dua orang bodyguard.
"Mas, stop deh...!" ujar Lea.
"Itu kayaknya Adisty." lanjutnya kemudian.
Daniel melihat ke arah pandangan mata istrinya.
"Itu memang Adisty, sayang." ujar Daniel, lalu menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Koq dia di kawal?, Apa itu bodyguard nya ayah yang mau mencelakakan dia?"
"Itu orangnya aku." ujar Daniel lagi.
"Hah?"
"Ya kan kamu sendiri bilang, suruh jagain temen-temen kamu dari orang suruhan Richard. Ya aku sewa lah mereka, ada lagi yang buat Ariana. Kalau Iqbal kan laki-laki, dia bilang nggak perlu. Karena bisa jaga diri sendiri."
Seketika Lea pun teringat pada hal tersebut. Saat ia memutuskan untuk tetap tinggal bersama Daniel, ia mengkhawatirkan keselamatan teman-temannya. Ia takut mereka dituding telah melarikan Lea, oleh bodyguard yang di sewa Richard.
"Adisty."
Lea keluar dari dalam mobil dan menghampiri temannya itu.
"Lea."
Adisty terkejut dengan kehadiran Lea. Terlebih Lea datang bersama Daniel.
"Lo dari mana?" tanya Adisty kemudian.
"Hai om, eh mas." Ia melambaikan tangan pada Daniel. Sementara Daniel hanya tersenyum.
"Gue dari nemuin adek gue, lo baik-baik aja kan?" tanya Lea pada Adisty.
"Baik, Le. Gue dikawal, anjir. Laki lo udah mewujudkan mimpi gue, kemana-mana di kawal bodyguard. Gue berasa kayak anak konglomerat di drama Korea. Gue diantar jemput pake mobil, walau gue cuma tinggal di cluster murah. KPR lagi emak gue."
Kali ini Lea tertawa, begitupula dengan Daniel. Pria itu bahkan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Semoga aja bodyguard bapak lo terus mencari elo, biar gue terus dikawal kayak gini dan terus dapat duit jajan." ujarnya lagi.
Lea tersenyum, tidak apa-apa baginya jika Daniel memberikan uang pada teman-temannya. Toh Daniel memang memiliki uang yang banyak. Lagipula Lea yakin pada teman-temannya itu, mereka orang-orang baik.
"Yang penting lo aman dan berkabar aja, jangan nggak kasih tau gue kalau ada apa-apa."
__ADS_1
"Iya, pasti." ujar Adisty.
Usai berbincang sejenak, Adisty pamit. Begitupula dengan dua bodyguardnya. Adisty kemudian diantarkan pulang. Kini tinggal Daniel dan Lea saja yang tersisa. Pasangan itupun lalu masuk ke dalam mobil.
"Le, aku kasih teman-teman kamu uang bukan apa-apa. Aku sekedar berterima kasih, karena mereka selalu jagain kamu, bantu kamu supaya bisa keluar dari rumah Richard."
"Iya mas nggak apa-apa, aku percaya mereka dan percaya juga sama mas."
Daniel tersenyum, begitupula dengan Lea.
"Ada gitu ya, orang seneng di kawal kemana-mana." ujar Lea kemudian, sambil tertawa.
"Nanti kamu juga kalau perutnya udah membesar, kemana-mana nggak aku suruh sendirian. Harus ada yang mengawal kayak tadi, kalau aku lagi nggak bisa nemenin."
"Dih, nggak mau. Nggak bebas." ujar Lea membantah.
"Lah, kamu kan lagi bawa anak aku di perut kamu."
"Ya kan anak aku juga."
"Ya makanya, harus dijaga dengan baik."
"Ribet ah, kalau nggak pindahin aja nih ke perut mas."
Daniel tertawa, ia lalu menghidupkan mesin mobil.
"Kan biar kayak di drakor, hidup kamu sama temen-temen kamu kan di dunia pararel perdrakoran."
"Nggak mau." Lea masih saja sewot.
"Kayak di novel-novel online loh, kemana-mana di kawal." ujar Daniel seraya menekan pedal gas mobilnya.
Kali ini Lea tertawa.
"Iya, aku sering tuh baca novel online. Yang kalau pacaran sama orang kaya, dikit-dikit di kawal bodyguard. Kalau ada novel yang ceritanya orang kaya juga, tapi nggak pake bodyguard. Pasti readers nya langsung komen sok ngatain gitu."
"Ngatain gimana?" tanya Daniel.
"Koq orang kaya nggak pake bodyguard, nggak masuk akal bla bla bla. Dikira semua orang kaya itu pake bodyguard kemana-mana."
Kali ini Daniel tertawa, mereka sudah masuk ke jalan protokol.
"Ya mungkin dia taunya orang kaya itu, berdasarkan apa yang dia baca. Padahal aslinya ya kamu liat sendiri aku, ayah kamu, Ellio dan temen-temen kami yang lain."
"Iya perasaan nggak ada tuh lebay-lebay banget, pake bodyguard kemana-mana. Ini aja ayah ngasih aku, karena ayah nggak mau aja aku ketemu sama mas. Hari-hari biasa dulu, aku nggak pernah liat ayah di kawal-kawal."
"Ya buat apa juga, Le. Nggak ada urusan penting yang membahayakan jiwa. Jadi ya ngapain pake bodyguard setiap hari. Kalau kayak temen kamu tadi kan jelas, lagi bahaya, takut disalahkan atas hilangnya kamu dari rumah Richard. Kalau lagi nggak ada masalah ya buat apa di kawal segala."
"Iya makanya aku nggak mau."
"Itu beda lagi, kalau yang tadi aku serius mau kasih kamu pengawalan."
"Yah, balik lagi kesitu omongannya."
"Kamu harus nurut."
"Patriarki dasar."
Daniel tertawa geli.
"Nggak koq sayang, aku bercanda. Senyaman kamu aja, yang penting kemana-mana ajak temen. Jangan sendiri."
"Nah gitu dong, itu baru suami aku."
Lea merangkul lengan suaminya dan menempelkan kepala dengan manja.
"Kalau yang tadi bukan suami kamu?"
"Bukan, nggak kenal."
__ADS_1
Lagi dan lagi daniel tertawa. Untuk kesekian kalinya dalam hidup ia merasa sangat bersyukur, karena sudah bertemu dengan perempuan seperti Lea.