
"Lo mau bisnis apa?"
Ervina salah satu teman sekolah Nadya dulu kini datang berkunjung. Setelah Nadya curhat pada wanita itu perihal dirinya yang ingin bercerai dari Hanif.
Nadya juga mengatakan jika saat ini ia ingin membuka bisnis baru, agar memiliki kesibukan.
"Gue sih belum tau, makanya nanya sama lo." ucap Nadya pada Ervina. Ketika temannya itu bertanya, Nadya ingin memiliki bisnis di bidang apa.
"Lo kan udah terbiasa bisnis dan sebagainya. Kali aja lo ada ide buat gue." lanjut wanita itu lagi.
"Mmm."
Ervina tampak berpikir.
"Lo sendiri bisanya apa?. Masak, jahit baju, punya keahlian di bidang apa aja selain itu?" tanya Ervina.
"Gue masak bisa, bikin kue bisa." jawab Nadya.
"Nah bagus tuh, coba aja lo mulai sedikit-sedikit dari rumah. Jualan di online market place, siapa tau rame." ujar Ervina.
"Iya sih." jawab Nadya.
"Masalah modal lo pasti punya kan?" ujar Ervina lagi.
"Ada kalau modal mah." jawab Nadya.
"Nah bagus itu."
"Oke deh, terus gue gimana nih?" tanya Nadya.
"Lo beli bahan dulu. Bikin tester dulu dari beberapa masakan dan kue yang lo bisa buat. Nanti kita coba dan bagikan ke orang sekitar. Kalau menurut mereka oke, ya lanjut." ujar Ervina.
"Ya udah, lusa gimana?" Lagi-lagi Nadya bertanya.
"Oke, nggak masalah. Lusa gue juga free koq. Ntar gue kesini lagi." jawab Ervina.
Maka kedua sahabat itu pun sepakat. Ervina berjanji akan membantu Nadya, sampai wanita itu mendapatkan apa yang ia inginkan.
Dulu saat menikah dengan Hanif, Hanif menjauhkan Nadya dari dunia luar. Bahkan bertemu dengan temannya pun tidak diperbolehkan.
Karena Hanif takut jika wanita itu mandiri, maka ia tidak bisa lagi di manipulasi. Ia membiarkan Nadya menjadi wanita yang tergantung padanya, agar bisa diatur-atur sesuka hati.
Sebagai teman Ervina pun malas mendekat, karena tak enak pada Hanif. Tapi kini justru Nadya sendiri yang ingin keluar dari belenggu tersebut dan tentu saja Ervina senang atas semua itu.
Bagi sebagian kaum laki-laki yang dominan, mungkin perempuan yang memberontak dan ingin mandiri merupakan sebuah malapetaka. Sebab itu artinya si perempuan sudah tidak bisa lagi terlalu di atur-atur dan di takut-takuti.
Tetapi bagi sebagian kaum wanita, itu merupakan sebuah kemajuan. Dimana wanita jaman sekarang memang tidak boleh takut, jika tidak ada laki-laki yang menghidupi.
Sebab rumah tangga harusnya menjadi tempat yang nyaman bagi semua orang. Bukan tempat berbagi ranjang dengan perempuan lain. Sebab tak semua perempuan sanggup menjalani semua itu. Setidaknya itu yang ada dalam pandangan dan pikiran Ervina maupun Nadya.
***
Dua hari kemudian, tepat pada minggu pagi.
"Huacim."
"Huacim."
Richard terdengar bersin-bersin di kamar. Hal itu tentu saja mengundang perhatian para asisten rumah tangga, yang tengah sibuk membereskan rumah.
__ADS_1
"Huacim."
"Kenapa pak?" tanya Lita dari balik pintu.
Lalu Richard pun menjawab.
"Ambilin obat flu sama air minum, Ta." ujarnya.
"Ya udah, tunggu!" jawab Lita.
Maka Lita pun bergegas mengambil obat flu di kotak obat, mengambil air putih dan kembali ke atas. Ia menyerahkan semua itu pada Richard.
"Bapak nggak makan dulu?" tanya Lita.
"Nanti aja." jawab Richard.
Pria itu kemudian meminum obatnya. Tak lama Lita pun meninggalkan ruangan tersebut, dan Richard kembali beristirahat.
***
"Mbak Lea, bapak sakit."
Lita mengabarkan kondisi Richard pada Lea. Sebab tadi Lea ada mengirim chat pada ayahnya itu, namun belum di jawab.
Tak biasanya Richard begitu lama memberi respon. Maka dari itu, ia pun memutuskan untuk menghubungi Lita dan inilah yang ia dengar.
"Sakit apa ayah?" tanya nya kemudian.
Daniel yang saat itu tengah bermain bersama Darriel pun menoleh.
"Flu, tapi tadi udah minum obat. Terus ketiduran lagi karena efek obatnya bikin ngantuk." jawab Lita.
"Ya udah mbak."
"Makasih ya, Lita."
"Sama-sama mbak."
Lea kemudian menyudahi percakapan tersebut.
"Richard kenapa Le?" tanya Daniel pada sang istri.
"Kena flu katanya, mas."
"Oh, kirain ada bisul di matanya." seloroh Daniel.
"Ih kamu mah, dasar bapaknya Darriel." ujar Lea kemudian.
"Apa, aku adalah bapaknya Darriel?"
Daniel berkata seperti itu seraya menyatukan kepalanya dengan kepala Darriel. Ia menggendong bayi itu dan mereka tengah bercengkrama.
"Heheee."
Darriel tertawa.
"Apa aku terlihat seperti bapaknya Darriel?" ujar Daniel lagi.
"Heheee."
__ADS_1
Lagi-lagi Darriel tertawa.
"Kamu ngambil-ngambil muka sama kegantengan aku. Kamu pencuri kecil, Darriel."
Daniel mencium Darriel dengan gemas dan bayi itu makin tertawa-tawa. Sedang Lea hanya tersenyum lalu bermain handphone. Ia beruntung memiliki suami yang tidak segan mengasuh anak. Yang tidak melulu mengandalkan perempuan untuk menghandle semuanya.
"Le, Richard orderin makanan aja." ujar Daniel memberi ide, disaat Lea tengah memandangi foto Tae Hyung BTS di sosial media.
"Apaan mas?. Seblak?" tanya Lea.
"Masa kena flu dikasih seblak?"
"Ya, biar idungnya cepet meler. Terus penyakitnya ilang." jawab Lea.
Daniel tertawa lalu menatap Darriel.
"Pikiran mama kamu tuh, kayak bocil ep-ep." ujarnya kemudian.
"Ya terus apa dong?" tanya Lea sambil tertawa.
"Ya pokoknya yang comfort food lah. Yang sesuai buat orang sakit, masa nggak tau." jawab Daniel.
Lea tampak menggaruk-garuk kepalanya.
"Masalahnya yang jualan sekarang udah pada pedes semua mas." ujar perempuan itu.
"Ya apa kek, buah kek. Sup sayuran dan lain-lain kan bisa." tukas Daniel.
"Oh iya ya." ucap Lea.
"Dasar emaknya Darriel." ujar Daniel kemudian.
Lea nyengir, lalu mengorder makanan via laman ojek online. Tak lama makanan tersebut siap dikirim ke alamat Richard.
***
Di sebuah tempat, di hari yang sama.
Shela masih termenung di depan kaca ruang tengah. Saat ini dirinya baru saja bangun dari tidur, dan tengah meminum segelas air putih.
Ia masih ingat dengan kejadian tempo hari. Saat Lea benar-benar mempermalukan dirinya di depan Daniel. Namun bukannya sadar, hati Shela malah di penuhi dengan dendam saat ini.
Ingin rasanya ia segera menghancurkan Lea, apapun resiko yang akan ia hadapi ia nanti. Ia benar-benar marah dan dengki pada istri sah dari Daniel tersebut.
"Lo akan terima akibatnya." ucap Shela dengan nada pelan, namun syarat akan kebencian.
"Dert."
Handphonenya tiba-tiba berbunyi. Shela melihat notifikasi pesan dari Susi.
"Beb, lo katanya mau curhat sama gue. Ayo kesini!. Mumpung gue lagi nggak kemana-mana." tulis Susi.
"Oke beb, gue kesana sekarang. Tapi mau mandi dulu." jawab Shela.
"Ya udah, gue tunggu."
"Sip." jawab Shela lagi.
Tak lama ia pun bergegas pergi mandi, dan keluar dari rumah guna menyambangi kediaman Susi.
__ADS_1